LOGIN"Aduh!"
Andini meringis dan memegang keningnya yang memerah. "Maaf! Saya nggak sengaja. Kamu nggak apa-apa?!" Dion berjalan mendekat dan mencoba menyentuh keningnya. Namun dengan cepat Andini menepisnya. 'Nggak apa-apa, apanya?!’ batin Andini sambil menatap galak ke arah Dion. ‘Bener-bener ya ini orang! Nggak bisa ketuk pintu dulu apa sebelum masuk? Bikin gue malu aja di depan Satria!' Siska mempercepat langkahnya, menghampiri Andini. Karena sudah ditolong putrinya, Satria memutuskan untuk memperhatikan dari balik meja. "Lo nggak apa-apa An?" ucap Siska khawatir. "Bisa-bisanya sih lo kecelakaan sampai dua kali dalam satu hari." Siska memegang kening Andini dengan tangan kanannya. Andini yang tadi ingin marah, mengurungkan niatnya. Dia sadar kalau Satria sedang memperhatikan dari jauh. "Nggak apa-apa Sis! Tenang! Cuma sedikit perih aja kok!" Andini nyengir. "Udahlah, mending kita pulang aja yuk! Daripada lo kenapa-kenapa lagi! Udah sore juga kan!" Andini melihat jam di pergelangan tangan kirinya, dan menggeleng. "Nggak bisa Sis, sekarang belum waktunya pulang kerja." "Sebentar lagi! Iya kan, Ayah?" Satria yang sedari tadi menatap dari kejauhan mengangguk. "Siska benar. Sebaiknya kamu segera izin dengan Dila dan bersiap untuk pulang, Andini!" Mendengar suara Satria yang memiliki banyak penekanan, Andini mengangguk. Dia tidak berniat melawan sama sekali. "Ya udah, gue siap-siap dan izin dulu ya!" "Oke!" Siska mengangguk dan tersenyum. Dia sangat paham Andini. Tadi, dia sengaja bertanya pada Satria. Karena jika hanya ia yang bicara, Andini tidak mungkin dengan mudahnya mengindahkan tawarannya. Andini berjalan ke luar ruangan dan menutup pintu. Dila yang sedang fokus mengerjakan tumpukan dokumen terkesiap. Tubuhnya sudah seperti robot. Apapun yang sedang dia kerjakan, jika tiba-tiba terdengar suara pintu presdir terbuka, dia langsung melepas pekerjaannya dan menatap ke arah pintu. Bersiap menerima perintah atau menyapa sang presdir. "Aku kira Pak Satria." Dila menghela nafas lega. Andini nyengir dan duduk di mejanya. Tepat di samping Dila. "Kamu kenapa, An? Kok jalannya begitu? Terus itu juga! Kenapa merah begitu deh?!" tanya Dila sambil mengerutkan kening. "Kaki aku keseleo Mba, terus ini kejedot pintu," jawab Andini sambil menunjuk keningnya. "Astaga! Kamu ada-ada aja sih, An!" Dila bangkit dari duduknya. "Aku ambil kompres dingin dulu ya!" Rekan senior di divisi sekretaris itu berjalan menuju pantry yang letaknya berada di sudut ruangan. Tidak terlalu jauh dari ruang kerja mereka. "Ya ampun nggak usah Mba! Tadi kaki aku udah di kompres kok!" "Itu kan kaki, kalau kening pasti belum, kan? Orang masih merah gitu!" ucap Dila dari pantry. "Iya sih." Andini kembali nyengir pasrah Tak lama kemudian Dila kembali dengan kompres dingin. Segera, ia menempelkannya di dahi Andini. "Nah, kalau udah gini kan aman!" Dila tersenyum puas sambil memberikan salep ke kening Andini. "Makasih ya, Mbak,” ujar Andini. “Oh iya, aku izin pulang lebih awal boleh Mba?" "Boleh dong, kan kondisi kamu juga lagi kayak gini." Dila sangat paham Andini. Dia tidak mungkin meminta izin pulang cepat kalau tidak ada sesuatu yang memaksanya. Andini merupakan orang yang bertanggung jawab dan selalu membantunya mengerjakan semua pekerjaan. Bahkan ketika harus lembur pun, Andini selalu siap membantu dan menemaninya. “Thanks, Mbak!” Andini tersenyum lebar. “Besok aku datang pagian deh! Buat lanjutin kerjaan hari ini.” Dila pun membalas, "Iya, iya. Kamu siap-siap gih!" "Oke Mba!" Andini pun segera membereskan berkas di meja dan tasnya. Sementara itu, di ruangan Satria. Dion masih tertegun menatap pintu yang sudah tertutup rapat sejak tadi. Ia penasaran dengan gadis yang terhantam pintu karenanya. ‘Nggak biasanya perempuan nolak gue tegas begitu. Natapnya galak banget!’ batin Dion. ‘Biasanya perempuan sibuk nempel-nempel sama gue!’ "Itu siapa tadi Pak?" tanya Dion setelah duduk di hadapan Satria. "Dia Andini. Sekretaris magang di sini.” Satria menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop. "Cantik!" Mendengar komentar itu keluar dari mulut orang yang bisa dikategorikan sebagai pria flamboyan, Satria merasa tak suka. Spontan ia menurunkan layar laptopnya dan menatap Dion dengan pandangan menegur. "Saya harap kamu jaga sikap dengan Andini, Dion! Dia adalah sahabat dekat anak saya!" "Lho, memang kenapa? Bukankah untuk masalah hati tidak bisa di atur?" beo Dion. Rasanya semakin dilarang, semakin penasaran Dion dibuatnya. "Benar! Tapi bisa dikendalikan bukan?” tukas Satria sedikit tak nyaman dengan komentar sang CEO itu. “Dan satu lagi! Lain kali, ketuk pintu sebelum masuk!" Dion meringis sambil menggaruk kepala belakang yang tidak gatal. "Baik Pak!" "Jadi, bagaimana kondisi cabang di luar negeri?” Satria mulai mengganti topik. “Kamu kok pulang lebih awal?" Dion mulai menjelaskan kondisi terkini perusahaan dan menjelaskan alasannya kembali lebih cepat dari jadwal yang telah ditentukan. Siska yang sedari tadi mendengar percakapan Satria dan Dion, mengerutkan kening. ‘Bener kan! Dion pasti langsung suka sama Andini! Tapi ….’"Iya... " jawab Andini. Jika bukan karena Cinta yang menyuruhnya, ia tidak akan mengangkat telpon dari Satria. Yang saat ini bagi Andini sudah berubah status menjadi mantan kekasih. "Kamu udah pulang?" tanya Satria. Andini bangkit dari duduknya. Ia mengangguk ke arah Cinta, seolah meminta izin dan mendapatkan anggukan serupa dari Rania. Lalu, ia berjalan ke luar menuju ruang tamu. "Udah, ada apa?" tanya Satria. "Kok kamu nggak nungguin aku?" Satria kembali bertanya. "Kita kan udah putus. Ngapain aku nungguin kamu?" Andini balik bertanya. "Lagian, kerjaan aku juga udah selesai." lanjutnya. Ia sengaja menginfokan kepada Satria agar ia tidak berfikir Andini tidak profesional dalam bekerja.Satria terkekeh. "Putus? Tali yang putus, maksud kamu?" Candaan Satria sangat garing, tapi mampu membuat Andini tersenyum simpul. Andini berdesis. "Kok tali sih? Kita lah.." jawab Andini seraya berbisik karena khawatir Agung atau Cinta mendengar ucapannya. Satria tertawa. "Oh, kalau gitu ike
Satria menoleh ke belakang. "Apalagi, Bun?" tanyanya. Jujur, ia sudah malas melanjutkan pembicaraan. Ia tau sifat Rania. Mau sebanyak apapun bukti yang Satria berikan, Rania tidak mau disalahkan. Dengan mudahnya ia akan berkelit, sama seperti sebelumnya. "Duduk dulu, Sat. Kita bicarakan baik-baik."Suara Rania terdengar lebih tenang sekarang. Ia benar-benar takut akan kejadian buruk yang mungkin menimpa RA Company dan keluarga besar Hasan jika Satria marah. Terlebih, salah satu hal terburuk yang terbesit dipikirannya saat ini yaitu Satria meninggalkan RA Company. Satria kembali duduk berhadapan dengan Rania. Sedangkan semua orang yang ada di dalam ruangan, masih terdiam melihat ketegangan antara Ibu dan Anak itu. Tidak ada yang berani bicara, apalagi beranjak dari tempatnya semula. "Bunda mau minta maaf atas apa yang telah Bunda lakukan kepada Andini. Bunda janji akan bertemu langsung dengannya besok untuk meminta maaf. tutur Rania."Tapi, Bunda harap kamu juga harus paham posisi
