MasukEleanor menunggu Adrian, sesuai dengan perintah pria itu.
Dia duduk di seberang kursi kerja Adrian, sementara pria itu ada di kamarnya sana untuk berpakaian. Mata biru itu kembali menangkap bingkai-bingkai besar yang ditutup kain putih. Tidak hanya satu, tetapi ada empat bingkai besar yang ditutup. Eleanor tak tahu apa isi di dalamnya. Apakah Lukisan atau foto keluarga? “Kau sudah makan malam?” Suara Adrian berhasil membuat perhatian Eleanor teralihkan. Wanita itu menatap Adrian yang sudah memakai kaus dan celana panjang. Rambutnya sudah lebih rapi dari tadi, tetapi entah mengapa Eleanor suka dengan rambut basah dan berantakan itu. Eleanor menggeleng pelan, mengusir pikiran anehnya tiap kali dia bersama Adrian. Itu tidak pantas. Biar bagaimana pun, Adrian adalah kakak iparnya, dan dia di sini sebagai janda dari adik Adrian. “Belum,” jawab Eleanor mencoba menepis semua isi piEleanor menunggu Adrian, sesuai dengan perintah pria itu. Dia duduk di seberang kursi kerja Adrian, sementara pria itu ada di kamarnya sana untuk berpakaian. Mata biru itu kembali menangkap bingkai-bingkai besar yang ditutup kain putih. Tidak hanya satu, tetapi ada empat bingkai besar yang ditutup. Eleanor tak tahu apa isi di dalamnya. Apakah Lukisan atau foto keluarga? “Kau sudah makan malam?” Suara Adrian berhasil membuat perhatian Eleanor teralihkan. Wanita itu menatap Adrian yang sudah memakai kaus dan celana panjang. Rambutnya sudah lebih rapi dari tadi, tetapi entah mengapa Eleanor suka dengan rambut basah dan berantakan itu. Eleanor menggeleng pelan, mengusir pikiran anehnya tiap kali dia bersama Adrian. Itu tidak pantas. Biar bagaimana pun, Adrian adalah kakak iparnya, dan dia di sini sebagai janda dari adik Adrian. “Belum,” jawab Eleanor mencoba menepis semua isi pi
Setelah berpikir seharian, Eleanor pada akhirnya memberanikan diri untuk menemui Adrian lebih dulu. Dia merasa tak enak hati karena terus mendiamkan pria itu, sementara Adrian sudah berbaik hati menampung dirinya di rumah ini. Memperlakukan Eleanor seperti nyonya rumah ini sendiri. Eleanor menatap lantai dan pintu kamar di depannya secara bergantian. Di tangannya juga ada vas berisi bunga mawar merah yang sudah dia rangkai dengan bantuan Lucas siang tadi. Eleanor tidak tahu apakah Adrian pulang atau tidak malam ini. Namun, beberapa saat yang lalu dia sempat melihat mobil pria itu masuk, saat Eleanor masih di balkon kamar, dan mendengar langkah kaki di lorong yang sunyi itu. Eleanor membalikkan tubuhnya, berniat untuk kembali ke kamar, dan akan menemui Adrian besok pagi, tetapi lagi-lagi perasaan bersalah bergelayut di
Eleanor turun dari kamar setelah Mary memintanya untuk sarapan. Ini sudah hampir sepuluh hari dia tak melihat Adrian di rumahnya sendiri. Pria itu benar-benar tak menunjukkan wajahnya setelah Eleanor mengejar mobilnya waktu itu. Eleanor menatap sup yang Mary letakkan di atas meja. Hanya satu mangkuk yang artinya, kali Eleanor hanya akan makan sendiri lagi, seperti biasa. “Aku tak melihat Adrian selama beberapa hari ini.” Mary menghentikan gerakan tangannya. Dia menatap Eleanor yang hanya mengaduk-aduk mengkuk supnya. “Tuan sedang mengurusi pekerjaan yang ditinggalkan Tuan Nathan di kantor. Dia menginap di kantor sudah tiga hari ini." Eleanor mengangguk. Pantas saja dia tak melihat Adrian sama sekali. Rupanya pria itu memilih tinggal di kantor, demi menghindarinya. Eleanor memasukkan satu sendok berisi sup ke dalam mulutnya, tetapi entah mengapa tenggorokannya terasa tidak enak. Gangguan makannya semakin memburuk
