LOGINRaynard langsung berpamitan ke kamarnya setelah selesai bicara. Dan Camilla makin geram menatap punggung anaknya itu."Anak itu benar-benar tidak bisa diatur!" geramnya."Kau mau mengaturnya seperti apa lagi? Dia bukan anak kecil lagi!" sahut Lisbeth. "Dan Ibu sangat setuju dengannya, biarkan dia mencari bahagianya sendiri. Tugas kita sebagai orang tua itu hanya memberi restu." "Aku juga setuju, Ibu," timpal Lucas. "Sejauh yang kulihat, Lira adalah wanita yang sangat baik. Dia dipercaya oleh Melinda berarti dia kompeten. Dan dia bisa membuat Raynard menyukainya berarti dia punya sesuatu yang spesial." "Hmm, kalau aku boleh ikut bicara, aku juga menyukai Lira. Dan bahkan Raline sangat menempel padanya dan tidak mau lepas," timpal Rania juga. Lisbeth terkekeh. "Kau dengar sendiri kan? Lucas dan Rania juga menyukai wanita itu, lalu mengapa kau tidak menyukainya? Ah, mungkin karena Lira belum pernah bertemu langsung dengan Camilla. Coba kalian atur agar mereka bertemu, baru Camilla bis
Raynard memanggil Lira, tapi Lira tidak menoleh lagi. Raynard ditinggalkan seorang diri dengan perasaan yang juga tidak karuan. Waktu itu, Raynard serius ingin mendekati Rania, tapi ia tahu Rania dan Lucas saling mencintai. Tidak mungkin ia merebut wanita yang dicintai kakaknya, terlebih wanita itu juga tidak mencintainya. Kali ini, ia serius lagi pada Lira. Dan walaupun ia tahu keluarga Tanaya akan menjadi halangannya, Raynard bersumpah tidak akan mundur. Ya, Lira benar perkenalan mereka masih sangat singkat, tapi Raynard menyukai wanita itu dengan cara yang berbeda. Dan tidak banyak wanita yang bisa membuat Raynard merasa seperti ini sebelumnya. "Istirahatlah, Lira. Maaf aku membuatmu terkejut dengan perasaanku, tapi kalau perasaan ini tidak diungkapkan, aku mungkin tidak akan bisa tidur nyenyak." Raynard mengembuskan napas panjangnya dan menatap pintu rumah itu lebih lama, sebelum akhirnya ia kembali ke mobilnya. Ia pergi, tapi ia akan kembali besok. Sementara Lira sendiri ma
Lira membeku. Ucapan Raynard membuat langkahnya kembali terhenti dan ia membelalak menatap pria itu. Jantung Lira memacu makin kencang dan ia sama sekali tidak bisa mempercayai pendengarannya."Itu ... kau bicara apa, Raynard?" ucap Lira akhirnya, berusaha tertawa dan bersikap santai. Namun, ekspresi Raynard sangat serius saat ini. "Aku menyukaimu, Lira. Dan aku serius. Aku tidak pernah menyukai Melinda, tapi aku menyukaimu." Kalau dirinya ada di posisi lain dan dengan kondisi yang berbeda juga, mungkin Lira sudah melonjak kegirangan bisa disukai pria sempurna seperti Raynard. Itu adalah idaman setiap wanita. Namun, entah mengapa saat ini, perasaannya malah makin tidak jelas. Raynard menyukainya, padahal Melinda menyukai pria itu. Lira tidak tahu bagaimana perasaannya sendiri saat ini. Karena yang ia tahu hanya satu, Raynard tidak boleh menyukainya. Tidak boleh. Lira mengerjapkan mata dan kembali tertawa. "Ya, ya, terima kasih sudah menyukaiku karena aku juga menyukaimu. Siapa y
Lira tahu tidak seharusnya ia berbohong pada Melinda. Tapi jujur pun terasa tidak benar saat itu. Lira pun akhirnya hanya bisa menyesali jawabannya setelah ia kembali ke kantor sore itu. Lira gelisah, ia bahkan tidak tenang saat sudah duduk di meja kerjanya. Tidak ada satu hal pun yang bisa ia kerjakan dengan fokus. "Tidak seharusnya aku berbohong. Ya Tuhan, semoga saja tadi Bu Melinda tidak melihat apa pun dan dia tidak menyadari kebohonganku. Lira, apa yang sudah kau lakukan?" gumamnya. Lira terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia sangka. Ia ingin semuanya kembali ke awal di saat ia belum berkenalan dengan Raynard saja, tapi bagaimana caranya? Bahkan saat sedang berdua dengan Raynard saja rasa hatinya sudah berbeda. Lira terus mengembuskan napas panjangnya sampai teman yang melihatnya pun bingung sendiri. "Kau baik-baik saja, Lira? Kau sakit?" "Ah, tidak, aku baik-baik saja." "Kau pucat." "Benarkah?" Lira memegangi pipinya sendiri. Ia tidak sadar kalau dirinya pucat. "M
