Masuk“Alana, be my wife please.”Alana terdiam namun detak jantungnya semakin berdegup kencang. Ia tidak menyangka Ken akan melamarnya malam ini. Ia dan Ken memang sudah berkomitmen akan menjalin hubungan yang serius dan muaranya pada pernikahan. Tetapi ia tidak menyangka akan secepat ini.“Al, aku bukan pria yang mudah untuk merangkai kata-kata manis. Aku mungkin nggak pandai bikin kamu terpesona lewat kalimat-kalimat indah seperti di film atau novel,” ucap Ken dengan suara bergetar namun penuh keyakinan. “Tapi aku janji satu hal sama kamu, perasaanku sangat tulus padamu, Al. Aku memang bukan pria sempurna tapi bersama kamu aku merasakan kesempurnaan itu. Aku ingin menjadi orang yang selalu ada bersama kamu dalam keadaan apapun. Al, jadilah teman hidupku dan rumah untuk aku pulang.”Alana menggigit bibirnya, menahan haru yang semakin meluap. Air mata Alana akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan.“Aku ingin menghabiskan sisa waktuku bersama kamu, Al. Bangun setiap pagi dengan kamu, berbagi ceri
“Lagi?” tanya Alana terkejut.Ken mengangguk sembari tersenyum. “Sekarang kita makan saja dulu,” ajak Ken.Mereka pun mulai memakan makan malam yang sudah tersaji di depan mereka. “Kamu suka sama menu yang aku pesan?”Alana mengangguk beberapa kali. Setelah makanan di depannya ini masuk ke dalam mulutnya, Alana memang langsung cocok dengan citarasanya. “Enak. Aku suka. Aku bukan picky eatrer sih sebenarnya. Aku cuma nggak bisa kalau rasanya aneh di lidah. Kayak terlalu pahit, atau aneh banget sampai nggak masuk akal. Tapi selain itu, aku bisa makan apa aja,” kata Alana dengan santai.Ken terkekeh pelan, matanya tidak lepas dari wajah Alana. “Jadi kalau aku masakin sesuatu, kamu bakal mau coba?”Alana menyipitkan mata, pura-pura curiga. “Masalahnya kamu bisa masak apa dulu, Ken?”“Wah, meragukan sekali nadanya. Aku itu bisa masak loh,” ucap Ken yang pura-pura tersinggung.“Benaran kamu bisa masak? Menu apa yang kamu paling jago?”“Aku bisa masak mie instan level chef profesional.”Ala
Alana melihat penampilannya di depan cermin. Ia baru selesai siap-siap, mengaplikasikan make up tipis hingga semakin membuatnya cantik. Aslinya Alana memang cantik dan saat ini semakin cantik. Rose dan Alana, dua sahabat itu sama-sama memiliki visual yang cantik hanya saja diantara mereka berdua berbeda di aura kecantikan saja.“Perfect,” gumamnya sambil tersenyum.Malam ini ia di ajak Ken untuk makan malam di luar.Alana memakai dress bewarna navy yang panjangnya di bawah lutut. Rambutnya sengaja ia gerai saja.Tadi Ken bilang akan menjemputnya pukul tujuh malam, dan saat ini baru jam enam lewat lima puluh menit.“Sepuluh menit lagi. Ken mau ajak aku makan malam dimana ya? Biasanya Ken pasti bertanya mau makan malam dimana. Mungkin kali ini Ken yang memilih sendiri tempatnya. Hmm... Semoga dress yang aku pakai cocok dengan tempat yang Ken pilih,” ucap Alana.Ia duduk di kursi yang tidak jauh dari jendela kamar, lalu ia membuka ponselnya dan melihat status Rose di aplikasi hijau.“Aku
Rose masuk dalam walk in closet untuk mengambilkan baju ganti suaminya. Meski masih kesal tapi ia tetap melayani Arthur dengan baik.Saat Rose sedang memilih baju ganti untuk Arthur, tangannya terhenti ketika tubuhnya di peluk dari belakang oleh Arthur.“Jangan kesal lagi ya Sayang. Apa yang aku lakukan itu demi kebaikan kamu. Kalau kamu masih kesal, nanti triplets juga bisa merasakan kekesalan Mamanya,” bisik Arthur dengan pelan.Rose menghela napas. Lalu ia membalik tubuhnya hingga berhadapan dengan Arthur. Ia tatap mata hazel Arthur, mata yang membuatnya jatuh cinta pada pria itu. Ia harus mengajak Arthur bicara agar kejadian tadi tidak terulang kembali. Meski ia hanya kesal dengan suaminya tapi jika dibiarkan, Rose yakin beberapa bulan ke depan hingga ia lahiran, tidak akan dibiarkan menyentuh dapur atau melakukan apapun.“Pa, aku tuh sebenarnya senang banget mendapat perhatian yang begitu besar dari Papa. Aku tahu Papa melakukan ini juga demi kebaikanku. Papa sangat perhatian pad
