Share

Bab 9

Author: Saggyryes
last update Petsa ng paglalathala: 2025-11-19 17:23:01

"Siska?" gumam Andini.

Andini melihat ke arah pintu dan kembali menatap Satria. "Dia pasti nyari Om untuk ngajak sarapan." gumamnya lagi.

Andini segera bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah meja rias untuk merapikan pakaian dan wajahnya.

'Aku harus tenang. Siska nggak boleh tau apa yang udah aku dan Satria lakukan tadi.' batin Andini.

"Ayah... " panggil Siska lagi dengan nada manja seperti biasanya.

Namun, kali ini bukan hanya panggilan, ia juga mengetuk dan menekan kenop pintu kam
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 270

    "Gila! Kok bisa sih?" ucap Siska.Ia menggeleng pelan sambil menatap layar ponselnya. Jari-jarinya bergerak cepat membuka notifikasi. Ada puluhan pesan dan beberapa panggilan tidak terjawab dari Putri.Waktu pengirimannya dari semalam. Bahkan ada yang dini hari tadi. Siska mengernyit. "Kenapa gue baru liat sekarang sih?! Astaga!" gumamnya pelan.Tanpa pikir panjang, Siska langsung menekan tombol panggil. Tidak menunggu lama, Putri langsung mengangkatnya."Siska!" teriak Putri. Suaranya langsung terdengar cepat dan jelas. Tidak ada basa-basi. "Akhirnya lo telpon juga!" lanjutnya. Siska sedikit menahan napas. "Iya, Put. Maaf. Ponsel gue ketinggalan.""Ya, gue tau!" balas Putri, terdengar kesal. "Makanya dari semalem gue teleponin terus! Lo nggak baca chat juga ya?"Siska melirik lagi ke layar. "Belum. Baru sekarang gue liat."Putri menghela napas panjang, tapi nadanya masih terdengar tinggi. "Ya ampun Sis, lo tau nggak orang gue udah nunggu lama di hotel! Lo kenapa sih, nggak dateng-

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 269

    "Siapa?" tanya Andini pelan, hampir seperti memastikan ulang.Siska menarik napas, lalu menjawab tanpa menatap Andini. "Alya. Model yang kemarin datang ke sini," ucap Siska. Andini benar-benar terdiam. Wajahnya kosong beberapa detik, lalu alisnya perlahan mengernyit."Alya? Kok bisa sih?" tanyanya, lagi. Ia benar-benar belum bisa sepenuhnya percaya dengan apa yang diucapkan Siska.Siska mengangguk kecil, ia sangat yakin apa yang udah dilihatnya semalam. Andini menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Lalu menatap ke arah lain sebentar. "Jujur, gue nggak nyangka sih, Sis."Siska tidak menanggapi. Tangannya kembali bergerak, tapi pelan. Seperti sekadar mengisi jeda.Andini melirik lagi. Kali ini lebih serius."Lo yakin?" tanyanya, memastikan. "Yakin," jawab Siska singkat. "Dia sendiri bahkan udah hampir ngaku. Dan situasinya juga emang udah jelas," lanjut Siska. Nada suaranya terdengar datar. Dan justru itu yang membuat Andini semakin khawatir.Tanpa banyak komentar, A

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 268

    "Hah.. "Bastian menjatuhkan tubuhnya ke sofa setelah sekian lama berdiri tanpa arah di tengah apartemen.Kepalanya benar-benar terasa berat. Bukan hanya karena sisa alkohol, tapi juga karena pikirannya yang tidak berhenti berbicara sejak tadi."Kenapa sih, ada aja masalah. Dan kali ini malah lebih berat dari sebelumnya. Terkait Siska, pula," gumamnya lirih.Ia menatap kosong ke depan. Pertanyaan yang sama masih terus berulang tentang alasan Alya yang tidak menghentikannya dan menyerahkan keperawanannya kepada laki-laki yang sudah ia tahu memiliki pasangan. Dan pasangannya itu, temannya sendiri. Bastian menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia bangkit dari duduknya dengan malas. Tangan kanannya mengacak cukup kencang rambutnya sendiri, sebelum akhirnya berjalan ke kamar mandi.Air dingin langsung mengguyur tubuhnya tanpa peringatan. Ia berdiri diam di bawah shower, membiarkan air jatuh terus menerus, seolah bisa membersihkan dan menghempaskan seluruh masalah yang ada d

