MasukJam dinding di ruang tengah sudah berdentang sepuluh kali. Keheningan malam mulai merayap masuk, menggantikan lantunan doa yang sejak sore bergema. Satu per satu kerabat dan tetangga berpamitan, menyisakan janji untuk kembali esok pagi guna mengantar jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.Kini, hanya ada Alan dan Rain yang duduk bersandar di dinding, menatap lilin yang menyala temaram di dekat brankar ibunya.Rain melirik arlojinya, lalu menghela napas berat. "Lan, gue kayaknya harus balik sekarang," ucapnya dengan suara rendah, memecah kesunyian. "Bukannya gue nggak mau nemenin lo semalaman, tapi subuh nanti gue harus stand by di bandara buat jemput nyokap."Alan menoleh, lalu mengangguk paham. Ia memaksakan sebuah senyum tipis untuk sahabatnya itu. "Nggak apa-apa, Rain. Lo udah bantu banyak banget dari siang tadi. Pulanglah, istirahat. Titip salam buat nyokap lo.""Lo beneran nggak apa-apa sendiri?" Rain memastikan sekali lagi sambil bangkit berdiri dan merapikan jaketnya. "Kala
Perjalanan kembali ke rumah duka terasa jauh lebih lambat dari sebelumnya. Alan fokus membelah jalanan malam, sementara Raisa duduk di sampingnya, memeluk erat jaket tebal yang diberikan Alan. Pandangan wanita itu lurus ke luar jendela, menatap lampu-lampu jalan yang bergerak cepat, namun jemarinya masih sesekali bergerak gelisah.Alan sesekali melirik ke samping, memastikan Raisa baik-baik saja. "Kamu dingin? Mau aku kecilkan AC-nya?" tanya Alan lembut.Raisa menoleh sedikit, lalu menggeleng pelan. "Enggak, Mas. Segini cukup." Suaranya masih terdengar serak, sisa dari tangisnya yang hebat tadi. Ia ragu-ragu sejenak sebelum kembali bersuara. "Mas... maaf ya. Aku benar-benar egois. Harusnya aku tahu kamu lagi berduka, tapi aku malah...""Sudah, jangan dibahas lagi," potong Alan halus. Ia tidak ingin Raisa kembali tenggelam dalam rasa bersalah. "Aku yang mutusin buat jemput kamu. Bagi aku, kondisi kamu itu darurat. Dan sekarang, yang penting kamu aman dulu."Mobil akhirnya memasuki gang
Mendengar tangis Raisa yang pecah dan terdengar semakin histeris di seberang telepon, pertahanan Alan runtuh. Rasa bersalahnya membuncah, mengalahkan logika bahwa ia seharusnya berada di rumah duka saat ini.Ia bisa membayangkan Raisa yang sedang meringkuk ketakutan di pojok kamar, persis seperti saat traumanya kambuh dulu."Raisa, hei! Tenang dulu, jangan nangis kayak gitu," ucap Alan panik, suaranya naik satu nada. Ia mondar-mandir di samping mobilnya, mengacak rambutnya dengan frustrasi."Aku takut, Mas... jangan tinggalin aku sendiri..." rintih Raisa di sela isakannya. Suaranya terdengar sangat sesak, seolah oksigen di sekitarnya benar-benar habis.Alan memejamkan mata sejenak, menoleh ke arah pintu rumahnya di mana bendera kuning sudah terpasang. Hatinya tercabik. Di dalam sana ada jenazah ibunya, tapi di telepon ini ada wanita yang nyawanya seolah sedang di ujung tanduk karena ketakutan."Ya sudah, kamu tunggu di sana! Jangan matikan teleponnya, tetap bicara sama aku," ucap Alan
Alan mencengkeram gagang telepon itu hingga tangannya bergetar. Ia bisa melihat binar harapan di mata ayahnya, sesuatu yang selama ini menjadi satu-satunya cahaya di tengah kegelapan sel penjara. Senyum itu seolah mengiris-iris hati Alan."Pa..." suara Alan pecah. Ia menunduk, tak sanggup membalas tatapan tulus pria di balik kaca itu.Ayahnya mulai menyadari ada yang tidak beres. Senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh kerutan cemas di dahi. "Kenapa, Lan? Ibu sakit lagi? Kamu butuh biaya untuk obatnya? Bilang sama Papa, Nak."Alan menggeleng perlahan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga, jatuh membasahi meja kayu di depannya. "Ibu udah nggak sakit lagi, Pa," bisik Alan serak. "Ibu... Ibu udah pergi."Hening seketika menyergap ruangan sempit itu. Ayah Alan terpaku. Gagang telepon yang ia pegang perlahan merosot dari tangannya, tergantung tak berdaya di kabelnya. Pria paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepala, seolah berusaha menolak kenyataan yang baru saja ia de
Alan melangkah terburu-buru menyusuri selasar rumah sakit yang sepi. Napasnya memburu, terasa panas di tenggorokan. Begitu ia sampai di depan pintu ruang jenazah, langkahnya melambat. Di sana, Rain sudah berdiri menunggunya dengan wajah sembab di samping sebuah brankar.Matanya menangkap sosok yang terbujur kaku di bawah kain putih itu. Dengan tangan gemetar, ia menyingkap sedikit penutup wajah ibunya. Wajah itu tampak begitu pucat, namun sekaligus sangat tenang, seolah semua beban hidupnya telah menguap begitu saja.Alan membungkuk, merengkuh tubuh dingin itu ke dalam pelukannya. Bahunya bergetar hebat saat ia mendaratkan kecupan lama di kening sang ibu. "Maafin Alan, Bu... Maafin Alan karena nggak bisa jagain Ibu. Tenang di sana ya, Bu," bisiknya dengan suara serak yang nyaris hilang.Rain yang tadinya sudah menyiapkan sejuta amarah karena keterlambatan Alan, mendadak luruh. Melihat kerapuhan pria di depannya, tangis Rain justru pecah tanpa bisa ditahan. Ia mendekat, menepuk bahu A
Alan sedikit mengguncang bahu Raisa, suaranya naik satu nada untuk menembus mimpi buruk yang seolah mengunci kesadaran wanita itu."Raisa! Hei, bangun! Itu cuma mimpi!"Raisa tersentak hebat. Matanya terbuka lebar, namun pupilnya masih bergetar, tidak fokus menatap langit-langit kamar. Napasnya pendek-pendek dan cepat, seperti orang yang baru saja berlari maraton.Butuh beberapa detik bagi Raisa untuk menyadari bahwa ia berada di dalam kamar yang hangat, bukan di dalam mobil yang gelap atau di lorong rumah sakit yang dingin."Mas... Alan?" bisiknya lirih, suaranya hampir hilang. Ia menatap tangan Alan yang masih memegang bahunya, lalu perlahan beralih menatap wajah pria itu yang tampak sangat cemas."Iya, ini aku. Kamu aman," ucap Alan lembut, perlahan melepaskan pegangannya dan beralih mengusap kening Raisa yang basah oleh keringat dingin. "Tadi kamu mimpi buruk. Kamu nggak sengaja nyenggol vasnya sampai pecah."Raisa menoleh ke arah lantai, melihat serpihan kaca dan bunga yang berse







