Share

5. Bab 5

Author: Amy_Asya
last update Last Updated: 2025-11-15 00:26:09

Eleanor tampak mengerjapkan matanya berkali-kali, mencoba mencerna setiap ucapan yang baru dia dengar dari wanita asing di depannya.

“Ini bukan suasana yang pas untuk bergurau. Aku dan Nathan—kami belum memiliki seorang anak pun.”

“Siapa bilang dia putramu dan Nathan?” Olivia menyilangkan kakinya. Menampakkan senyuman angkuh, yang seolah tak mau kalah. “Dia putraku bersama Nathan.”

Pening. Kepala Eleanor benar-benar tak bisa berpikir jernih sekarang. Dia menggeleng dengan kuat. “Tidak mungkin! Aku kenal Nathan. D-dia bukan pria seperti itu,” jawab Eleanor dengan terbata-bata. “Pa, Ma, katakan pada wanita ini jika Nathan bukan pria seperti itu.”

Namun, Eleanor tak mendapatkan jawaban yang diinginkan dari kedua orang tua Nathan. Mereka berdua hanya diam saja.

“Pa, Ma—”

“Kau butuh bukti kan, Eleanor?” tanya Olivia dengan menekankan nama wanita itu.

Eleanor menoleh, menatap Olivia dengan dada naik turun. “Jangan sebut namaku dengan bibir kotormu itu!” Eleanor segera berdiri. “Aku tak punya waktu untuk meladeni omong kosongmu. Aku percaya Nathan tidak seperti itu.”

Eleanor berjalan meninggalkan ruang keluarga yang tiba-tiba saja terasa begitu sempit baginya. Di ruangan itu, Eleanor merasa jika dia tidak bisa bernapas sama sekalli.

Namun, baru beberapa langkah, suara Olivia kembali terdengar menghentikannya. Wanita itu berdiri dan menyusul Eleanor yang masih memunggungi semua orang yang ada.

Senyum kepuasaan muncul di wajah Olivia ketika dia melihat wajah Eleanor yang memerah. “Kau marah? Mau menolak fakta bahwa dia putra Nathan, suamimu?”

Eleanor membuang muka dengan meremas pakaiannya sendiri.

Tidak mungkin!

Nathan tidak mungkin mengkhianatinya! Nathan selalu mencintainya!

“Aku tau kau pasti akan menyangkal. Jadi, mari kutunjukkan saja bukti jika kami memang memiliki hubungan.” Olivia menyerahkan ponselnya.

Awalnya Eleanor ingin menolak, tetapi hati kecilnya terus saja mengusik dan meminta dia untuk mengambil ponsel wanita itu.

“Bagus. Lihat saja semua foto-foto dan video yang ada di sana.”

Tangan Eleanor yang gemetar membuka semua isi ponsel Olivia. Matanya langsung membulat begitu dia melihat foto Nathan dan Olivia yang tampak begitu mesra.

Tubuhnya menegang ketika dia melihat dan membuka satu video yang berisi percintaan panas suaminya dengan wanita lain.

Semakin membuka setiap fakta, mata Eleanor semakin panas. Rasa kepercayaan yang beberapa detik lalu masih ada, kini runtuh begitu saja.

Sampai ponsel Olivia terjatuh dengan sendirinya dari genggaman Eleanor.

“Berapa usia anak itu?” tanya Eleanor dengan bibir bergetar.

Olivia menyeringai puas begitu melihat kekecewaan di mata Eleanor yang beberapa saat lalu masih tampak percaya diri. “Kenapa? Kau ingin tahu kapan semuanya dimulai?”

“Katakan!”

“Lima tahun. Ingin kuberitahu kapan semuanya dimulai?”

Eleanor menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis yang kian menyesakkan dada.

Lima tahun? Pernikahan mereka memasuki tahun ke enam sekarang. Jadi, Nathan sudah melakukannya sejak awal?

Jadi, Nathan sudah mengkhianatinya sejak awal pernikahan mereka di mulai?

Jadi, sejak awal semuanya hanya pura-pura saja?

