Share

Bab 33

Author: Nabila Ara
last update Last Updated: 2025-10-15 21:48:17

Rose masih berdiri di tangga cukup lama setelah Arthur berjalan pergi.

Suara langkahnya yang menjauh terdengar samar, lalu menghilang di balik tangga menuju lantai dua.

Ia mengembuskan napas panjang, dadanya terasa sesak.

Setiap kali pria itu menatapnya dengan tatapan lembut dan penuh perhatian, perasaan bersalah justru makin menumpuk di hatinya.

“Aku tidak pantas menerima semua ini,” bisik Rose pelan sambil menatap lantai marmer yang berkilau oleh pantulan lampu kecil di ruang tamu.

Hujan di luar sudah berhenti sepenuhnya, hanya suara tetesan air dari atap yang terdengar seperti denting lembut di tengah malam.

Rose perlahan naik ke lantai dua dan menuju kamarnya, Ia menyalakan lampu kecil di meja rias, lalu melihat pantulan wajahnya di cermin terlihat sangat lelah, tapi dihatinya ada rasa hangat dan itu yang ia dapatkan dari Papa mertuanya.

Tangannya menyentuh pipi yang tadi sempat disentuh Arthur, rasanya masih sangat terasa jelas. “Kenapa aku harus jantungku berdetak seperti ini se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 155

    Rose berdiri di depan cermin kamar, menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya masih menyisakan bekas pucat, meski luka-luka itu perlahan memudar. Tangannya sempat gemetar saat ia merapikan rambut, lalu menghela napas pelan.Arthur sebenarnya sudah memintanya makan malam di kamar saja. Pria itu bahkan bersedia menemaninya, membawakan makanan, dan memastikan Rose tidak perlu bertemu siapa pun jika ia belum siap. Namun Rose menolak. Bukan karena ia merasa benar-benar baik-baik saja, melainkan karena ia sadar menghindar bukan solusi yang baik.Tidak selamanya ia bisa menghindar untuk bertemu dengan Zumi. Dan yang lebih penting ia harus bisa melawan ketakutan itu.Sepanjang sore tadi ia terus berpikir, ia harus bisa melewati ini. Lagi pula Arthur sudah mengatakan jika saat itu apa yang dilakukan oleh Zumi hanyalah acting semata demi mengelabui David, Rio dan Jessica tidak curiga dengan apa yang ia rencanakan.Selagi ada Arthur di sampingnya, ia pasti akan baik-baik saja."Aku pasti bisa,"

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 154

    Ririn yang masuk ke dalam kamar Zumi yang ada di rumah Arthur tampak takjub dengan kamar sang suami saat masih tinggal di rumah itu.Kamar ini memang bukan kamar yang ditempati oleh Rose dan Zumi saat mereka melewati malam pengantin. Ya, Zumi dan Rose berada di dalam satu kamar saat malam pengantin mereka saja. Hari kedua pernikahan Zumi dan Rose, pria itu sudah pergi meninggalkan Rose dengan alasan ada urusan bisnis ke luar negeri."Kamar ini sangat luas sekali Sayang. Nuansanya kamu banget karena dominan abu-abu. Sayang banget kamar seluas ini harus dibiarkan kosong. Andai saja kita tetap tinggal di Jakarta, kita kan bisa tinggal di rumah ini. Lagi pula rumah Papa kamu itu luas sekali. Rasanya sayang banget jika hanya Papa kamu dan Rose yang menempatinya. Walaupun aku yakin asisten rumah tangga banyak tapi kan mereka nggak masuk hitungan karena mereka hanya pekerja," ucap Ririn sambil duduk di ranjang yang ada di kamar itu.Kamar Zumi memang selalu di bersihkan walaupun pemilik kama

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 153

    Arthur turun ke bawah untuk bertemu dengan Zumi dan Ririn.Ia hanya turun sendiri tanpa Rose karena gadis itu tidak ingin bertemu dengan Zumi.Rose tidak ingin bertemu dengan Zumi bukan karena masalah perasaannya terkait masa lalu tapi rasa takut karena kejadian penculikan itu masih sangat membekas di benaknya.Arthur juga tidak ingin membuat Rose ketakutan. Lagi pula ia yakin Zumi dan Ririn tidak akan mempermasalahkan Rose yang tidak ingin bertemu dengan mereka.Arthur langsung duduk di depan Zumi dan Ririn saat ia tiba di ruang tamu. Sejak tiba di ruang tamu, ia tidak nyaman dengan tatapan Ririn. Namun ia tetap tenang untuk menjaga perasaan Zumi."Maaf harus menunggu lama," ucap Arthur."Tidak masalah, Pa.""Rose tidak bisa turun ke bawah karena dia harus banyak istirahat," ucap Arthur karena Zumi memandang ke arah tangga."Semoga dia lekas sembuh.""Aamin. Terima kasih sudah mendoakan Rose."Ririn sejak tadi terus mencuri pandang ke arah Arthur. Ia tidak menyangka jika Papa angkat

