Share

Bab 133

Author: Millanova
last update Last Updated: 2026-01-03 23:13:50
Dua hari setelah pertemuan rahasia dengan Anton di kantornya, Arka berdiri di depan cermin besar walk-in closet di apartemennya.

Pantulan di cermin menunjukkan pria yang berbeda. Bukan wajahnya yang berubah, tetapi auranya. Setelan jas bespoke dari penjahit Italia yang diterbangkan khusus oleh Anton melekat sempurna di tubuhnya. Di balik kerah jas itu, lencana emas Garuda Hitam tersemat tersembunyi, sebuah pengingat bahwa dia tidak lagi berjalan sendirian.

"Mas..."

Suara Nia membuyarkan lamunannya. Arka menoleh dan napasnya tercekat.

Nia berdiri di ambang pintu. Dia mengenakan gaun malam berbahan sutra champagne yang jatuh elegan menutupi perutnya yang mulai membuncit. Rambutnya disanggul modern, menyisakan anak rambut yang membingkai wajah manisnya. Kalung berlian sederhana hadiah pertama Arka menggunakan kartu hitam barunya melingkar di leher jenjangnya.

Dia terlihat seperti bangsawan. Namun, Arka bisa melihat tangan Nia gemetar memegang clutch pestanya.

"Aku... aku takut, Mas," ak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 146

    Matahari pagi Jakarta belum terlalu tinggi, namun kesibukan di kediaman tiga lantai milik Arka Adhiguna sudah mencapai puncaknya.Aroma melati segar yang dipesan khusus dari petani lokal menyeruak ke seluruh penjuru rumah, bercampur dengan wangi wax lantai marmer yang baru saja dipoles. Dekorasi didominasi warna putih dan emas, memberikan kesan sakral namun mewah. Tidak ada pesta pora berlebihan, hanya sebuah akad nikah privat yang dihadiri tak lebih dari lima puluh orang kerabat dekat, kolega bisnis terpilih, dan tim inti Arka."Pesta syukuran pribadi Tuan Adhiguna, Pak," jawab pelayan itu datar. "Silakan tunggu. Tuan akan memanggil Bapak sebentar lagi."Ruslan mengangguk-angguk. Dalam hatinya, dia menebak-nebak. Mungkin syukuran akuisisi perusahaan? Atau ulang tahun? Apa pun itu, Ruslan harus menjilat Tuan Adhiguna agar utangnya diperpanjang. Dia harus terlihat patuh.Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Anton masuk."Pak Ruslan," panggil Anton tanpa senyum. "Mari ikut saya. Acaranya s

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 145

    Di lantai tiga, di dalam walk-in closet pribadinya, Arka berdiri di depan cermin setinggi langit-langit.Dia mengenakan beskap modern berwarna putih gading dengan sulaman benang emas motif naga yang samar simbol klan Adhiguna. Kain samping batik tulis motif Sido Mukti melilit pinggangnya, menyimbolkan harapan akan kemuliaan.Arka merapikan blangkon di kepalanya. Pantulan di cermin bukan lagi menampilkan Arka si suami yang dikhianati setahun lalu. Pria di cermin itu adalah Arka Adhiguna, sang predator puncak yang hari ini akan memangsa musuhnya tepat di hari bahagianya sendiri."Tuan Muda," suara Anton terdengar dari interkom di dinding."Masuk," perintah Arka tanpa menoleh.Pintu terbuka. Anton masuk dengan setelan jas hitam rapi, sebuah earpiece terpasang di telinganya. Wajahnya serius, seperti jenderal yang siap melapor di medan perang."Semua persiapan keamanan sudah level satu. Anggota Garuda Hitam sudah menyamar menjadi staf katering dan penerima tamu," lapor Anton."Bagaimana de

