LOGINMobil Raynard akhirnya berhenti di sebuah mall besar. Lampu-lampu mulai menyala, pengunjung ramai keluar masuk. Suasana hidup, penuh suara dan tawa.Raynard turun lebih dulu, lalu berjalan memutar dan membuka pintu untuk Lira."Silakan turun, Tuan Putri." Lira menahan napasnya lagi. Entah sudah berapa kali ia melakukannya. Ia tidak langsung turun, tapi masih begitu sungkan. "Haruskah kita ke mall malam ini?" tanya Lira lagi. "Kau sudah bertanya berkali-kali sepanjang jalan, Lira. Kita akan berkencan, jadi ayolah!" Lira menggeleng. Ia tidak mau berkencan, tapi apa yang harus ia lakukan sekarang?" "Jadi apa kau mau aku menggendongmu turun saja?" Mata Lira langsung membelalak lagi. "Jangan gila, Raynard!" "Kalau begitu turun sendiri atau aku akan menggendongmu." Dengan kesal, Lira akhirnya keluar dari mobil. Raynard tersenyum puas, lalu tanpa ragu menggandeng tangan Lira lagi."Raynard!" protes Lira pelan."Kau mau kabur lagi?""Tidak!""Kalau begitu biarkan saja."Lira menghela
Atmosfer terasa berbeda begitu pintu ruangan itu tertutup. Raynard dan Lira hanya berdua saja di sana, dan Melinda sudah tahu tentang mereka. Itu membuat sebuah perbedaan besar. Jantung Lira masih memacu kencang dan ia tidak tahu harus melakukan apa, tapi Raynard tampak lebih santai. Setelah bicara jujur dengan ibunya dan dengan Melinda, ia bisa menjadi dirinya sendiri. Seolah semua beban di pundaknya juga terangkat. "Jadi kau hanya akan berdiri di sana, Lira?" tanya Raynard sambil melangkah mendekati Lira yang masih berdiri di dekat pintu. Lira tersentak kaget dan makin tegang saat Raynard mendekat. "Itu ... aku mau pulang. Tapi ... apa yang kau katakan pada Bu Melinda tadi? Maksudku ... mengapa tiba-tiba dia menyuruhku masuk ke sini berdua denganmu?" Raynard mengangkat bahunya. "Jujur aku juga tidak tahu. Dia lebih dulu tahu kalau aku ke sini mencarimu, bukan mencarinya." "Apa?" "Ya sudah, aku sekalian minta maaf padanya kalau tidak bisa melanjutkan perjodohan ini." "Kau ben
"Syukurlah kalau dia sudah bersikap biasa, Lira." Mefi menelepon Lira sambil makan siang hari itu dan Lira pun bercerita bahwa sikap Melinda sudah biasa saja. "Aku juga lega, Mefi. Semoga semuanya tetap begini saja." "Ya, untuk ukuran Bu Melinda yang sangat anggun dan berwibawa, dia tidak akan mungkin marah seperti orang gila hanya karena Chef Raynard menyukaimu. Seharusnya dia bisa menerima kenyataan itu dengan lebih baik.""Tidak perlu membahas tentang itu, Mefi. Yang penting hubunganku dengan Bu Melinda tetap baik. Itu saja sudah cukup." Lira dan Mefi pun masih mengobrol sejenak, sebelum akhirnya mereka saling menutup telepon dan kembali bekerja. Melinda sendiri akhirnya kembali ke kantor dan ia kembali rapat dengan Lira. "Kau mengerti yang aku mau, Lira?" "Aku mengerti, Bu. Aku akan langsung mengerjakannya." Lira masih membuat beberapa catatan di kertasnya dan tidak menyadari kalau Melinda terus menatapnya. Awalnya tatapan itu hanya tatapan sekilas tapi makin lama menjadi m
Camilla menutup teleponnya setelah bicara cukup panjang dengan Bu Tanaya. Ia pikir ia akan kesal sendiri dengan setiap ucapannya. Namun, entah mengapa, ia malah lega. Camilla tidak bisa menjanjikan apa pun lagi pada keluarga Tanaya, ia juga tidak bisa membiarkan Melinda berharap tapi berakhir sakit hati seperti Vanessa waktu itu. Ya, entah sejak kapan Camilla jadi memikirkan perasaan orang lain, padahal dulunya Camilla hanya memikirkan perasaannya sendiri dan keluarganya. Camilla mengembuskan napas panjang. "Baiklah, anggap saja satu masalah sudah selesai," gumamnya sambil menatap berkas tentang Lira lekat-lekat. Sementara itu, Bu Tanaya menutup teleponnya dengan perasaan yang masih tidak baik. Tentu saja ia menerima semua ucapan Camilla, tidak mungkin ia marah, tapi ia mengerti jelas maksudnya, Raynard menolak dijodohkan dengan Melinda. "Ada apa? Setelah menutup telepon, mengapa ekspresimu seperti itu?" tanya Pak Tanaya. "Bu Camilla ingin membatalkan perjodohan Raynard dan Meli
