LOGINLira membeku. Ucapan Raynard membuat langkahnya kembali terhenti dan ia membelalak menatap pria itu. Jantung Lira memacu makin kencang dan ia sama sekali tidak bisa mempercayai pendengarannya."Itu ... kau bicara apa, Raynard?" ucap Lira akhirnya, berusaha tertawa dan bersikap santai. Namun, ekspresi Raynard sangat serius saat ini. "Aku menyukaimu, Lira. Dan aku serius. Aku tidak pernah menyukai Melinda, tapi aku menyukaimu." Kalau dirinya ada di posisi lain dan dengan kondisi yang berbeda juga, mungkin Lira sudah melonjak kegirangan bisa disukai pria sempurna seperti Raynard. Itu adalah idaman setiap wanita. Namun, entah mengapa saat ini, perasaannya malah makin tidak jelas. Raynard menyukainya, padahal Melinda menyukai pria itu. Lira tidak tahu bagaimana perasaannya sendiri saat ini. Karena yang ia tahu hanya satu, Raynard tidak boleh menyukainya. Tidak boleh. Lira mengerjapkan mata dan kembali tertawa. "Ya, ya, terima kasih sudah menyukaiku karena aku juga menyukaimu. Siapa y
Lira tahu tidak seharusnya ia berbohong pada Melinda. Tapi jujur pun terasa tidak benar saat itu. Lira pun akhirnya hanya bisa menyesali jawabannya setelah ia kembali ke kantor sore itu. Lira gelisah, ia bahkan tidak tenang saat sudah duduk di meja kerjanya. Tidak ada satu hal pun yang bisa ia kerjakan dengan fokus. "Tidak seharusnya aku berbohong. Ya Tuhan, semoga saja tadi Bu Melinda tidak melihat apa pun dan dia tidak menyadari kebohonganku. Lira, apa yang sudah kau lakukan?" gumamnya. Lira terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia sangka. Ia ingin semuanya kembali ke awal di saat ia belum berkenalan dengan Raynard saja, tapi bagaimana caranya? Bahkan saat sedang berdua dengan Raynard saja rasa hatinya sudah berbeda. Lira terus mengembuskan napas panjangnya sampai teman yang melihatnya pun bingung sendiri. "Kau baik-baik saja, Lira? Kau sakit?" "Ah, tidak, aku baik-baik saja." "Kau pucat." "Benarkah?" Lira memegangi pipinya sendiri. Ia tidak sadar kalau dirinya pucat. "M
Melinda benar-benar mematung dengan hati yang mencelos di tempatnya. Sejak mengetahui gosip itu, Melinda sudah banyak berpikir. Tidak akan ada gosip kalau tidak ada yang memancing. Dan pastinya foto-foto itu tidak akan muncul begitu saja kalau tidak ada bahan untuk difoto. Namun, Melinda tetap percaya pada Lira. Ya, percaya, walaupun bukan berarti ia menerima semua penjelasan itu mentah-mentah. Dan kali ini, ia justru melihat dengan mata kepalanya sendiri pemandangan yang begitu menyayat hati, kenyataan yang sebenarnya dari gosip yang disangkal itu. Tatapannya goyah, tapi entah mengapa ia tidak bisa berhenti menatap di sana. Raynard dan Lira yang belum sadar ada yang menonton pun masih saling berpegangan tangan, sampai akhirnya Lira yang menarik tangannya duluan. "Raynard, ini ... tolong jangan menyentuhku seperti ini. Kita tidak sedekat itu untuk saling menyentuh dan juga ... ada banyak mata yang melihat, ada wartawan juga kan di dalam? Ini tidak baik, aku tidak mau ada berita se
"Jadi kau sudah ada di sana, Lira? Kau sudah bertemu dengannya?" tanya Mefi di teleponnya. Lira sengaja menunggu di parkiran saja agar ia tidak perlu bertemu Raynard, apalagi ia melihat beberapa wartawan yang meliput acara pembukaan yang sangat ramai itu, banyak mobil mewah juga terparkir di sana. Akan lebih baik kalau Lira tidak membuat kehebohan baru. Namun, ia bosan duduk sendirian di dalam mobil dan akhirnya ia menelepon Mefi. "Aku sudah di sini mengantar Bu Melinda, tapi aku tetap di mobil. Aku tidak turun dan aku juga tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana." "Mengapa kau tidak turun? Lalu apa yang kau lakukan di dalam mobil sendirian?" "Aku meneleponmu." "Ck, bukankah kemarin dia mengirimimu pesan dan mengundangmu secara pribadi? Seharusnya kau masuk saja, Lira." "Dan membuat kehebohan lagi? Tidak, Mefi. Hidupku sudah tenang beberapa hari ini, bekerja seperti biasa membuatku kembali merasa hidup." "Tapi tidak dapat dipungkiri kalian kan saling mengenal." "Itu akan be