"Andini!" tegas Satria. Rania mengerutkan kening. "Andini? Kenapa dengan dia?" tanya Rania berpura-pura tidak tau. Sebelah alis Satria terangkat dan matanya menyipit. "Kenapa, kata Bunda?!""Iya, kenapa, Sat? Bunda kan nggak punya indra keenam atau kemampuan lainnya" tanya Rania lagi. "Jadi, kalau kamu nggak bilang, gimana Bunda bisa tau?!"Satria menghembuskan nafas kasar. "Baiklah biar saya perjelas. Untuk apa Bunda meminta Andini menjauhi saya dan memberikan cek padanya?!""Ah! Ternyata itu!" ucap Rania. Ia yang tadinya menatap Satria, kini mengalihkan pandangan ke bawah sekilas, lalu kembali menatap Rania lagi. Jelas sekali kalau Rania malas membahas apa yang tadi Satria pertanyakan. "Iyalah, karena itu! Apa lagi?" Satria menekan ucapannya. "Tolong jelaskan sama saya, untuk apa Bunda melakukan itu semua?""Kamu tau semua itu dari mana, Sat?" tanya Rania. "Asisten pribadiku. Dia mencari tau alasan perubahan sikap Andini setelah Bunda datang ke kantor tadi pagi." Satria menjel
"Bunda.. " panggil Satria dengan suara yang berat dan tegas, saat ia baru saja menginjakkan kaki di rumah utama. Rumah di mana ia dibesarkan dengan sangat keras sehingga membentuk Satria yang kuat seperti sekarang. Satria tidak mudah jatuh meski dihantam gunung ataupun gedung-gedung tinggi yang mencakar langit. Ia dididik demikian karena merupakan satu-satunya anak laki-laki yang merupakan pewaris murni keluarga Hasan. Yaitu Rano Hasan. Secara turun temurun, setiap keluarga Hasan hanya memiliki satu anak laki-laki. Tidak terkecuali Ayah Satria, Rano Hasan. Namun sayangnya, saat ini Satria hanya memiliki satu anak perempuan yang sangat ia manjakan. Inilah salah satu alasan kenapa Satria ingin memiliki anak laki-laki dari Andini. Ia ingin satu anak laki-laki yang kuat sepertinya. Atau jika memungkinkan, dua atau tiga anak laki-laki secara bersamaan atau dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Tujuannya agar mereka tidak merasa berat dan bisa bekerja sama untuk membangun RA Company. H
"Pulang bareng?" tanya Andini, dengan kening berkerut. Netranya melihat ke arah Lila, memastikan ia tidak salah dengar. "Iya, yuk!" ajak Lila lagi. "Hujan deras gini, biasanya awet, An...""Kebetulan, aku lagi bawa mobil dan parkirnya nggak jauh dari sini." lanjut Lila. Ia menunjuk ke tempat parkir yang tidak jauh dari lobby. Andini menggelengkan kepala. "Kayaknya, nggak usah deh Mbak, takut ngerepotin." tolak Andini, dengan nada lembut. "Nggak repot kok, An.. Santai aja, sekalian aku jalan-jalan sambil berbuat baik sama kamu." Ia nyengir. Alis sebelah kanan Andini sedikit terangkat. "Berbuat baik?" "Iya. Antar kamu kan merupakan salah satu perbuatan baik." tutur DLila. Lila sebenarnya adalah orang yang baik dan pengertian, tapi dibalik itu semua, Ia adalah orang yang cara bicaranya sering tidak terkontrol dan sulit ditebak. "Nggak deh, Mbak. Lagian, emangnya rumah kita searah?" tanya Andini. "Searah kok, kalau memang rumah kamu nggak jauh dari rumah Pak Satria, ya.. Soalnya,
"Uhm.. " gumam Andini. "Saya ke luar kantor lagi ya, An!" ucap Satria. Ia berjalan ke luar ruangan dan melewati Andini yang masih menatap lurus ke arahnya. Tidak ada sedikitpun gerakkan kepala Satria untuk melihat kembali ke arah Andini. Mata Satria justru fokus melihat dokumen yang saat ini ia pegang. Padahal, sejak tadi netra Andini terus memandanginya. Ia menarik nafas, cukup panjang. Lalu menghembuskan perlahan. "Aku sedih-sedihan, dia mah udah fokus sama kerjaan." gerutu Andini. Andini sedikit mendengus, lalu masuk ke dalam ruangan. Ia menaruh dokumen yang perlu Satria cek dan tanda tangani di atas meja kerja. Setelah selesai, ia berbalik dan berjalan ke luar ruangan. Namun, tiba-tiba, ia berhenti sejenak. Entah kenapa, rasa sedih kembali memenuhi hati dan pikirannya. Air mata mulai mengalir dipipi. Sama seperti tadi, ketika ia berada di dalam toilet. Namun, tangisnya kali ini, tidak berlangsung lama. Ia menghapus sisa air mata di pipi dan mengedarkan pandangan ke seluruh