“Eh...” Salimah terkejut langsung membalik badan ke arah belakang saat mendengar seseorang mengaminkan doanya.“Kamu mengejutkan aku saja, Jaka.” Salimah mengusap dadanya karena ia benar-benar terkejut. Pasalnya tadi tidak ada Jaka di dekatnya.“Kenapa kamu harus terkejut, Salimah. Aku kan hanya mengaminkan doamu saja agar Tuhan segera mengabulkan doamu itu. Sepertinya kamu sudah ingin cepat-cepat menikah ya Salimah?” tanya Jaka.“Aku kan hanya berdoa saja. Siapa tahu Tuhan langsung mengabulkannya. Siapa yang tidak ingin menikah, Jaka. Meski aku sudah merasakan menikah itu seperti apa, tetapi tetap saja aku ingin menikah dengan orang yang tepat,” ucap Salimah.Jaka menatap ada rasa sedih yang ingin Salimah tutupi dengan senyumnya.“Memangnya kamu tidak ingin menikah, Jaka?” tanya Salimah kembali. Ia berusaha untuk tetap tersenyum. Pernikahan pertamanya memang tidak seindah kisah cinderella atau kisah tuan putri di dunia dongeng. Meski begitu ia ingin menikah kembali karena Salimah yak
“Bukankah itu..” gumam Arthur saat melihat seseorang yang tidak asing baginya.“Ada apa Tuan?” tanya Jaka ketika melihat Arthur tiba-tiba berhenti. Ia pun langsung menoleh kesekeliling untuk melihat apa yang membuat Tuannya berhenti seketika.“Aku tadi melihat orang yang mirip seseorang, tapi sepertinya hanya mirip saja karena nggak mungkin orang itu ada di sini,” jawab Arthur.Saat ia menoleh ke arah yang lagi, tetapi orang yang ia lihat sudah tidak ada di sana.Arthur mencoba untuk menyangkal tetapi hatinya tidak tenang. Ia kembali berjalan menuju kasir untuk membayar semua belanjaannya.Setelah selesai membayar, Arthur dan Jaka kembali ke mobil untuk segera pulang ke rumah karena ia sudah sangat merindukan istrinya.Begitu mobil meninggalkan parkiran supermarket, Arthur menghubungi Agam.Deringan pertama, Agam sudah menerima panggilan darinya.“Halo, Tuan.” Terdengar suara Agam saat sambungan telepon terhubung.“Agam, tolong kamu hubungi tempat rehabilitasi dan tanyakan tentang Jes
Arthur baru saja keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan handuk putih yang melilit pinggangnya menutupi bagian bawah tubuhnya.Butiran air masih menetes dari rambutnya yang basah, mengalir turun melewati leher hingga dada bidang dan perut sixpacknya.Bahunya yang kokoh semakin memperlihatkan kema
Arthur keluar dari ruang kerjanya dengan langkah pelan.Suasana rumah siang itu terasa hangat bukan karena suhunya, melainkan karena kehadiran Rose yang kembali membawa kehidupan ke setiap sudut ruangan.Ia menemukan Rose duduk di sofa bersama Bi Arum, tertawa kecil saat bercerita tentang pengalama
Arthur dan Rose sama sekali tidak lagi mendengar suara film yang masih bergulir di layar televisi di depan mereka. Ciuman mereka semakin dalam, semakin panas, tapi tidak terlihat terburu-buru. Rose menggenggam kerah kaus Arthur, menariknya lebih dekat, seolah ingin meniadakan seluruh jarak yang te
Tokk... Tokk... Tokk....Ketukan pintu dari luar kamar terdengar sehingga membuat dua manusia yang masih terlelap itu pun terganggu.Rose membuka matanya pertama kali lalu di susul oleh Arthur. Posisi mereka saat masih berpelukan, tubuh mereka masih sama-sama polos di balik selimut yang menutupi tu







