LOGINKehampaan antar-galaksi biasanya merupakan kuburan sunyi bagi cahaya yang kelelahan, namun malam ini, koridor ruang-waktu antara Bima Sakti dan Andromeda terkoyak oleh kemunculan armada The Star-Eaters. Ribuan kapal kristal hitam klan Adiwangsa keluar dari lompatan Void dengan raungan frekuensi yang menggetarkan struktur atom di sekitarnya. Di barisan terdepan, benteng bergerak Aethelgard membelah kegelapan seperti belati raksasa yang haus darah. Arka Adiwangsa berdiri di anjungan utama, memandang galaksi Andromeda yang berkilauan dengan cahaya biru pucat—sebuah peradaban yang terlalu rapi, terlalu simetris, dan terlalu dingin bagi selera predatornya.Di sampingnya, Valerie berdiri dengan zirah yang kini berpendar dengan api hitam yang lebih pekat. Ia memegang The Eclipse Blade yang terus berdenyut, seolah-olah senjata itu bisa merasakan keberadaan Zarek di kejauhan. Valerie menatap ribuan planet di depan mereka yang dikelilingi oleh cincin kristal
Kehampaan ruang angkasa di pinggiran galaksi Bima Sakti mendadak tertekuk seperti selembar kertas yang diremas oleh tangan raksasa. Di pusat singgasana Aethelgard, Arka Adiwangsa berdiri dengan kaku, otot-otot di rahangnya mengeras hingga garis-garis Void di lehernya berpendar hitam pekat. Ia baru saja menelan inti memori dari entitas emas The Harvesters, dan apa yang ia temukan di dalamnya adalah sebuah penghinaan terhadap keunikan eksistensinya. Di galaksi Andromeda, pada sebuah sistem bintang biner yang dikelilingi oleh cincin kristal, berdiri sosok lain yang memiliki tanda genetik yang nyaris identik dengannya: Zarek Adiwangsa, "Saudara" dari prototipe Primordial yang sama, yang telah lebih dulu menaklukkan ribuan peradaban dengan cara yang jauh lebih dingin dan tak kenal ampun.Valerie merasakan perubahan suasana hati suaminya. Ia melangkah mendekat, gaun lubang hitamnya menyapu lantai kristal dengan suara desis yang halus. Ia melingkarkan tangannya di p
Bumi tidak lagi terlihat seperti kelereng biru yang rapuh dari ruang hampa. Di bawah pemerintahan absolut Arka Adiwangsa, planet ini telah dibalut oleh jaring energi Void yang berpendar ungu keemasan, menciptakan perisai atmosferik yang sanggup menelan hantaman asteroid sebesar bulan. Di pusat orbit, berdiri megah benteng Aethelgard—sebuah struktur kristal hidup yang berfungsi sebagai jembatan antara dimensi fisik dan ruang cahaya yang telah ditaklukkan Arka. Di sini, di ruang singgasana yang menghadap ke arah konstelasi Andromeda, Arka duduk dengan keagungan yang menyesakkan.Tubuh Arka kini adalah mahakarya evolusi. Kulitnya seputih marmer namun dialiri oleh urat-urat cahaya hitam yang berdenyut searah dengan rotasi planet di bawahnya. Matanya yang memiliki empat lingkaran emas tidak lagi hanya melihat materi; ia melihat aliran probabilitas dan jiwa. Di pangkuannya, Valerie bersandar dengan keanggunan seorang dewi yang haus darah. Gaunnya terbuat
Gedung spiral Eden di bawah Palung Mariana kini tidak lagi memancarkan cahaya biru ketenangan. Seluruh strukturnya bergetar dengan frekuensi rendah yang membuat air laut di sekelilingnya mendidih. Di pusat aula kaisar, Valerie Adiwangsa berbaring di atas altar kristal hitam yang dikelilingi oleh ribuan kabel saraf organik. Zirah obsidiannya telah dilepaskan, menyisakan tubuhnya yang hanya dibalut kain sutra transparan, memperlihatkan perutnya yang kini membusung dengan kecepatan yang menentang hukum alam. Kulit perutnya tidak lagi berwarna porselen; ia transparan seperti kaca gelap, memperlihatkan gumpalan energi ungu dan hitam yang berputar-putar di dalamnya—sebuah janin yang tidak memiliki bentuk fisik, melainkan sebuah pusaran kehampaan yang terus meluas.Setiap kali janin itu berdenyut, seluruh sistem komputer Eden mengalami kegagalan fungsi. Valerie mengerang, cengkeraman tangannya pada tepian altar kristal begitu kuat hingga material keras itu retak. Ke
Langit Bumi yang baru saja tertutup oleh selubung hitam protokol Total Eclipse mendadak terbelah oleh kilatan cahaya putih yang tajam dan menyakitkan. Bukannya ungu nebula atau hitam Abyssal, cahaya ini terasa murni, dingin, dan menghakimi—seperti mata pisau yang membedah kegelapan.Di pusat orbit Bumi, tiga struktur raksasa berbentuk tombak kristal muncul dari pelipatan ruang-waktu. Mereka adalah armada The Outcasts, ras Primordial purba yang ribuan tahun lalu memilih untuk membuang emosi dan nafsu mereka demi mencapai bentuk kesadaran cahaya yang absolut. Mereka adalah musuh alami dari segala sesuatu yang berdenyut dengan gairah dan obsesi.Di dalam jantung Eden, Arka Adiwangsa berdiri di balkon observasi, matanya yang memiliki tiga lingkaran emas berkilat dengan kebencian yang mendalam. Ia merasakan kehadiran mereka bukan sebagai ancaman militer, melainkan sebagai penghinaan terhadap eksistensinya. Bagi The Outcasts, Arka adalah kegagalan evo
Langit di atas Palung Mariana tidak lagi memancarkan cahaya putih yang menghakimi dari The Outcasts, namun ia juga tidak kembali menjadi biru yang ramah. Atmosfer bumi kini terjebak dalam warna abu-abu metalik, sebuah kanvas kelabu yang mencerminkan kekosongan di singgasana Eden. Debu hitam—sisa-sisa energi Void yang dilepaskan Arka saat ia melesat menembus dimensi cahaya—masih turun perlahan seperti salju beracun, menutupi permukaan samudra dengan lapisan jelaga yang berpendar ungu redup.Valerie Adiwangsa berdiri sendirian di balkon tertinggi gedung spiral Eden. Jubah permaisurinya yang megah kini telah digantikan oleh zirah kaisar milik Arka yang ia kecilkan secara molekuler agar pas di tubuhnya. Zirah obsidian itu terasa dingin, namun bagi Valerie, kedinginan itu adalah pelukan terakhir dari suaminya yang hilang. Ia tidak menangis. Matanya yang memiliki cincin hitam di sekeliling pupil ungunya menatap horison dengan tajam, mencari tanda-tanda ro







