Home / Romansa / Sentuhan Panas Papa Tiri Suamiku / 5. Boleh Papa Cobain Kamu?

Share

5. Boleh Papa Cobain Kamu?

Author: Ika Armeini
last update Last Updated: 2025-09-16 13:45:24

Pagi ini Rinoa kembali menyiapkan sarapan untuk Enzo. Mau dimakan atau tidak, paling tidak Rinoa sudah melakukan kewajibannya. Masalahnya, Enzo masih tertidur lelap padahal sudah dibangunkan beberapa kali oleh Rinoa.

Mata Rinoa pun tertuju pada suaminya yang masih tertidur itu. Jujur saja, Rinoa sangat ingin bermesraan dengan Enzo, apalagi melihat tubuh suaminya yang sangat menggairahkan saat tertidur.

Dengan berani Rinoa meraba duluan bagian bawah suaminya, mencoba memberi rangsangan.

"Sayang, bangun! Nanti kamu terlambat ke kantor, aku juga udah siapin sarapan buat kamu," bisik Rinoa di telinga Enzo.

Enzo bergelayut di ranjang, matanya pun perlahan terbuka. Tiba-tiba saja Enzo sudah melihat Rinoa yang memposisikan diri di atas tubuhnya.

"Kamu ngapain?" tanya Enzo.

"Boleh, kan?" Rinoa meminta izin dengan gaya centil.

"Tapi aku capek, Noa!"

"Biar aku aja yang bergerak, Sayang!" Rinoa terlanjur bergairah. Tidak peduli kalau Enzo mengatakan dirinya capek. Kalau tidak dipaksa begini mungkin Rinoa akan lama kekeringan.

Enzo pun tidak bisa menolak lagi setelah Rinoa bergerak cepat melucuti pakaiannya. Perempuan itu memulai pemanasannya dengan memainkan titik sensitif Enzo. Kemudian tanpa basa basi langsung melaksanakan tugas mulia suami istri itu, dengan posisi Rinoa yang mendominasi.

"Uuuuhh ... Noa, uuuuhhh ... a-aku mau keluar!"

"Belum, Sayang! Ini kan belum apa-apa." Rinoa makin mempercepat gerakan pinggulnya.

"Nooaaahhh, aku keluar! Ahhhhh ...." Tubuh Enzo yang berada di bawah tubuh Rinoa itu terlihat mengejang sesaat. Tak lama setelahnya Enzo pun jadi lemas di tempat.

Terlihat ekspresi kecewa di wajah Rinoa. Belum sampai lima menit permainan panas ini tapi sudah selesai? Secepat itu? Disentuh jarang, sekalinya juga pakai pemaksaan dan malah selesainya cepat.

"Sekali lagi, boleh?" tawar Rinoa lagi dengan memohon.

"Rinoa, nanti aku terlambat ke kantor." Enzo langsung memindahkan posisi Rinoa supaya segera turun dari atas tubuhnya. "Masih ada lain waktu, kan?"

"Lain waktu?" Rinoa mengernyit. "Lain waktu yang mana? Bukannya kamu selalu sibuk di kantor? Apa aku harus samperin kamu ke kantor supaya kamu punya lebih banyak waktu sama aku?" keluhnya.

"Ck ... jangan berlebihan, deh!"

Rinoa cemberut. Padahal dirinya hanya menyampaikan keluhannya, tapi ternyata dianggap berlebihan oleh Enzo. Rinoa pun jadi kesal, lalu merapikan dirinya dan hendak menjauh dari suaminya.

"Eh, mau ke mana kamu?" tanya Enzo saat Rinoa hendak keluar dari kamar tidur mereka.

"Bukan urusan kamu!" jawab Rinoa dengan kesal.

Enzo terlihat tidak terima. Dia pun langsung menahan Rinoa dan tidak mengizinkannya untuk pergi. "Bukan urusanku? Kenapa? Kamu marah karena yang tadi?"

Rinoa mengalihkan pandangannya, tidak berani menatap ke Enzo. Malas juga berdebat, yang tadi terasa tanggung untuk Rinoa.

"Kamu harusnya paham kalau pagi-pagi begini waktuku terbatas, aku harus siap-siap ke kantor sebelum kena macet!" jelas Enzo.

"Karena aku paham, makanya aku nggak protes lagi. Aku juga mau keluar dan nggak ganggu waktu kamu untuk siap-siap. Tapi kenapa kamu malah nahan aku di sini?"