Satu minggu di Singapore terasa berlalu begitu cepat.Pagi itu, suasana di bandara Changi Airport dipenuhi langkah kaki para penumpang yang datang dan pergi. Rania berdiri di dekat gate keberangkatan bersama keluarganya, sementara dua pengasuh sibuk memastikan David dan Raline tidak berlari terlalu jauh."Semuanya sudah beres, Pak. Hati-hati!" seru asisten Lucas. "Baiklah, hubungi aku kalau ada apa pun." "Baik, Pak." "Ayo semua, kita pulang!" ajak Lucas. "Akhirnya kita pulang juga!" seru Rendy yang sudah membeli banyak oleh-oleh.Saking banyaknya, Lucas membelikan koper lagi untuk Rendy khusus untuk mengisi semua oleh-oleh. "Wah, babymoon kita berakhir juga, Surya," rajuk Sissy pada suaminya itu. "Nanti setelah anak kita lahir, kita jalan-jalan lagi." "Asik! Terima kasih, Sayang!" Cup. Sissy mencium pipi suaminya itu. David dan Raline juga terus bertepuk tangan, mereka selalu senang dalam suasana apa pun. Mereka pun kembali berfoto bersama sebelum akhirnya naik pesawat pulang.
Pagi itu, suasana di suite Marina Bay Sands terasa sangat santai. Tidak ada Lucas, tidak ada Surya. Keduanya sudah berangkat lebih dulu untuk urusan pekerjaan, meninggalkan "tim wanita dan anak-anak" menikmati hari mereka sendiri.Sissy sendiri sudah ada di sana dan terkagum-kagum melihat betapa indahnya suite itu. "Ini mewah sekali, kata Surya harganya lebih dari seratus juga semalam." Rendy langsung mendelik mendengarnya. "Kau serius, Kak? Aku benar-benar menginap di suite seratus juta semalam?" "Jangan lupa kalau kakak iparmu itu miliarder, jadi tidak ada yang tidak mungkin." Rania hanya geleng-geleng kepala. "Lucas memang seperti itu, tapi karena kita sudah menjadi keluarganya, jadi ayo kita nikmati saja!" Rendy langsung tertawa mendengarnya. "Ayo, untung saja aku sudah menukar uangku ke dalam SGD, tapi aku tidak membawa banyak." "Surya juga sudah memberiku uang jajan untuk belanja di Singapore, jadi aman," timpal Sissy. "Eits!" sahut Rania. "Tidak boleh ada yang mengeluark
"Apa yang Ibu katakan pada Rania kemarin?" Raynard sudah berada di ruang tamu rumahnya pagi itu dan berhadapan dengan Camilla. Semalam, Raynard terus mencari Rania. Baru saja Raynard akan menelepon Sissy untuk bertanya, tapi salah satu orangnya memberitahu bahwa Camilla sempat berbicara dengan Ran
Rania terus tersenyum di sepanjang jalan kembali ke kamarnya. Ia membiarkan Raynard menemaninya dan mereka tertawa bersama sebagai teman. Rasanya menjadi teman Raynard jauh lebih menyenangkan dibanding harus menjauhi pria itu. "Jadi besok kita tidak akan pulang bersama karena aku akan extend bers
Sinar matahari yang mengintip masuk melalui celah jendela membuat Rania mengernyit. Sisa-sisa pengaruh alkohol masih membuat kepalanya berdenyut, namun perlahan kesadarannya pulih kembali. Rania membuka matanya dan tersentak saat merasakan tubuhnya sedang berada dalam dekapan tubuh seseorang. Seor
Perasaan Lucas tidak pernah baik sejak malam itu. Sejak menjadi pengusaha, ia mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, dan ia tidak pernah menyesali keputusannya. Namun, kali ini, ia mendadak ingin kembali ke masa bersama Rania. Ia tidak pernah merasa sebahagia itu, ada yang menunggunya setiap







