ANMELDENSiang itu, pusat perbelanjaan di jantung kota tampak riuh. Mikha mencoba menata kembali kepingan kewarasannya dengan berjalan-jalan sendirian. Namun, langkahnya terhenti di depan sebuah gerai tas mewah. Di sana, berdiri seorang wanita muda dengan rambut sebahu yang sangat ia kenali.Ariana Dhananjaya. Adik kandung Arion.Waktu seolah membeku. Ariana yang sedang melihat koleksi terbaru menoleh, dan matanya bertemu dengan mata Mikha. Tidak ada pelukan hangat seperti tiga tahun lalu. Tidak ada rengekan manja Ariana yang biasanya meminta masukan *fashion* pada Mikha.Tatapan Ariana berubah tajam, penuh kebencian yang murni. Di mata Ariana, Mikha adalah wanita kejam yang meninggalkan kakaknya tepat saat Arion berada di titik terendah hidupnya. Ia masih ingat bagaimana Arion hancur, dan ia menyalahkan Mikha atas setiap tetes air mata kakaknya.Sementara Mikha, hatinya berdenyut nyeri. Ia teringat betapa ia dulu sangat menyayangi Ariana seperti adik kandung s
Ruangan kantor itu kini hanya diterangi oleh lampu meja yang meredup. Arion masih berada di posisi yang sama sejak Miko pergi beberapa jam lalu. Di hadapannya, sebuah amplop cokelat tanpa identitas tergeletak di atas meja marmer. David baru saja meletakkannya sepuluh menit yang lalu sebelum pamit dengan wajah yang menyiratkan rasa iba, sesuatu yang biasanya akan membuat Arion murka, namun kali ini ia terlalu mati rasa untuk peduli.Jari Arion yang gemetar perlahan membuka segel amplop itu. Di dalamnya terdapat tumpukan laporan medis dari sebuah rumah sakit jiwa di Geneva, salinan berita acara kepolisian setempat, dan beberapa foto yang diambil dari jarak jauh oleh tim investigasi.Mata Arion menyapu baris demi baris laporan berbahasa Prancis itu. Dunianya seolah runtuh lebih hebat daripada saat mobil SUV menghantam kendaraannya bertahun-tahun lalu.> **Laporan Insiden: 14 November.**> **Korban:** Mikhayla Aditya.> **Kondisi:** Ditemukan di dalam kontainer limbah di gang belakang
"Iya, ini aku." Miko mengulurkan tangan.Mikha langsung menghambur ke pelukan kakaknya, menangis sejadi-jadinya hingga tubuhnya terguncang hebat. Marsha ikut masuk dan memeluk keduanya, menciptakan lingkaran perlindungan yang hangat."Dia jahat, Mik... Arion jahat..." tangis Mikha di dada kakaknya. "Aku benci dia Miko, aku benci dia!’’‘’Iya, dia jahat! Udah ya. Aku disini,”Miko mengusap punggung adiknya dengan rahang mengeras. Kebenciannya pada Arion kini mencapai puncaknya. Baginya, Arion bukan hanya pria yang meninggalkan Mikha, tapi Arion adalah akar dari semua penderitaan ini. Jika saja Arion tidak memutus hubungan mereka secara sepihak malam itu, Mikha tidak akan pernah pergi ke klub itu, dan kejadian naas itu tidak akan pernah terjadi."Sstt... tenanglah. aku janji, dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi. aku akan pastikan pria itu membayar setiap tetes air mata yang kamu keluarkan hari ini," janji Miko dengan nada rendah yang ber
Langkah kaki Kayla terdengar berat saat menapaki lantai marmer teras rumahnya. Wajahnya yang biasanya cerah kini sepucat kertas, dengan tatapan kosong yang seolah menembus objek apa pun di depannya. Di ruang tengah, Marsha sedang merapikan beberapa bunga di vas. Ia menoleh, berniat menyapa putri kesayangannya dengan senyum hangat, namun senyum itu membeku seketika."Mikha? Kamu sudah pulang, Sayang?" sapa Marsha lembut.Kayla tidak berhenti. Ia bahkan tidak menoleh. Gadis itu terus berjalan melewati ibunya, menaiki anak tangga satu per satu dengan gerakan mekanis. Suara napasnya terdengar pendek dan tidak stabil."Mikha? Kamu kenapa Sayang? Ada masalah di kantor?" Marsha mencoba mengejar, namun terlambat. Suara pintu kamar yang dibanting keras menjadi jawaban tunggal yang memecah keheningan rumah itu.CEKLEK.Suara kunci diputar dari dalam membuat Marsha tertegun di depan pintu kayu bercat putih itu. Tok tok tok“Mikha, Say
