Share

Bab 34

Author: Saggyryes
last update publish date: 2025-12-08 07:46:11

"Iya?!"

Andini menoleh ke arah suara dan mengerutkan kening. "Lho, Pak Dion?"

Dion mengangguk dan tersenyum.

Pandangan Andini yang sebelumnya melihat ke arah Dion, kini jatuh ke pergelangan tangan kanannya yang masih digenggam oleh Dion.

"Bisa tolong lepasin tangan saya dulu, Pak?!" tanya Andini.

"Oh, iya! Maaf, An!" Dion buru-buru melepas genggamannya. "Habis tadi kamu saya pangil-panggil nggak jawab sih!" Ia nyengir

"Iya, nggak apa-apa Pak." Andini tersenyum tipis. "Memangnya kenapa Bapak m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 268

    "Hah.. "Bastian menjatuhkan tubuhnya ke sofa setelah sekian lama berdiri tanpa arah di tengah apartemen.Kepalanya benar-benar terasa berat. Bukan hanya karena sisa alkohol, tapi juga karena pikirannya yang tidak berhenti berbicara sejak tadi."Kenapa sih, ada aja masalah. Dan kali ini malah lebih berat dari sebelumnya. Terkait Siska, pula," gumamnya lirih.Ia menatap kosong ke depan. Pertanyaan yang sama masih terus berulang tentang alasan Alya yang tidak menghentikannya dan menyerahkan keperawanannya kepada laki-laki yang sudah ia tahu memiliki pasangan. Dan pasangannya itu, temannya sendiri. Bastian menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia bangkit dari duduknya dengan malas. Tangan kanannya mengacak cukup kencang rambutnya sendiri, sebelum akhirnya berjalan ke kamar mandi.Air dingin langsung mengguyur tubuhnya tanpa peringatan. Ia berdiri diam di bawah shower, membiarkan air jatuh terus menerus, seolah bisa membersihkan dan menghempaskan seluruh masalah yang ada d

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 267

    "Ah, iya!" ucap Siska, saat kedua matanya telah terbuka sempurna. Ia bangun saat cahaya pagi baru mulai masuk dari sela tirai. Beberapa detik ia hanya diam, menatap langit-langit kamar hotel dan memastikan tubuhnya sudah cukup stabil untuk bergerak.Ia menoleh. Johan masih tertidur pulas di sampingnya, napasnya teratur, wajahnya terlihat lebih tenang dibanding semalam.Tanpa suara, Siska bangkit dari tempat tidur. Ia merapikan rambut sekadarnya dan mengenakan kembali pakaiannya satu per satu. Karena ia dan Johan sempat melanjutkan pertempuran saat Siska memutuskan untuk tinggal di sana lebih lama. Gerakannya pelan, terlatih, seolah ini bukan pertama kalinya ia pergi lebih dulu. Ia melirik jam sebentar."Masih aman," gumamnya pelan.Siska mengambil tasnya, lalu berhenti sejenak di dekat nakas. Tangannya merogoh dompet, mengeluarkan beberapa lembar uang, dan meletakkannya rapi di atas meja. Ia tidak menulis atau meninggalkan pesan apa pun. Hanya uang saja, dan bagi Siska itu lebih da

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 266

    "Uhm.." renguh Siska. Di kamar hotel, lampu redup masih menyala. Seprai sudah berantakan. Siska terbaring, napasnya perlahan mulai kembali teratur. Sedangkan Johan duduk di tepi ranjang, menyandarkan siku di lututnya.Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara."Kamu bsik-baik aja, Sis?" tanya Johan akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya.Siska menganggukkan kepalanya perlahan. Ia menatap langit-langit sebentar sebelum akhirnya menjawab."Iya. Aku cuma sedikit… capek."Johan mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lebih jauh. Dari raut wajah Siska, ia tahu ini bukan sekadar soal malam ini.Siska bangkit perlahan, meraih gaun malamnya yang tergeletak di samping tempat tidur."Aku balik ya, " ucapnya datar.Johan menoleh, matanya sedikit membulat. "Kamu, nggak perlu buru-buru juga, Sis."Siska menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku datang ke sini bukan buat tinggal, Jo."Nada suaranya tegas, tanpa emosi berlebih. Johan hanya tersenyum tipis, seolah sudah menduga."Oke."Beberap

