LOGINRaynard bangkit dari sofanya dan melangkah perlahan menghampiri Lira. "Kau sudah selesai?" tanyanya lembut. Tatapan Lira goyah. "Kau ... kau sudah menunggu berapa lama?" Senyum Raynard kembali merekah. "Tidak lama, tapi kau yakin sudah selesai? Kalau belum, kau bisa menyelesaikannya dulu, aku bisa menunggumu lagi." "Tidak usah menunggu lagi, aku sudah selesai. Aku ... maaf aku tidak melihat pesanmu tadi." Raynard mengangguk. "Tidak apa, Lira. Aku tahu kau sibuk." Suara Raynard terdengar tetap lembut, seolah pria itu sangat tulus, bukan hanya sekedar basa-basi. Padahal seharusnya Raynard lebih sibuk dari Lira, tapi malah Lira yang membuat pria itu menunggu. "Jadi ... kita bisa pergi sekarang kan?" tanya Raynard lagi. Lira tidak bisa menolak lagi, ia terlalu sungkan. "Hmm, baiklah. Kita ... hanya makan malam kan? Anggap saja ini permintaan maafku karena membuatmu menunggu. Aku ... aku yang traktir." Raynard terdiam sejenak, ia belum memberitahu Lira kalau mereka akan makan mal
Sebuah mobil melintas menuju ke gedung perusahaan Tanaya Group, tapi langsung melambat saat melewati halte bus. "Siapa itu? Itu Lira yang turun dari bus? Mengapa dia naik bus, bukankah dia membawa mobil perusahaan?" seru Bu Tanaya. Ada Melinda dan kedua orang tuanya di mobil itu. Melinda dan Pak Tanaya sendiri langsung menoleh. Baru saja Melinda akan menyahut, tapi seorang pria turun juga dari bus sampai membuatnya kehilangan suaranya. "Eh, bukankah itu Raynard?" ucap Pak Tanaya kaget. "Dia juga naik bus? Atau dia hanya menemani Lira?" Bu Tanaya terdiam sejenak sambil melirik Melinda. "Astaga, bisa-bisanya dia naik bus juga menemani Lira. Ini ...." Untuk sesaat, semua terdiam lagi, sebelum Bu Tanaya kembali bersuara. "Ya ampun, ternyata memang Raynard yang tergila-gila pada Lira sampai segitunya. Rasanya lega sekali kita sudah membatalkan perjodohan ini. Bagaimana bisa kita menyerahkan anak kita pada pria yang menyukai wanita lain." Pak Tanaya mengangguk. "Ini pilihan yang tep
"Selamat pagi, Ibu! Selamat pagi, Grandma!"Raynard masuk ke ruang makan lebih pagi dari biasanya. Ia mencium kening ibu dan neneknya pagi itu. Ekspresi Camilla tetap dingin, tapi ekspresi Lisbeth sangat bahagia. "Wah, wah, apa yang membuatmu begitu bersemangat pagi ini, Raynard?" seru Lisbeth penasaran. Raynard melirik ibunya. "Tanyakan saja pada Ibu, Grandma. Ibu yang membuatku sangat bahagia." Lisbeth menatap Camilla. "Benarkah itu? Apa yang sudah kau lakukan, Camilla?" "Aku tidak melakukan apa-apa. Raynard saja yang berlebihan, Ibu." "Kalau begitu apa yang membuatmu senang, Raynard? Beritahu Grandma." "Haha, kemarin aku berkencan dengan Lira, Grandma. Dan secepatnya aku akan mengenalkan Lira pada kalian sebagai kekasihku." Mata Lisbeth membulat mendengarnya. "Benarkah itu? Kau sudah merestuinya, Camilla?" "Jangan mimpi! Keluarganya tidak cocok bersanding dengan keluarga Mahendra," sahut Camilla sedingin biasanya. Namun, entah mengapa, ancaman Camilla sekarang terasa seper
Lira benar-benar tertegun sekian detik mendengar pertanyaan yang mengejutkan itu. Ia tidak menyangka Raynard akan begitu agresif dan mengajaknya berciuman. Namun, Lira masih waras. "Jangan gila, Raynard!" Lira mendorong Raynard menjauh. "Aku wanita baik-baik dan aku bukan wanita yang bisa diajak berciuman pada kencan pertama." Raynard kembali tertawa. "Aku tahu kau wanita baik-baik. Aku tidak akan salah pilih." Lira menahan napasnya sejenak mendengar kata tidak salah pilih, tapi ia tidak mau menanggapinya lagi. "Hmm, aku sudah tidak mau nonton, aku mau keluar saja. Kalau kau masih mau menonton, nonton saja, aku pulang duluan." Lira segera bangkit dari kursinya dan tanpa menunggu jawaban Raynard, ia pergi keluar dari gedung bioskop. Raynard sendiri masih tertawa, tapi ia bergerak cepat menyusul Lira keluar dari sana. "Hei, kau berjalan cepat sekali, Lira!" Raynard akhirnya berlari kecil untuk menyusul Lira. "Mengapa kau mengikuti aku? Kau tidak menonton?""Kalau kau tidak nonto
