Share

Bab 242

Author: Saggyryes
last update publish date: 2026-04-12 18:02:19

"Selamat ya, An," ucap Zaskia.

"Makasih."

"Anak-anak di mana?" tanya Zaskia.

"Di rumah, Zas," jawab

"Aman?"

Andini menganggukkan kepalanya. "Aman. Kan ada Oty sama Imah."

"Tapi mereka masih minum ASI kan?" tanya Zaskia lagi.

"Masih. Kan aku perah juga."

"Baguslah kalo gitu."

"Ayo masuk dan duduk dulu, Zas," ucap Andini

"Iya. Makasih."

"Hati-hati."

Tidak terasa, satu bulan berlalu sejak hari-hari awal penuh penyesuaian bersama dua bayi kembar yang menggemaskan.

Kini, di depan bangunan bertul
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 284

    "Mudah-mudahan Andini belum tidur," gumam Satria. Setelah menutup pintu kamar dan memastikan Siska benar-benar sudah beristirahat. Langkahnya cukup panjang saat berjalan menuju kamarnya sendiri. Begitu membuka pintu, ia melihat Andini sudah terbaring di tempat tidur. Lampu samping menyala redup, selimut menutup sampai bahunya.Satria menghela napas kecil, lalu berjalan mendekat."Yah… kok kamu udah tidur sih. Padahal, saya kangen sama kamu."Andini bergerak sedikit. Suara Satria yang samar rupanya masih tertangkap olehnya. Ia membuka mata perlahan, lalu berbalik menghadap Satria."Kangen… mau apa?" tanyanya, suaranya masih berat karena kantuk.Satria tersenyum tipis. Ia duduk di sisi tempat tidur, lalu mengusap rambut Andini dengan lembut."Mau kamu," jawabnya singkat.Andini menatapnya beberapa detik. Tidak ada respon berlebihan, hanya senyum kecil yang perlahan muncul di sudut bibirnya. Ia sedikit menggeser posisi, memberi ruang.Satria mematikan lampu utama, menyisakan lampu redu

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 283

    "Bagus," ucap Satria."Kok bagus sih, Yah?" tanya Siska dengan kening berkerut. "Iya, bagus. Karena itu berarti kamu udah belajar banyak."Beberapa saat, tidak ada lagi yang berbicara diantara mereka berdua. Lalu, Satria kembali membuka mulutnya."Apa Johan tau kondisi kamu saat ini?" tanya Satria."Tau, Yah. Lebih tepatnya sebagian. Karena aku belum cerita semuanya ke dia."Satria mengangguk pelan. "Nggak apa-apa. Nggak semua harus dibuka sekaligus."Siska menatap lurus ke wajah Ayahnya."Ayah cuma mau kamu nggak jadiin di pelampiasan. Atau hanya buat nutupin luka yang saat ini masih menganga."Siska terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan."Aku nggak gitu, Yah."Satria menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan. "Ya udah, Ayah percaya sama kamu."Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat napas Siska terasa lebih ringan.Satria lalu menepuk kepala Siska pelan."Sekarang, istirahat yang cukup. Besok kamu kerja, kan?"Siska mengangguk kecil. "Iya, Yah."Satria bangkit dari dudukn

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 282

    "Sayang..," panggil Andini. Ia duduk di tempat tidur, sambil bersandar pelan di bahu Satria. Tubuhnya sedikit lelah, seperti baru benar-benar berhenti setelah seharian menahan banyak hal.Satria membiarkannya. Tangannya sesekali mengusap lengan Andini, ritmenya cukup pelan."Kenapa? Kamu lagi capek?" tanya Satria. Suaranya terdengar pelan.Andini menggeleng kecil. "Capek sih, pasti. Tapi kali ini lebih ke pikiran."Satria menoleh sedikit. "Ada apa emangnya?"Andini menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. Ia mulai bercerita. Tidak terburu-buru, tapi cukup menggebu karena campuran emosi yang tidak tertahanlan. Ia menyampaikan semuanya, dari awal sampai akhir.Tentang Bastian yang datang, percakapan mereka, hingga sikap Siska yang tetap terlihat tenang dari biasanya, da akhirnya ia benar-benar runtuh saat ia sendirian.Satria mendengarkan tanpa menyela sedikitpun. Ia tau yang dibutuhkan Andini saat ini adalah, telinganya. "Dia sengaja nahan diri banget pas di depan kasir. Tapi p