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 152

    Seperti yang disampaikan oleh Agam terkait Zumi dan istinya akan berkunjung ke rumah Arthur memang benar. Saat ini Zumi dan Ririn sudah berada di rumah Arthur.Zumi memang mengajak Ririn untuk berkunjung ke rumah Papa-nya sore ini karena tadi pagi ia mendapatkan kabar jika Papa-nya dan Rose sudah pulang dari rumah sakit.Sejak masuk ke dalam rumah, Ririn terus saja memandanga ke sekeliling rumah. Ia sangat takjub dengan dekorasi yang ada di dalam rumah."Rumah Papa kamu sangat besar, Sayang. Kenapa kamu lebih memilih tinggal di luar jika rumah ini sangat besar," bisik Ririn pada Zumi."Ini kan rumah Papa bukan rumahku, Sayang.""Berarti selama ini Rose enak dong bisa tinggal di rumah semewah ini. Biarpun dulu kamu tinggalkan tapi dia bisa menikmati semua kemewahan di dalam rumah ini. Pantas saja dia betah di sini sampai membuat Papa kamu tertarik padanya. Pasti karena dia sudah kerasan tinggal di sini. Apalagi nanti dia bakal jadi Nyonya di rumah ini. Enak banget hidupnya," ucap Ririn

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 151

    Ponsel Arthur di atas nakas berdering. Rose yang sudah bangun dari tidurnya langsung menoleh ke arah Arthur yang sama sekali tidak terganggu dengan bunyi ponselnya.Arthur terlihat sangat nyenyak, Rose tidak tega untuk membangunkan pria itu.Akhirnya ia duduk dari posisi baring lalu mengambil ponsel Arthur untuk melihat siapa yang menghubungi Arthur.Ternyata ada nama Agam yang tertera di layar ponsel Arthur."Papa.." Rose membangunkan Arthur karena ia khawatir Agam akan menyampaikan informasi penting pada sang kekasih.Dua kali Rose membangunkan Arthur namun pria itu tetap tidak bergeming."Sepertinya Papa benar-benar lelah hingga aku gerakkan lengannya saja tetap tidak bangun. Biasanya sedikit saja ada gerakan Papa pasti terbangun. Aku angkat saja kali ya telponnya, siapa tahu penting."Akhirnya Rose menerima panggilan telepon dari Agam."Hallo," ucap Rose begitu sambungan telepon terhubung."Nona, Tuan Arthur Ada? Saya ada perlu menyampaikan sesuatu dengan Tuan." Terdengar suara Ag

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 150

    Kepulangan Rose dari rumah sakit di sambut hangat oleh semua asisten rumah tangga di rumah Arthur. Tampak sekali wajah-wajah lega dan bahagia saat Rose sudah tiba di rumah. Kejadian yang menimpa Rose membuat mereka semua merasakan khawatir yang begitu besar.Senyum bahagia terukir dari wajah Rose, tentu saja hal itu membawa kebahagian untuk Arthur.Membuat Rose tersenyum bahagia adalah hal yang harus ia lakukan.Setelah penyambutan kepulangan Rose selesai dan para asisten rumah tangga kembali menyelesaikan tugas mereka. Arthur langsung mengajak Rose untuk ke kamar mereka karena ia ingin Rose segera istirahat."Bi, aku dan Papa naik dulu ya. Itu Papa dari tadi terus saja minta aku untuk istirahat. Padahal selama di rumah sakit juga aku sudah banyak istirahat," ucap Rose."Tuan benar kok Non. Nona Rose memang perlu istirahat yang banyak agar lekas sembuh. Tuan lakukan itu kan juga untuk kebaikan Nona Rose. Untuk semua barang Nona yang di kamar lama sudah dipindahkan ke kamar Tuan ya," u

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status