FAZER LOGINAlan melangkah terburu-buru menyusuri selasar rumah sakit yang sepi. Napasnya memburu, terasa panas di tenggorokan. Begitu ia sampai di depan pintu ruang jenazah, langkahnya melambat. Di sana, Rain sudah berdiri menunggunya dengan wajah sembab di samping sebuah brankar.Matanya menangkap sosok yang terbujur kaku di bawah kain putih itu. Dengan tangan gemetar, ia menyingkap sedikit penutup wajah ibunya. Wajah itu tampak begitu pucat, namun sekaligus sangat tenang, seolah semua beban hidupnya telah menguap begitu saja.Alan membungkuk, merengkuh tubuh dingin itu ke dalam pelukannya. Bahunya bergetar hebat saat ia mendaratkan kecupan lama di kening sang ibu. "Maafin Alan, Bu... Maafin Alan karena nggak bisa jagain Ibu. Tenang di sana ya, Bu," bisiknya dengan suara serak yang nyaris hilang.Rain yang tadinya sudah menyiapkan sejuta amarah karena keterlambatan Alan, mendadak luruh. Melihat kerapuhan pria di depannya, tangis Rain justru pecah tanpa bisa ditahan. Ia mendekat, menepuk bahu A
Alan sedikit mengguncang bahu Raisa, suaranya naik satu nada untuk menembus mimpi buruk yang seolah mengunci kesadaran wanita itu."Raisa! Hei, bangun! Itu cuma mimpi!"Raisa tersentak hebat. Matanya terbuka lebar, namun pupilnya masih bergetar, tidak fokus menatap langit-langit kamar. Napasnya pendek-pendek dan cepat, seperti orang yang baru saja berlari maraton.Butuh beberapa detik bagi Raisa untuk menyadari bahwa ia berada di dalam kamar yang hangat, bukan di dalam mobil yang gelap atau di lorong rumah sakit yang dingin."Mas... Alan?" bisiknya lirih, suaranya hampir hilang. Ia menatap tangan Alan yang masih memegang bahunya, lalu perlahan beralih menatap wajah pria itu yang tampak sangat cemas."Iya, ini aku. Kamu aman," ucap Alan lembut, perlahan melepaskan pegangannya dan beralih mengusap kening Raisa yang basah oleh keringat dingin. "Tadi kamu mimpi buruk. Kamu nggak sengaja nyenggol vasnya sampai pecah."Raisa menoleh ke arah lantai, melihat serpihan kaca dan bunga yang berse
Sementara itu, suasana di kediaman Fajar dan Ratri terasa begitu dingin dan kaku. Begitu menginjakkan kaki di dalam rumah, Ratri langsung melangkah cepat menuju kamar, mengabaikan sapaan asisten rumah tangga. Ia menjatuhkan diri di tepi ranjang, meremas sprei dengan jemari yang masih gemetar.Pikirannya melayang kembali ke lorong rumah sakit tadi. Bayangan wanita itu terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak."Nggak mungkin... Itu nggak mungkin Raisa," bisiknya pada diri sendiri, suaranya bergetar. "Anak itu sudah habis. Dia sudah mati di jurang itu."Fajar masuk tak lama kemudian. Ia menutup pintu dengan debuman pelan, matanya menyipit memperhatikan tingkah aneh istrinya sejak mereka meninggalkan rumah sakit. Sambil mendengus, ia melepas jasnya dan melemparkannya begitu saja ke atas kasur, tepat di samping Ratri."Kamu kenapa sih? Dari tadi di mobil diam saja, sekarang malah kayak orang kesurupan," tanya Fajar dengan nada ketus.Ratri mendongak, wajahnya pias. Ia langsung
Alan mengikuti arah pandang Raisa, dan seketika itu juga jantungnya seolah berhenti berdetak. Di sudut ruangan itu, berdiri sosok ibu dan ayah tiri Raisa. Kehadiran mereka yang tiba-tiba terasa seperti hantaman keras bagi Alan.Ia segera menoleh ke arah Raisa. Wajah wanita itu pias, seputih kapas. Jemarinya mulai gemetar hebat, dan tatapannya kosong namun penuh ketakutan—sebuah tanda bahaya yang sangat dipahami Alan. Traumanya. Jika dibiarkan semenit saja di sini, Raisa bisa hancur.Tanpa membuang waktu, Alan menyambar jemari dingin Raisa, menggenggamnya kuat-kuat, lalu menariknya menjauh. Ia memilih jalur memutar, keluar melalui pintu samping gedung demi menghindari pertemuan yang bisa menjadi bencana itu. Raisa saat ini adalah porselen retak; ia belum siap menghadapi masa lalunya.Setelah sampai di area parkir yang lebih tenang, Alan menghentikan langkah. Raisa hanya diam, mematung dengan napas yang mulai tersengal."Hei, tenang! Raisa, lihat aku!" seru Alan lirih, mencoba menembus
“Mas Alan!” panggil Raisa saat sampai di rumah sakit.Langkahnya terhenti ketika melihat Alan sedang memeluk seorang wanita. Raisa mengenali wanita itu—dialah yang malam itu bersama Alan saat mereka pertama kali bertemu di warung. Ada hubungan apa di antara mereka?Dada Raisa tiba-tiba terasa sesak. Namun ia berusaha bersikap biasa saja. Ini bukan waktunya untuk cemburu. Lagi pula, ia juga tidak punya hak untuk merasa seperti itu. Hubungannya dengan Alan tidak lebih dari sekadar teman, dan Alan hanya membantunya menyelesaikan masalahnya.“Loh, kenapa bengong?” tanya Rain yang baru saja datang menyusul Raisa. Saat melihat ke arah yang sama dengan Raisa, ia langsung mengerti situasinya. “Ayo samperin saja. Dia butuh kamu sekarang.”Raisa mendongak menatap Rain. “Sepertinya dia nggak butuh aku, Mas. Sudah ada yang menemani dan menguatkan dia sekarang,” ucapnya dengan nada sedih.Rain menghela napas kasar. Ia kemudian menghampiri Alan dan menepuk bahu pria itu. “Lan, gue bawain baju ganti
“Itu siapa, ya?” gumam Rain pelan saat keluar dari lift.Dari kejauhan ia melihat seorang wanita berdiri tepat di depan pintu apartemen Alan. Di sampingnya ada sebuah koper besar. Wanita itu mengenakan masker hitam dan tampak terus menatap ke arah pintu, seolah sedang menunggu seseorang.Kening Rain langsung berkerut.“Jangan-jangan maling lagi,” gumamnya curiga.Ia pun mempercepat langkah, lalu berhenti tepat di depan wanita itu.“Hei! Kamu mau maling, ya?” tuduh Rain tanpa basa-basi.Wanita itu tersentak kaget. Ia buru-buru menggeleng sambil sedikit mundur.“Ti-tidak! Aku nggak ada niat begitu,” katanya gugup. Ia lalu membuka maskernya. “Aku cuma mau ketemu Mas Alan. Dia ada, kan?”Begitu wajah wanita itu terlihat jelas, mata Rain langsung membelalak.Ia menatapnya lama seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.“Kamu…?” Rain bergumam pelan.Beberapa detik kemudian ia bahkan menggosok-gosok matanya, memastikan penglihatannya tidak salah.“Kamu beneran masih hidup?” katanya akh







