LOGINEleanor diminta berkumpul bersama semua orang di rumah utama. Dia sudah berusaha menolak. Bukan karena tak menghargai kedua orang tuanya, hanya saja setiap menatap wajah Noah—putra Nathan yang ternyata begitu mirip dengan pria itu, kian menambah luka di hatinya.
“Eleanor.” Suara Tuan Carter terdengar menembus kesunyian di ruangan yang hening. Tidak ada orang lain di sana, kecuali Olivia dan Noah, dua sosok yang entah mengapa masih berdiam diri di rumah keluarga Carter. “Papa dan mama ingin minta maaf atas nama Nathan.” Mendengar hal itu, Nyonya Carter langsung menatap suaminya dengan tidak suka. “Kenapa harus minta maaf? Lagi pula dia tidak bisa memberikan Nathan seorang anak. Andai saja tidak ada Noah, putraku itu meninggal dalam keadaan tak punya keturunan.” Mulut Nyonya Carter berujar tanpa peduli dengan perasaan Eleanor. Eleanor hanya bisa mengigit bibir. Dia sungguh merasa asing di tengah keluarga Carter secara tiba-tiba. “Mama, jangan bicara begitu. Apa pun itu, tindakan Nathan tak sepenuhnya benar. Dia tetap salah.” Nyonya Carter melengos. Urat lehernya terasa begitu tegang. Dia tak suka ketika suaminya selalu membela Eleanor. Sementara Eleanor, tak bisa lagi menyembunyikan mata yang semakin bengkak. Tuan Carter hanya bisa menghela napas panjang, sebelum dia kembali menatap Eleanor yang tampak mengenaskan di matanya. “Kami sudah memutuskan bahwa Olivia dan Noah akan tinggal di sini.” Mendengar itu, wajah Eleanor langsung terangkat, menatap ayah mertuanya dengan tatapan tak percaya. Mereka meminta Olivia dan putranya tinggal di sini? Di rumah yang menjadi saksi setiap tawa dan air matanya bersama Nathan? “Pa—” “Olivia tak punya siapa pun lagi,” potong Tuan Carter cepat dengan nada memohon. “Tempat tinggalnya di Maine hanya sewaan. Selain itu, Noah itu cucu kami, Eleanor. Tolong mengerti dan pahami kami. Kami hanya ingin Noah tumbuh dalam lingkungan keluarga yang baik, yang bisa mencukupi semua kebutuhannya.” Eleanor tersenyum miris mendengar semua itu. “Kalian minta dimengerti dan dipahami? Lalu bagaimana dengan kondisku? Bagaimana dengan hatiku?” Eleanor menunjuk dirinya sendiri dengan mata berkaca-kaca. Egois. Semua orang sungguh egois! “Eleanor,” panggil Tuan Carter dengan penuh rasa bersalah. “Jangan bicara lembut begitu padanya. Kau semakin membuat dia besar kepala!” Nyonya Carter langsung memotong ucapan suaminya. “Dasar wanita tidak tahu diri. Kau pikir kau siapa sehingga meminta semua orang memahami kondisimu? Kau hanya orang asing di rumah ini, Eleanor. Sedangkan Noah adalah darah daging Nathan yang sebenarnya. Dia dan Olivia lah yang berhak tinggal di sini. Di kediaman pribadi milik Nathan!” “Mama, kita sudah sepakat Olivia dan Noah akan tinggal di rumah ini, bukan di rumah pribadi Nathan dengan Eleanor.” Tuan Carter menyela dengan perasaan tak enak. “Kenapa? Dia itu orang asing di sini. Dulu, aku menerimanya hanya karena Nathan. Sekarang Nathan sudah tidak ada. Jadi, biarkan Olivia dan Noah yang tinggal di sana.” Eleanor mengusap air mata yang tiba-tiba menetes. “Aku tak mau tinggal serumah dengan wanita itu.” “Kalau begitu tinggalkan rumah ini! Kau bukan bagian keluarga Carter lagi mulai sekarang!” bentak Nyonya Carter. Eleanor menggeleng