Raynard langsung berpamitan ke kamarnya setelah selesai bicara. Dan Camilla makin geram menatap punggung anaknya itu."Anak itu benar-benar tidak bisa diatur!" geramnya."Kau mau mengaturnya seperti apa lagi? Dia bukan anak kecil lagi!" sahut Lisbeth. "Dan Ibu sangat setuju dengannya, biarkan dia mencari bahagianya sendiri. Tugas kita sebagai orang tua itu hanya memberi restu." "Aku juga setuju, Ibu," timpal Lucas. "Sejauh yang kulihat, Lira adalah wanita yang sangat baik. Dia dipercaya oleh Melinda berarti dia kompeten. Dan dia bisa membuat Raynard menyukainya berarti dia punya sesuatu yang spesial." "Hmm, kalau aku boleh ikut bicara, aku juga menyukai Lira. Dan bahkan Raline sangat menempel padanya dan tidak mau lepas," timpal Rania juga. Lisbeth terkekeh. "Kau dengar sendiri kan? Lucas dan Rania juga menyukai wanita itu, lalu mengapa kau tidak menyukainya? Ah, mungkin karena Lira belum pernah bertemu langsung dengan Camilla. Coba kalian atur agar mereka bertemu, baru Camilla bis
Raynard memanggil Lira, tapi Lira tidak menoleh lagi. Raynard ditinggalkan seorang diri dengan perasaan yang juga tidak karuan. Waktu itu, Raynard serius ingin mendekati Rania, tapi ia tahu Rania dan Lucas saling mencintai. Tidak mungkin ia merebut wanita yang dicintai kakaknya, terlebih wanita itu juga tidak mencintainya. Kali ini, ia serius lagi pada Lira. Dan walaupun ia tahu keluarga Tanaya akan menjadi halangannya, Raynard bersumpah tidak akan mundur. Ya, Lira benar perkenalan mereka masih sangat singkat, tapi Raynard menyukai wanita itu dengan cara yang berbeda. Dan tidak banyak wanita yang bisa membuat Raynard merasa seperti ini sebelumnya. "Istirahatlah, Lira. Maaf aku membuatmu terkejut dengan perasaanku, tapi kalau perasaan ini tidak diungkapkan, aku mungkin tidak akan bisa tidur nyenyak." Raynard mengembuskan napas panjangnya dan menatap pintu rumah itu lebih lama, sebelum akhirnya ia kembali ke mobilnya. Ia pergi, tapi ia akan kembali besok. Sementara Lira sendiri mas
Raynard meneguk minumannya walaupun hari masih pagi. Kepalanya berdenyut dan hatinya penuh. Ia tidak pernah menyangka kejadiannya akan seperti ini. Ia dan kakaknya menyukai wanita yang sama. Baiklah, bagi dirinya yang sudah biasa membelot, menyukai Rania bukan hal aneh. Tapi Lucas? Lucas adalah p
Vanessa tersentak. Buru-buru ia menghapus air matanya sambil menoleh ke belakang dan tatapannya goyah lagi melihat Raynard di sana. Adik Lucas yang terlihat sama tampannya seperti Lucas. Hanya bedanya, Raynard jauh lebih ramah. "R-Raynard?" Raynard tersenyum hangat. "Aku sedang sendirian di rest
Sissy masih merapikan meja makan malam itu saat ia mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Itu pasti Rania, terkadang sahabatnya itu akan memakai ojek online atau taksi online. Ada biaya transport untuk Rania dari Royal Palace sehingga mereka tidak perlu bingung memikirkan transport. Si
Dua minggu berlalu dan kedua kakak beradik itu masih dalam mode perang terbuka yang membuat Rania begitu stres. Hampir setiap malam, Lucas dan Raynard muncul di rumah Rania, terutama saat live. Saat sedang live, Rania akan ditatap oleh dua kakak beradik itu dari awal sampai akhir. Hanya saja, merek