"Aku nggak mau papa lihat muka cemberut kamu itu, Noa! Ingat ya, di rumah ini sekarang bukan cuma kita berdua, tapi udah ada papa juga!"

Rinoa mendengkus kesal. "Terus kenapa kalau ada papa?"

Enzo mau menyahut omongan istrinya, tapi ponselnya tiba-tiba berdering. Ada panggilan telepon masuk. Dia pun akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan telepon tersebut, daripada berdebat dengan istrinya.

Sementara Rinoa yang sudah terlanjur kecewa itu langsung memilih untuk keluar dari kamar. Maunya menenangkan diri sejenak supaya tidak kepanasan.

"Selamat pagi, Noa!" Suara berat khas papa Barra terdengar menyapa Rinoa saat perempuan itu baru keluar kamarnya.

Sudah pasti Rinoa kaget, bahkan ekspresinya berubah panik. Ternyata mertuanya ada di dekat sana, jangan-jangan tadi juga mendengar pertengkaran kecil antara Rinoa dan Enzo.

"Papa? Kenapa di sini?" tanya Rinoa penasaran.

"Oh, tadi Papa maunya ngajakin kalian sarapan bareng. Tapi kamu sudah muncul duluan sebelum Papa samperin," jelas Barra. "Enzo apa sudah selesai siap-siap?"

Rinoa menggelengkan kepalanya. "Belum, Pa! Dia baru mau mandi. Ummm ... biar aku yang temenin Papa sarapan, mungkin nanti biar Enzo nyusul belakangan."

Barra setuju. Dia pun menuju ke meja makan bersama Rinoa. Kebetulan Rinoa juga bercerita ke mertuanya kalau dirinya sudah belajar masak, dan sarapan pagi ini disiapkan olehnya sendiri tanpa bantuan si mbak asisten rumah tangga.

"Papa pikir kalau ini semua disiapin si Mbak Pur, ternyata kamu sendiri?" Barra terlihat sedikit kaget.

"Iya, tapi maaf kalau rasanya belum sempurna ya, Pa! Aku masih coba-coba, karena Enzo juga minta biar aku belajar masak, katanya mama Enzo juga dulu jago masak, kan?"

Barra mengangguk. "Iya, mendiang mamanya Enzo memang jago masak! Tapi pastinya dia juga berawal dari coba-coba dulu sebelum jadi jago, kan? Nggak ada salahnya mencoba, Noa!"

"Ummm ... apa Papa juga suka coba-coba?" tanya Rinoa penasaran.

Barra menyeringai. "Tergantung, kalau menarik tentu harus dicoba, kan? Boleh Papa cobain kamu?"

"Hah?" Rinoa kaget dengan kalimat terakhir yang diucapkan Barra kepadanya.

Barra terbahak. "Maksudnya Papa mau cobain masakan buatanmu, Noa!"

Seketika Rinoa membulatkan bibirnya. "Oh, mau cobain masakan! Tentu, Pa, silahkan dicoba."

Barra pun tanpa ragu mencoba masakan buatan Rinoa, terlihat ekspresinya wajahnya yang sangat menikmati. Padahal Rinoa sedikit tidak percaya diri dengan hasil buatannya.

"Gimana, Pa?" tanya Rinoa.

"Enak, masakan kamu ini enak, Noa! Padahal kamu bilang kalau masih belajar, kan?"

"Papa pasti bohong, kan?" Masih Rinoa belum percaya.

"Siapa yang bohong? Ini beneran enak. Kamu coba tanya Enzo, pasti dia juga setuju. Mirip dengan buatan mamanya Enzo."

Rinoa bahkan tidak tahu bagaimana caranya meminta pendapat Enzo, kalau suaminya itu tidak pernah mencicipi masakannya.

"Padahal dipuji, tapi kenapa malah cemberut?" Barra jadi bingung saat melihat ekspresi Rinoa setelah dipuji.

"Aku ... aku nggak tahu Enzo suka juga atau nggak, Pa! Dia selalu minta aku untuk belajar masak, tapi masih belum sempat cicipin masakanku. Mungkin menurut dia memang cuma masakan mamanya yang paling enak dan belum ada yang bisa gantikan."

"Hei, kenapa jadi pesimis begitu?" Barra mencoba menenangkan menantunya. Dia pun mengelus-elus punggung Rinoa dengan lembut. "Memang masakan mama Enzo itu enak, tapi kamu pun juga pasti bisa bikin yang jauh lebih enak. Ingat ya, tiap tangan itu berbeda. Apalagi Papa lihat kalau tangan kamu ini sangat mulus dan bersih."

