Share

Bab 208

Penulis: Millanova
last update Tanggal publikasi: 2026-02-05 14:56:59

Tiga hari setelah insiden di ruang fitting dan malam panas yang penuh rasa bersalah bersama Nia.

Arka berusaha kembali ke mode "suami teladan". Dia sengaja pulang lebih awal hari ini untuk makan malam bersama keluarga.

Di ruang kerjanya, Arka bersiap-siap. Dia mengambil jas kerja abu-abu charcoal favoritnya yang tergantung di standing hanger sudut ruangan. Jas ini adalah jas yang paling sering dia pakai, dan biasanya Nia yang akan mengurusnya membawanya ke laundry atau sekadar menyikat debunya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 338

    Cahaya lampu LED berkekuatan tinggi di langit-langit bunker menyala terang benderang, menciptakan nuansa klinis yang membekukan darah. Sinar putihnya memantul tajam dari atas permukaan meja baja nirkarat di sebelah kanan Arka.Di atas meja itu, persiapan untuk sebuah eksekusi telah ditata dengan terlampau rapi. Sebuah nampan perak kosong berukuran sedang disiapkan bersisian dengan tumpukan handuk putih tebal, sebotol cairan antiseptik, dan seutas karet tourniquet medis untuk menghentikan pendarahan. Itu bukan peralatan interogasi; itu adalah instrumen bedah darurat untuk memastikan Arka tidak mati kehabisan darah sebelum matanya dicungkil keluar.Suara ketukan hak sepatu stiletto memecah keheningan yang menyesakkan tersebut. Clara melangkah maju. Langkahnya pelan, berirama angkuh, menggema di dinding-dinding beton. Ia berhenti tepat di depan Arka, mengembuskan napas hingga aroma parfum Chanel No. 5 miliknya mengudara, bertabrakan secara ganjil dengan bau karat dan debu semen di bunker

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 337

    Mobil kabin ganda itu akhirnya berhenti setelah perjalanan panjang yang mengocok perut.Di balik kain hitam pekat yang menutup matanya, Arka merasakan perubahan udara yang drastis. Hawa dingin menusuk tulang, membawa aroma semen basah, karat, dan samar-samar, jejak asap cerutu Cohiba.Suara pintu geser besi berderit berat, menggema di ruang yang terasa sangat luas.Pintu mobil ditarik kasar. Tangan Victor mencengkeram kerah bajunya, menyeret Arka keluar tanpa ampun. Sepatu bot usangnya terseret di atas lantai beton. Lebam di rusuknya berdenyut hebat akibat bantingan tadi, namun Arka mengunci rahangnya. Tak ada satu pun rintihan yang lolos.Tubuhnya didorong keras hingga terjerembap ke sebuah kursi besi. Victor bekerja dengan efisiensi mesin; melilitkan tambang kasar melingkari dada dan kaki Arka, menguncinya mati pada rangka kursi.Arka mematung. Ia menajamkan pendengaran.Denting gelas kristal yang saling beradu memecah keheningan, disusul tawa pelan. Bukan tawa menggelegar, melainka

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 336

    "Bawa dia masuk, Vic. Tinggalkan saja perempuan dungu itu di tanah."Suara Dimas terdengar sedingin lantai beton, menyayat udara malam yang sudah dipenuhi jeritan serak Nia. Tidak ada kemarahan yang meluap-luap dari intonasinya, hanya sekadar rasa muak yang pekat seakan ia baru saja menginjak bangkai hewan dan ingin segera membersihkan sepatunya.Victor, sang algojo berbadan tegap itu, tidak membuang sedetik pun. Tarikan kasarnya di kerah kaus membuat Arka terhuyung mundur, nyaris kehilangan keseimbangan. Tangan Victor yang besar dan kapalan mencengkeram kedua lengan Arka, memelintirnya ke belakang dengan sudut yang menyakitkan. Bunyi krek pelan dari sendi bahu Arka terdengar samar, disusul jeratan cable ties berbahan nilon tebal yang langsung mengikat dan menggores pergelangan tangannya hingga berdarah.Di tengah dengung tajam di telinganya akibat hantaman pelinggis beberapa menit lalu, Arka masih bisa mendengar isak tangis Nia. Suara perempuan yang selalu menatapnya dengan penuh har

