Compartilhar

Bab 183

Autor: Saggyryes
last update Data de publicação: 2026-03-18 17:44:30

"Sayang.. " panggil Andini, saat mereka baru saja sampai di ruangan.

Ia berbelok dan melihat ke arah Satria.

"Iya, kenapa?" tanya Satria. Pandangannya lurus ke arah istri cantiknya.

"Apa kamu masih marah?" tanya Andini setelah memperhatikan wajah Satria cukup lama.

"Iya, aku marah pada tiga orang yang dengan mudahnya membicarakan hal buruk tentang istriku," jawab Satria.

Andini tersenyum simpul dan mengelus lembut pipi suaminya. "Jangan terlalu marah sayang, mungkin saja mereka belum terla
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 189

    "Itu ide yang bagus," jawab Zaskia, sudut-sudut bibirnya membentuk senyuman yang selama ini menjadi daya tarik tersendiri bagi Bob. "Jadi, kamu setuju?" tanya Bob, memastikan. "Tentu saja," tegas Zaskia. "Dan untuk perempuan itu? Kapan kamu mengajukan laporan?"Bob terdiam sejenak. Bukan karena ia tidak tega dengan perempuan itu, tapi ia sedang berfikir apa CCTV rumah saat itu dalam kondisi aktif atau tidak. "Bob.." panggil Zaskia lagi. "Iya, Zas.""Apa kamu nggak tega melaporkan perempuan itu ke kantor polisi?"Bob menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu. Kamu tenang aja, saya pastikan ia akan segera masuk ke dalam jeruji besi besok.""Siapa yang akan masuk ke dalam jeruji besi besok, Om?" tanya Siska. Ia tadi mendengar ucapan Bob mengenai hal tersebut ketika ia sedang membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan bersama Andini. Ia membawa cukup banyak kantong belanja berisi makanan dan minuman untuk berjaga-jaga. "Bukan apa-apa, sayang. Kami hanya sedang membahas sesuatu yang tidak

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 188

    "Bob..." panggil Zaskia.Ia melihat lurus ke arah Bob. Bob tersenyum kecil saat melihat Zaskia terbangun. Ia memegang lembut tangan Zaskia sambil mengelusnya perlahan. "Iya, saya di sini. Kamu mau minum?" tanya Bob. Ia mengulurkan tangan ke atas nakas untuk mengambil air minum yang disediakan oleh rumah sakit. Zaskia menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya, boleh.""Ini," ucap Bob, sambil menyerahkan air minum tersebut. "Makasih, Bob."Bob menganggukkan kepalanya. Selesai minum, Zaskia melihat ke sekeliling. "Apa yang lainnya sudah pulang?" tanyanya dengan suara yang masih terdengar lemah. "Belum. Andini dan Siska sedang membeli sesuatu di luar. Sedangkan Pak Satria tadi izin menerima telpon di luar."Raut wajah Zaskia mulai berubah. Ia terlihat sedih. Air mata seketika turun membasahi pipinya. Ia tidak mau membuat Siska atau siapapun khawatir karena kondisinya saat ini. Tapi sekarang, ia tidak mampu lagi menahannya. Ia ingin menumpahkan segala perasaannya saat ini. Bersama laki-

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 187

    "Bob," panggil Zaskia lagi, karena belum juga mendapat jawaban dari Bob. Bob masih terdiam beberapa detik. Tatapannya tidak lepas dari wajah Zaskia. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, seolah sedang menyiapkan diri."Zas…" suaranya rendah. "Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin."Zaskia menatapnya tanpa berkedip. Tangannya yang lemah masih berada dalam genggaman Bob.Bob melanjutkan ucapannya, suaranya jauh lebih pelan dari sebelumnya. "Tapi… bayinya nggak bisa diselamatkan."Tidak ada reaksi berlebihan dari Zaskia. Hanya perubahan kecil di wajahnya. Matanya sedikit meredup. Ia memejamkan mata beberapa saat.Ruangan seketika menjadi hening, seolah mengerti akan perasaan Zaskia saat ini.Andini, Siska, dan Satria yang berdiri tidak jauh dari sana memilih tetap diam. Memberi ruang tanpa memotong pembicaraan.Beberapa detik kemudian, Zaskia membuka matanya kembali. "Karena… jatuh yang sebenarnya, tidak seberapa itu?" tanyanya pelan.Bob menganggukkan kepalanya d

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 186

    "Masih, sangat butuh," jawab Bob. Setelah Siska bicara, seorang perawat kembali ke luar. "Bagaimana? Apakah anda sudah mendapatkan pendonor, Pak?""Ada, saya!” jawab Satria tanpa ragu.Siska juga ikut maju. "Saya juga, sus… saya anaknya.”Petugas itu mengangguk cepat. "Ikut saya. Kita lakukan pengecekan terlebih dahulu."Di dalam IGD, suara alat monitor berbunyi cepat dan tidak stabil. "Tekanan masih turun, Dok!""Masukkan cairan lebih cepat. Kita mulai transfusi sekarang!"Kantong darah pertama yang merupakan stok terakhir milik rumah sakit, digantung. Selang transparan itu mulai mengalirkan harapan ke dalam tubuh Zaskia."Bagaimana respon pasien?" tanya Dokter. "Masih lemah, Dok…"Dokter menarik napas pendek. "Kita kejar. Jangan sampai dia drop lagi."Waktu terasa berjalan lambat.Di ruang donor, Satria menatap jarum yang menembus lengannya tanpa berkedip. Wajahnya cukup tegang, tapi ia tetap diam.Sementara di sebelahnya, Siska menggenggam ujung kursi. Matanya berkaca-kaca, tapi

