Beranda / Mafia / Sentuhan Panas Tuan Mafia / 53. Menjadi Incaran Si Penembak Jitu

Share

53. Menjadi Incaran Si Penembak Jitu

Penulis: Callista_ Ivan
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-25 21:58:09

Dor!

“Anne!”

Leon segera menarik tubuh Anne dan menahannya dengan erat. Peluru yang tadinya mengarah tepat ke dada Anne pun kini meleset dan menghantam batang pohon di belakang mereka, meninggalkan suara keras yang memekakkan telinga.

“Akh!”

Anne menjerit pelan. Dan saat itu tubuhnya gemetar hebat. Leon segera memeluknya kuat-kuat, berusaha menenangkan napasnya yang tersengal-sengal.

“Huhuhu, apa yang terjadi?” Anne terisak, air matanya jatuh meleleh di pipi.

“Ssstt, tenang, Anne. Ada aku di sini,” ucap Leon dengan suara berat, tapi ia berusaha menenangkan Anne.

Ia mendekap tubuh Anne rapat-rapat. Kedua tangannya melingkar di tubuh Anne, dan wajah gadis itu terbenam di dadanya. Anne menggenggam jaket Leon erat-erat, air matanya terus menetes tanpa bisa ditahan.

“Tuan, pelurunya … nyaris mengenai aku,” isaknya dengan suara terbata-bata.

Leon menatap sekitar dengan cepat. Tatapannya tajam dan penuh kewaspadaan. Matanya berusaha mencari sesuatu atau seseorang yang baru saja menyerang mer
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   154. Anne Hilang

    “Kau? Kenapa di sini?”Anne masih terpaku. Wanita di hadapannya benar-benar seperti bercermin. Wajah itu sama persis dengannya, hanya saja dipenuhi luka. Ada bekas sayatan di pipi, lebam di bawah mata, dan bibir pecah yang belum sembuh sempurna.“Oh, Anne, ternyata kau masih ingat aku ya?” Wanita itu menyeringai mengerikan.“Elle,” suara Anne gemetar.Elle tersenyum miring. Senyumnya dingin dan penuh kebencian.“Akhirnya kita bertemu lagi, adikku,” ucap Elle dengan suara serak.“Kau terlihat baik-baik saja, Anne. Tidak seperti aku yang menyedihkan ini.” Elle menatap dirinya sendiri. Matanya menatap tajam pada Anne dan ia maju selangkah.“Elle, kau … kau mau apa di sini?” Anne mundur satu langkah refleks. Ingatannya langsung kembali pada kekacauan yang dulu terjadi karena wanita ini.“Kau seharusnya masih dipenjara,” ucap Anne pelan dan waspada.Elle tertawa pendek. “Dipenjara?” Ia mendengus. “Leon mengurungku di bawah tanah. Aku disiksa, dipukul, diikat dan hidup tanpa cahaya, tanpa w

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   153. Manipulasi

    Tawa Leon pecah pelan setelah pertanyaannya meluncur begitu saja.“Jadi, kapan kalian akan melamar mereka?” ulangnya santai, seolah sedang menanyakan cuaca.Adrian dan Jonathan langsung kikuk hampir bersamaan.“Aku … eh, Bos, ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda.” Adrian berdeham, wajahnya tampak memerah samar.Jonathan pun ikut mengangguk cepat. “Itu benar, Bos. Kita … kita kan masih harus fokus kerja.”Leon menyeringai kecil. Ia menatap dua tangan kanannya itu dengan sorot mata yang penuh selidik, lalu menggeleng pelan.“Kalian ini lucu,” ucapnya. “Kalian lebih berani menghadapi peluru daripada menghadapi perasaan sendiri.”Adrian dan Jonathan sama-sama terdiam. Megan yang berdiri tak jauh dari mereka hanya melirik sekilas, lalu kembali bersikap seolah tidak mendengar apa pun. Namun jika diperhatikan lebih saksama, ujung telinganya tampak memerah. Sebab ia samar-samar mendengar pembicaraan ketiga laki-laki itu.Leon tidak melanjutkan godaannya. Ia mengangkat bahu santai, lalu