Mikha tertawa getir. Suara tawanya tidak mengandung setitik pun keceriaan, itu adalah suara paling menyakitkan yang pernah Arion dengar, lebih mirip sebuah rintihan yang dipaksakan keluar dari dada yang sesak. Mikha menyeka sudut matanya dengan gerakan kasar, sebuah gestur pertahanan diri agar air matanya tidak tumpah di depan pria yang telah menghancurkannya. Ia menatap Arion seolah pria itu adalah monster yang baru saja memakai topeng manusia."Kayla, apakah menurutmu, aku orang seperti itu?" Arion memajukan sedikit tubuhnya, meskipun kursi roda itu membatasi ruang geraknya. Tatapannya menajam, menusuk langsung ke iris mata Mikha, seolah ingin menembus dinding pertahanan yang dibangun gadis itu dengan susah payah. Ada kilat kemarahan di sana, namun jauh di dasar matanya yang kelam, terdapat permohonan yang tak terucap, sebuah teriakan minta tolong yang tertahan oleh harga diri."Nyatanya kamu memang se-brengsek itu, Ar!" Kayla tidak m
Arion tidak pernah menjadi orang yang sabar setelah kecelakaan itu merenggut kekuatannya. Baginya, menunggu adalah siksaan. Namun, melihat Kayla di restoran tempo hari mengubah segalanya. Rasa bersalah yang selama ini ia kunci rapat-rapat mendadak meledak, menjadi obsesi yang sulit dikendalikan."Dia tidak datang, Tuan," lapor David dengan nada hati-hati saat mereka meninggalkan kafe yang sudah hampir tutup itu.Arion hanya menatap lurus ke depan. Jemarinya mencengkeram sandaran tangan kursi roda hingga buku-buku jarinya memutih. "Dia tidak datang bukan karena tidak mau. Tapi karena dia tidak tahu.""Maksud Anda?"‘’Entahlah,’’ Malam itu, instruksi disebarkan. Arion tahu perusahaan keluarga Rafi sedang mengincar proyek revitalisasi Grand Heritage. Itu adalah proyek prestisius yang bisa mengangkat nama firma arsitektur mereka ke kancah internasional. Dan Arion, melalui anak perusahaan holding-nya, adalah pemegang keputusan utama di sana.__Keesokan paginya, suasana di kedi
Keduanya semakin terbuai oleh perasaan yang kian sulit dibendung. Keheningan di antara mereka terasa tebal, bukan karena canggung, melainkan karena terlalu banyak emosi yang bertumpuk dan tak tahu harus diluapkan dengan cara apa.Arion menatap Kayla lama, seolah sedang menimbang sesuatu
“Miko!!!” teriak Marsha histeris dari ujung lorong. “Astaga Miko, lepasin Mikha!”Marsha berlari tergesa ke arah mereka, wajahnya pucat karena panik.“Rafiiii! Cepetan naik!” teriaknya lagi dengan suara bergetar.Langkah kaki terdengar cepat dari lantai bawah. Rafi yang mendengar keributan itu lang
Mikha menelan ludah. Tangannya di dalam saku mengepal semakin kuat.“I—iya.”Arion melangkah lebih dekat. Instingnya berteriak ada yang salah. Sejak kejadian di hutan, ada banyak potongan yang terasa janggal dan Mikha selalu berada terlalu dekat dengan semua kekacauan itu.“Kamu gak k
Kayla menangis di pelukan itu. Tangis yang bukan hanya tentang malam tadi, tapi tentang rasa takut kehilangan, rasa malu, rasa tidak berdaya. Namun di antara isakannya, ada satu hal yang tetap ia rasakan Arion tidak menjauh. Tidak pergi. Tidak menghindar. Dan di gua kecil yan