“Tepatnya setelah dua atau tiga bulan setelah pernikahan kalian.” Olivia masih berbicara tanpa peduli dengan kondisi Eleanor sekarang. “Kau tidak ingin tau kami tinggal di mana?”

“Olivia, hentikan!” Suara Tuan Carter terdengar mengehentikan Olivia yang ingin memberitahu semuanya lebih lanjut.

“Katakan!” pinta Eleanor tanpa peduli dengan perkataan ayahnya. Kenapa pria itu baru bicara sekarang. “Katakan, brengsek!”

“Kami tinggal di Maine. Kau pasti apa kelanjutan ucapanku, kan? Nathan bilang kau cerdas, tetapi sepertinya kau sangat bodoh.”

“Maine?”

Ingatan Eleanor kembali berputar.

Maine, tempat itu sudah seperti rumah kedua bagi Nathan, begitu ujar pria itu dulu semasa hidupnya.

Nathan mengembangkan bisnis pariwisata di sana setelah satu pernikahan mereka. Itulah sebabnya pria itu lebih sering menghabiskan waktu di Maine, dan meninggalkan Eleanor sendirian di Manhattan.

Dulu, Eleanor selalu meminta untuk ikut ke Maine, tetapi Nathan selalu melarangnya dengan berbagai alasan. Sampai akhirnya pria itu membuka kafe dan meminta Eleanor untuk mengelolanya, dengan dalih agar Eleanor punya kesibukan sendiri di sini.

Nyatanya, di tempat itulah Nathan menyembunyikan kehidupannya yang lain.

Eleanor mengepalkan tangannya setelah sadar jika di sudah dibohongi sejauh ini. Tangan dan bibirnya bergetar. Eleanor ingin berteriak dan memaki semua orang yang ada di sana, sampai akhirnya Mary datang untuk menenangkan dan segera membantunya untuk pergi dari sana.

Eleanor bahkan tak memedulikan ucapan ibu mertuanya yang meminta dia untuk tetap diam di sana.

Bagaimana Eleanor bisa tetap diam dan menatap wajah anak kecil itu?

“Nyonya mau saya temani?” tanya Mary ketika mereka sudah sampai di kediaman pribadi Nathan.

Sungguh, dia merasa iba melihat kemalangan yang terus menerus menimpa Eleanor.

“Nyonya—”

“Aku mau sendiri, Mary. Tolong tinggalkan aku.” Eleanor segera masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu, seolah tahu jika tak dikunci Mary akan memaksa untuk masuk.

Setelah pintu terkunci, kaki Eleanor terasa begitu lemas hingga jatuh di depan pintu. Wanita itu memeluk lututnya, dengan bahu yang bergetar. Tangisannya terdengar parau, seolah Eleanor tak ingin ada yang mendengarnya.

Bayangan wajah Nathan terus menari dalam benaknya. Bayangan tentang bagaimana Nathan memperlakukannya dengan manis dan penuh cinta, bayangan tentang bagaimana Nathan mencumbunya saat bercinta terus saja berputar di kepalanya, berpadu dengan bayangan dari video-video yang dia lihat di ponsel Olivia tadi.

Sungguh, Eleanor ingin marah dan bertanya pada Nathan kenapa tega melakukan ini kepadanya. Namun, lagi-lagi pria itu mencuranginya dengan pergi setelah membuat luka besar di jiwanya.

Eleanor berdiri, melangkah dengan terhuyung-huyung menuju kamar mandi. Dia ingin membersihkan diri dari setiap noda yang sempat Nathan tinggalkan dulu.

Dia ingin membersihkan hasrat dan jiwanya yang pernah lapar dan menuruti setiap keinginan Nathan.

Eleanor menjatuhkan segala benda yang ada di kamar mandi. Botol-botol kaca dari pelengkapan kecantikan jatuh berceceran, hingga tanpa sadar Eleanor menginjaknya.

Namun, dia sama sekali tak memedulikan rasa sakit dan darah yang mengalir dari telapak kakinya.

Luka di hatinya jauh lebih sakit.