"Memang apa hubungannya tangan yang mulus dan bersih, Pa?" Rinoa tak paham.

Sementara Barra malah mencuri kesempatan sambil menyentuh dan meraba tangan Rinoa. Memastikan kalau tangan Rinoa memang mulus. Tatapannya terlihat sangat mendambakan sesuatu.

Rinoa pun membiarkan saja mertuanya meraba lembut tangannya, malah rasanya makin lama Rinoa jadi terangsang dengan sentuhan itu.

"Kalian ngapain?" Suara Enzo tiba-tiba saja muncul. Seketika Barra melepas tangan Rinoa dan menjaga jarak dari menantunya itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Papa Tiri Suamiku   31. Siapa Itu?

    Rinoa bingung, kenapa Barra tak kunjung kembali mencarinya di balik rak buku? Dia pun menghela napas dengan kasar, lalu memberanikan diri untuk keluar dari persembunyiannya."Pergi ke mana sih Papa? Kenapa lama?" Rinoa mondar mandir di ruang kerja Barra sambil menggigit jarinya. Mau keluar dari ruang kerja tersebut tapi takut ketahuan si asisten rumah tangga. Masalahnya harus berapa lama Rinoa menunggu dengan bersembunyi di sini? Haruskah Rinoa bersabar menunggu kedatangan Barra?Lama Rinoa kembali menunggu, sampai akhirnya dia pun memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut. Walaupun dengan mengendap-ngendap karena takut ketahuan.Mata Rinoa mengawas di sekitar, tak ada tanda-tanda si asisten rumah tangga di sana. Sepertinya sudah kembali ke kamarnya untuk nonton sinetron. Lantas ke mana perginya Barra?Kalau begini rasanya Rinoa seperti digantung saat sedang nafsu-nafsunya. Mungkin sebaiknya Rinoa kembali ke kamar, siapa tahu nanti Barra akan kembali muncul.Saat Rinoa hendak kemb

  • Sentuhan Panas Papa Tiri Suamiku   30. Mau Apa Datang Ke Sini?

    Kepanikan terjadi sejenak, Rinoa buru-buru merapatkan kedua kakinya dan langsung turun dari atas meja kerja Barra. Perempuan itu pun secara otomatis merapikan pakaiannya dengan cepat. "Mbak Pur, Pa," bisik Rinoa dengan ekspresinya yang sangat tegang. Kaki dan tangannya pun ikut gemetar."Mungkin lebih baik dibiarkan aja," jawab Barra dengan cuek. Ada rasa kesal yang muncul akibat suara asisten rumah tangga itu. Sungguh mengganggu momen nikmat berdua bersama Rinoa.Rinoa menggelengkan kepalanya. "Enggak, kalau dibiarin malah bikin Mbak Pur curiga, Pa.""Terus Papa harus bukain pintu dalam kondisi yang seperti ini?" Barra menunjuk miliknya di bawah sana yang baru saja dipasangkan pengaman. Bukan masalah rugi satu pengaman bercinta, tapi masalahnya birahi sudah terlanjur di puncak."Bisa dilepas dulu, kan? Atau mungkin Papa langsung tutup aja pakai celana." Rinoa nyengir tipis, takut kalau ide yang terpaksa ini membuat Barra kecewa.Maunya Barra tetap keras kepala, tapi ketukan pintu da

  • Sentuhan Panas Papa Tiri Suamiku   29. Kondom?

    Barra lagi-lagi tak menjawab pertanyaan Rinoa, tapi caranya merespon adalah dengan tindakan langsung. Laki-laki itu membuka celah celana dalam Rinoa, lalu secara perlahan mendekatkan bibirnya pada bagian sensitif milik Rinoa tersebut. "Paaaaaahhh ...." Tubuh Rinoa gemetaran begitu rasa hangat dari bibir dan lidah Barra menyentuh bagian sensitifnya di bawah sana. Ah, sial ... rasanya geli tapi sungguh nikmat. Barra tidak hanya jago urusan ciuman bibir, tapi urusan membahagiakan titik sensitif milik Rinoa pun perlu diacungi jempol. Sungguh Rinoa sangat menyukai bagian ini, sensasi geli tapi nikmat itu membuat tubuh Rinoa merasakan hormon oksitosin yang meningkat. Sibuk Barra menikmati bagian bawah milik Rinoa dengan bibir dan lidahnya, sementara Rinoa berkali-kali melenguh dan mendesah. Sebisa mungkin desahan itu ditahan agar tidak terlalu keras, masalahnya kenikmatan ini adalah sesuatu yang sulit ditahan. Sesaat Rinoa tidak peduli, biar saja desahannya menggema di ruangan ini. Lagi

