Home / Romansa / Sentuhan Panas Editorku / Pertaruhan naskah

Share

Pertaruhan naskah

Author: Risya Petrova
last update Last Updated: 2026-01-07 23:22:39

"Kami ...."

Wildan menggantung kalimatnya. Tenggorokannya terasa kering, sementara jantungnya berdegup kencang seirama dengan detak jantung Meysa yang berdiri tepat di belakangnya. Ia menatap mata Pak Adam yang setajam silet. Haruskah ia jujur? Jika ia jujur, ia tidak hanya mempertaruhkan kariernya sendiri, tapi juga impian Meysa yang baru saja mekar.

Namun, sebelum kata 'menikah' sempat lolos dari bibir Wildan, sebuah suara parau memecah ketegangan di halaman villa tersebut.

"Punten, Pak. Selamat pagi," suara Pak Somad muncul dari arah gerbang, diikuti oleh Pak Asep dan Bi Aam yang membawa keranjang kecil berisi bahan makanan.

Semua mata tertuju pada ketiga orang lokal tersebut. Meysa menahan napas, tangannya meremas ujung kaosnya dengan kuat. ‘Tolong, jangan bilang soal Pak RT,’ batinnya berdoa dalam hati.

"Oh, ini Pak Somad yang mengurus villa ini kan ya?" tanya Pak Adam, suaranya sedikit melunak namun tetap berwibawa.

"Betul, Pak. Saya Somad," jawab Pak Somad sambil membungkuk sop
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Editorku   Teguran Wildan ke Fiona

    Layar ponsel Wildan yang masih menyala redup di atas meja seolah menjadi hakim yang menjatuhkan vonis mati bagi karier Meysa. Meysa masih terisak, bahunya berguncang hebat. Dunianya yang baru saja terasa sedikit cerah karena pujian Pak Adam, kini kembali runtuh dalam hitungan menit.Wildan menatap layar itu dengan kemarahan yang mendidih di bawah permukaan kulitnya. Tanpa membuang waktu lagi, ia menyambar ponselnya lagi. Jemarinya bergerak lincah mencari nama Fiona di daftar kontak. Ia tidak peduli jika ini tidak sopan, ia tidak peduli jika Pak Adam mungkin ada di samping wanita itu sekarang.Tut ... tut ... tut ....Panggilan itu tersambung. Di dering ketiga, suara Fiona terdengar. Suaranya sangat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja melempar bom atom di grup perusahaan."Halo, Wildan? Kenapa? Ada yang tertinggal di villa?" tanya Fiona dengan nada ringan, seolah-olah pengumuman di grup itu hanyalah angin lalu.Wildan tidak basa-basi. Ia berdiri dan melangkah menjauh

  • Sentuhan Panas Editorku   Gebrakan Fiona

    "Jadi maksudmu, gimana? Udah deh, kita bicara langsung ke intinya aja." Suara Pak Adam terdengar berat, bergema di ruang sempit kabin mobil yang kedap suara. Beliau tidak menoleh, matanya menatap lurus ke arah jalanan Puncak yang berkelok dan berkabut.Fiona menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. Ia mendekatkan posisi duduknya ke arah Pak Adam, aroma parfum mahalnya memenuhi udara di dalam kabin mobil. Suaranya merendah, nyaris berbisik namun penuh tekanan manipulatif."Lebih baik kita putuskan kontrak kerja dengan Meysa sekarang saja, Om. Jangan ambil risiko lebih jauh. Bilang saja progresnya tidak sesuai standar kualitas perusahaan kita," ujar Fiona dengan nada meyakinkan. Ia menatap profil samping pamannya, mencari celah keraguan. "... Kita fokuskan Wildan untuk memimpin tim naskah Season 2 sendirian. Dia punya nama, dia punya basis penggemar. Dengan begitu, kita nggak perlu pusing lagi dengan drama-drama penulis amatir yang nggak profesional kayak

