Share

Bab 263

Author: Saggyryes
last update publish date: 2026-04-19 15:07:52

"Apa?" tanya Bastian.

Ia jelas kaget dengan nada dan pilihan kata Siska. Itu bukan sekadar marah. Tapi itu adalah campuran dari rasa kecewa, terluka, dan kehilangan kepercayaan dalam waktu bersamaan.

"Beb, tenang dulu," jawabnya cepat, suaranya sedikit tertahan.

"Nggak kayak gitu. Aku sama Alya nggak ada apa-apa sebelumnya. Kita baru kenal hari ini dan itupun karena project Keluarga An. Kejadian barusan itu cuma..."

Siska tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi justru sebaliknya. Tawa yang tip
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 304

    "Soni..," gumam Bastian, pelan. Perjalanan pulang malam itu terasa jauh lebih ringan untuk Bastian.Jalanan sudah tidak terlalu ramai. Lampu-lampu kota memantul samar di kaca mobilnya, sementara suara lagu terdengar pelan dari radio mengisi suasana tanpa benar-benar ia dengarkan.Pikirannya justru terus kembali ke rumah Alya. Dimana ada suara tawa kecil Alya, wajah Soni yang tidur pulas di dalam box bayi, dan suasana makan malam sederhana yang entah kenapa terasa hangat. Sudah lama sekali Bastian tidak merasakan ketenangan seperti itu.Begitu sampai di apartemennya, ia langsung merebahkan tubuh di sofa sambil menghembuskan nafas panjang.Matanya menatap langit-langit beberapa saat. "Capek juga ternyata," gumamnya pelan.Tapi capek yang kali ini berbeda. Bukan capek karena pekerjaan atau masalah. Lebih ke arah lega karena semuanya sudah terurai.Ia mengambil ponselnya lalu membuka sosial media dan mengetik nama Alya. Di sana, ada beberapa foto Soni dan Alya. Ia terus memandangnya. Sal

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 303

    "Iya," ucap Bastian. Tadi, ia sempat terdiam beberapa detik setelah mendengar ucapan Alya.Ia menoleh sebentar ke arah box bayi, memastikan Soni benar-benar pulas dan tidak terganggu, baru kemudian menoleh ke Alya lagi."Aku juga nggak nyangka," jawabnya jujur. Nada suaranya pelan. Tidak dibuat-buat.Alya hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya berjalan lebih dulu keluar kamar. Bastian mengikuti di belakang sambil sekali lagi melirik ke arah Soni.Begitu pintu kamar ditutup perlahan, suara televisi kembali terdengar samar dari ruang tengah. Oni yang sejak tadi menyiapkan meja makan langsung menoleh ke arah mereka."Udah tidur?" tanya Oni.Alya mengangguk pelan. "Iya. Udah pules, tepatnya Bu.""Syukurlah. Ya udah, sini makan dulu. Takut makanannya keburu dingin.""Iya, Bu," jawab Alya.Meja makan sederhana itu sudah terisi beberapa lauk rumahan. Ada ayam goreng, tempe goreng, tumis buncis, dan sambal dalam mangkuk kecil di tengah meja.Bastian duduk perlahan tepat di hadapan Oni. Sedan

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 302

    "Akhirnya sampe juga," gumam Bastian, pelan.Jam tujuh lewat sedikit, mobil Bastian sudah berhenti di depan rumah Alya.Ia sempat terdiam cukup lama sambil menatap rumah itu dari balik kaca depan. Tangannya masih berada di atas setir. Ada rasa asing yang aneh. Di kursi sebelah, ada dua paper bag makanan yang tadi sempat ia beli di jalan.Bastian akhirnya menghembuskan nafas pelan, mengambil paper bag tersebut, dan turun dari mobil secara perlahan. Ia berjalan masuk ke depan rumah Alya, dan mengetuk pintu. Beberapa saat kemudian, pintu rumah terbuka.Alya berdiri di sana dengan setelan piyama dan rambut yang diikat ke atas."Masuk, Bas," ucap Alya."Iya," jawab Bastian, sambil menyerahkan paper bag di tangannya. "Ini, tadi aku sengaja beliin buat kamu dan Ibu."Alis Alya saling terpaut. "Duh, kamu ngapain repot-repot sih?""Nggak repot, lagian cuma sedikit. Semoga suka, ya."Alya tersenyum kecil. "Makasih. Yuk, masuk!"Begitu masuk ke dalam, suasana rumah terasa hangat dan jauh lebih