  • Sentuhan Panas Papa Tiri Suamiku   28. Makan Malam Utama

    "Ma-maaf, Pa. Ma-maaf ka-kalau Papa berkali-kali nu-nungguin aku," ucap Rinoa dengan terbata-bata. Barra kembali menyisir rambut Rinoa dengan jari-jarinya. "Nggak masalah, Papa punya tingkat kesabaran yang cukup. Tapi ... belakangan ini kesabaran Papa sedikit diuji, sepertinya ada sesuatu yang membuat Papa jadi nggak sabaran lagi." Rinoa yang duduk menyamping di pangkuan Barra itu pun seketika menatap ke arah Barra. "Apa, Pa?" "Kamu ... kamu yang bikin Papa jadi nggak sabaran, Noa." Jari-jari Barra yang tadi menyusuri rambut Rinoa kini berpindah ke pipi Rinoa. Perlahan jari itu mengelus lembut pipi Rinoa, lalu berpindah ke bibir Rinoa. "Papa sengaja makan malam dalam porsi yang sedikit, karena makan malam utama Papa ada di sini." "Maksudnya?" tanya Rinoa dengan ekspresi bingung. Barra tersenyum tipis kepada Rinoa. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Barra lagi, hanya gerakan tangannya yang kini sudah berpindah ke bagian bawah tubuh Rinoa. Berawal dari mengelus pelan paha

  • Sentuhan Panas Papa Tiri Suamiku   27. Berapa Lama Cantik Seperti Ini?

    Barra menaikkan satu sudut bibirnya. "Kamu benar, memang lebih baik dia berlama-lama di sana. Tapi ... semoga aja Enzo nggak lalai dengan tugasnya di kantor."Rinoa mendengkus pelan. "Bukannya Enzo udah terlalu sering kerja lembur di kantor Papa? Sesekali dia bebas tugas sepertinya nggak masalah kan, Pa? Lagian semua bisa dicek lewat online dan Papa sendiri juga bisa mengecek langsung ke kantor."Jujur saja Rinoa sedikit tidak suka kalau Barra mulai membahas urusan pekerjaan. Dia sudah merasakan sendiri kurangnya kasih sayang Enzo ke Rinoa akibat mengurus perusahaan milik Barra, sekarang di saat Enzo tidak ada malah kembali Barra memikirkan bisnisnya.Barra sepertinya pun langsung paham kalau Rinoa kurang menyukai pembahasan ini. Terlihat dari ekspresi Rinoa yang langsung berubah cemberut saat Barra membahas tentang kantornya.Seketika Barra mengelus tangan Rinoa dengan lembut. "Kita makan dulu ya, Noa. Papa minta maaf kalau bahas masalah yang tadi."Rinoa tersenyum tipis. Dia pun men

  • Sentuhan Panas Papa Tiri Suamiku   26. Kamu Harus Percaya Sama Papa

    Barra mengangguk dengan yakin. "Tentu, Noa. Malah Papa khawatirnya dengan kamu." "Denganku?" Rinoa mengernyit. "Iya, kamu yang harus lebih berhati-hati lagi. Seperti yang Papa bilang tadi, adik kamu instingnya kuat. Jangan menunjukkan gerak-gerik yang aneh di depan dia. Bisa kan, Noa?" Barra lantas mengelus lembut puncak kepala Rinoa. Seperti menunjukkan rasa kasih sayang seorang ayah kepada putrinya. "Oke, Pa." Rinoa mengangguk pelan. Barra mengalihkan pandangannya sejenak ke arah luar mobil. "Sepertinya kita harus keluar sekarang. Papa nggak mau orang-orang di rumah ini jadi curiga kalau kita lebih lama lagi diam di dalam mobil." Rinoa setuju dengan saran Barra. Dia dan Barra pun segera keluar dari mobil. Jujur saja, gara-gara telepon dari Reonald tadi rasanya momen nikmat berdua dengan Barra jadi terasa nanggung. Rinoa pun mengakui kalau mertuanya ini sangat lihai menahan diri, padahal tadi bisa saja Rinoa cuek dengan tidak menjawab panggilan telepon dari adiknya. Namun Bar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status