LOGIN"Kau bilang apa, Rania? Pinjam uang untuk operasi ibumu? Uang yang dulu saja belum kau ganti, sekarang mau pinjam lagi?"
Rania langsung mencari Elvan malam itu setelah seharian berada di rumah sakit menemani ibunya yang sekarat. Ibunya hanya bisa membuka dan menutup matanya tanpa bisa bicara karena ia harus memakai bantuan oksigen.
Tatapannya sayu dan kata dokter, ibunya tidak bisa bertahan lama tanpa operasi jantung. Rania tidak punya pilihan selain meminjam uang lagi pada suaminya.
"Elvan, ibuku adalah mertuamu juga. Aku juga bukan minta, aku pinjam. Aku janji akan mengembalikannya nanti."
"Janji akan mengembalikan? Itu terus yang kau katakan sejak awal, tapi mana buktinya? Kebutuhanku juga banyak, Rania! Ibuku sendiri, cicilan, hutang! Kau pengangguran tahu apa? Aku tidak punya uang lagi!"
"Elvan, aku mohon! Bukankah kau bilang kemarin kau diberi banyak uang oleh bosmu kan? Tolong pinjami aku!"
Elvan tertawa mencemooh. "Maksudmu uang dari hasil menjual tubuhmu, hah? Akhirnya kau menerima dirimu dijual dan kau malah minta bagian? Tapi uangnya sudah habis tak bersisa!"
"Aku benar-benar butuh, Elvan!" Rania sampai berlutut di depan Elvan sambil memegangi kaki suaminya itu.
"Sudah kubilang tidak ada, Rania! Hutang judiku dan renovasi rumah ibuku itu lebih urgent! Aku tidak punya uang lagi, kecuali kau mau merelakan tubuhmu lagi. Kebetulan tadi bosku meminta nomormu, sepertinya dia puas, tapi aku tidak memberikannya. Bagaimana? Kau mau tidur lagi dengannya?"
Rania menganga tidak percaya mendengarnya. "Bisa-bisanya kau menyuruhku menjual diri lagi! Aku ini istrimu!"
"Kalau kau tidak mau, cari pinjaman pada orang lain saja! Aku tidak punya uang, jadi jangan menggangguku! Sana!" Elvan mengentak kakinya dengan kasar sampai Rania tertendang dan jatuh terduduk di lantai.
Air matanya mengalir deras dan otaknya terus berpikir keras siapa yang bisa meminjaminya uang. Rania tidak punya teman. Ia hanya bisa mengetuk satu persatu rumah tetangganya, minta maaf karena merepotkan, dan meminjam uang, tapi tidak satu pun yang memberinya.
Ia malah mendapat kemarahan Elvan lagi karena sudah membuat malu mengemis ke para tetangganya.
Hati Rania patah. Rendy menunggu di rumah sakit dengan harapan Rania akan datang membawa uang, sedangkan ibunya juga menunggu dengan napas yang sewaktu-waktu bisa berhenti.
Hingga akhirnya satu nama muncul di otak Rania.
"Bukankah Elvan bilang bosnya meminta nomorku? Dia pasti bisa membantuku. Dia orang kaya kan? Aku harus mencobanya! Aku harus mencobanya!"
Rania tidak tahu harus mencari Lucas ke mana. Hari sudah malam dan perusahaan sudah tutup. Rania tidak mungkin bertanya pada Elvan, dan akhirnya ia pun pergi ke hotel kemarin.
Sudah dua kali Rania bertemu Lucas di sana dan ia berharap bisa menemukan bos suaminya itu lagi di sana.
Rania pun segera turun dari ojek yang ia pakai dan masuk ke lobby hotel, mencari nama Lucas Mahendra di resepsionis yang ternyata adalah pemilik hotel Skyline.
"P-Pak Lucas adalah pemilik hotel ini? Lalu ... apakah aku bisa bertemu dengannya?"
"Maaf, dengan Bu siapa dan apa Anda sudah membuat janji sebelumnya?"
"Belum, tapi aku ...."
"Eh, itu Pak Lucas!"
Rania langsung menoleh dan ia menahan napasnya sejenak melihat Lucas yang sedang berjabat tangan dengan seorang koleganya itu. Lucas meminta Surya mengantarkan pria itu keluar, sebelum Lucas mengarahkan tatapannya pada Rania yang sudah berdiri sambil menatapnya penuh harap.
Lucas terkejut, tapi ia sangat penasaran apa yang membuat Rania mendadak mencarinya. Ia pun membawa Rania ke kamar pribadinya di hotel itu, kamar tempat mereka berbagi peluh semalam. Rania yang masuk ke kamar itu merinding sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
"Kemarin kau tidur di sini kan? Jadi jangan tegang!" seru Lucas yang langsung duduk di kursi kebesarannya sambil meneguk winenya.
Rania menelan salivanya. Aura Lucas begitu dingin dan mengintimidasi. Sungguh, Rania masih sulit percaya ia sudah menghabiskan malam bersama pria itu.