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   152. Restu dari Roberto

    Langkah Anne pun sontak terhenti seketika. Jantungnya seolah berhenti berdetak ketika sosok pria paruh baya itu berdiri tegak di hadapannya, dengan aura dingin dan tatapan yang sama seperti yang selalu ia ingat.Roberto Dominic, ayah angkatnya Leon.Pria yang selama ini menjadi bayang-bayang ketakutannya. Pria yang selama ini bahkan tak pernah menyukai keberadaannya. Pria yang pernah terang-terangan mengatakan bahwa Anne tidak pantas hidup di dunia mereka, hanya karena ia adalah anak dari Antonio, rival abadinya.“Kau …?”Tubuh Anne mendadak gemetar. Ia refleks mundur satu langkah. Napasnya tercekat, dan wajahnya seketika memucat. Semua kenangan buruk itu kembali menyeruak. Ancaman terselubung, tatapan membunuh, dan kebencian yang tak pernah disembunyikan Roberto padanya.Namun sebelum Anne benar-benar menjauh, sebuah tangan dengan kuat menahan lengannya. Lengan kekar Leon.Anne menoleh pelan. Ia seolah tak ingat jika Leon masih berdiri di sampingnya. Pria itu menggenggam lengan Anne

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   151. Sosok di Mansion Dominic

    “Mau bicara apa?” tanya Megan dengan cuek, bahkan tanpa menoleh sedikit pun kepada Adrian.Adrian menghela napas panjang, seolah sedang mengumpulkan seluruh keberaniannya. Tangannya mengepal di atas paha, lalu mengendur lagi. Ia menatap lurus ke depan beberapa detik sebelum akhirnya kembali menoleh ke arah Megan.“Mmm, Megan,” panggilnya lagi, kali ini suaranya terdengar lebih pelan.Megan melepas satu sisi earphone-nya dengan kasar. Ia lalu menoleh ke arah Adrian dengan setengah malas.“Ada apa, Adrian? Kalau soal Anne, dia pasti akan baik-baik saja bersama Leon.”Namun, bukan itu yang ingin Adrian bicarakan. Pria itu menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, jauh lebih cepat dibandingkan saat ia harus menghabisi musuh bosnya.“Aku tahu,” katanya singkat. “Aku hanya … hanya kepikiran satu hal.”Megan mengernyit tipis. “Soal apa?”Adrian terdiam terlalu lama. Keheningan di antara mereka menjadi kaku, dan hanya diisi dengung mesin jet. Hingga akhirnya ia memberanika

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   150. Kembali Bersamamu

    Pagi itu, rumah nenek Anne masih diselimuti suasana yang menegangkan. Sinar matahari musim gugur menembus jendela, tapi tidak sepenuhnya mampu menghangatkan hati orang-orang di dalamnya.Sejak kejadian tadi malam, suasana di rumah besar sedikit lebih mencekam daripada sebelumnya. Apalagi karena kini, pagi ini, Leon sudah bertamu bersama dengan Adrian.Pagi ini Leon sudah berdiri di ruang tamu rumah itu dengan sikap tenang, meski sorot matanya menunjukkan tekad yang bulat dan membara. Anne berdiri di sebelahnya. Tangan kiri Leon menggenggam jemari Anne, seolah takut wanita itu akan menghilang lagi jika ia lengah sesaat.Di sana, Valerie duduk bersebelahan dengan kakek dan nenek Anne. Megan berdiri di sebelahnya. Sesekali matanya bertatapan dengan Adrian yang tampak beberapa kali mencuri pandang ke arahnya.“Jadi apa yang kau inginkan sekarang?" tanya Valerie dengan nada dingin dan datar, matanya seolah enggan menatap Leon."Ma, hari ini aku ingin meminta izin. Aku ingin membawa Anne pu

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   149. Jika Bukan Denganku, Bukan dengan yang Lain

    Valerie jatuh tepat di depan mereka. Tubuhnya terkulai lemas di lantai teras, membuat suasana yang semula tegang kini berubah menjadi kepanikan total.“Mama!” jerit Anne histeris.Dengan cemas, Anne langsung berlutut di samping ibunya itu. Tangannya gemetar saat menggenggam bahu Valerie yang terasa dingin. Wajah wanita itu pucat pasi, dan napasnya tersengal panik.“Leon, tolong!” suara Anne bergetar hebat. Bahkan di saat genting seperti ini, justru Leon tetap menjadi orang pertama yang ia butuhkan.Leon bergerak cepat menghampiri Anne. Ia berlutut di sisi lain tubuh Valerie. Dengan sigap, ia mengecek napas dan denyut nadi mertuanya itu dengan wajah tegang.“Anne, mama pingsan karena shock,” ujar Leon cepat. “Kita harus segera menolongnya. Aku akan hubungi Adrian untuk memanggil dokter sekarang!”“Lakukan yang terbaik untuk mama, Leon." Suara Anne serak karena menahan tangis.Leon mengangguk. Dengan hati-hati, ia menggendong tubuh Valerie dan membawanya masuk ke ruang tengah. Anne berj

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status