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 144

    Ruslan tersentak hebat, seolah tersengat listrik. Dia menatap Arka dengan horor. "Darimana... darimana Tuan tahu soal itu? Itu masa lalu! Itu masalah pribadi!""Di mata saya, cara seseorang memperlakukan keluarganya adalah cerminan cara dia berbisnis," kata Arka, condong ke depan, menatap mata Ruslan dengan intensitas yang membuat nyali pria tua itu menciut. "Dan Anda, Pak Ruslan, adalah pengkhianat di kedua bidang itu."Ruslan tidak bisa membantah. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Dia merasa telanjang di hadapan pria muda ini. Dia tidak tahu siapa Arka sebenarnya, tapi dia tahu Arka memegang kartu mati-nya."Apa... apa yang Tuan inginkan?" tanya Ruslan akhirnya, suaranya parau. "Tuan tidak memanggil saya ke sini cuma untuk menghina saya, kan? Kalau Tuan mau aset saya, ambil saja. Tapi tolong sisakan rumah saya. Istri saya... dia butuh tempat tinggal."Arka mengepalkan tangan di sandaran kursi. Istri. Clara. Arka harus menahan diri sekuat tenaga untuk tidak meneriakkan

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 143

    Udara di dalam gudang logistik tua di kawasan Cakung itu terasa pengap, berbau kardus basah dan oli mesin yang mengendap bertahun-tahun. Kipas angin industri di langit-langit berputar malas, gagal mengusir hawa panas Jakarta yang menyengat siang itu.Namun, Arka Adhiguna tampak tidak terganggu sama sekali.Dia duduk di sebuah kursi kulit single-seater mewah yang sengaja dibawa Anton dari kantor, diletakkan tepat di tengah-tengah lantai beton yang kotor. Pemandangan itu sangat kontras: seorang pria berjas Armani seharga ratusan juta, duduk seperti raja di tengah tumpukan stok mie instan dan sabun cuci yang hampir kadaluarsa.Arka melirik jam tangan Patek Philippe-nya."Dia terlambat tiga menit," gumam Arka dingin."Dia sudah di depan gerbang, Tuan. Sedang diperiksa oleh tim keamanan," jawab Anton yang berdiri tegak di belakangnya, memegang tablet.Arka mendengus. "Orang yang datang untuk mengemis seharusnya datang sepuluh menit lebih awal."Suara pintu besi gudang yang berat digeser te

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 142

    Satu jam kemudian.Sebuah mobil SUV biasa bukan Rolls-Royce parkir di seberang sebuah minimarket besar berwarna dominan merah dan kuning: WIJAYA MART.Arka dan Nia duduk di dalam mobil, mengenakan topi baseball dan kacamata hitam. Penampilan mereka seperti pasangan suami istri biasa yang sedang menunggu pesanan makanan.Dari balik kaca mobil yang gelap, Nia menatap bangunan itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa benci, tapi juga rasa penasaran."Itu kerajaannya," gumam Nia. "Dibangun di atas air mata Ibu."Tiba-tiba, pintu kaca otomatis minimarket itu terbuka. Seorang pria paruh baya bertubuh gemuk, dengan rambut yang mulai menipis dan wajah yang memerah, keluar sambil memarahi seorang karyawan kasir.Itu Ruslan. Bapaknya Nia.Meski sudah 20 tahun berlalu sejak malam pengusiran itu, Nia masih mengenali guratan wajahnya. Wajah yang dulu dia panggil Bapak, wajah yang membuangnya ke dalam hujan."Kerja yang bener kamu! Kalau ada selisih uang lagi, saya potong gaji kamu tiga bulan!" su

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 141

    Dua minggu setelah kepulangan dari kampung, suasana di rumah tiga lantai Arka terasa lebih sibuk dari biasanya.Ruang tengah lantai dua telah disulap menjadi butik mini. Beberapa desainer ternama Jakarta yang dulu sering melayani Clara namun kini berbalik arah melayani Arka datang membawa belasan gaun pengantin.Nia berdiri di depan cermin besar, mengenakan kebaya putih modern dengan payet kristal yang berkilau lembut. Perutnya yang mulai membuncit di usia kehamilan lima bulan tersamarkan dengan elegan oleh potongan kebaya yang longgar namun mewah."Bagaimana, Tuan Arka?" tanya sang desainer, seorang pria flamboyan, dengan nada gugup. Dia tahu standar Arka sangat tinggi.Arka yang duduk di sofa sambil memegang tablet, mendongak. Matanya melembut seketika."Sempurna," puji Arka tulus. Dia berdiri, menghampiri Nia, dan menyentuh bahu istrinya dari belakang. Pantulan mereka berdua di cermin pria matang yang gagah dan wanita muda yang anggun terlihat sangat serasi meski terpaut usia. "Kam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status