Share

Bab 49

Author: Nabila Ara
last update Last Updated: 2025-10-31 23:08:52

Matahari Bandung baru saja muncul di balik tirai jendela hotel, menembus lembut ke dalam kamar tempat Arthur dan Rose beristirahat semalam.

Rose membuka matanya perlahan, tubuhnya masih dalam dekapan hangat Arthur.

Pria itu masih terlelap, napasnya teratur, sungguh menenangkan.

Ada sesuatu yang menentramkan hatinya ketika berada dalam pelukan Arthur seolah seluruh dunia yang semalam terasa runtuh, kini semuanya akan baik-baik saja.

Selama ada Arthur di dekatnya, Rose akan merasa baik-baik saja. Ia yakin bisa melewati semua ini.

Beberapa saat kemudian, Arthur terbangun dari tidurnya.

Begitu melihat Rose sedang menatapnya, ia tersenyum lembut. “Pagi, sayang…” terdengar suaranya serak khas orang baru bangun tidur.

Rose mencoba membalas senyum itu, tapi matanya masih tampak sembab. “Pagi, Pa…”

Arthur mengusap pipinya pelan. “Semalam, tidurmu nyenyak?”

“Lumayan…” jawab Rose lirih. “Walau sempat kebangun beberapa kali.”

Arthur tahu alasan sebenarnya bukan karena bantal atau kasur atau temp
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 164

    Rose mengakui jika Arthur pria perkasa, buktinya setiap mereka melakukan penyatuan seperti ini. Tentu saja tubuhnya mudah sekali terbuai dengan sentuhan-sentuhan dari pria yang saat ini sedang menghunjam tubuhnya.Ia sudah mendapatkan pelepasan beberapa kali, namun Arthur belum mendapatkan titik puncak."Pa..."Tubuh Rose semakin lemas karena kehilangan banyak tenaga. Ia hanya pasrah dan diam saja. Ia yang menginginkan Arthur menyentuhnya dengan keras tapi pria itu bisa memuaskannya dengan sentuhan-sentuhan lembut namun memabukkan.Entah sudah berapa banyak kalori yang keluar dari dalam tubuhnya malam ini, membakar makan malam yang memang tidak seberapa."Iya Sayang. Ada apa?" Di sela-sela napas yang meluncur satu-satu saat ia merasakan pelepasan yang hampir menghampirinya, Arthur menjawab.Tubuh keduanya sama-sama basah oleh keringat. Tubuh atletis Arthur semakin terlihat seksi saat keringat membanjirinya."Apakah Papa masih lama. Aku lelah."Arthur hanya tersenyum menahan sesuatu di

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 163

    "Wangi tubuhmu adalah candu untukku, Sayang." Arthur menatap Rose dengan tatapan memuja.Ia kembali mengangsurkan bibirnya pada bibir Rose. Seperti sebelumnya, Rose menyambut ciuman Arthur dengan sukacita. Ia selalu menyukai ciuman Arthur.Sama-sama saling merindukan sentuhan satu sama lain setelah cukup lama terjeda karena kesehatan Rose.Berdua mereka lalui aktivitas menuju AH dengan saling bertukar saliva. Lidah mereka saling membelit dan bibir mereka saling menyesap. Walaupun bukan sama-sama pemula, namun Arthur memperlihatkan sisi dominannya saat bercinta dengan Rose. Pria itu selalu menjadi mentor profesional yang selalu memberikan pengalaman baru pada Rose dalam urusan aktivitas AH."Apakah sudah siap untuk ke menu utama, Sayang? Atau kita masih mau mencicipi hidangan pembuka dulu?"Yakinlah bahwa itu bukan penawaran. Arthur sudah merasa ini saatnya melaju pada menu utama malam ini. Benda purbakalanya mulai tidak terkendali, berusaha meringsek ke dalam, menjelajahi lembah ken

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 162

    "Ternyata sudah pukul sepuluh malam," ucap Arthur saat ia menutup laptopnya.Ia meregangkan tubuhnya karena terasa pegal setelah beberapa jam duduk sambil memeriksa dokumen yang ia bawa dari kantor. Bahkan tadi ia sempat melakukan zoom berdua dengan Ken karena ada beberapa hal yang harus mereka bahas."Pasti Rose sudah tidur," gumamnya. Lalu ia pun berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari ruang kerja. Lantai satu di rumahnya sudah sepi karena saat ini memang sudah malam dan pasti para asisten rumah tangga sudah kembali ke Pavilion belakang.Begitu tiba di depan kamarnya, Arthur langsung membuka pintu.Ia terkejut begitu pintu kamar terbuka. Di dalam kamar hanya diterangi lampu tidur saja dengan ada lilin aroma terapi di beberapa tempat.Arthur terpaku melihat Rose yang sedang duduk di atas ranjang dengan pose yang menantangnya. Sungguh gadis itu terlihat sangat seksi dengan lingerie hitam yang hanya menutupi lima belas persen tubuh indahnya.Perlahan Arthur berjalan ke arah ran

