MasukMelinda benar-benar mematung dengan hati yang mencelos di tempatnya. Sejak mengetahui gosip itu, Melinda sudah banyak berpikir. Tidak akan ada gosip kalau tidak ada yang memancing. Dan pastinya foto-foto itu tidak akan muncul begitu saja kalau tidak ada bahan untuk difoto. Namun, Melinda tetap percaya pada Lira. Ya, percaya, walaupun bukan berarti ia menerima semua penjelasan itu mentah-mentah. Dan kali ini, ia justru melihat dengan mata kepalanya sendiri pemandangan yang begitu menyayat hati, kenyataan yang sebenarnya dari gosip yang disangkal itu. Tatapannya goyah, tapi entah mengapa ia tidak bisa berhenti menatap di sana. Raynard dan Lira yang belum sadar ada yang menonton pun masih saling berpegangan tangan, sampai akhirnya Lira yang menarik tangannya duluan. "Raynard, ini ... tolong jangan menyentuhku seperti ini. Kita tidak sedekat itu untuk saling menyentuh dan juga ... ada banyak mata yang melihat, ada wartawan juga kan di dalam? Ini tidak baik, aku tidak mau ada berita se
"Jadi kau sudah ada di sana, Lira? Kau sudah bertemu dengannya?" tanya Mefi di teleponnya. Lira sengaja menunggu di parkiran saja agar ia tidak perlu bertemu Raynard, apalagi ia melihat beberapa wartawan yang meliput acara pembukaan yang sangat ramai itu, banyak mobil mewah juga terparkir di sana. Akan lebih baik kalau Lira tidak membuat kehebohan baru. Namun, ia bosan duduk sendirian di dalam mobil dan akhirnya ia menelepon Mefi. "Aku sudah di sini mengantar Bu Melinda, tapi aku tetap di mobil. Aku tidak turun dan aku juga tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana." "Mengapa kau tidak turun? Lalu apa yang kau lakukan di dalam mobil sendirian?" "Aku meneleponmu." "Ck, bukankah kemarin dia mengirimimu pesan dan mengundangmu secara pribadi? Seharusnya kau masuk saja, Lira." "Dan membuat kehebohan lagi? Tidak, Mefi. Hidupku sudah tenang beberapa hari ini, bekerja seperti biasa membuatku kembali merasa hidup." "Tapi tidak dapat dipungkiri kalian kan saling mengenal." "Itu akan be
Satu minggu di Singapore terasa berlalu begitu cepat.Pagi itu, suasana di bandara Changi Airport dipenuhi langkah kaki para penumpang yang datang dan pergi. Rania berdiri di dekat gate keberangkatan bersama keluarganya, sementara dua pengasuh sibuk memastikan David dan Raline tidak berlari terlalu jauh."Semuanya sudah beres, Pak. Hati-hati!" seru asisten Lucas. "Baiklah, hubungi aku kalau ada apa pun." "Baik, Pak." "Ayo semua, kita pulang!" ajak Lucas. "Akhirnya kita pulang juga!" seru Rendy yang sudah membeli banyak oleh-oleh.Saking banyaknya, Lucas membelikan koper lagi untuk Rendy khusus untuk mengisi semua oleh-oleh. "Wah, babymoon kita berakhir juga, Surya," rajuk Sissy pada suaminya itu. "Nanti setelah anak kita lahir, kita jalan-jalan lagi." "Asik! Terima kasih, Sayang!" Cup. Sissy mencium pipi suaminya itu. David dan Raline juga terus bertepuk tangan, mereka selalu senang dalam suasana apa pun. Mereka pun kembali berfoto bersama sebelum akhirnya naik pesawat pulang.