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 301

    "Joguar maksud lo?" tanya Siska. "Iyalah, kemana lagi. Kan Johan tinggal di sana," jawab Andini. Siska menghela napas pelan. "Kemungkinan besar sih iya. Karena salah satu alasan kita mempercepat pernikahan ya karena itu.""Karena apa?" tanya Andini, penasaran. "Karena hubungan jarak jauh yang kadang bikin sesak dan kurang nyaman, An.""Iya sih. Apalagi modelan kayak lo yang kepengenan mulu," ledek Andini. "Astaga, mulut lo ya An! Bener-bener.""Loh, tapi emang bener kan?"Siska nyengir. "Iya, sih."Andini tiba-tiba saja, mulai berpikir panjang. "Berarti banyak juga loh yang harus disiapin, Sis.""Iya.""Dokumen dan lain-lain," ucap Andini. "Iya, betul," jawab Siska. Saat Andini sudah membuka mulutnya lagi, seolah ingin membahas lebih jauh. Suara pintu toko terbuka. Hal itu langsung membuat keduanya menoleh.Beberapa pembeli masuk, hampir bersamaan."Permisi, Mbak."Andini dan Siska otomatis kembali fokus bekerja."Nanti kita lanjut lagi," bisik Andini cepat.Siska mengangguk pe

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 300 - Season 2 - Langkah Baru

    "Berangkat sekarang?" tanya Johan. "Iya," jawab Siska, setelah selesai mengunyah suapan terakhir. Pagi itu, suasana jalanan masih belum terlalu padat. Saat mobil Johan berhenti di depan toko, matahari baru naik sepenuhnya. Menyisakan udara yang masih cukup sejuk yang sepertinya diperuntukkan untuk siang nanti.Setelah mobil benar-benar berhenti, Johan menoleh ke arah Siska. Ia membantu melepas sabuk pengamannya perlahan.Rambut Siska yang tadinya diikat sederhana, kini sedikit berantakan karena ia beberapa kali bersandar selama perjalanan. Siska melihat kaca dan merapihkannya sebentar. "Kamu mau langsung ke bandara?" tanya Siska sambil menoleh ke arah Johan yang sudah kembali duduk tegak di kursinya. Johan mengangguk pelan. "Nggak. Aku ada ketemu orang dulu sebentar. Habis itu, baru ke bandara."Siska diam sebentar. Ada rasa berat yang tetap muncul meskipun semalam mereka sudah bicara cukup panjang.Johan memperhatikan wajahnya beberapa detik lalu tersenyum tipis. "Kamu kenapa? K

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 299

    "Sis..," panggil Johan. "Iya," jawab Siska. Lampu kamar hotel itu sudah redup. Tirai tertutup rapat, menyisakan suasana yang tenang dan cukup privat.Johan berdiri beberapa langkah dari tempat tidur, menatap Siska yang baru saja merapikan rambutnya di depan cermin. Gaun merah yang ia kenakan memang mencolok, pas di tubuhnya, dan cukup untuk menarik perhatian siapa pun. Termasuk Johan yang sejak awal melihat Siska dengan mata berbinar. Ia mendekat tanpa banyak kata, lalu memeluk Siska dari belakang. Siska tidak menolak. Ia justru sedikit menyandarkan tubuhnya."Kamu capek?" tanya Johan pelan di dekat telinganya.Siska menggeleng pelan. "Nggak."Johan menghela napas pelan. Tangannya masih melingkar di pinggang Siska.Beberapa saat mereka diam. Suasananya tidak canggung, tapi juga tidak sepenuhnya ringan.Johan membalikkan tubuh Siska dan mencium bibirnya dengan lembut. Tanganya menjalar ke bokong Siska yang sejak tadi seolah memanggilnya untuk disentuh. Ia meremasnya perlahan. Dan me

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 134

    "Beb.. " panggil Bastian lagi. Ia benar-benar menunggu jawaban dari Siska. "Kamu mau kan?" Siska mengangguk pelan. Wajahnya memerah karena malu. "Bagus! Makasih udah mau nerima aku ya Bab!" "Tapi Beb, saat ini kita hanya bahas kepastian hubungan. Untuk lamaran resminya, kamu tetap harus

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 132

    "Siska!" panggil Satria.Ia membuka pintu kamar anak semata wayangnya dengan cukup kasar. Wajahnya terlihat tegang dan khawatir. Siska menoleh ke daun pintu yang baru saja terbuka. Di mana Ayahnya berada saat ini. Ia tersenyum tipis. Bukannya tidak enak hati, ia malah senang melihat rasa khawatir

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 133

    "Jadi?""Jadi apa, Yah?!" tanya Siska dengan suara sedikit parau. "Apa kamu udah merasa lebih baik sekarang?!" tanya Satria lagi. "Iya, udah baikkan kok, Yah."Satria tersenyum kecil. "Baguslah! Selain itu, apa ada lagi yang ganggu pikiran kamu, sayang?!"Siska mengangguk pelan. Alis Satria sali

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 140

    "Masih di jalan, sebentar lagi sampe. Kenapa, An?" tanya Cinta. "Nggak apa-apa. Aku cuma mau mastiin aja. Ya udah, aku juga usah di jalan. Kabarin kalau Tante dan Om udah sampe ya..."Perjalanan terasa begitu lancar. Mobil yang membawa Andini berhenti tepat di depan lobi megah hotel milik Satria.

    last updateLast Updated : 2026-03-31
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status