Share

Bab 34

Author: Millanova
last update Huling Na-update: 2025-11-19 14:29:29

Arka menatap langit-langit kamar yang gelap. Pertanyaan yang sama yang telah berputar-putar dalam pikirannya selama berjam-jam kini diucapkan oleh Clara. Dia menarik napas dalam, merasakan beratnya udara antara mereka.

"Aku tidak tahu, Clara," jawabnya akhirnya, suaranya lelah. "Sekarang, mari kita tidur saja."

Clara terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Baiklah. Selamat malam, Arka."

"Selamat malam."

Keesokan paginya, suasana sarapan penuh dengan ketegangan yang tidak terucapkan. Clara tampak sudah bangun lebih awal dan terlihat segar, seolah-olah malam penuh gejolak itu tidak pernah terjadi.

"Selamat pagi, Sayang," sapa Clara dengan ceria saat Arka masuk ke ruang makan. "Aku sudah menyuruh Nia membuatkan omelet spesial untukmu."

Arka hanya mengangguk, duduk di kursinya. Matanya secara tidak sengaja mencari Nia, tetapi gadis itu tidak terlihat. Mungkin sedang sibuk di dapur.

"Kamu tidur nyenyak?" tanya Clara sambil menyantap salad buahnya.

"Cukup," jawab Arka singkat.

Mereka makan d
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 151

    Jalan setapak itu semakin menyempit, berubah menjadi lorong lumpur yang dikepung oleh pohon-pohon jati tinggi yang meranggas. Sinar matahari nyaris tidak bisa menembus kanopi hutan dan kabut tebal yang menggantung rendah.Mobil Rolls-Royce Phantom itu mengerang pelan. Bodi mewahnya yang dirancang untuk aspal mulus ibukota kini dipaksa melibas akar pohon dan bebatuan licin."Tuan, kita tidak bisa lebih jauh lagi dengan mobil," lapor Anton, melihat indikator suhu mesin yang mulai naik. "Di depan ada barikade."Arka melihat ke depan. Sekitar lima puluh meter di hadapan mereka, jalan buntu.Sebuah gerbang besi tua setinggi tiga meter yang terlihat aneh berada di tengah hutan menghadang jalan. Gerbang itu dililit kawat berduri yang sudah berkarat. Di balik gerbang, samar-samar terlihat sebuah bangunan tembok kusam yang dikelilingi semak belukar liar.Itu bukan rumah tinggal. Itu terlihat seperti penjara isolasi.Di depan gerbang itu, sekitar sepuluh orang pria berdiri menanti. Dua di antar

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 150

    Lima jam perjalanan berlalu. Pemandangan gedung pencakar langit Jakarta telah lama berganti menjadi hamparan sawah, lalu hutan jati, dan kini jalanan aspal yang mulus mulai menghilang, digantikan oleh jalan tanah berbatu yang menanjak curam.Konvoi kendaraan mewah itu tampak seperti makhluk asing yang tersesat di tengah belantara. Mobil Rolls-Royce Phantom yang dikendarai Anton terpaksa melaju pelan, bermanuver menghindari lubang-lubang besar yang menganga. Suspensi udara mobil seharga miliaran itu bekerja keras meredam guncangan agar wanita hamil di kursi belakang tetap nyaman.Langit di luar semakin gelap, bukan karena malam, melainkan karena kabut tebal yang turun menyelimuti kaki Gunung Slamet. Suhu udara turun drastis, membuat kaca jendela mobil berembun."Kita sudah masuk wilayah Desa Karang Awan, Tuan," lapor Anton sambil memicingkan mata menembus kabut. "Sinyal GPS mulai tidak stabil."Arka melirik indikator sinyal di ponselnya. No Service. Satu garis pun tidak ada. Ini wilaya