Pagi itu, suasana di suite Marina Bay Sands terasa sangat santai. Tidak ada Lucas, tidak ada Surya. Keduanya sudah berangkat lebih dulu untuk urusan pekerjaan, meninggalkan "tim wanita dan anak-anak" menikmati hari mereka sendiri.Sissy sendiri sudah ada di sana dan terkagum-kagum melihat betapa indahnya suite itu. "Ini mewah sekali, kata Surya harganya lebih dari seratus juga semalam." Rendy langsung mendelik mendengarnya. "Kau serius, Kak? Aku benar-benar menginap di suite seratus juta semalam?" "Jangan lupa kalau kakak iparmu itu miliarder, jadi tidak ada yang tidak mungkin." Rania hanya geleng-geleng kepala. "Lucas memang seperti itu, tapi karena kita sudah menjadi keluarganya, jadi ayo kita nikmati saja!" Rendy langsung tertawa mendengarnya. "Ayo, untung saja aku sudah menukar uangku ke dalam SGD, tapi aku tidak membawa banyak." "Surya juga sudah memberiku uang jajan untuk belanja di Singapore, jadi aman," timpal Sissy. "Eits!" sahut Rania. "Tidak boleh ada yang mengeluark
"Apa? Ibunya yang bicara langsung padamu?" Mefi merinding begitu mendengar cerita Lira malam itu. Ibunya Melinda itu hampir tidak pernah mencampuri urusan Melinda dan Lira pun jarang berhubungan dengan wanita itu. Kalau Bu Tanaya sudah bicara dengannya berarti itu adalah masalah yang sangat penting. Lira menghela napas panjang. "Ya, aku berdebar sekali tadi, Mefi." "Aku bisa mengerti, Lira. Tapi dia tidak menyalahkanmu kan?" "Tidak. Awalnya ya, aku merasa seperti disudutkan, tapi Bu Melinda membelaku." "Syukurlah kau punya bos yang sangat baik." Lira mengangguk. "Ya, walaupun makin baik, aku makin merasa bersalah padanya." Kali ini giliran Mefi yang terdiam. "Kau ... kalau kau memang tidak ada hubungan apa-apa dengan Chef Raynard, mengapa harus merasa bersalah?" "Entahlah, aku hanya merasa seperti menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka."Mefi menatap Lira sedikit lebih lama. Ia mengidolakan Raynard, ia tahu bagaimana rasanya. Tapi ekspresi Lira saat ini bukanlah ekspresi
"Berita ini sangat menggangguku, Lira!" Bu Tanaya, ibunya Melinda datang ke kantor siang itu hanya untuk bertanya tentang kebenaran berita Raynard dan Lira. Sebenarnya, beritanya sendiri sudah mulai mereda dan tidak seheboh hari pertama kemarin, tapi Bu Tanaya baru sempat kemari hari ini. "Maafkan aku, Bu. Semuanya salah paham," jawab Lira. "Aku juga sudah menjelaskan semuanya pada Bu Melinda." Bu Tanaya menatap anaknya itu. "Apa kau sudah menelepon Raynard, Melinda?" "Belum, Ibu. Beritanya tidak benar, jadi aku tidak mau terlihat seolah mempercayai gosip." "Tapi setidaknya kau harus bicara dengannya dulu." "Nanti saja setelah gosipnya mereda, Ibu." Bu Tanaya mengembuskan napas panjang sambil menatap Lira. "Bisa-bisanya kalian difoto berdua seperti itu. Harus ada penjelasan mengapa kalian bisa terlihat saling menyuapi. Bagaimana itu bisa terjadi?" "Itu bukan saling menyuapi, Bu. Lebih tepatnya, karena kami saling mengenal jadi kami saling menyapa. Saat itu Chef Raynard sedang
Jam pulang kerja yang dinantikan Rania akhirnya tiba. Dengan antusias, Rania menyiapkan semua, tapi ternyata Lucas tidak ada di hotel. Lucas pergi dari pagi dan belum juga kembali, malahan belum tentu kapan akan kembali. Rania kecewa, tapi ia langsung menyimpan kuenya di dalam kulkas. Begitu juga
Rania tidak bisa tidur malam itu. Bukan karena banyak pikiran, tapi karena hatinya terlalu bahagia. Seolah dirinya dan Lucas menjadi lebih dekat, ia menjadi lebih santai di dekat Lucas, dan terutama ia mendapatkan rekaman pria itu. Ya, rekaman random yang ternyata begitu tiba di rumah langsung Ra
"Akhirnya aku bebas dari Elvan, Ibu. Aku tidak tahu bagaimana Pak Lucas melakukannya tanpa aku harus ke pengadilan, aku hanya memberi kuasa pada pengacara untuk mengurus semuanya. Dan akhirnya aku bebas, Ibu. Aku sudah resmi menjadi janda." Rania tidak bisa menahan rasa bahagianya. Setelah memberi
"Kudengar kau memecat Ririn karena aku ...." "Dia pantas mendapatkannya, Rania. Sekalipun korbannya bukan kau, aku akan tetap memecatnya." Lucas menepati janjinya kembali ke rumah sakit malam itu. Ia baru kembali cukup malam setelah Aldo dan Sissy pulang. Ia tidak mau membuat gosip yang tidak perl