Jika orang lain yang melakukan ini, mungkin Eleanor masih bisa menerimanya, tetapi ini Nathan yang melakukannya.

Pria itu adalah orang yang paling Eleanor cinta dan percaya.

Nathan adalah manusia yang paling dia puja sejak pertama kali dia mengenal cinta. Bahkan, ketika ayah dan saudaranya menentang Nathan, Eleanor lah yang maju paling depan untuk melindungi pria itu.

Dia bahkan rela meninggalkan tanah kelahirannya, meninggalkan keluarga dan segala yang dia punya demi Nathan.

“Jadi, balasan seperti ini yang aku terima darimu, Nath?” tanya Eleanor dengan memukul dadanya yang terasa sesak.

Sungguh, semua ini terasa begitu sakit. Bahkan untuk bernapas saja, Eleanor benar-benar kesusahan.

"Kenapa, Nath? Kenapa kau tega pergi meninggalkanku dengan luka sebesar ini?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Terlarang Kakak Ipar   25. Bab 25

    Eleanor menunggu Adrian, sesuai dengan perintah pria itu. Dia duduk di seberang kursi kerja Adrian, sementara pria itu ada di kamarnya sana untuk berpakaian. Mata biru itu kembali menangkap bingkai-bingkai besar yang ditutup kain putih. Tidak hanya satu, tetapi ada empat bingkai besar yang ditutup. Eleanor tak tahu apa isi di dalamnya. Apakah Lukisan atau foto keluarga? “Kau sudah makan malam?” Suara Adrian berhasil membuat perhatian Eleanor teralihkan. Wanita itu menatap Adrian yang sudah memakai kaus dan celana panjang. Rambutnya sudah lebih rapi dari tadi, tetapi entah mengapa Eleanor suka dengan rambut basah dan berantakan itu. Eleanor menggeleng pelan, mengusir pikiran anehnya tiap kali dia bersama Adrian. Itu tidak pantas. Biar bagaimana pun, Adrian adalah kakak iparnya, dan dia di sini sebagai janda dari adik Adrian. “Belum,” jawab Eleanor mencoba menepis semua isi pi

  • Sentuhan Terlarang Kakak Ipar   24. Bab 24

    Setelah berpikir seharian, Eleanor pada akhirnya memberanikan diri untuk menemui Adrian lebih dulu. Dia merasa tak enak hati karena terus mendiamkan pria itu, sementara Adrian sudah berbaik hati menampung dirinya di rumah ini. Memperlakukan Eleanor seperti nyonya rumah ini sendiri. Eleanor menatap lantai dan pintu kamar di depannya secara bergantian. Di tangannya juga ada vas berisi bunga mawar merah yang sudah dia rangkai dengan bantuan Lucas siang tadi. Eleanor tidak tahu apakah Adrian pulang atau tidak malam ini. Namun, beberapa saat yang lalu dia sempat melihat mobil pria itu masuk, saat Eleanor masih di balkon kamar, dan mendengar langkah kaki di lorong yang sunyi itu. Eleanor membalikkan tubuhnya, berniat untuk kembali ke kamar, dan akan menemui Adrian besok pagi, tetapi lagi-lagi perasaan bersalah bergelayut di

  • Sentuhan Terlarang Kakak Ipar   23. Bab 23

    Eleanor turun dari kamar setelah Mary memintanya untuk sarapan. Ini sudah hampir sepuluh hari dia tak melihat Adrian di rumahnya sendiri. Pria itu benar-benar tak menunjukkan wajahnya setelah Eleanor mengejar mobilnya waktu itu. Eleanor menatap sup yang Mary letakkan di atas meja. Hanya satu mangkuk yang artinya, kali Eleanor hanya akan makan sendiri lagi, seperti biasa. “Aku tak melihat Adrian selama beberapa hari ini.” Mary menghentikan gerakan tangannya. Dia menatap Eleanor yang hanya mengaduk-aduk mengkuk supnya. “Tuan sedang mengurusi pekerjaan yang ditinggalkan Tuan Nathan di kantor. Dia menginap di kantor sudah tiga hari ini." Eleanor mengangguk. Pantas saja dia tak melihat Adrian sama sekali. Rupanya pria itu memilih tinggal di kantor, demi menghindarinya. Eleanor memasukkan satu sendok berisi sup ke dalam mulutnya, tetapi entah mengapa tenggorokannya terasa tidak enak. Gangguan makannya semakin memburuk