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 281

    "Udah selesai," gumam Bastian. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar toko. Dan pintu toko berbunyi pelan saat Bastian keluar. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk menandai bahwa semuanya benar-benar telah selesai.Siska tetap berdiri di belakang kasir beberapa detik setelah itu. Tangannya masih bertumpu di meja. Napasnya ia tahan sebentar, lalu dihembuskan perlahan."Hah..," ucap Siska. Bukan lega sepenuhnya. Tapi juga bukan rasa ragu yang tiba-tiba muncul. Ia menunduk sedikit, lalu menggeser posisi berdirinya. Tangannya meraih sisi meja, seperti mencari pegangan.Beberapa detik berlalu. Lalu ia menarik napas lebih dalam."Aku ke toilet sebentar ya," ucapnya singkat ke arah karyawan yang ada di dekat kasir.Tanpa menunggu jawaban, Siska langsung berjalan ke arah dalam. Langkahnya masih terlihat tenang. Tidak terburu-buru ataupun goyah.Tapi begitu pintu toilet tertutup di belakangnya, Siska langsung bersandar ke dinding.Tangannya menutup mulut. Dan dalam hitungan detik,

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 280

    "Iya," jawab Siska. Menjelang siang, suasana mulai berubah. Tidak langsung sepi, tapi pengunjung perlahan mulai berkurang. Meja yang tadinya penuh mulai kosong satu per satu. Suara obrolan pelanggan juga tidak lagi seramai sebelumnya. Siska berdiri di belakang kasir, mengecek laporan singkat di tablet. Tangannya bergerak pelan, lebih santai dibanding tadi pagi. Andini mendekat sambil melipat tangan di depan dada."Udah mulai sepi nih, Sis," ucap Andini, pelan.Siska menganggukkan kepalanya. "Iya. Kayaknya udah bisa sedikit nafas, sekarang."Andini melirik ke arah salah satu meja."Bastian masih di situ tuh," bisiknya.Siska hanya mengangguk dan tidak langsung menoleh. Ia sudah tau karena tadi sempat lihat ke sana. "Iya,” jawabnya singkat."Lo mau samperin sekarang, apa gimana?" tanya Andini.Siska menghembuskan nafas pelan. "Gue selesain ini dulu palingan."Andini mengangguk. "Ya udah, gue ke depan, ya."Siska tidak menjawab lagi. Ia menyelesaikan beberapa catatan terakhir, memast

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 279

    "Gimana Sis, aman?""Aman," jawab Siska. Pagi itu terasa lebih hidup dari biasanya. Sejak pintu dibuka, pengunjung sudah mulai berdatangan. Tidak meledak, tapi stabil. Justru itu yang terasa lebih nyaman sekarang. Siska berdiri di belakang kasir, sesekali mencatat di tablet, atau membantu staf yang terlihat kewalahan.Di sisi lain, Andini terlihat jauh lebih aktif. Ia berdiri di area depan, menyapa beberapa tamu yang datang, sesekali tertawa kecil saat berbincang. Aura pemiliknya terasa jelas. Santai, tapi tetap mengontrol."Bundling yang ini banyak yang ambil ya," ucap Andini sambil melihat salah satu meja.Siska melirik sebentar. "Iya. Yang paket keluarga paling laku."Andini mengangguk puas. "Bagus banget. Berarti nggak sia-sia kemarin kita revisi."Siska mengangguk kecil, lalu kembali fokus ke layar. "Iya."Tidak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Seorang perempuan masuk dengan langkah tenang. Penampilannya rapi, elegan, dengan gestur yang terbiasa berada di situasi formal. R

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 96

    "Iya... " jawab Andini. Jika bukan karena Cinta yang menyuruhnya, ia tidak akan mengangkat telpon dari Satria. Yang saat ini bagi Andini sudah berubah status menjadi mantan kekasih. "Kamu udah pulang?" tanya Satria. Andini bangkit dari duduknya. Ia mengangguk ke arah Cinta, seolah meminta izin d

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 104

    "Di mana?" tanya Satria. "Oke." Pintu klinik terbuka otomatis ketika Satria melangkah masuk.Jas kerjanya masih rapi. Rambutnya sedikit basah oleh keringat tipis. Ia memindai ruangan dengan cepat. Matanya langsung menangkap sosok Andini yang duduk di bangku tunggu, diapit oleh Cinta dan Agung.Lan

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 102

    "Ah... " desah Andini. Menjelang sore, ia terbangun dengan dahi berkeringat.Rasa mual kali ini tidak datang pelan seperti pagi tadi. Ia muncul tiba-tiba, membuat Andini langsung duduk dan menutup mulut. Napasnya sedikit terengah. Tangannya refleks menekan perut.“Aduh…” desisnya lirih.Ia bangkit

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 103

    "Andini..," gumam Satria.Malam itu, Satria berdiri cukup lama di bawah pancuran.Air dingin mengalir di kepalanya, tapi pikirannya sama sekali tidak tenang. Bayangan Andini dengan wajah pucat, tangan menekan perut, dan pesan-pesan singkat yang ia baca berulang kali terus berputar di kepalanya.Be

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status