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 149

    Suasana pagi di kediaman Adhiguna berubah drastis dalam hitungan jam.Ketenangan pasca-pernikahan yang syahdu kini berganti menjadi kesibukan taktis yang dingin. Di halaman depan, Rolls-Royce Phantom yang seharusnya membawa pengantin baru itu berbulan madu, kini diapit oleh dua SUV Land Cruiser hitam legam. Mesin-mesin mobil itu menderu halus, siap membelah jalanan lintas provinsi.Arka berdiri di teras, mengenakan kemeja kasual berwarna gelap dan celana kargo taktis penampilan yang jarang dia tunjukkan kecuali dalam situasi mendesak. Di pinggangnya, tersembunyi di balik jaket, terselip sebuah pistol Glock berizin khusus. Dia tidak mengambil risiko."Anton," panggil Arka tanpa menoleh, matanya memindai kesiapan para pengawal Garuda Hitam yang sedang memasukkan perbekalan logistik dan medis ke dalam bagasi."Hadir, Tuan," Anton muncul di sampingnya, memegang sebuah tablet yang menyala menampilkan peta digital dan gelombang audio."Bagaimana pergerakan tikus itu?" tanya Arka dingin."Se

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 148

    Sinar matahari pagi yang lembut menerobos masuk melalui celah tirai sutra di kamar utama lantai tiga. AC sentral mendengung halus, menjaga suhu ruangan tetap sejuk, kontras dengan hangatnya sinar pagi Jakarta.Arka mengerjapkan mata, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya. Hal pertama yang dia rasakan adalah aroma shampoo stroberi dan beban ringan di lengannya.Nia tertidur pulas di sampingnya, kepalanya berbantal lengan Arka, sementara satu tangannya memeluk pinggang suaminya posesif kebiasaan baru yang baru Arka ketahui semalam. Wajah istrinya terlihat damai, polos, tanpa jejak air mata atau ketakutan yang sering menghantuinya beberapa bulan terakhir.Arka tersenyum tipis, mengamati wajah itu lekat-lekat. Nyonya Adhiguna, batinnya. Gelar itu terdengar sempurna.Dia tidak ingin membangunkan Nia. Dengan gerakan sangat hati-hati agar tidak mengganggu tidur istrinya dan calon anaknya Arka menarik lengannya perlahan. Dia mengecup kening Nia sekilas, lalu beranjak turun dari tempat tid

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 147

    Suara detak jantung Arka terasa tenang, berbanding terbalik dengan kekacauan yang dia tahu sedang terjadi di dalam kepala pria paruh baya yang duduk dua baris di belakangnya.Arka duduk tegak di hadapan penghulu dan saksi. Di sampingnya, Nia duduk menunduk dengan anggun, jemarinya yang lentik meremas kain kebaya putihnya. Di sisi Nia, Bu Ratih duduk tegak laksana seorang ratu, wajahnya memancarkan ketegaran yang membuat siapa pun segan menatapnya lama-lama.Arka tidak perlu menoleh ke belakang untuk tahu apa yang sedang dilakukan Ruslan.Ekor matanya sempat menangkap gerakan Anton yang berdiri tak jauh dari Ruslan. Tangan kanan Anton bersiaga di balik jas, sebuah pesan bisu bahwa jika Ruslan berani membuat suara sekecil apa pun untuk mengacaukan prosesi ini, pria tua itu akan diseret keluar sebelum sempat membuka mulut."Saudara Arka Adhiguna," suara penghulu memecah keheningan, membawa Arka kembali ke momen sakral itu."Saya," jawab Arka mantap.Tangan Arka menjabat erat tangan Bapak

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 146

    Matahari pagi Jakarta belum terlalu tinggi, namun kesibukan di kediaman tiga lantai milik Arka Adhiguna sudah mencapai puncaknya.Aroma melati segar yang dipesan khusus dari petani lokal menyeruak ke seluruh penjuru rumah, bercampur dengan wangi wax lantai marmer yang baru saja dipoles. Dekorasi didominasi warna putih dan emas, memberikan kesan sakral namun mewah. Tidak ada pesta pora berlebihan, hanya sebuah akad nikah privat yang dihadiri tak lebih dari lima puluh orang kerabat dekat, kolega bisnis terpilih, dan tim inti Arka."Pesta syukuran pribadi Tuan Adhiguna, Pak," jawab pelayan itu datar. "Silakan tunggu. Tuan akan memanggil Bapak sebentar lagi."Ruslan mengangguk-angguk. Dalam hatinya, dia menebak-nebak. Mungkin syukuran akuisisi perusahaan? Atau ulang tahun? Apa pun itu, Ruslan harus menjilat Tuan Adhiguna agar utangnya diperpanjang. Dia harus terlihat patuh.Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Anton masuk."Pak Ruslan," panggil Anton tanpa senyum. "Mari ikut saya. Acaranya s

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status