Share

Bab 178

Author: Millanova
last update Last Updated: 2026-01-23 22:29:31

Malam itu, Arka mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam dari brankas rahasianya. Dia membukanya, menampilkan cincin emas tua dengan ukiran garuda dan batu rubi merah gelap Cincin Pewaris Barata yang diberikan Anton dulu.

"Mas mau pakai itu?" tanya Nia yang sedang menyusui Amara di ranjang.

Arka menatap cincin itu lama, lalu menggeleng. Dia menutup kotaknya kembali dan memasukkannya ke saku jas yang akan dipakainya besok.

"Tidak dipakai. Tapi dibawa. Sebagai pengingat bagi mereka," kata Arka di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 262

    "Eyang Uti datang!"Jeritan Amara memecah kesunyian pagi. Dari ruang keluarga, gadis kecil itu berlari sekencang kaki mungilnya, piyama kelincinya berkibar. Tangannya terentang.Ibunda Nia baru saja melangkah masuk. Begitu melihat Amara, wajahnya langsung berseri."Aduh, cucu Eyang..." Ia berjongkok, menangkap tubuh mungil itu. Diciumnya pipi Amara berkali-kali sampai gadis kecil itu terkikik geli. "Udah mandi belum, sayang?""Belum! Amara mau nunggu Eyang Uti dulu!"Arka berdiri di ambang pintu ruang makan, cangkir kopi di tangan. Ia tersenyum tipis. Pemandangan ini seperti oase."Ibu kok nggak bilang mau datang? Tahu gitu Arka jemput," sapa Arka, mendekat dan mencium punggung tangan ibu mertuanya."Nggak usah repot." Wanita itu tersenyum teduh. "Ibu naik kereta pagi. Kemarin malam kangen banget sama Amara, sampe nggak bisa tidur. Ya udah, berangkat aja pagi-pagi.""Nia lagi mandi, Bu. Sebentar lagi turun.""Udah, udah, Ibu duduk sini aja." Ibunda Nia melangkah ke sofa ruang tamu.Ar

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 261

    Hujan masih deras.Di dalam mobil, sunyi. Hanya suara tetesan air menghantam kaca dan gerakan wiper yang berirama ke kiri, ke kanan, ke kiri, ke kanan. Lampu jalanan kawasan Menteng memendar jingga, menerabas kabut tipis di kaca depan, tapi pandangan Arka tetap lurus. Menembus gelap.Tangannya mencengkeram setir. Terlalu erat.Di kursi penumpang, Nia diam-diam memperhatikannya. Cahaya lampu jalan yang melintas sebentar-sebentar menyinari wajah suaminya. Tegang. Lelaki ini jarang terlihat seperti ini."Mas..." panggilnya pelan.Arka tidak menjawab. Napasnya panjang, berat, seperti baru sadar kalau dua jam terakhir ia menahan napas."Aku hampir saja..." Suaranya serak, putus di tengah.Nia menunggu."Aku lihat wajah Tante Maya. Senyumnya. Matanya yang berbinar pas lihat Bella." Arka menggeleng pelan. "Rasanya aku pengen banting piring dan teriak, 'Dia nipu kita semua, Tante!'"Tangan Nia meraih lengan Arka. Hangat."Tapi kamu tidak melakukan itu, Mas. Kamu malah mengalihkan situasi pas

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 260

    "Kalian lihat kan betapa cantiknya calon menantuku ini?"Arka mengangkat wajah dari piringnya. Suara Tante Maya terdengar seperti nyanyian lembut, penuh syukur. Di ujung meja, Bella tersipu. Lampu kristal di atas meja makan memantulkan cahaya keemasan, membuat gaun putih tulang yang dikenakan Bella seolah bercahaya."Tante rasanya tidak sabar menunggu hari Minggu nanti," lanjut Tante Maya. "Rasanya seperti mimpi melihat Dimas akhirnya menemukan pelabuhan hatinya."Arka tersenyum. Hanya senyum sopan. Matanya tidak ikut tersenyum.Di bawah meja, tangannya mengepal.Lima hari lagi. Hujan gerimis di luar membasahi jendela-jendela besar rumah Menteng ini. Suara tetesan air bercampur denting lembut sendok di piring porselen menciptakan irama yang anehnya terasa seperti iringan pemakaman."Ah, Mama bisa saja." Suara Bella mengalir merdu. "Bella biasa saja kok, Ma. Justru Bella yang merasa seperti mimpi karena keluarga Barata mau menerima gadis biasa seperti Bella dengan tangan terbuka."Arka