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 265

    "Akhirnya..," ucap Siska, saat ponselnya kembali bergetar.Ia melirik sekilas, lalu bergegas mengambilnya.Putri :Hotel Griya Dots, VIP Room 101. Tadi dia info, dia udah standby.Siska membaca pesan tanpa membalasnya. Ia bangkit dari duduknya tanpa banyak berpikir. Setelah itu, ia mengambil tas kecil. Memasukkan dompet dan ponsel. Tidak lupa ia mengambil kunci mobil.Ia keluar dari kamar dan menutup pintu seperti biasa. Pelan, tanpa suara.Perjalanan menuju hotel sangat lancar. Kini, Siska berdiri di depan kamar VIP nomor 110. Ia terdiam beberapa detik, namun ia yakin tadi pesan yang di kirim Putri 110. Iapun tidak ingin repot dan memastikannya kembali.Akhirnya, ia mengetuk pintu perlahan. Lalu, pintu sedikit terbuka.Siska langsung mengernyit. "Johan?"Pria di depannya sama terkejutnya. Hanya saja, Johan adalah orang yang dingin dan pendiam. Ia sangat pintar dan terbiasa mengatur ekspresinya tanpa sadar. Sehingga, hal itu tidak terlihat dari raut wajahnya yang terkesan tenang. "Iy

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 264

    "Hah.."Siska menghela napas, lalu bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Tanpa berpikir panjang, keran air dibuka. Suara air mengalir memenuhi ruangan, memecah keheningan yang sejak tadi seolah menekan."Mungkin perasaanku akan lebih baik setelah mandi nanti," ucap Siska pelan. Ia berdiri beberapa detik. Lalu, tangannya bergerak membuka laci kecil di samping wastafel. Ia mengambil botol aromaterapi yang biasa ia pakai dengan aroma lavender. Tutupnya dibuka, lalu beberapa tetes ia tuangkan ke dalam air yang mulai memenuhi bathtub.Aroma lembut itu perlahan menyebar.Ia menghirupnya dalam-dalam. Bahunya yang sejak tadi tegang, kini sedikit turun.Air terus mengalir. Siska akhirnya mulai membuka pakaiannya satu per satu secara perlahan. Seolah, setiap gerakan butuh waktu lebih lama dari biasanya. Setelah air di dalam bathtub cukup penuh, ia mematikan keran."Aku rasa cukup," ucapnya Beberapa detik ia hanya berdiri di pinggir, menatap air yang sed

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 263

    "Apa?" tanya Bastian. Ia jelas kaget dengan nada dan pilihan kata Siska. Itu bukan sekadar marah. Tapi itu adalah campuran dari rasa kecewa, terluka, dan kehilangan kepercayaan dalam waktu bersamaan."Beb, tenang dulu," jawabnya cepat, suaranya sedikit tertahan. "Nggak kayak gitu. Aku sama Alya nggak ada apa-apa sebelumnya. Kita baru kenal hari ini dan itupun karena project Keluarga An. Kejadian barusan itu cuma..."Siska tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi justru sebaliknya. Tawa yang tipis dan hambar."Barusan?" ulangnya pelan. "Dan kamu pikir itu bikin apa yang udah kamu lakuin sama Alya jadi lebih baik?"Bastian terdiam sesaat. Ia tahu, penjelasan seperti itu tidak akan terdengar meringankan di telinga siapa pun."Aku emang salah dan aku akui itu. Tapi bukan berarti aku main di belakang kamu, Beb. Aku nggak pernah berfikir jauh sampe seperti itu. Kamu yang paling tau gimana besarnya rasa cinta dan sayang aku ke kamu.""Cukup, Bas," ucap Siska. Ia kembali mengangkat tangan ka

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 50

    "Satria?!" Mata Satria membola saat mendengar namanya dipanggil. "Lho, Andini?"Bagaimana tidak, saat ini ia hanya mengenakan handuk putih untuk menutupi bagian intinya. Jauh dari tertutup sempurna. Sedangkan handuk kecil di tangannya, ia bawa untuk mengeringkan rambutnya hitamnya yang basah. W

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 37

    "Pulang?!" 'Tumben Mbak Dila ngajak gue untuk segera pulang?! Ada apa ya?' batin Andini. "Iya! Ibu Zaskia minta kita segera pulang setelah jam kerja berakhir." ucap Dila sambil kembali duduk di kursinya. Andini mengerutkan kening "Emangnya kenapa, Mbak? Apa kita harus menurutinya?"Dila mengged

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 40

    "Maksud Bapak?" Alis Andini saling bertaut. "Maaf, saya keceplosan!" Dion nyengir. Ia sengaja bicara seperti itu agar suasana antara Andini dan dirinya lebih mencair. "Maksud saya, tidak masalah, An! Lagian kan sesama teman harus ada sisi humorisnya biar lebih akrab!" Ia tersenyum. Andini me

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 41

    Andini melihat ke arah suara. "Iya, Pak? Sa-saya... " Saat ini, Satria sudah berada di hadapan Andini dan Dion. Matanya menatap tajam dan rahangnya mengeras. Tidak perlu dijelaskan lagi, ia sangat marah dengan pemandangan yang ia lihat sekarang. Tanpa sadar, Andini menundukkan pandangannya. Baru

    last updateLast Updated : 2026-03-20
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status