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 161

    "Tadi ngapain saja kamu dan Alana di rooptop, Sayang. Lama banget kalian di sana," tanya Arthur saat mereka masuk ke dalam mobil Arthur.Hari ini Arthur memang mengendarai mobilnya sendiri. Tadi Arthur sudah meminta Jaka untuk pulang karena Rose ikut bersamanya."Cerita-cerita saja.""Hanya cerita tapi kok selama itu," ucap Arthur.Pasalnya Rose baru kembali ke ruangan Arthur saat alarm waktu istirahat makan siang berbunyi. "Alana curhat sama aku tentang kegalauan hubungannya dengan Ken."Arthur menoleh sekilas ke arah Rose, lalu ia pun mengendarai mobilnya dan mulai meninggalkan gedung Bramasta grup."Mereka sedang ada masalah?" tanya Arthur."Iya. Masalah sederhana menurutku. Solusinya mereka sama-sama menyatakan perasaan mereka masing-masing saja.""Mereka belum saling jujur tentang perasaan mereka, Sayang?""Iya. Alana butuh kepastian status mereka. Dan menurut Ken dengan memperlihatkan tindakannya pada Alana itu sudah cukup. Sebenarnya masalah mereka itu hampir mirip dengan kita

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 160

    "Pa, aku boleh bertemu dengan Alana sebelum aku pulang ke rumah?" tanya Rose.Waktu istirahat makan siang memang masih ada. Ia kangen dengan sahabatnya karena terakhir bertemu dengan Alana hanya di rumah sakit saat Alana datang menjenguknya."Boleh. Tapi pulangnya nanti sama-sama aku saja ya Sayang. Aku ingin hari ini kerja ditemani oleh kamu. Kalau kamu lelah nanti istirahat saja di ruang pribadi," ucap Arthur."Boleh deh. Tapi kasih tahu Jaka ya Pa kalau aku ikut Papa pulangnya. Nanti biar dia nggak lama menungguku.""Iya Sayang."Rose mengambil ponselnya di dalam tas lalu menghubungi Alana."Halo Al," ucap Rose begitu sambungan telepon terhubung."Halo Nyonya Bramasta," jawab Alana di seberang telepon hingga membuat Rose merona."Kamu lagi dimana?" tanya Rose."Tentu saja aku lagi di kantor. Sekarang kan masih waktu kerja Sayangku. Ada apa Rose?" tanya Alana."Aku juga tahu kalau sekarang memang masih waktu kerja. Tapi kamu dimananya. Di kantin atau dimana? Aku lagi di kantor ini.

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 159

    "Perfect"Rose tersenyum sambil berdiri di depan cermin yang ada di kamar. Ia memakai dress bewarna cream, rambut panjangnya di gerai saja. Ia hanya memakai make up tipis untuk menyembunyikan sisa-sisa lebam yang masih terlihat di wajahnya.Setelah memastikan penampilannya sudah siap, Rose langsung keluar dari kamar."Nona sudah mau berangkat ke kantor Tuan?" tanya Salimah begitu melihat Rose tiba di lantai bawah.Rose mengangguk sambil tersenyum. "Iya Salimah. Sudah mau waktu makan siang."Bi Arum mendekati mereka sambil membawa tas bekal yang sudah disiapkan oleh Rose tadi. Menu makan siang sama seperti yang sudah ia siapkan tadi pagi. "Terima kasih Bi Arum," ucap Rose saat Bi Arum menyerahkan tas bekal pada Rose."Sama-sama Non. Di antar sama Jaka kan Non?" tanya Bi Arum.Rose mengangguk. Setelah itu ia pamitan dengan Bi Arum dan Salimah. Bagi Rose, Bi Arum dan Salimah adalah keluarganya. Rose tidak menganggap mereka hanya sekedar asisten rumah tangga di rumah Arthur. Apalagi Ros

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status