dengan mengusap pipi secara kasar. Dia tatap Olivia yang hanya diam saja, dan terus menatapnya dengan senyum mengejek. Dia tak mungkin kalah lagi untuk kali ini, kan? “Kalau pergi dari sini, aku haru pergi ke mana lagi? Mama jelas tahu, bagaimana konflik keluargaku karena aku memilih Nathan dulu. Aku harus ke mana lagi?” “Itu urusanmu!” Nyonya Carter tampak acuh tak acuh. Dia melotot tajam ketika melihat suaminya ingin membela Eleanor lagi. “Dan satu lagi, kafe yang diberikan Nathan padamu … sekarang aku yang akan mengambil alih.” Lagi? Eleanor meremas bajunya sendiri. Dia ingin marah pada semua orang, tetapi sungguh dia masih menghormati Tuan Carter yang setidaknya membelanya walau hanya sekali tadi. “Kau tidak dengar, Eleanor?” bentak Nyonya Carter yang mengejutkan semua orang. “Kau orang asing di sini. Jadi, sebaiknya tinggalkan rumah ini sekarang juga. Aku tidak peduli kau mau tinggal dan pergi ke mana pun. Aku sudah benar-benar muak melihat kau—penyebab kematian putraku!” Eleanor berdiri dan menghampiri ibu mertuanya. Dia meraih kedua tangan wanita itu dengan menggeleng kuat. Meski kebenciannya pada Nathan terlalu dalam, tetapi rumah itu sudah seperti tempat dia pulang selama ini. Semua kenangan manisnya ada di dalam sana. “Ma, tolong jangan lakukan ini!” Nyonya Carter menghempaskan tangan Eleanor dengan kasar, lalu mendorong tubuh lemah wanita itu hingga jatuh di atas lantai. “Pergi dari rumahku, jalang brengsek!” Tangisan Eleanor pecah. Tidak keras, tetapi lirih seperti serpihan kaca yang menyayat hati. Hingga terdengar suara langkah kaki yang memecah keheningan. Suara sepatu yang beradu dengan lantai marmer itu begitu menggema, membuat semua orang yang ada di sana terdiam dan langsung menoleh, termasuk Nyonya Carter yang sedang mengamuk. “Dia tidak akan pergi ke mana pun!" Tatapan Nyonya Carter dan Tuan Carter langsung terpaku pada pria yang memakai kemeja biru muda yang berjalan menghampiri mereka. Sosok yang selama ini hampir mereka lupakan keberadaanya. Eleanor mendongakkan kepala ketika dia merasakan seseorang menyentuh bahunya, dan membantu dia untuk bangkit. Mata Eleanor sempat bersitatap dengan mata berwarna cokelat gelap yang menyorot dengan tajam. Sesaat Eleanor bisa merasakan bagaimana pria itu meneliti wajahnya dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan. Sampai akhirnya Eleanor memilih membuang muka saat Adrian kembali menatap ibu dan ayah mertuanya, satu persatu. “Adrian!” Suara Nyonya Carter terdengar bergetar. Dia tampak tak percaya dengan kemunculan Adrian. “Kau baru ingat pulang setelah adikmu tiada?” Adrian tak menghiraukan ucapan kedua orang tuanya. Dia masih memegang bahu Eleanor, dan berusaha mengabaikan tatapan heran wanita itu. “Adrian!” seru Nyonya Carter sekali lagi. Wanita paruh baya itu hendak maju menghampiri Adrian, tetapi Adrian mundur beberapa langkah, menolaknya. “Dia tidak akan pergi ke mana pun. Menantu keluarga Carter akan tetap menjadi menantu keluarga Carter selamanya.” “Tapi dia—” Nyonya Carter menunjuk Olivia dan Noah bergantian. Matanya kembali menyiratkan amarah karena Adrian membela Eleanor. “Adrian, jangan bodoh. Mereka lebih berhak tinggal di sini, dibandingkan wanita pembawa sial ini. Mama dan papa