MasukRetakan pada cermin di aula Istana Adiwangsa melebar seperti luka yang menganga, memancarkan cahaya emas pucat yang menyakitkan mata. Simbol Malakor yang bergetar di tengahnya mengirimkan gelombang kebenaran yang pahit: dunia statis ini bukanlah hadiah, melainkan sebuah laboratorium pengawetan. Arka Adiwangsa berdiri mematung, pedang entropinya yang hitam pekat mengeluarkan asap yang berdesis pelan saat bersentuhan dengan udara yang membeku.Mata ungu Arka berkilat dengan campuran antara penolakan dan amarah yang murni. Ia menatap simbol anaknya dengan kebencian yang mendalam. Baginya, Malakor bukan lagi seorang putra, melainkan pengganggu yang mencoba mencuri "surga" yang telah ia bayar dengan ribuan tahun penderitaan."Diam, Malakor!" raung Arka, suaranya menggetarkan pondasi istana yang seharusnya tidak bisa hancur. "Aku tidak peduli jika dunia ini adalah baterai! Aku tidak peduli jika aku diperas hingga kering! Selama aku bisa melihatnya, selama
Matahari sore di Jakarta tergantung rendah di ufuk barat, memancarkan warna jingga keemasan yang abadi. Cahayanya menyusup masuk melalui jendela kaca besar Istana Adiwangsa, menyirami lantai marmer dengan kehangatan yang terasa... palsu. Arka Adiwangsa berdiri mematung di tengah ruangan, tangannya masih melingkar di pinggang Valerie. Ia bisa merasakan detak jantung istrinya yang berpacu cepat, kontras dengan kesunyian mutlak yang menyelimuti seluruh kota di luar sana.Arka perlahan melepaskan dekapannya dan melangkah menuju balkon. Ia menatap ke bawah, ke arah jalanan protokol yang biasanya padat oleh deru mesin dan hiruk-pikuk manusia. Di sana, ribuan mobil berjajar rapi, namun tak satu pun mesin yang menderu. Orang-orang di trotoar terjebak dalam langkah yang tak kunjung mendarat. Seorang ibu sedang tertawa pada anaknya, namun tawa itu membeku dalam bentuk uap udara yang tak bergerak. Burung-burung di langit tampak seperti hiasan gantung yang terpaku pada kanvas biru
Sisa-sisa partikel cahaya dari The White King belum sepenuhnya menguap saat anjungan Aethelgard mendadak bergetar oleh frekuensi yang tidak berasal dari ruang fisik. Suara itu bukan dentuman, melainkan bunyi detak jam raksasa yang bergema langsung di dalam tengkorak setiap makhluk hidup di galaksi. Tik. Tok. Tik. Setiap detaknya terasa seperti pukulan palu yang mencoba melepaskan setiap atom dari tempatnya semula. Arka Adiwangsa berdiri dengan napas tersengal, lengannya masih melingkar erat di pinggang Valerie. Ia menatap ke luar jendela kristal yang pecah, namun ia tidak lagi melihat bintang-bintang Andromeda. Ia melihat garis-garis cahaya panjang yang melengkung dan tumpang tindih—sebuah visualisasi dari aliran waktu yang sedang diperas secara paksa. "Victoria... kau merasakannya?" bisik Arka, suaranya parau. Ia menarik tubuh Valerie lebih dekat, menenggelamkan wajahn
Ruang angkasa di sekitar Aethelgard mendadak membeku, bukan oleh suhu nol mutlak, melainkan oleh kehadiran sebuah entitas yang memancarkan frekuensi "Kesucian" yang menyakitkan. Arka Adiwangsa berdiri di anjungan yang retak, mendekap Valerie dengan protektif. Napasnya masih memburu setelah perjuangan merebut kembali memorinya dari tangan para Chroniclers. Luka di bahunya berdenyut, seolah-olah dagingnya sendiri sedang memperingatkan akan datangnya predator yang lebih tinggi.Di luar jendela kristal yang pecah, sebuah retakan cahaya putih terbuka lebar. Dari sana, meluncur sesosok figur yang mengenakan zirah perak murni yang tidak memantulkan bayangan. Figur itu tidak membawa senjata, namun kehadirannya membuat energi entropi Arka meredup secara otomatis. Saat figur itu mendarat di lantai anjungan, zirah wajahnya perlahan terbuka.Arka tertegun. Jantungnya seolah berhenti berdetak.Wajah di balik zirah perak itu adalah wajahnya sendiri. Namun
Keheningan yang menyusul kehancuran Himalaya di Bumi bukanlah keheningan perdamaian. Itu adalah kesunyian statis, jenis kekosongan yang terjadi ketika realitas itu sendiri sedang ditata ulang oleh tangan-tangan tak kasat mata. Di atas anjungan Aethelgard, Arka Adiwangsa masih mendekap Valerie dengan kekuatan yang posesif, seolah-olah dekapan itu adalah satu-satunya hal yang menjaga molekul tubuh mereka tetap menyatu.Darah hitam Arka telah berhenti mengalir, namun bekas luka cahaya di dadanya masih berdenyut dengan warna putih yang tidak alami. Ia menatap wajah Valerie, mencari binar kemenangan di mata istrinya. Namun, yang ia temukan hanyalah kekosongan yang menghantui."Victoria... kenapa kau menatapku seolah aku adalah orang asing?" bisik Arka. Suaranya mengandung getaran ketakutan yang jarang ia tunjukkan.Valerie tidak menjawab. Ia perlahan melepaskan tangan Arka dari bahunya. Gerakannya bukan karena kemarahan, melainkan karena kebingungan y
Salju di puncak Himalaya tidak lagi berwarna putih; ia telah menjadi jelaga hitam yang mendidih di bawah kaki Arka Adiwangsa. Sang Kaisar bersimpuh, satu tangannya mencengkeram bongkahan es yang membeku, sementara tangan lainnya menekan dadanya yang berlubang. Cahaya putih dari senjata Extinguisher milik sisa-sisa The Sovereigns merambat di dalam luka itu seperti akar tanaman merambat yang berbisa, mencoba memadamkan api entropi yang menjadi sumber hidupnya.Arka mendongak ke arah langit yang robek. Di atas sana, di balik awan hitam yang berputar, ia bisa melihat siluet emas Aethelgard yang sedang dikepung oleh jarum-jarum perak musuh. Kesadarannya mulai memudar, namun satu nama terus berdenyut di dalam otaknya yang kini dipenuhi statis biner."Victoria..." bisik Arka. Darah hitam kental mengalir dari sela-selanya giginya. "Jangan... lihat aku... seperti ini."Arka membenci kelemahannya. Ia lebih baik hancur menjadi abu daripada terliha