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 185

    "Zaskia," jawab Satria. Wajahnya terlihat memucat dan panik. Andini mengerutkan kening. "Dia kenapa sayang?"Satria menggelengkan kepalanya. "Saya nggak tau pasti, tapi katanya dia membutuhkan banyak darah. Saya dan Siska kebetulan memiliki darah yang sama dengan dia."Andini menganggukkan kepalanya perlahan. "Kalo gitu, aku izin pamit dulu ya, Tan. Kita bahas lagi nanti saat Siska sudah ada dan kondisi lebih kondusif.""Baik, sayang," jawab Cinta, memaklumi. Andini dan Satria bangkit dari duduknya, lalu bersalaman dengan Cinta. "Loh, kalian mau ke mana? Om baru aja mau menyapa kalian. Sejak tadi, Om bulak balik ke kamar mandi karena lagi nggak enak perut soalnya," ucap Agung. Ia berjalan melangkah mendekati Andini dan Satria. "Zaskia, mantan istri dan juga Ibunya Siska masuk rumah sakit, Om. Kami harus segera ke sana karena ia membutuhkan banyak darah. Dan Satria, darahnya sama kayak dia."Selesai bersalaman dengan Cinta, Andini bersalaman dengan Agung. "Oh gitu. Semoga dia se

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 184

    "Sayang.. " panggil Andini. Ia mendekati Satria yang sedang duduk sambil membuka ponselnya di ruang tamu. Satria melihat ke arah Andini sekilas lalu kembali menatap layar ponselnya. "Kamu mau ke mana?"Andini mengerutkan kening sambil menatap wajah Satria beberapa saat. "Kemarin kan kamu suruh aku ketemu Tante Cinta dan Siska untuk bahas usaha bersama.""Ah, iya. Saya lupa. Ayo, mau berangkat sekarang?"Alis Andini saling bertaut. "Loh, kamu mau ikut juga?"Satria meletakkan ponsel di sisinya dan melihat ke arah Andini. "Bukannya itu adalah hal yang pasti dan nggak dapat di tawar?""Tapi, aku kan mau me time, sayang..," rengek Andini. Satria tersenyum. "Kamu tenang aja, saya nggak akan ganggu. Nikmati waktu kamu, saya akan memperhatikan dari jauh sambil bekerja secara online."Andini terdiam. "Udah, jangan terlalu banyak mikir, nanti kamu kesiangan. Lagian, saya pastiin kamu nggak akan terlalu merasakan keberadaan saya, karena saya akan buat seolah saya tidak ada di sana," lanjut

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 10

    "Andini?!" tanya Siska. Bi Sarmi mengangguk. "Bibi yakin?" Siska kembali memastikan."Iya, Non."Siska melihat ke arah Andini. Tersirat banyak tanda tanya dari wajahnya. "Ngapain Ayah nyariin lo, An?"Andini mengedakkan bahunya. 'Nggak mungkin kan Satria mau melanjutkan yang tadi tertunda.' Andi

    last updateÚltima atualização : 2026-03-17
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 14

    "Dion? Siapa?" Andini mengerutkan kening, bingung. Matanya mencari jawaban dengan melihat Siska dan Satria bergantian. "Dion itu CEO di kantor Ayah gue, An! Kan lo udah pernah ketemu sebelumnya."'Oh! Dion yang itu! Yang sering diceritain Mbak Dila!' pikir Andini. "Kapan?” ujar Andini tak tertar

    last updateÚltima atualização : 2026-03-17
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 13

    "Om Satria?!" gumam Andini. Siska berdiri menyambut Ayahnya. Dia memeluk dan mencium kedua pipi Satria. Satria tersenyum. Dia mengelus pipi anak perempuan yang sangat disayangi itu dengan kedua tangannya. "Kamu udah nunggu dari tadi?""Nggak kok, Yah! Aku juga belum lama sampai!" Siska nyengir.

    last updateÚltima atualização : 2026-03-17
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 7

    "Cukup, Sis!" tegas Satria masih dengan suara berbisik. Namun, Siska tidak mau kalah. “Aku butuh sosok Ibu. Yang seperti Andini, Yah." Siska sedikit menurunkan volume suara. Tidak mau Andini mendengarnya. Satria menghela napas. "Kamu tau kan pekerjaan Ayah sangat padat! Ayah nggak ada waktu beru

    last updateÚltima atualização : 2026-03-17
Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status