sudah memutuskan rumah pribadi Nathan untuk mereka. Tak ada tempat untuk menampung wanita ini.” Adrian menaikkan sudut bibirnya, dengan tatapan tajam yang begitu menusuk. "Sejak kapan hak ditentukan oleh orang yang pandai berpura-pura suci?" "Adrian!" bentak Tuan Carter, marah. Namun, Adrian mengabaikannya. Dia meminta ayahnya untuk diam, setelah itu menatap ke arah Mary yang sejak tadi sembunyi di balik pintu. “Mary!” Mendengar suara Adrian, Mary segera masuk dengan tergesa-gesa. Sesaat matanya menatap Adrian dengan berkaca-kaca. “Tu-tuan Adrian … akhirnya—” “Bawa dia ke rumah pribadiku!" perintah Adrian pada Mary. Perkataan Adrian tadi sukses membuat semua orang terdiam, termasuk Tuan Carter. “Adrian, kau tidak bisa melakukan ini—“ “Bisa!" potong Adrian pada ucapan Nyonya Carter. "Aku bisa melakukan apa pun.” Adrian sekali menatap Eleanor yang tampak lemah, lalu beralih menatap Tuan dan Nyonya Carter dengan rahang mengeras. “Mulai sekarang dia akan tinggal di rumah pribadiku. Tak ada penolakan. Jangan lupa seluruh mansion ini milikku!”Eleanor menunggu Adrian, sesuai dengan perintah pria itu. Dia duduk di seberang kursi kerja Adrian, sementara pria itu ada di kamarnya sana untuk berpakaian. Mata biru itu kembali menangkap bingkai-bingkai besar yang ditutup kain putih. Tidak hanya satu, tetapi ada empat bingkai besar yang ditutup. Eleanor tak tahu apa isi di dalamnya. Apakah Lukisan atau foto keluarga? “Kau sudah makan malam?” Suara Adrian berhasil membuat perhatian Eleanor teralihkan. Wanita itu menatap Adrian yang sudah memakai kaus dan celana panjang. Rambutnya sudah lebih rapi dari tadi, tetapi entah mengapa Eleanor suka dengan rambut basah dan berantakan itu. Eleanor menggeleng pelan, mengusir pikiran anehnya tiap kali dia bersama Adrian. Itu tidak pantas. Biar bagaimana pun, Adrian adalah kakak iparnya, dan dia di sini sebagai janda dari adik Adrian. “Belum,” jawab Eleanor mencoba menepis semua isi pi
Setelah berpikir seharian, Eleanor pada akhirnya memberanikan diri untuk menemui Adrian lebih dulu. Dia merasa tak enak hati karena terus mendiamkan pria itu, sementara Adrian sudah berbaik hati menampung dirinya di rumah ini. Memperlakukan Eleanor seperti nyonya rumah ini sendiri. Eleanor menatap lantai dan pintu kamar di depannya secara bergantian. Di tangannya juga ada vas berisi bunga mawar merah yang sudah dia rangkai dengan bantuan Lucas siang tadi. Eleanor tidak tahu apakah Adrian pulang atau tidak malam ini. Namun, beberapa saat yang lalu dia sempat melihat mobil pria itu masuk, saat Eleanor masih di balkon kamar, dan mendengar langkah kaki di lorong yang sunyi itu. Eleanor membalikkan tubuhnya, berniat untuk kembali ke kamar, dan akan menemui Adrian besok pagi, tetapi lagi-lagi perasaan bersalah bergelayut di