  • Sentuhan Terlarang Kakak Ipar   22. Bab 22

    Setelah satu minggu berlalu, Eleanor tak pernah lagi melihat Adrian berada di sekitarnya. Pria itu tak menunjukkan wajah sama sekali, seolah jika dia menampakkan diri sekali saja bisa membuat Eleanor meledak. Padahal pada kenyataannya, Eleanor ingin sekali bertemu pria itu. Dia ingin melihat Adrian yang selalu menatapnya dengan wajah datar, tanpa ekspresi, tetapi entah mengapa sosok itu seolah memberinya perlindungan dan rasa aman. Mungkin, apa yang dikatakan Mary itu benar. Adrian hanya menganggap Eleanor seperti adiknya. Eleanor menatap ke arah luar, dari atas balkon—tempat yang menjadi kesukaannya selama satu minggu ini. Di luar sana terasa sepi, apalagi saat malam tiba. Para pelayan sudah kembali ke tempat tinggalnya di belakang sana, menyisakan beberapa penjaga saja termasuk Lucas. Biasanya Eleanor akan malam bersama Adrian, tetapi sejak seming

  • Sentuhan Terlarang Kakak Ipar   21. Bab 21

    Eleanor tak ada melihat Adrian lagi semenjak dia mengusir pria itu tadi. Hanya Mary yang datang beberapa saat yang lalu untuk memeriksa kondisinya. Dan ketika wanita paruh baya itu datang lagi dengan segelas cokelat panas yang dibawa, Eleanor hanya menatap kosong. “Nyonya butuh sesuatu untuk menenangkan diri.” Mary meletakkan gelas berisi cokelat panas di atas meja, lalu duduk di samping Eleanor sembari menyentuh lembut punggung wanita itu. “Mungkin dengan cara seperti ini, Nyonya bisa melupakan Tuan Nathan untuk selamanya.” Eleanor mengerti apa maksud perkataan Mary. Tentu saja cara pengkhianatan Nathan padanya, membuat Eleanor menghapus semua jejak kenangan Nathan. Eleanor mengusap air mata yang kembali jatuh, dan dia langsung berbaring di pangkuan Mary. Wanita itu sudah dia anggap seperti ibunya sendiri selama di sini. “Aku ingin keluar dari rumah ini, Mary," ucap Eleanor pelan. Dia ingin

  • Sentuhan Terlarang Kakak Ipar   20. Bab 20

    “Kenapa dia melakukan semua ini padaku, Adrian? Apa salahku?” Eleanor terus saja bicara dengan suara bergetar. Tatapan mata berwarna biru itu menyiratkan kepedihan yang mendalam. Adrian melepas pelukannya, kemudian menangkup wajah Eleanor dengan kedua tangannya. “Kau tidak melakukan kesalahan apa pun?” bisik Adrian. Pria itu menyatukan kening mereka—saling menempel seolah mencoba menyalurkan kekuatan yang dia miliki agar Eleanor merasa tak sendirian lagi. “Aku ingin pergi dari tempat ini, Adrian.” “Kau tak akan ke mana pun.” “Aku tak punya siapa pun lagi di sini.” Eleanor menunduk, merasa tak percaya diri. “Aku sendiri di sini. Di sini bukan tempatku karena aku tak pernah diterima selama ini.” Adrian menggeleng pelan. Masih dengan posisi yang sama. “Tempatmu di sini, Lea. Ada aku di sini. Rumahmu di sini.” Eleanor menjauhkan wajahnya, dan menurunkan tangan Adrian yang menempel di pipinya. Mata biru itu menatap Adrian dengan berkaca-kaca. “Kau menerimaku karena m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status