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 267

    "Ah, iya!" ucap Siska, saat kedua matanya telah terbuka sempurna. Ia bangun saat cahaya pagi baru mulai masuk dari sela tirai. Beberapa detik ia hanya diam, menatap langit-langit kamar hotel dan memastikan tubuhnya sudah cukup stabil untuk bergerak.Ia menoleh. Johan masih tertidur pulas di sampingnya, napasnya teratur, wajahnya terlihat lebih tenang dibanding semalam.Tanpa suara, Siska bangkit dari tempat tidur. Ia merapikan rambut sekadarnya dan mengenakan kembali pakaiannya satu per satu. Karena ia dan Johan sempat melanjutkan pertempuran saat Siska memutuskan untuk tinggal di sana lebih lama. Gerakannya pelan, terlatih, seolah ini bukan pertama kalinya ia pergi lebih dulu. Ia melirik jam sebentar."Masih aman," gumamnya pelan.Siska mengambil tasnya, lalu berhenti sejenak di dekat nakas. Tangannya merogoh dompet, mengeluarkan beberapa lembar uang, dan meletakkannya rapi di atas meja. Ia tidak menulis atau meninggalkan pesan apa pun. Hanya uang saja, dan bagi Siska itu lebih da

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 266

    "Uhm.." renguh Siska. Di kamar hotel, lampu redup masih menyala. Seprai sudah berantakan. Siska terbaring, napasnya perlahan mulai kembali teratur. Sedangkan Johan duduk di tepi ranjang, menyandarkan siku di lututnya.Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara."Kamu bsik-baik aja, Sis?" tanya Johan akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya.Siska menganggukkan kepalanya perlahan. Ia menatap langit-langit sebentar sebelum akhirnya menjawab."Iya. Aku cuma sedikit… capek."Johan mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lebih jauh. Dari raut wajah Siska, ia tahu ini bukan sekadar soal malam ini.Siska bangkit perlahan, meraih gaun malamnya yang tergeletak di samping tempat tidur."Aku balik ya, " ucapnya datar.Johan menoleh, matanya sedikit membulat. "Kamu, nggak perlu buru-buru juga, Sis."Siska menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku datang ke sini bukan buat tinggal, Jo."Nada suaranya tegas, tanpa emosi berlebih. Johan hanya tersenyum tipis, seolah sudah menduga."Oke."Beberap

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 265

    "Akhirnya..," ucap Siska, saat ponselnya kembali bergetar.Ia melirik sekilas, lalu bergegas mengambilnya.Putri :Hotel Griya Dots, VIP Room 101. Tadi dia info, dia udah standby.Siska membaca pesan tanpa membalasnya. Ia bangkit dari duduknya tanpa banyak berpikir. Setelah itu, ia mengambil tas kecil. Memasukkan dompet dan ponsel. Tidak lupa ia mengambil kunci mobil.Ia keluar dari kamar dan menutup pintu seperti biasa. Pelan, tanpa suara.Perjalanan menuju hotel sangat lancar. Kini, Siska berdiri di depan kamar VIP nomor 110. Ia terdiam beberapa detik, namun ia yakin tadi pesan yang di kirim Putri 110. Iapun tidak ingin repot dan memastikannya kembali.Akhirnya, ia mengetuk pintu perlahan. Lalu, pintu sedikit terbuka.Siska langsung mengernyit. "Johan?"Pria di depannya sama terkejutnya. Hanya saja, Johan adalah orang yang dingin dan pendiam. Ia sangat pintar dan terbiasa mengatur ekspresinya tanpa sadar. Sehingga, hal itu tidak terlihat dari raut wajahnya yang terkesan tenang. "Iy

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 118

    "Siska.." Netra Andini melihat lurus ke arahnya. Namun kali ini sedikit berbeda. Tidak ada jawaban apapun dari Siska. Terlebih, saat tatapan mereka beradu, seketika Andini sedikit menunduk. Tubuhnya gemetar karena rasa takut yang tiba-tiba menjalar bagai listrik yang menyengat tubuhnya yang ramp

    last updateHuling Na-update : 2026-03-29
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 112

    "Tumben... " jawab Bastian dari tempatnya berada yang notabene adalah pacar Siska. Sudah berkali-kali mereka putus, tapi ujung-ujungnya, mereka balikkan lagi. Tapi, bukan karena Siska adalah anak dari Satria Hasan yang membuat mereka kembali bersama. Melainkan karena rasa cintanya yang sangat bes

    last updateHuling Na-update : 2026-03-28
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 110

    "An, kamu udah bangun?" panggil Cinta. "Udah, Tan."Pagi datang lebih cepat dari yang Andini harapkan.Alarm ponsel berdering pelan di samping bantal. Andini mengerang kecil sebelum akhirnya meraih ponsel dan mematikannya.“Pagi lagi…” gumamnya.Ia duduk perlahan, memastikan kepalanya tidak pusing

    last updateHuling Na-update : 2026-03-28
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 106

    "Andini... " panggil Siska sambil melambaikan tangan ke arah Andini. Sore itu, Andini bertemu Siska di kafe dekat kampus.Siska datang lebih dulu, wajahnya cerah seperti biasa.Andini menarik kursi dan duduk dipasang Siska. “Lo akhirnya hidup lagi,” godanya.Andini tertawa kecil. “Drama amat sih.

    last updateHuling Na-update : 2026-03-28
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status