"Aku ... aku ...."
Lucas memicingkan matanya. "Apa yang begitu sulit dikatakan, Rania? Bahkan kau tidak ragu meninggalkan aku tadi pagi. Itu melukai harga diriku. Aku masih belum membuat perhitungan tentang itu."
Rania menahan napasnya sejenak. "M-maafkan aku, Pak. Aku ... aku panik tadi pagi. Tapi aku ... aku butuh uang, Pak. Bisakah Anda meminjami aku uang?" kata Rania akhirnya dengan begitu sulit.
Lucas terdiam sejenak tidak percaya mendengarnya.
"Uang? Apa bayaran yang kuberikan kemarin belum cukup?"
Tatapan Rania goyah, ia tidak menerima sepeser pun dari Elvan, tapi ia tidak mau membahasnya.
"Ibuku sakit dan harus dioperasi. Tolong! Aku benar-benar membutuhkan uang itu, Pak. Aku ... aku janji akan menyicil hutangku sampai lunas."
Air mata Rania menetes sampai Lucas terpana. Bahkan saat sedang menangis, Rania masih cantik. Tapi wanita itu pasti sangat butuh uang sampai sikapnya yang selalu menolak berubah menjadi memohon seperti ini.
Menarik. Sangat menarik.
Lucas pun meletakkan gelas winenya dan melangkah mendekati Rania hingga ia berdiri tepat di hadapan wanita itu.
"Berapa yang kau butuhkan, aku akan mengirimkan ke rekeningmu sekarang."
Tatapan Rania langsung berbinar-binar mendengarnya. "Anda benar-benar akan meminjamkan aku uang, Pak? Semudah itu?"
Lucas mengangguk. "Tentu saja ada syarat untuk pembayarannya."
"Ah, tentang itu, maaf kalau aku tidak tahu diri, tapi bolehkah aku minta keringanan? Aku mungkin tidak bisa menyicil secara rutin, tapi aku bersumpah akan melakukan apa saja untuk membayar hutangku, Pak. Kalau uangku tidak cukup, aku juga bisa menjadi pelayan, mencuci, memasak, membersihkan rumah. Apa saja, Pak."
Lucas kembali mengangguk. "Aku hanya mau satu, Rania ...."
"Apa itu, Pak?"
"Jadilah wanita simpananku dan layani aku di ranjang kapan pun aku mau."
**"Minum dulu, Oma. Oma terlihat lelah." Rania langsung menyajikan minum begitu Lisbeth selesai memotong rumput. Wanita tua itu terlihat sumringah dan sama sekali tidak lelah, seolah pekerjaan fisik sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari. "Ah, terima kasih, Nak Rania. Kau baik sekali." Lisbeth berdiri bangga menatap lapangan golf mininya sambil meneguk minumannya. "Hmm, tapi membersihkan rumput di taman tidak perlu dikerjakan juga, Oma," seru Yetty juga. "Seperti yang Lucas bilang, ada tukang kebun. Jadi jangan terlalu lelah, kerjakan yang bisa dikerjakan saja." Yetty benar-benar takut melihat Oma Lis bekerja. Tentu saja di kampung semua orang, mau tua mau muda sudah terbiasa bekerja, tapi tetap saja Oma Lis sudah nenek-nenek. Bahaya sekali kalau wanita tua itu sampai kelelahan dan pingsan. Itu akan menjadi masalah baru bagi mereka. "Ya ampun, kau perhatian sekali, Bu Yetty. Tapi tenang saja! Semuanya aman, aku ini sudah biasa bekerja sejak muda. Tidak ada yang tidak bisa kulakuka
Lucas menyesali ucapannya bahkan sebelum kalimat itu benar-benar selesai menggantung di udara.Semua orang terdiam kaget, tapi Lisbeth malah langsung bangkit dari duduknya dengan lincah."Kalau begitu, mulai sekarang Oma kerja ya! Oma boleh masuk rumah kan?" seru Lisbeth yang langsung bersemangat. "Ayo masuk, Bik!" ajaknya pada Bik Nur. Lisbeth masuk rumah bersama Bik Nur, menyisakan Rania dan Yetty yang masih berdiri di luar tanpa tahu apa-apa. "Apa ini tidak masalah, Lucas? Kau baru saja menerima orang asing bekerja tanpa tahu asal usulnya dulu," seru Yetty khawatir. "Ah, itu ... aku yakin dia orang baik, Ibu. Tidak masalah," sahut Rania membela Lucas. "Tapi kita benar-benar tidak tahu siapa dia dan asalnya dari mana. Minta bekerja juga memaksa sekali, ini terlalu aneh," seru Yetty waspada. "Ibu, Ibu yang mengajari aku jangan berprasangka buruk dulu kan? Tidak apa. Tidak apa," sahut Rania lagi. Yetty tidak bisa berkata-kata. "Kalau begitu, Ibu lihat ke dalam dulu!" Yetty langs