  • Sentuhan Panas Editorku   Hasutan ke Pak Adam

    Mobil mewah berwarna hitam itu melaju membelah jalanan Puncak yang berkelok. Di dalamnya, hawa dingin dari AC yang menderu halus tidak mampu mendinginkan gejolak emosi di hati Fiona. Ia duduk bersandar, namun jemarinya tidak bisa diam, terus memainkan kuku-kuku cantiknya dengan gelisah.Pak Adam, yang duduk di sampingnya sambil sesekali mengecek tablet kerja, akhirnya menyadari ketidaktenangan keponakannya itu. Beliau menaruh tabletnya, lalu menoleh."Kamu kenapa, Fio? Dari tadi Om lihat kamu tarik nafas panjang terus. Kursinya nggak nyaman? Atau Pak Mamat bawa mobilnya terlalu kasar?" tanya Pak Adam pada sopir pribadi yang sedang fokus mengemudi di depan."Eh? Nggak kok, Om. Pak Mamat bawa mobilnya enak, kok," jawab Fiona cepat, mencoba memaksakan senyum kecil.Pak Adam tertawa pendek, suara tawanya terdengar berwibawa namun tetap hangat. "Jangan bohong sama Om. Om kan paman kamu yang kenal kamu dari kecil, Fio. Kalau ada masalah, ngomong saja. Nggak perlu risau, kamu kan punya Om. A

  • Sentuhan Panas Editorku   Fiona tidak terima

    "Dari cara Kakak menatap Wildan, dari cara Kakak selalu berusaha memisahkan kami, dan dari cara Kakak menyerang aku sekarang ... semuanya kelihatan jelas. Kakak cemburu, kan? Kakak takut kalau perhatian Wildan teralihkan ke aku?" Meysa kembali melajutkan kata-katanya.Fiona berdiri dari kursinya, tangannya menggebrak meja makan dengan keras. "Jaga mulut kamu, Meysa! Aku ini Direktur di PenaKata. Aku tahu apa yang terbaik buat perusahaan dan buat Wildan. Dan yang terbaik buat dia adalah jauh-jauh dari penulis pembawa masalah kayak kamu! Dasar penulis pembawa sial!"Meysa ikut berdiri. Ia tidak ingin lagi terlihat lemah. Pernikahan siri semalam, meski dilakukan karena terpaksa, telah memberikan semacam kekuatan baru di dalam dirinya. Ia merasa memiliki hak untuk membela keberadaannya di samping Wildan."Kalau Kakak memang peduli sama Wildan sebagai editor, harusnya Kakak senang kalau karyaku bagus karena bantuan dia. Tapi Kakak lebih peduli sama perasaan pribadi Kakak sendiri," ujar Mey

  • Sentuhan Panas Editorku   Bertengkar dengan Fiona

    Makan siang di villa siang itu terasa jauh lebih lambat dari biasanya. Meskipun nasi liwet buatan Bi Aam sangat lezat, Meysa merasa setiap suapannya seperti pasir yang sulit ditelan. Di seberang meja, Pak Adam tampak asyik mengobrol dengan Wildan mengenai rencana pemasaran Season 2 yang akan dibuat lebih masif daripada sebelumnya. Sementara itu, Fiona duduk di samping Pak Adam, lebih banyak diam dengan tatapan yang sesekali menusuk ke arah Meysa.Setelah selesai makan, Pak Adam mengajak Wildan ke beranda depan. "Wildan, ikut saya sebentar. Ada beberapa detail kontrak distribusi yang perlu kita diskusikan berdua. Meysa, kamu istirahatlah sebentar sebelum mulai 'maraton' menulisnya," ujar Pak Adam sebelum menghilang di balik pintu kaca.Kini, di ruang makan yang luas itu, hanya tersisa Meysa dan Fiona. Bi Aam sedang sibuk di dapur belakang, sehingga suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Sunyi yang menyesakkan.Meysa hendak beranjak berdiri untuk membereskan piringnya, namun suara Fion

  • Sentuhan Panas Editorku   Menulis perasaan

    "Meysa ... aku merasa naskah kamu ini sangat nyata, menyentuh dan dalam. Saya merasa karakternya hidup. Dan jika firasat saya benar tentang siapa inspirasi di balik karakter Reyhan yang baru ini mendapatkan pengembangan, dia adalah ...."Pak Adam menggantung kalimatnya sejenak, sengaja membangun tensi yang membuat bulu kuduk Meysa meremang. Tatapan pria paruh baya itu bergeser perlahan, mengunci sosok pria yang duduk kaku di kursi stool."Inspirasi kamu adalah Wildan, bukan?"Duar!Meysa merasa ada bom yang meledak tepat di depan wajahnya. Jantungnya seperti merosot hingga ke perut. Ia merasa seluruh kebohongannya, pernikahan siri, kejadian semalam, hingga perasaan yang mulai tumbuh telah terpampang nyata di depan mata sang CEO. Di sampingnya, Wildan hanya diam membatu, wajahnya yang lebam tampak kaku, seolah ia sudah siap menerima surat pemecatan detik itu juga."Pak ... Pak Adam," Meysa langsung bersuara, suaranya bergetar hebat karena ketakutan. "Saya minta maaf, Pak! Tolong, janga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status