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 335

    Tali cable ties berbahan nilon tebal itu berderit keras, mengunci pergelangan tangan Arka di belakang punggung.Victor menarik kerah belakang kaus usang Arka dengan tenaga kasarnya, memaksa pria yang babak belur itu berdiri bersusah payah. Darah segar menetes dari sudut bibir Arka, menodai karpet merah di bawah kaki mereka.Melihat suaminya diseret bak binatang buruan, pertahanan mental Nyonya Adhiguna yang sedari tadi dijaga mati-matian akhirnya runtuh total. Logika, perhitungan dingin, dan rasa takut menguap, digantikan oleh insting murni seorang istri yang menolak melihat dunianya dihancurkan untuk kedua kalinya.Nia melepaskan gagang pisau daging yang sejak tadi disembunyikan di balik celemeknya, membiarkannya tergeletak di atas meja. Ia menendang kursi plastik yang menghalanginya dan berlari keluar dari area prasmanan."Tidak! Jangan bawa suamiku ke mana-mana!"Jeritan Nia melengking tinggi, membelah udara siang pegunungan yang tegang. Tidak ada lagi logat Sunda yang kental. Tida

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 334

    Moncong baja Glock 19 menekan pelipis kanan Arka, mengantarkan hawa dingin yang kontras dengan peluhnya.Waktu seakan membeku. Di bawah tenda itu, hanya desah napas Victor dan bunyi pelatuk yang menegang yang memecah keheningan.Insting purba Arka meronta, mendesaknya untuk mematahkan leher Dimas sekarang juga sebelum peluru meletus. Namun, bayangan Gendhis berkelebat. Diikuti tatapan Nia yang berdiri tak jauh dari sana. Jika isi kepalanya berceceran di karpet ini, keluarganya tak lagi punya pelindung.Rahang Arka mengeras. Perlahan, otot lengannya yang sekaku beton mulai mengendur. Kuncian maut itu terlepas.Dimas langsung ambruk ke atas karpet merah. Ia meringkuk sambil memegangi lehernya yang kini dihiasi cetakan jari kemerahan. Suara batuknya terdengar menyiksa, diselingi bunyi tarikan napas kasar dan serakah saat paru-parunya kembali meraup oksigen.Tanpa membuang detik, Victor menendang lipatan lutut Arka dari belakang. Sang Mastermind terpaksa jatuh berlutut."Jangan bergerak,"

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 333

    "...Karena hantu... tidak akan bisa melindungi putri kecilnya dari monster yang sebenarnya."Kalimat itu meluncur dari bibir Dimas, rendah, nyaris seperti bisikan, namun ditutup oleh tarikan senyum miring yang meremehkan. Di kepalanya, kalimat itu adalah skakmat. Sebuah gertakan pamungkas yang ia yakini akan membuat pria di hadapannya menciut, menelan ludah, dan menunduk dalam diam demi menjaga penyamarannya tetap aman.Dimas salah perhitungan.Dua kata itu—"putri kecilnya"—memotong habis tali kendali yang sudah mati-matian dijaga Arka selama bertahun-tahun. Topeng 'Rudi' si tukang servis lusuh retak, lalu hancur tak bersisa. Di detik itu juga, sosok Arka Adhiguna mengambil alih, merangkak naik ke permukaan membawa amarah murni yang membekukan.Prang!Nampan perak yang menyangga tumpukan piring kotor merosot dari cengkeraman Arka, menghantam lantai berbatu. Pecahan keramik dan porselen berhamburan ke segala arah, bunyinya merobek dengung pidato membosankan yang sedari tadi mengalun da

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 118

    Satu minggu setelah Clara pulang ke rumah. H-1 Pesta.Suasana di ruang tengah rumah itu tegang. Arka meletakkan sebuah amplop cokelat tebal di atas meja marmer. Isinya bukan dokumen perusahaan, melainkan tumpukan uang tunai pecahan seratus ribuan."Ini tujuh puluh lima juta, Ra," ucap Arka dengan s

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 120

    Dia menepuk debu di celananya dengan santai. Postur tubuhnya tegak kembali. Aura dominasinya kembali menyala, membuat Dirga yang berdiri di sebelahnya tiba-tiba terasa kerdil."Baiklah kalau itu maumu, Mantan Istriku,"

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 127

    Rumah itu hening. Terlalu hening.Arka baru saja melangkah keluar dari ruang kerjanya setelah menyelesaikan panggilan video dengan tim investor. Jam dinding digital menunjukkan pukul sebelas malam. Seharusnya, Nia sudah tidur. Dokter berpesan agar Nia tidak boleh stres dan harus banyak istirahat di

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 126

    Dua minggu kemudian Ruang sidang Pengadilan Agama itu terasa sesak, jauh lebih sesak dari yang seharusnya. Udara berpendingin ruangan gagal mengusir hawa panas yang menguar dari puluhan tubuh yang berdesakan di kursi pengunjung. Kilatan lampu blitz kamera sesekali menyambar, diikuti bunyi shutter ya

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status