Setelah satu minggu berlalu, Eleanor tak pernah lagi melihat Adrian berada di sekitarnya. Pria itu tak menunjukkan wajah sama sekali, seolah jika dia menampakkan diri sekali saja bisa membuat Eleanor meledak. Padahal pada kenyataannya, Eleanor ingin sekali bertemu pria itu. Dia ingin melihat Adrian yang selalu menatapnya dengan wajah datar, tanpa ekspresi, tetapi entah mengapa sosok itu seolah memberinya perlindungan dan rasa aman. Mungkin, apa yang dikatakan Mary itu benar. Adrian hanya menganggap Eleanor seperti adiknya. Eleanor menatap ke arah luar, dari atas balkon—tempat yang menjadi kesukaannya selama satu minggu ini. Di luar sana terasa sepi, apalagi saat malam tiba. Para pelayan sudah kembali ke tempat tinggalnya di belakang sana, menyisakan beberapa penjaga saja termasuk Lucas. Biasanya Eleanor akan malam bersama Adrian, tetapi sejak seming
Eleanor tak ada melihat Adrian lagi semenjak dia mengusir pria itu tadi. Hanya Mary yang datang beberapa saat yang lalu untuk memeriksa kondisinya. Dan ketika wanita paruh baya itu datang lagi dengan segelas cokelat panas yang dibawa, Eleanor hanya menatap kosong. “Nyonya butuh sesuatu untuk menenangkan diri.” Mary meletakkan gelas berisi cokelat panas di atas meja, lalu duduk di samping Eleanor sembari menyentuh lembut punggung wanita itu. “Mungkin dengan cara seperti ini, Nyonya bisa melupakan Tuan Nathan untuk selamanya.” Eleanor mengerti apa maksud perkataan Mary. Tentu saja cara pengkhianatan Nathan padanya, membuat Eleanor menghapus semua jejak kenangan Nathan. Eleanor mengusap air mata yang kembali jatuh, dan dia langsung berbaring di pangkuan Mary. Wanita itu sudah dia anggap seperti ibunya sendiri selama di sini. “Aku ingin keluar dari rumah ini, Mary," ucap Eleanor pelan. Dia ingin
“Kenapa dia melakukan semua ini padaku, Adrian? Apa salahku?” Eleanor terus saja bicara dengan suara bergetar. Tatapan mata berwarna biru itu menyiratkan kepedihan yang mendalam. Adrian melepas pelukannya, kemudian menangkup wajah Eleanor dengan kedua tangannya. “Kau tidak melakukan kesalahan apa pun?” bisik Adrian. Pria itu menyatukan kening mereka—saling menempel seolah mencoba menyalurkan kekuatan yang dia miliki agar Eleanor merasa tak sendirian lagi. “Aku ingin pergi dari tempat ini, Adrian.” “Kau tak akan ke mana pun.” “Aku tak punya siapa pun lagi di sini.” Eleanor menunduk, merasa tak percaya diri. “Aku sendiri di sini. Di sini bukan tempatku karena aku tak pernah diterima selama ini.” Adrian menggeleng pelan. Masih dengan posisi yang sama. “Tempatmu di sini, Lea. Ada aku di sini. Rumahmu di sini.” Eleanor menjauhkan wajahnya, dan menurunkan tangan Adrian yang menempel di pipinya. Mata biru itu menatap Adrian dengan berkaca-kaca. “Kau menerimaku karena m







