LOGIN"Berita ini sangat menggangguku, Lira!" Bu Tanaya, ibunya Melinda datang ke kantor siang itu hanya untuk bertanya tentang kebenaran berita Raynard dan Lira. Sebenarnya, beritanya sendiri sudah mulai mereda dan tidak seheboh hari pertama kemarin, tapi Bu Tanaya baru sempat kemari hari ini. "Maafkan aku, Bu. Semuanya salah paham," jawab Lira. "Aku juga sudah menjelaskan semuanya pada Bu Melinda." Bu Tanaya menatap anaknya itu. "Apa kau sudah menelepon Raynard, Melinda?" "Belum, Ibu. Beritanya tidak benar, jadi aku tidak mau terlihat seolah mempercayai gosip." "Tapi setidaknya kau harus bicara dengannya dulu." "Nanti saja setelah gosipnya mereda, Ibu." Bu Tanaya mengembuskan napas panjang sambil menatap Lira. "Bisa-bisanya kalian difoto berdua seperti itu. Harus ada penjelasan mengapa kalian bisa terlihat saling menyuapi. Bagaimana itu bisa terjadi?" "Itu bukan saling menyuapi, Bu. Lebih tepatnya, karena kami saling mengenal jadi kami saling menyapa. Saat itu Chef Raynard sedang
"Wah, bandaranya benar-benar bagus," pekik Rendy saat mereka akhirnya tiba di Singapore. "Air kran itu bisa diminum," kata Lucas sambil menunjuk kran air di sana. "Ah, aku sudah mencari tahu, aku akan mencobanya. Videokan aku, Kak. Aku mau mengunggahnya ke media sosial," seru Rendy yang langsung menyerahkan ponselnya pada Rania. "Astaga, kita ini seperti orang kampung masuk ke kota, Rendy," omel Rania. Namun, Rania tetap memvideokan adiknya itu meminum air dari kran sampai semua orang tertawa melihatnya. Rendy pun mengajak David dan Raline mencuci tangannya di sana. Kedua anak yang baru bangun itu pun langsung terkekeh senang. Lucas mengajak mereka melewati imigrasi, lalu mengajak mereka ke mall yang menyambung dengan bandara. Ada air terjun buatan di sana yang sangat indah untuk berfoto bersama. "Kita foto dulu sebelum kita makan," ajak Lucas. "Wah, ini benar-benar indah, Ibu. Aku dan Ibu mau berfoto dulu, Kak," seru Rendy lagi. Rendy berfoto dengan Yetty, Rania, lalu bersa
"Kami berangkat dulu, Ibu." Rania berpamitan pada Camilla pagi itu. Mereka menyempatkan diri mampir ke rumah besar keluarga Mahendra sebelum ke bandara. Hanya Camilla di sana karena Lisbeth sudah pulang ke swiss, Rosano sudah pulang ke Amerika, sedangkan Raynard sudah pergi pagi-pagi sekali. "Kalian hanya akan ke Singapore? Mengapa tidak sekalian keliling Asia Tenggara, Lucas?" omel Camilla. "Ah, aku yang tidak ingin terlalu lama karena kami harus menghadiri pembukaan restoran Raynard dan aku mau menemani Sissy melahirkan, Ibu," sahut Rania. "Baiklah kalau begitu. Nanti setelah semuanya selesai, pergilah berlibur lagi, Rania. Kau bahkan belum ke Amerika dan Swiss, tempat Grandma." "Tenang saja, Ibu," sahut Lucas. "Aku akan mengajaknya nanti." Camilla mengangguk. "Baiklah, pergilah agar tidak terlambat. Selamat bersenang-senang, Bu Yetty." "Terima kasih banyak, Bu Camilla." "Sampai jumpa, Cucu Grandma." Camilla memeluk David dan Raline bergantian. Kedua cucunya itu menciumi C
Raynard mencoba menelepon Lira pagi itu untuk mengetahui kondisi Lira setelah gosip tentang mereka merebak. Namun, Lira tidak mengangkat teleponnya. "Apa aku harus mencari ke kantornya? Tapi kalau aku ke sana, nanti beritanya makin heboh dan dia tidak akan nyaman." Raynard terdiam sambil berpikir sejenak, sebelum ia memutuskan untuk tidak menghampiri Lira ke kantor dan hanya mengiriminya pesan. Raynard: "Kau baik-baik saja, Lira? Kau sudah membaca berita tentang kita? Semoga tidak heboh di sana. Kalau kau sudah tidak sibuk, tolong telepon aku balik." Pesan itu dikirim dan Raynard sangat mengharapkan balasan Lira, walaupun wanita itu tidak pernah membalas pesannya. Lira sendiri membaca pesan itu, tapi ia tidak berniat membalasnya. Kehebohan di kantor dan pertanyaan Melinda membuat jantungnya berdebar begitu kencang. Dan ia benar-benar sudah memutuskan akan menghindari Raynard. "Aku harus menghindarinya, aku tidak boleh membalas pesannya," gumam Lira yang akhirnya bertahan tidak m