Eleanor turun dari kamar setelah Mary memintanya untuk sarapan. Ini sudah hampir sepuluh hari dia tak melihat Adrian di rumahnya sendiri. Pria itu benar-benar tak menunjukkan wajahnya setelah Eleanor mengejar mobilnya waktu itu. Eleanor menatap sup yang Mary letakkan di atas meja. Hanya satu mangkuk yang artinya, kali Eleanor hanya akan makan sendiri lagi, seperti biasa. “Aku tak melihat Adrian selama beberapa hari ini.” Mary menghentikan gerakan tangannya. Dia menatap Eleanor yang hanya mengaduk-aduk mengkuk supnya. “Tuan sedang mengurusi pekerjaan yang ditinggalkan Tuan Nathan di kantor. Dia menginap di kantor sudah tiga hari ini." Eleanor mengangguk. Pantas saja dia tak melihat Adrian sama sekali. Rupanya pria itu memilih tinggal di kantor, demi menghindarinya. Eleanor memasukkan satu sendok berisi sup ke dalam mulutnya, tetapi entah mengapa tenggorokannya terasa tidak enak. Gangguan makannya semakin memburuk
Setelah satu minggu berlalu, Eleanor tak pernah lagi melihat Adrian berada di sekitarnya. Pria itu tak menunjukkan wajah sama sekali, seolah jika dia menampakkan diri sekali saja bisa membuat Eleanor meledak. Padahal pada kenyataannya, Eleanor ingin sekali bertemu pria itu. Dia ingin melihat Adrian yang selalu menatapnya dengan wajah datar, tanpa ekspresi, tetapi entah mengapa sosok itu seolah memberinya perlindungan dan rasa aman. Mungkin, apa yang dikatakan Mary itu benar. Adrian hanya menganggap Eleanor seperti adiknya. Eleanor menatap ke arah luar, dari atas balkon—tempat yang menjadi kesukaannya selama satu minggu ini. Di luar sana terasa sepi, apalagi saat malam tiba. Para pelayan sudah kembali ke tempat tinggalnya di belakang sana, menyisakan beberapa penjaga saja termasuk Lucas. Biasanya Eleanor akan malam bersama Adrian, tetapi sejak seming
Eleanor tak ada melihat Adrian lagi semenjak dia mengusir pria itu tadi. Hanya Mary yang datang beberapa saat yang lalu untuk memeriksa kondisinya. Dan ketika wanita paruh baya itu datang lagi dengan segelas cokelat panas yang dibawa, Eleanor hanya menatap kosong. “Nyonya butuh sesuatu untuk menenangkan diri.” Mary meletakkan gelas berisi cokelat panas di atas meja, lalu duduk di samping Eleanor sembari menyentuh lembut punggung wanita itu. “Mungkin dengan cara seperti ini, Nyonya bisa melupakan Tuan Nathan untuk selamanya.” Eleanor mengerti apa maksud perkataan Mary. Tentu saja cara pengkhianatan Nathan padanya, membuat Eleanor menghapus semua jejak kenangan Nathan. Eleanor mengusap air mata yang kembali jatuh, dan dia langsung berbaring di pangkuan Mary. Wanita itu sudah dia anggap seperti ibunya sendiri selama di sini. “Aku ingin keluar dari rumah ini, Mary," ucap Eleanor pelan. Dia ingin
“Kenapa dia melakukan semua ini padaku, Adrian? Apa salahku?” Eleanor terus saja bicara dengan suara bergetar. Tatapan mata berwarna biru itu menyiratkan kepedihan yang mendalam. Adrian melepas pelukannya, kemudian menangkup wajah Eleanor dengan kedua tangannya. “Kau tidak melakukan kesalahan apa pun?” bisik Adrian. Pria itu menyatukan kening mereka—saling menempel seolah mencoba menyalurkan kekuatan yang dia miliki agar Eleanor merasa tak sendirian lagi. “Aku ingin pergi dari tempat ini, Adrian.” “Kau tak akan ke mana pun.” “Aku tak punya siapa pun lagi di sini.” Eleanor menunduk, merasa tak percaya diri. “Aku sendiri di sini. Di sini bukan tempatku karena aku tak pernah diterima selama ini.” Adrian menggeleng pelan. Masih dengan posisi yang sama. “Tempatmu di sini, Lea. Ada aku di sini. Rumahmu di sini.” Eleanor menjauhkan wajahnya, dan menurunkan tangan Adrian yang menempel di pipinya. Mata biru itu menatap Adrian dengan berkaca-kaca. “Kau menerimaku karena m