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 259

    "Oh ya? Makan apa?""Tadi Kak Arka pesan bento dari restoran Jepang langganannya. Porsinya besar banget, sampai perutku rasanya mau meledak." Dimas menepuk perut, terkekeh. "Aku benar-benar nggak muat lagi kalau harus makan sekarang. Maaf ya, Sayang? Padahal aku pengen banget makan masakan kamu.""Benar." Arka mengangguk tegas. "Kami kebetulan sedang rapat intensif sambil makan siang. Perut saya juga sudah penuh. Mungkin kamu bisa membawanya pulang, Bella.""Yah..." Bella mengerucut. Wajahnya berubah dramatis. "Padahal aku udah bela-belain masak... Aku pikir kalian belum makan.""Jangan sedih dong." Dimas merangkul bahu Bella. Tangannya mengusap lengan wanita itu kaku di awal, lalu meluwes. Arka tahu persis apa yang terjadi di balik sentuhan itu. Keringat dingin merembes di punggung Dimas. "Makanannya nggak akan kebuang, kok. Aku simpen di pantry ya? Nanti sore kalau aku udah agak lapar, pasti aku habisin. Janji, deh."Wajah Bella kembali cerah. Arka melihat egonya mengembang lagi."B

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 258

    "Tiga transaksi mencurigakan dalam sepuluh hari terakhir, Pak. Totalnya seratus dua puluh sembilan miliar."Suara Anton terdengar jelas dari speakerphone di tengah meja. Arka menghela napas, mengulang angka itu dalam hati sebelum tawanya meledak tawa pendek, tajam, seperti orang yang baru memastikan tebakannya benar."Seratus dua puluh sembilan?" Arka menatap Dimas di seberang meja. "Sepuluh hari menjabat, langsung ambil segitu. Tikus ini ... mungkin cuma kurang sabar."Dimas tidak tertawa. Ia menekan puntung rokoknya ke asbak, terlalu keras."Lacak alirannya, Ton?" suaranya parau."Ke perusahaan cangkang di luar," Anton melanjutkan. "Kata sistem, buat bayar vendor sparepart. Tapi setelah kami gali, direkturnya terhubung ke pengacara yang sama yang sering jenguk Clara di tahanan."Arka menyandarkan kepala, memandang langit-langit. "Clara butuh dana segar. Mungkin buat suap lebih tinggi, atau rencana kabur. Dan bonekamu bekerja sangat rajin, Dimas.""Uangnya?" potong Dimas."Masih utuh

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 257

    "SK pengangkatannya sudah aku tanda tangani tadi pagi, Kak. Sesuai rencana kita, Bella sekarang resmi menjabat sebagai Direktur Keuangan Barata Logistik."Suara Dimas terdengar tenang, namun ada ketegasan baru yang belum pernah terdengar sebelumnya. Ia meletakkan salinan dokumen berstempel resmi perusahaan ke atas meja kaca.Malam itu, hujan turun cukup deras mengguyur Jakarta. Mereka bertiga Arka, Nia, dan Dimas tengah berkumpul di ruang kerja pribadi di dalam rumah Arka. Lampu ruangan sengaja diredupkan, hanya menyisakan pendar lampu meja berwarna kuning hangat yang menyoroti wajah-wajah serius mereka. Aroma teh chamomile yang baru diseduh Nia menguar di udara, sedikit menetralisir ketegangan yang menggantung pekat.Arka mengambil dokumen itu, membaca sekilas deretan kalimat formal yang memberikan kuasa finansial kepada wanita yang diam-diam mereka buru."Kau yakin sudah mengunci semua celahnya?" tanya Arka tanpa mengalihkan pandangan dari kertas tersebut.Dimas tersenyum miring, se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status