Se connecterMendengar kata 'rutan', Raisa tertegun. Matanya membelalak, dan untuk beberapa detik, ia kehilangan kata-kata. Kenyataan bahwa sahabat yang paling setia menemaninya kini harus mendekam di balik jeruji besi membuat dadanya terasa sesak karena dirundung rasa bersalah."Rutan...?" bisik Raisa, suaranya mendadak bergetar. "Jadi dia benar-benar ditahan?”Alan mengangguk pelan saat lampu lalu lintas berubah hijau. Ia kembali menginjak pedal gas, membawa mobil melaju perlahan. "Iya, Sa. Waktu semuanya kacau, Gendis juga ikut ditangkap bersamaan dengan ibu dan ayah tirimu karena keterlibatannya waktu itu. Dia divonis satu tahun. Berarti masih ada sekitar tujuh bulan lagi."Raisa mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan. Amarah dan rasa bersalah bercampur aduk di dalam dadanya. Meskipun ia tahu Gendis ditahan karena sempat membantu ibunya menculik dirinya akibat mendapat ancaman, Raisa sama sekali tidak membenci sahabatnya itu. Ia tahu betul Gendis terpaksa melakukan itu, dan pada akhirnya
Di dalam mobil hitam legam itu, atmosfer mendadak berubah menjadi sangat tegang. Sorot mata ibu kandung Raisa menghunus tajam ke arah kaca mobil Alan.Kenyataan bahwa putri kandung yang dikiranya sudah tewas kini berada tepat di depan matanya—dan kembali bersama Alan—membuat dadanya naik turun menahan geram.Ayah tiri Raisa menyandarkan punggungnya ke jok kulit mobil, mengetukkan jarinya di setir dengan ritme yang lambat namun mengintimidasi. Otak liciknya langsung berputar cepat.Siasat mereka kemarin baru saja sukses besar, bahkan sampai menumbangkan ibu Alan. Namun, kemunculan Raisa yang tiba-tiba ini adalah sebuah variabel tak terduga yang bisa mengancam posisi mereka saat ini."Tenang," ucap pria itu dingin, senyum sinisnya kembali terkembang. "Dia memang masih hidup, tapi dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi sekarang. Alan cuma pemuda yang sedang hancur karena kematian ibunya. Mereka berdua tidak ada apa-apanya dibanding kekuatan kita yang sekarang."Ibu Raisa menoleh, menatap
Keesokan harinya, suasana di rumah duka sudah mulai ramai sejak pukul tujuh pagi. Para tetangga dan kerabat dekat datang silih berganti untuk memberikan penghormatan terakhir. Alan berdiri di dekat pintu masuk, menyalami mereka satu per satu dengan wajah yang tampak begitu lelah dan tatapan mata yang kosong.Di lantai atas, Raisa memilih untuk tetap di dalam kamar, mengamati keramaian itu dari balik tirai jendela yang tersingkap sedikit.Sekitar pukul delapan lewat lima belas menit, sebuah mobil minibus hitam berhenti tepat di depan pagar rumah. Pintu tengah terbuka, dan tiga orang petugas kepolisian berpakaian preman turun terlebih dahulu. Tak lama, sosok pria paruh baya dengan kemeja putih kusut melangkah turun. Kedua tangannya tertutup jaket yang disampirkan di lengan, menyembunyikan kilauan besi borgol yang mengikat pergelangan tangannya."Papa..." gumam Alan pelan.Para pelayat di ruang tengah mendadak senyap saat ayah Alan melangkah masuk ke dalam rumah dengan pengawalan ketat.
Raisa masih terduduk di lantai, menatap Alan dengan pandangan yang perlahan mulai menjernih. Kabut kepanikan yang tadi menguasai kepalanya perlahan terkikis oleh rasa bingung.Ia menyentuh bibirnya yang terasa hangat, lalu beralih menatap Alan yang masih menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya.Keheningan di kamar itu mendadak terasa begitu pekat dan canggung. Hanya ada suara helaan napas mereka yang berangsur-angsur normal."Mas Alan..." panggil Raisa lirih. Suaranya kecil, nyaris tenggelam di antara rasa bersalah yang tiba-tiba menjalar di dadanya. Ia sadar, dalam kondisi tidak stabil tadi, ia pun ikut larut dan membalas sentuhan Alan.Alan perlahan menurunkan tangannya. Wajahnya tampak luar biasa pucat, gurat penyesalan tercetak jelas di matanya. Ia tidak berani menatap langsung ke arah mata Raisa. Pandangannya tertuju pada lantai kamar, tepat di sebelah pecahan lampu tidur yang berserakan."Aku yang salah, Raisa. Nggak seharusnya aku kehilangan kendali," ucap Alan, s
Jam dinding di ruang tengah sudah berdentang sepuluh kali. Keheningan malam mulai merayap masuk, menggantikan lantunan doa yang sejak sore bergema. Satu per satu kerabat dan tetangga berpamitan, menyisakan janji untuk kembali esok pagi guna mengantar jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.Kini, hanya ada Alan dan Rain yang duduk bersandar di dinding, menatap lilin yang menyala temaram di dekat brankar ibunya.Rain melirik arlojinya, lalu menghela napas berat. "Lan, gue kayaknya harus balik sekarang," ucapnya dengan suara rendah, memecah kesunyian. "Bukannya gue nggak mau nemenin lo semalaman, tapi subuh nanti gue harus stand by di bandara buat jemput nyokap."Alan menoleh, lalu mengangguk paham. Ia memaksakan sebuah senyum tipis untuk sahabatnya itu. "Nggak apa-apa, Rain. Lo udah bantu banyak banget dari siang tadi. Pulanglah, istirahat. Titip salam buat nyokap lo.""Lo beneran nggak apa-apa sendiri?" Rain memastikan sekali lagi sambil bangkit berdiri dan merapikan jaketnya. "Kala
Perjalanan kembali ke rumah duka terasa jauh lebih lambat dari sebelumnya. Alan fokus membelah jalanan malam, sementara Raisa duduk di sampingnya, memeluk erat jaket tebal yang diberikan Alan. Pandangan wanita itu lurus ke luar jendela, menatap lampu-lampu jalan yang bergerak cepat, namun jemarinya masih sesekali bergerak gelisah.Alan sesekali melirik ke samping, memastikan Raisa baik-baik saja. "Kamu dingin? Mau aku kecilkan AC-nya?" tanya Alan lembut.Raisa menoleh sedikit, lalu menggeleng pelan. "Enggak, Mas. Segini cukup." Suaranya masih terdengar serak, sisa dari tangisnya yang hebat tadi. Ia ragu-ragu sejenak sebelum kembali bersuara. "Mas... maaf ya. Aku benar-benar egois. Harusnya aku tahu kamu lagi berduka, tapi aku malah...""Sudah, jangan dibahas lagi," potong Alan halus. Ia tidak ingin Raisa kembali tenggelam dalam rasa bersalah. "Aku yang mutusin buat jemput kamu. Bagi aku, kondisi kamu itu darurat. Dan sekarang, yang penting kamu aman dulu."Mobil akhirnya memasuki gang