Lucas masih berdiri kaku di tempatnya. Ia tidak pernah menyangka akan melihat seseorang di sana. Itu Grandma Lisbeth. Wanita tua dengan penampilan lusuh seperti pengemis itu Grandma-nya, dan Lucas tidak mungkin salah mengenali neneknya sendiri, apalagi setelah nenek tua itu tersenyum penuh makna menatapnya, senyuman yang sangat Lisbeth. Raynard sendiri ikut mematung. Untuk sesaat, ia tidak bisa mengatakan apa pun saat melihat Lisbeth di sana. Tatapan wanita tua itu menyapa, tapi juga penuh ancaman, seolah tidak mau dikenali. Tatapan itu seolah mengatakan, "Jangan berisik, aku di sini." Baik Lucas maupun Raynard sampai tidak berani membuka mulutnya untuk bicara atau sekedar menyapa. "Lucas! Raynard! Kalian sudah pulang?" sapa Rania sumringah. Lucas tersentak, mengalihkan tatapannya ke arah Rania dengan tatapan goyah dan ia menelan salivanya. "Ah, iya, Sayang, aku ... sudah pulang," sahut Lucas yang melangkah kaku mendekati Rania. Tatapannya sesekali masih melirik Lisbeth di sa
Mobil berhenti tepat di depan pintu pagar saat Rania masih duduk bersama Oma Lis di teras. Rania tidak berani membiarkan orang asing masuk rumah, tapi tidak tega mengusirnya juga. Rania hanya duduk di sana, tidak banyak bergerak, menemani Oma Lis mengobrol, sedangkan Bik Nur sendiri juga tidak berani beranjak dari sisi Rania, menjaga bosnya itu karena sungguh, Oma Lis adalah nenek tua random yang tidak jelas. Yetty yang tadinya masih di dalam mobil pun langsung mengernyit melihat Rania bersama orang yang tidak dikenal, sampai ia segera turun. "Rania!" sapa Yetty. "Nah, itu Ibuku. Ibu!" Yetty tersenyum singkat pada Oma Lis. Bukannya tidak ramah, tapi Yetty masih bingung mendapati seorang wanita dengan dandanan lusuh di sana. Entah siapa wanita tua itu sebenarnya. "Ini siapa, Rania?" tanya Yetty waspada, tapi berusaha setenang dan seramah mungkin. "Ibu, kenalkan ini Oma Lis." Rania berdiri. "Oma Lis ini tersesat, dia mencari cucunya, tapi dia haus dan kelelahan, jadi numpang isti
Rania masih berdiri terpaku di balik gorden. Semakin melihat, ia semakin tidak tega. Sejak hamil, perasaannya memang menjadi semakin sensitif, tapi rasa overthinking juga membuatnya selalu berpikiran buruk. Rania mengembuskan napas panjangnya dan berniat kembali ke sofanya. Mungkin kalau ia tidak melihat, rasanya akan lebih baik. Baru saja Rania menutup gorden dan akan melangkah ke sofanya kembali, tapi suara itu kembali terdengar. "Tolong sekali saja ...." Suara itu bergetar, parau, suara yang penuh harap seolah sudah terlalu sering ditolak. Rania kembali mengembuskan napas panjang dan ia tidak tahan lagi. Rania akhirnya mengikuti hati nuraninya untuk membuka pintu dan ia melihat secara langsung bagaimana nenek itu berdiri di depan pintu pagar pendek di depan rumahnya. Wanita itu berdiri membungkuk, tubuhnya kurus, bajunya lusuh dan tampak kebesaran. Rambutnya disanggul asal, sebagian sudah memutih. Wajahnya tampak kotor, entah oleh debu atau apa. Namun, yang membuat Rania ter
"Bukankah kau bilang nenekmu akan datang bersama Raynard? Kapan jadinya? Mengapa tadi Raynard datang sendirian?" Rania dan Lucas akhirnya bisa berdua di kamar malam itu setelah melewati hari yang sangat akrab bersama Yetty dan Raynard. "Ah, Grandma ... belum. Dia masih ada urusan," sahut Lucas tidak yakin. Lucas tidak tahu harus mengatakan bagaimana tentang Lisbeth yang ingin menilai Rania dulu. Lucas tidak setuju, tapi ia tidak bisa mengatur Lisbeth. "Hmm, Grandma itu sudah tua, Sayang, umurnya sudah delapan puluh tahun dan dia tidak terduga. Pokoknya sabar saja, aku akan membawa kalian berkenalan," imbuh Lucas. Rania mengangguk sambil mengembuskan napas leganya. "Tidak apa, aku hanya ... aku hanya perlu mempersiapkan diriku. Sebelum dia datang, beritahu aku dulu ya!" Lucas terhenyak mendengar kata mempersiapkan diri. Seketika ucapan Lisbeth terngiang di telinganya. "Wanita yang pantas tidak akan pernah siap dinilai. Mereka menunjukkan nilainya secara alamiah tanpa dibuat-buat







