ANMELDENPagi itu suasana di sebuah TK kecil yang penuh warna terasa lebih ramai dari biasanya. Anak-anak berlarian dengan tas kecil di punggung mereka, beberapa masih digandeng orang tua, beberapa sudah berani masuk sendiri.Di antara keramaian itu, satu sosok kecil berjalan santai, hampir tanpa beban.Arsya.Langkahnya ringan, wajahnya tenang, bahkan tanpa menoleh ke belakang. Sementara di belakangnya, Arkana berdiri dengan kedua tangan di pinggang, memperhatikan anaknya dengan ekspresi antara bangga dan sedikit tidak percaya.“Ini anak gak ada drama sama sekali,” gumamnya.Biasanya, yang Arkana lihat anak-anak seusia Arsya masih ada yang nangis, ada yang tarik-tarik orang tuanya, bahkan ada yang mogok di depan gerbang. Tapi Arsya?Masuk aja.Tanpa pamit.Tanpa noleh.Tanpa rasa bersalah.“Sya” Arkana sempat mau manggil.Tapi Arsya sudah keburu masuk ke dalam kelas, langsung menuju rak mainan seolah dunia luar sudah tidak penting lagi.Arkana menghela napas, lalu tersenyum kecil. “Oke baik.
Hujan tipis masih menyisakan jejak di jalanan saat mobil Arkana meluncur pelan memasuki kompleks rumah orang tuanya. Udara sore itu terasa adem, khas setelah hujan, dengan aroma tanah basah yang menenangkan. Tapi suasana tenang itu jelas tidak berlaku di dalam mobil.“Papaaah, cepetan dong nanti Oppa sama Oma kebulu tidul!” suara kecil Arsya terdengar tak sabaran dari kursi belakang.Arkana melirik lewat kaca spion, sudut bibirnya naik tipis. “Ini juga udah cepet, Bos. Rumah Oppa Oma gak pindah, santai aja.”“Enggaaa! Alsya mau tunjukin mobil Alsyaaa!” Arsya menggoyang-goyangkan kakinya, suaranya penuh semangat.Narine yang duduk di samping Arkana cuma bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum. “Dari tadi di jalan gak berhenti ngomong itu.”“Biarin,” sahut Arkana santai. “Lagi bangga dia.”“Bangga banget malah,” balas Narine, lalu menoleh ke belakang. “Nanti ngomongnya yang bener ya, Sayang.”“Iyaa!” jawab Arsya cepat. Tapi dari nadanya, jelas tidak ada jaminan apapun.Mobil akhirnya
Malam itu, suasana rumah Arkana dan Narine masih dipenuhi sisa-sisa tawa dari kejadian siang tadi. Arsya belum juga berhenti muter-muter dengan mobil listrik barunya di ruang tengah, sesekali nabrak kaki meja, lalu mundur lagi dengan ekspresi serius seolah dia benar-benar sedang nyetir mobil sungguhan.“Tit tit!” bunyi klakson kecil itu berulang kali.“Papah awass minggil” kata Arsya sambil mengernyit fokus.Arkana yang duduk di sofa hanya bisa geser sedikit sambil menatap kosong ke depan. Mukanya masih menunjukkan sisa-sisa trauma.Narine yang duduk di sebelahnya melirik, lalu nyengir. “Masih kepikiran ya?”Arkana menghela napas panjang lalu tersenyum. “Anakku darimana ya tau kata kata itu, tapi lucu banget sial sayang banget sama hasil karyaku itu.”Narine langsung ngakak lagi. “Salah sendiri, ngide beli yang dua ratus juta.”“Aku gak nyangka dia bakal jawab kayak gitu!” Arkana menoleh, setengah kesal setengah tidak percaya. “Dengan pede lagi bilang papah alsya kaya onty. Itu orang-
Pagi itu rumah Arkana dan Narine masih terasa hangat dengan suasana Lebaran yang belum benar-benar usai. Sisa-sisa kue kering masih berjajar rapi di meja, beberapa toples sudah mulai kosong setengah, dan ruang keluarga dipenuhi suara kecil yang khas suara Arsya yang lagi sibuk sendiri.Anak itu duduk selonjoran di lantai, dikelilingi mobil-mobilan kecil miliknya. Tangannya mendorong satu mobil merah maju mundur, tapi ekspresinya datar tidak seantusias biasanya.Arkana yang lagi duduk di sofa sambil scroll ponsel melirik sekilas.“Tumben sepi,” gumamnya.Belum sempat dia lanjut mikir, Arsya tiba-tiba berhenti main. Anak itu menoleh ke arah papanya dengan wajah serius serius yang terlalu serius untuk ukuran anak kecil.“Papah”Arkana mengangkat alis. “Iya?”“Mau beli mobil benelan.”Sunyi satu detik.Narine yang lagi minum teh langsung keselek kecil. “Hah?!”Arkana menurunkan ponselnya pelan, menatap anaknya. “Mobil beneran?”Arsya mengangguk mantap. “Iya. Yang bisa dinaikin. Yang ada p