"Astaga, berita ini tidak benar. Sama sekali tidak benar." Lira langsung membantah begitu ia membaca semua beritanya. "Tidak benar? Jadi kau dan Chef Raynard tidak ada hubungan apa-apa?" tanya salah satu temannya. "Tidak. Itu salah, kami ... itu hanya masalah angle. Tanpa sengaja posisi kami begitu pas dan mereka membuat narasinya sendiri. Sudahlah, tidak usah dibahas." Jantung Lira makin berdebar tidak karuan. Ketakutannya benar-benar terbukti, mendadak ada gosip tentang dirinya dan Raynard. Saat ini, dalam pikirannya hanya satu, bagaiman reaksi Melinda saat mengetahuinya. Sementara itu, Camilla sendiri meradang begitu membaca berita yang viral itu. "Apa maksud berita ini, Raynard?" seru Camilla begitu Raynard turun dari kamarnya. "Berita apa, Ibu?" "Lihat saja sendiri!" Raynard sempat mengernyit, sebelum ia meraih ponsel Camilla dan membaca beritanya. "Calon menantu baru Mahendra Group? Berita apa ini?" Raynard terdiam saat melihat fotonya dan Lira di sana. Foto itu tidak
Ucapan Raynard seperti petir di siang bolong. Lira langsung membeku di tempatnya. Wajahnya memanas dan matanya membelalak. Ia canggung sejenak, sebelum refleks menoleh ke arah ibunya, ke Leni, ke Mefi, lalu kembali ke Raynard."Ah, apa maksudmu?" Suara Lira tercekat, nyaris tidak keluar.Rania yang sejak tadi santai, kini hanya bisa mengulum senyumnya. Bukan karena tidak suka, justru karena terlalu suka sampai ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana di depan Lira.Rania menyukai Lira dan Rania juga senang akhirnya Raynard bisa menemukan wanita yang disukai. Dewi lebih datar, sedangkan Leni dan Mefi rasanya hampir meloncat heboh. Hanya saja, mereka tidak berani bereaksi berlebihan di depan orang penting seperti Raynard dan Rania. Suasana makin canggung, sebelum akhirnya Lira kembali berbicara. "Hmm, Chef Raynard ini memang suka bercanda, jangan dianggap serius ya." "Aku tidak ...." Raynard ingin menyahut bahwa ia tidak bercanda, tapi sebelum ia sempat melakukannya, Lira sudah memot
Sejak memutuskan mengikuti lomba, Rania merasa hidupnya lebih bersemangat. Ia menempelkan brosur lomba itu di dinding kamar, tepat di depan tempat tidurnya, sebagai pengingat bahwa ia punya tujuan baru. Setiap kali bangun, matanya langsung terpaku pada tulisan besar di bagian atas brosur: Cooking
Tatapan Rania mendadak fokus pada cek di hadapannya. Nilainya sangat besar. Lucas benar, jumlah itu bisa untuk membuka toko kue, bisa untuk hidup enak, dan Rania tidak akan kesulitan lagi. Namun, hati Rania makin sakit, seolah harga dirinya hanya dinilai dengan uang. Berkali-kali Rania merasakan s
Rania mengembuskan napas leganya saat menghirup udara di luar hotel. Ia sudah pergi duluan segera setelah ia berhenti mengintip. Ia berusaha menjadi wanita yang kuat dan tegar. Sesekali menangis tidak apa, tapi tidak boleh terus menerus menangis. Dan kalau ia ada di sana terus, air matanya malah t
"Wow, ini terlihat enak sekali, Lucas. Makanan lokal pertamaku." Vanessa membuka semua makanannya dan ia sangat terkesan. Lama tinggal di luar negeri membuatnya terbiasa dengan makanan western dan ia merindukan makanan lokal. Vanessa pun langsung mengambil piringnya. "Kau mau?" tanyanya. Namun,