Makan malam itu dihabiskan oleh Lira dengan cepat tanpa banyak bicara lagi. Ia menolak makan dumpling lagi dan memilih menghabiskan pangsit kuahnya. Raynard juga memesan dua menu lainnya dan Lira tidak menyentuhnya sama sekali saking tegangnya. "Kau terlihat kelaparan, Lira, makanlah ayam dan sayur tumis ini. Habiskan saja!" seru Raynard yang tetap santai. Sejak tadi ia mengunyah sambil menatap Lira yang makan dengan cepat seperti orang kelaparan. "Hmm, aku sudah kenyang, aku makan pangsit ini saja." "Bagaimana caraku menghabiskan yang lain?" "Kau memesan terlalu banyak, Raynard." "Baiklah, kita bungkus saja, tapi pangsitnya terlihat enak sampai kau menghabiskannya. Biar aku coba!" Raynard baru saja akan menarik mangkok pangsit, tapi Lira mencegahnya. "Jangan! Ini sudah habis, sisa kuah saja, lagipula tadi aku mengambilnya dengan sendokku. Ini sudah tidak bisa dibagi." Lira menarik mangkoknya ke arahnya. Raynard sampai tertawa pelan melihatnya. "Baiklah, makan tengah itu seh
Mobil Raynard akhirnya berhenti di sebuah mall besar. Lampu-lampu mulai menyala, pengunjung ramai keluar masuk. Suasana hidup, penuh suara dan tawa.Raynard turun lebih dulu, lalu berjalan memutar dan membuka pintu untuk Lira."Silakan turun, Tuan Putri." Lira menahan napasnya lagi. Entah sudah berapa kali ia melakukannya. Ia tidak langsung turun, tapi masih begitu sungkan. "Haruskah kita ke mall malam ini?" tanya Lira lagi. "Kau sudah bertanya berkali-kali sepanjang jalan, Lira. Kita akan berkencan, jadi ayolah!" Lira menggeleng. Ia tidak mau berkencan, tapi apa yang harus ia lakukan sekarang?" "Jadi apa kau mau aku menggendongmu turun saja?" Mata Lira langsung membelalak lagi. "Jangan gila, Raynard!" "Kalau begitu turun sendiri atau aku akan menggendongmu." Dengan kesal, Lira akhirnya keluar dari mobil. Raynard tersenyum puas, lalu tanpa ragu menggandeng tangan Lira lagi."Raynard!" protes Lira pelan."Kau mau kabur lagi?""Tidak!""Kalau begitu biarkan saja."Lira menghela
"Selamat pagi, Sayang." Rania membuka matanya pagi itu dan melihat Lucas sudah tersenyum menatapnya. Rania membelalak kaget. "Anak-anak tidak bangun? Jam berapa ini?" "Anak-anak sudah di luar." "Astaga!" Rania bangkit duduk. "Jam berapa ini? Mengapa mereka sudah keluar? Mereka tidak menyusu?"
"Selamat malam!" Rania masih begitu fokus membaca kartu ucapannya malam itu sampai ia tidak sadar kalau Lucas sudah datang menjemputnya. Karyawan yang berjaga di depan pun menunduk pada Lucas, tapi Lucas meletakkan telunjuk di bibirnya, ia ingin mengejutkan istrinya yang masih begitu fokus duduk
"Aku akan menjemputmu nanti, Sayang." "Hmm, sampai jumpa!" Lucas mengantarkan Rania sampai ke toko kue, lalu meninggalkannya. Rania pun mulai bekerja seperti biasa tanpa menyadari kalau ada orang yang menatapnya dari kejauhan. Dan orang itu adalah Elvan. Ya, bukannya mencari pekerjaan, Elvan ma
"Selamat, Sissy! Kau mendapatkan bunganya dan aku berharap kau juga bisa bahagia seperti kami."Rania langsung memeluk Sissy begitu acara lempar bunganya berakhir. Sissy juga kegirangan sendiri. "Tinggal menunggu kapan aku akan dilamar saja, tapi lihatlah dia masih gengsi, padahal saat sedang berd