Hari kedua Lebaran selalu punya suasana yang berbeda.Kalau hari pertama penuh formalitas, salam-salaman, dan senyum yang sedikit kaku karena lelah, hari kedua justru lebih santai. Tawa lebih lepas, obrolan lebih panjang, dan yang paling penting tidak ada lagi tekanan harus terlihat sempurna.Hari itu, mereka berkumpul di rumah Rajan dan Maya.Ruang tengah sudah diubah jadi area santai karpet tebal digelar, meja penuh makanan ringan, dari kue kering sampai minuman dingin. Rajan duduk selonjoran dengan kaos santainya, sementara Roby dan Valdy sudah mulai ribut sendiri sejak tadi.“Gue masih gak percaya,” kata Roby sambil tertawa, “Arkana bisa-bisanya jadi villain gara-gara THR.”Valdy langsung nyaut, “Parah sih. Lebaran pertama, bukannya jadi bapak idaman malah jadi musuh nasional anak sendiri.”Rajan terkekeh pelan, menggeleng.“Gimana ya, gaya parenting beda.”Di sudut lain, Narine hanya bisa menutup wajahnya sebentar, malu sendiri mengingat kejadian kemarin.Arkana yang duduk bersan
Pagi ini rumah orang tua Arkana sudah penuh sesak bahkan sejak matahari belum benar-benar tinggi. Suara tawa, salam-salaman, dan denting sendok dari dapur bercampur jadi satu, menciptakan suasana Lebaran yang hangat sekaligus riuh.Narine berdiri di depan cermin, merapikan kerudungnya, sesekali melirik ke arah tempat tidur.“Arsya ayo sini, Nak. Pakai bajunya dulu,” panggilnya lembut.Tidak ada jawaban.Ia menghela napas pelan, lalu melangkah mendekat. Dan benar saja—Arsya justru sedang tengkurap di kasur sambil memainkan mobil-mobilan kecilnya, sama sekali tidak tertarik dengan baju koko putih yang sudah disiapkan sejak semalam.“Arsya…” suara Narine mulai berubah, sedikit lebih tegas.“Endak mauu” jawab Arsya cepat, tanpa menoleh.Narine memejamkan mata sebentar, menahan kesabaran.“Ini Lebaran, sayang. Kita harus rapi, nanti salaman sama semua orang.”Arsya akhirnya menoleh, wajahnya cemberut.“Endaak mau panas”Belum sempat Narine menjawab, Arkana muncul dari kamar mandi dengan ra
Begitu pintu apartemen Maya terbuka, aroma popcorn manis langsung menyambar wajah Narine. Lampu ruang tengah terang, tapi suasananya hangat, seperti tempat pelarian setelah hari panjang yang membuat kepala berdenyut. Maya berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di dada, rambut dikuncir asal,
Hujan tipis turun membasahi kaca jendela mobil Revan, memecah lampu-lampu jalan menjadi garis-garis cahaya yang memanjang. Malam itu sunyi, hanya suara wiper yang bergerak pelan mengiringi perjalanan pulang mereka. Udara di dalam mobil terasa hangat, namun suasana di antara keduanya justru canggung
Liburan ke pantai seharusnya membuat kita rileks dan tenang, namun ini malah membuat Arkana tak tenang. Tapi untuk Narine ini memang betul liburan perasaan nya sangat fresh seolah hilang terbawa oleh ombak. Mereka masih disini tapi tubuh dan perasaan yang tak bisa ditafsirkan.Pagi ini Narine baru
Suara printer berulang-ulang terdengar, seperti jantung kantor yang memaksa tetap hidup di jam yang seharusnya sudah menjadi milik malam. Lampu-lampu ruangan lantai dua belas sebagian telah dimatikan, hanya menyisakan cahaya putih pucat yang jatuh di area kerja tim konsultan. Di antara meja-meja ya







