LOGIN"Bagaimana jika kita hancurkan dia persis seperti Kakak menghancurkan Clara? Penjara, penyitaan aset, dan rasa malu di depan publik."Suara Dimas memecah keheningan, nadanya rendah namun sarat akan bisa. Matanya yang merah kini menatap Arka dengan ketajaman yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.Arka menyandarkan tubuhnya ke kursi kulitnya, menyeringai tipis penuh kebanggaan. "Bagus."Sore perlahan merayap turun di langit Jakarta. Semburat jingga matahari terbenam dari balik kaca jendela raksasa di lantai 40 Menara Adhiguna itu menyinari separuh wajah Dimas, menyembunyikan separuh lainnya dalam bayangan. Suasana ruang kerja itu tak lagi terasa mencekam karena kepanikan, melainkan beralih menjadi ruang strategi perang yang dingin.Arka melipat tangannya di dada. "Lalu? Apa rencanamu? Kita tidak bisa memenjarakannya hanya karena dia berbohong soal identitas dan menjadi kurir Clara. Itu bukan tindak pidana berat."Dimas mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan sikunya di atas meja
"Target utamanya sebenarnya bukan kamu, Dimas. Tapi aku."Kata-kata Arka meluncur pelan namun menancap tajam, menghentikan napas Dimas yang masih terguncang menatap foto-foto di tangannya.Cahaya matahari sore mulai condong menembus kaca patri ruang kerja Arka di lantai teratas Menara Adhiguna. Debu-debu halus tampak menari dalam sorotan cahaya keemasan itu. Suasana ruangan yang hening membuat detak jarum jam di dinding terdengar seperti hitungan mundur sebuah bom.Dimas mengangkat wajahnya yang pucat. Matanya merah, campuran antara pengkhianatan dan kebingungan."Maksud Kakak apa? Kalau targetnya Kakak, kenapa dia repot-repot memacariku? Kenapa dia mau menikah denganku?"Arka berjalan perlahan menuju jendela besar, menatap hiruk-pikuk lalu lintas Jakarta di bawah sana. Ia memasukkan kedua tangan ke saku celananya, menyusun kepingan deduksi yang sudah mengganggu pikirannya sejak Bella mulai berani menggodanya di kantor pagi tadi."Clara membenciku sampai ke ubun-ubun, Dimas. Aku yang
"Duduk dan lihat baik-baik foto ini, Dimas. Tolong, gunakan akal sehatmu dan jangan bicara sebelum kau benar-benar memahaminya."Suara Arka terdengar berat, dingin, dan memotong udara seperti bilah pedang. Ia melemparkan sebuah map tipis ke atas meja kerjanya, tepat di hadapan Dimas yang baru saja masuk dengan wajah bingung.Siang itu, tepat pukul dua. Terik matahari Jakarta menembus kaca jendela ruang kerja Arka di lantai teratas Menara Adhiguna, menciptakan bayangan-bayangan panjang di atas karpet tebal. Suasana ruangan yang biasanya tenang kini terasa sangat menyesakkan. Udara dingin dari pendingin sentral seolah membeku di sekitar meja mahoni tempat kedua pewaris keluarga itu berhadapan.Dimas, yang masih mengenakan jas rapinya sehabis meeting dengan divisi logistik, menarik kursi dan duduk. Keningnya berkerut melihat ketegangan di wajah kakak sepupunya.Ia membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto hasil cetakan resolusi tinggi dari tangkapan layar CCTV."Ini
Layar tablet itu akhirnya meredup dan mati, menyisakan pantulan wajah Arka dan Nia yang menegang di atas permukaan kacanya yang gelap.Arka menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia menyembunyikan tablet itu kembali ke dalam tas kerjanya, mengunci rapat-rapat bukti kejahatan yang baru saja mereka saksikan."Kita urus ular itu nanti siang," kata Arka, suaranya kembali melembut saat menatap istrinya. "Pagi ini, kita punya janji yang jauh lebih penting dari Bella maupun Dimas."Nia tersenyum tipis, ketegangan di bahunya perlahan mengendur. Ia mengangguk. "Preschool Amara.""Ya. Kita harus pastikan putri kita mendapatkan tempat terbaik." Arka melirik jam di pergelangannya. "Aku akan bersiap-siap. Kau urus sarapan jagoan kecil kita."Nia segera bangkit dari kursi dan berjalan menuju kitchen island di dapur bersih mereka yang bernuansa monokrom. Ia mengambil celemek dan mulai menyiapkan sarapan khusus untuk putri mereka yang kini menginjak usia tiga tahun.Menu pagi ini kaya
"Kirim sekarang, Anton. Aku tidak butuh basa-basi. Apa wajahnya terlihat atau tidak?"Suara bariton Arka Adhiguna memecah keheningan ruang makan yang biasanya hanya diisi oleh denting halus sendok dan garpu. Nadanya mendesak, tajam, dan tidak sabaran.Di seberang meja, Nia meletakkan cangkir teh hangatnya perlahan. Ia menahan napas, matanya menatap lekat pada suaminya yang sedang menempelkan ponsel di telinga dengan cengkeraman erat."Jernih, Pak," suara Anton terdengar penuh kemenangan di ujung telepon, volumenya cukup keras hingga Nia bisa mendengarnya samar-samar. "Tim forensik digital berhasil membuang noise pada pikselnya. Kami menggunakan algoritma super-resolution terbaru. Bapak bahkan bisa melihat tahi lalat di lehernya kalau Bapak mau.""Bagus," desis Arka. Matanya berkilat buas. "Kirim ke email pribadiku. Sekarang.""File terkirim, Pak. Selamat menikmati sarapan dengan menu 'kebenaran'."Klik. Sambungan terputus.Pagi itu, langit Jakarta di luar jendela kaca besar tampak men
"Pak Arka, maaf mengganggu. Ini laporan audit internal bulan lalu yang Bapak minta kemarin sore. Saya taruh di meja atau perlu saya jelaskan poin-poinnya sekarang?"Suara itu lembut, mendayu, namun penuh percaya diri.Arka tidak menoleh dari layar laptopnya. Ia tahu siapa pemilik suara itu bahkan sebelum pintu ruangannya tertutup rapat. Aroma parfum jasmine yang samar namun memabukkan sudah lebih dulu menyusup ke indera penciumannya."Taruh saja di situ," jawab Arka datar, matanya tetap terpaku pada grafik saham Adhiguna yang sedang merah. "Saya sedang sibuk."Namun, tidak ada suara kertas diletakkan. Tidak ada suara langkah kaki menjauh.Hening beberapa detik.Arka akhirnya mendongak, sedikit kesal. "Bella, saya bilang..."Kalimatnya terhenti di tenggorokan.Bella berdiri tepat di samping mejanya, bukan di depan meja seperti karyawan biasa. Jarak mereka sangat dekat, mungkin kurang dari setengah meter.Wanita itu mengenakan blus sutra berwarna cream yang potongannya sedikit lebih ren







