تسجيل الدخولHujan deras mengguyur Jakarta, seolah langit turut mencuci dosa-dosa kaum elit yang baru saja berpesta di dalam hotel mewah itu. Di dalam kabin Rolls-Royce Phantom yang kedap suara, suasana terasa begitu hening dan tenang, kontras dengan gemuruh petir di luar.Arka menyandarkan punggungnya di jok kulit yang empuk. Dia melonggarkan dasi kupu-kupunya, membiarkannya menggantung tak beraturan di leher kemejanya. Matanya menatap jalanan yang basah lewat jendela samping, namun pikirannya melayang jauh melampaui aspal hitam itu.Di sampingnya, Nia sedang melepas anting-anting berliannya dengan gerakan pelan. Wajah istrinya terlihat lelah, namun ada kepuasan yang terpancar dari sorot matanya."Kamu benar-benar membatalkannya, Mas?" tanya Nia memecah keheningan. Suaranya lembut, namun penuh rasa ingin tahu. "Proyek reklamasi itu... nilainya triliunan. Bukankah Blackmining juga akan kehilangan potensi keuntungan besar?"Arka menoleh, menatap wajah cantik Nia yang kini diterangi lampu jalanan ya
Arka melirik Herman yang bersembunyi di belakang bahu Radit dengan senyum licik. Arka paham permainannya."Saya hanya membersihkan sampah dari perusahaan saya, Tuan Radit," jawab Arka tenang. "Dan soal keluarga Anda... saya tidak pernah bicara apa-apa. Sepertinya anjing peliharaan Anda ini..." Arka menunjuk Herman, "...terlalu banyak menggonggong hal yang tidak nyata."Wajah Herman memucat, tapi dia buru-buru membela diri. "Bohong, Bos! Dia emang sombong! Liat aja gayanya!"Radit tertawa sinis. Matanya beralih menatap Nia yang berdiri anggun di samping Arka. Nafsu dan keinginan untuk mendominasi muncul di matanya."Kau punya nyali juga bicara begitu di pestaku," ucap Radit. Dia mengabaikan Arka dan beralih ke Nia. "Dan siapa wanita cantik ini? Sayang sekali permata seindah ini jatuh ke tangan pebisnis kaku yang tidak tahu cara menghormati hierarki Jakarta."Radit mengulurkan tangan pada Nia. "Nyonya, tinggalkan pria sombong ini. Bagaimana jika berdansa dengan saya? Saya bisa ajarkan p
Lobi Grand Ballroom Hotel Mulia Senayan malam itu dipenuhi aroma parfum mahal yang bercampur dengan udara dingin dari pendingin ruangan. Lampu gantung kristal raksasa membiaskan cahaya keemasan ke lantai marmer, menciptakan panggung megah bagi kaum elit Jakarta yang sedang berkumpul.Arka melangkah keluar dari Rolls-Royce Phantom hitamnya. Petugas valet yang membukakan pintu membungkuk hormat, mengenali lambang Spirit of Ecstasy di kap mobil sebagai tanda kekuasaan mutlak.Arka mengenakan setelan tuxedo hitam velvet dengan potongan slim-fit yang membalut tubuh atletisnya. Di wajahnya, terpasang sebuah topeng setengah wajah (venetian mask) berwarna hitam polos tanpa ornamen. Sederhana, namun misterius.Dia berbalik, mengulurkan tangan ke dalam mobil."Siap, Ratu?" bisik Arka.Sebuah tangan halus dengan kulit seputih pualam menyambut uluran tangannya. Nia turun dengan anggun. Gaun merah marun backless yang dipilihkan Arka membalut tubuhnya dengan sempurna, menjuntai hingga menyapu lanta
Kantor Yayasan Arka Foundation, Lantai 15.Nia sedang sibuk memeriksa proposal beasiswa ketika pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan. Hanya satu orang di dunia ini yang berani masuk ke ruangan Ketua Yayasan tanpa mengetuk."Mas?" Nia mendongak, tersenyum melihat suaminya masuk. "Tumben ke lantai 15? Biasanya Direktur Utama sibuk di lantai 40."Arka tidak menjawab. Dia menutup pintu, menguncinya, lalu menurunkan tirai kaca ruangan itu dengan remote.Nia mengangkat alis. "Arka? Ini masih jam kerja."Arka berjalan mendekat, memutar kursi kerja Nia agar menghadapnya. Dia menumpukan kedua tangannya di sandaran lengan kursi, mengurung Nia dalam dominasinya."Aku merindukanmu," bisik Arka, lalu menunduk untuk mencuri ciuman singkat di bibir Nia. "Dua jam tidak melihatmu rasanya seperti dua tahun."Nia tertawa renyah, pipinya merona. "Gombal. Padahal kita baru makan siang bareng tadi.""Itu beda. Tadi banyak staf. Aku harus jaga wibawa," Arka berlutut dengan satu kaki di hadapan Nia, menatap
Malam telah larut di kediaman keluarga Arka. Kirana sang Tuan Putri kecil sudah terlelap di kamar tidurnya yang bernuansa pastel, lelah setelah seharian bermain dan belajar.Di kamar utama yang luas, suasana terasa tenang dan hangat. Lampu tidur temaram menyinari ruangan, menciptakan bayang-bayang lembut di dinding. Arka baru saja selesai mandi, rambutnya yang masih sedikit basah dia biarkan acak-acakan. Dia mengenakan piyama sutra berwarna biru tua, duduk bersandar di headboard ranjang sambil memegang sebuah buku tebal yang tidak benar-benar dia baca.Pintu kamar mandi terbuka. Nia keluar sambil mengeringkan tangannya dengan handuk kecil, aroma lulur mandi mawar menguar darinya. Dia naik ke atas ranjang, menyusup ke dalam selimut di samping Arka, dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya yang kokoh."Jadi..." Nia memulai percakapan, jarinya menelusuri kancing piyama Arka. "Bagaimana 'pertunjukan' tadi siang? Aku dengar dari sekretaris Pak Darmawan, ada yang sampai menangis d
Tiga puluh menit kemudian. Ruang Rapat Utama Blackmining Corp.Ruangan itu dingin dan tegang. Meja oval panjang dari kayu mahoni dikelilingi oleh dua puluh orang penting. Ada direktur operasional, manajer proyek, dan lima kontraktor yang lolos seleksi tahap akhir termasuk Herman.Herman duduk dengan gelisah namun tetap berusaha terlihat arogan. Dia sudah menyuap salah satu manajer proyek, jadi dia yakin akan menang."Selamat pagi, Bapak-bapak sekalian," ucap CEO Blackmining, Pak Darmawan, membuka rapat. "Hari ini kita akan memfinalisasi pemenang tender. Namun sebelum itu, kita harus menunggu kedatangan pemegang saham mayoritas kita. Beliau ingin meninjau langsung kredibilitas kalian."Herman berbisik pada asistennya, "Siapa sih investornya? Bule ya?""Saya dengar orang lokal, Pak. Tapi sangat misterius. Dia yang memegang 50% saham holding ini," bisik asistennya.Tiba-tiba, pintu ganda di ujung ruangan terbuka."Silakan masuk, Pak Arka," ucap sekretaris dengan hormat.Semua orang di ru