Melinda benar-benar mematung dengan hati yang mencelos di tempatnya. Sejak mengetahui gosip itu, Melinda sudah banyak berpikir. Tidak akan ada gosip kalau tidak ada yang memancing. Dan pastinya foto-foto itu tidak akan muncul begitu saja kalau tidak ada bahan untuk difoto. Namun, Melinda tetap percaya pada Lira. Ya, percaya, walaupun bukan berarti ia menerima semua penjelasan itu mentah-mentah. Dan kali ini, ia justru melihat dengan mata kepalanya sendiri pemandangan yang begitu menyayat hati, kenyataan yang sebenarnya dari gosip yang disangkal itu. Tatapannya goyah, tapi entah mengapa ia tidak bisa berhenti menatap di sana. Raynard dan Lira yang belum sadar ada yang menonton pun masih saling berpegangan tangan, sampai akhirnya Lira yang menarik tangannya duluan. "Raynard, ini ... tolong jangan menyentuhku seperti ini. Kita tidak sedekat itu untuk saling menyentuh dan juga ... ada banyak mata yang melihat, ada wartawan juga kan di dalam? Ini tidak baik, aku tidak mau ada berita se
"Jadi kau sudah ada di sana, Lira? Kau sudah bertemu dengannya?" tanya Mefi di teleponnya. Lira sengaja menunggu di parkiran saja agar ia tidak perlu bertemu Raynard, apalagi ia melihat beberapa wartawan yang meliput acara pembukaan yang sangat ramai itu, banyak mobil mewah juga terparkir di sana. Akan lebih baik kalau Lira tidak membuat kehebohan baru. Namun, ia bosan duduk sendirian di dalam mobil dan akhirnya ia menelepon Mefi. "Aku sudah di sini mengantar Bu Melinda, tapi aku tetap di mobil. Aku tidak turun dan aku juga tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana." "Mengapa kau tidak turun? Lalu apa yang kau lakukan di dalam mobil sendirian?" "Aku meneleponmu." "Ck, bukankah kemarin dia mengirimimu pesan dan mengundangmu secara pribadi? Seharusnya kau masuk saja, Lira." "Dan membuat kehebohan lagi? Tidak, Mefi. Hidupku sudah tenang beberapa hari ini, bekerja seperti biasa membuatku kembali merasa hidup." "Tapi tidak dapat dipungkiri kalian kan saling mengenal." "Itu akan be
Senyuman masih tidak berhenti mengembang di wajah Rania begitu ia dan Sissy keluar dari ruangan dokter. Rania terus tertawa seolah tidak ada beban sama sekali, sedangkan Sissy malah terus bertanya-tanya sendiri. "Hmm, kapan rencananya kau akan memberi tahu Pak Lucas? Dia harus tahu kalau kau hami
"Apa? Jangan gila!" Rania buru-buru berbalik dan ingin lari, tapi Lucas langsung memeluknya dari belakang. "Lucas, apa ini?" "Biarkan begini dulu" seru Lucas mempererat pelukannya. Satu tangan di bahu, satu lagi di perut. Awalnya Rania masih memberontak, sampai ucapan Lucas membuatnya berhenti b
Rania terbangun dengan rasa pegal yang menusuk pinggangnya. Ia meringis sambil bangkit dari ranjang sampai Sissy mengernyit melihatnya."Kau baik-baik saja, Rania?" "Pinggangku!" geram Rania. Lucas gila itu benar-benar memeluknya begitu erat tadi malam. Rania pikir Lucas hanya mengerjainya dan ti
Rania masih mematung di tempatnya mendengar ucapan Lucas. Ini tidak masuk akal, sama sekali tidak masuk akal. "M-menumpang hidup bagaimana? Jangan bercanda, Lucas!" "Aku tidak bercanda, Rania. Aku tidak punya tempat tinggal lagi dan aku tidak tahu harus ke mana." Tatapan Rania goyah lagi, tapi ia







