Mag-log inArunika membuka pintu kamar mandi dengan tangan yang sedingin es. Tepat di detik terakhir, ia melangkah keluar.
Tubuhnya kaku, lingerie hitam tipis itu mengekspos hampir seluruh kulitnya, menonjolkan lekuk tubuhnya dengan cara yang membuatnya merasa telanjang bulat di bawah lampu villa yang terang. Bisma, yang sedang bersandar di pinggiran sofa, langsung menoleh. Tatapannya jatuh pada Arunika, menelusuri setiap jengkal kulit yang terekspos. Namun, tidak ada binar nafsu yang menjijikkan di sana yang ada hanyalah sorot mata seorang pria yang sedang melihat kehancuran dari pilihannya sendiri. “Aku tidak pernah menyangka akhirnya bisa membuatmu melakukan ini,” celetuk Bisma. Nada suaranya bukan penuh hasrat, melainkan penuh kepahitan yang dibungkus penghinaan. Mata Arunika memerah, panas oleh amarah yang tertahan. “Apa lagi yang kamu mau? Aku sudah memakainya. Aku sudah ada di depanmu!” Bisma tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, perlahan namun pasti, hingga aroma maskulinnya yang tajam menyerang indra penciuman Arunika. Ia berhenti tepat di depan wanita itu. Jarak mereka begitu tipis hingga Arunika bisa merasakan panas tubuh Bisma, namun pria itu tidak menyentuhnya. Ia hanya menatap Arunika dengan tatapan predator yang sedang mengamati mangsanya yang terjepit. “Aku belum memulai,” bisiknya rendah. Tepat saat itu, ponsel Bisma di atas meja bergetar hebat. Nama 'Reyhan' muncul di layar. Bisma menyeringai kejam. Ia mengambil ponsel itu, tapi bukannya mematikan, ia justru menekan tombol hijau dan menyalakan speakerphone. “Dengar, Aru,” bisik Bisma, suaranya kini terdengar sangat dalam tepat di samping wajahnya. “Lakukan perintahku.” Bisma tidak memberikan celah bagi Arunika untuk memprotes. Ia tidak menyergapnya. Tidak menyentuh kulitnya. Sebaliknya, Bisma secara tiba-tiba mencengkeram lengan sofa di samping Arunika dan mengguncangnya dengan kasar. Krieet... krieet... Suara gesekan kayu sofa dan derit ranjang di dekat mereka terdengar begitu provokatif melalui corong ponsel. Bisma kemudian mendekatkan wajahnya ke leher Arunika, bukan untuk mencium, melainkan untuk membisikkan perintah yang menghancurkan harga diri wanita itu. “Mendesahlah.” perintah Bisma, suaranya berat dan menekan. Arunika menggeleng kuat, air mata meluncur deras. Namun Bisma tidak berhenti. Ia terus mengguncang perabotan di sekitar mereka, menciptakan kegaduhan yang hanya bisa diartikan satu hal oleh siapa pun yang mendengar dari balik telepon. “Ah...mas... jangan...” Arunika akhirnya terisak, suaranya pecah dan bergetar hebat. Namun di telinga Reyhan yang mendengarkan di seberang sana, isakan itu terdengar seperti rintihan yang ambigu. “Lagi.” desis Bisma. Tangannya yang satu lagi dengan sengaja memukul permukaan kasur dengan ritme yang sama, menciptakan suara yang semakin intens. “Ahh... ahh... ahh!” Arunika memekik saat Bisma dengan sengaja menyentak bahunya agar wanita itu kehilangan keseimbangan dan jatuh ke atas tumpukan bantal. Di seberang telepon, suara napas Reyhan terdengar memburu, kasar, dan penuh penderitaan. Hening yang mencekik menyusul sebelum suara Reyhan yang gemetar terdengar lirih, "Aru... kamu..." Bisma menyeringai kejam. Ia tidak butuh menyentuh tubuh Arunika untuk memuaskan dendamnya. Melihat Reyhan hancur melalui suara-suara manipulatif ini sudah cukup baginya. Ia mendekatkan ponsel itu ke bibirnya sendiri, matanya tetap menatap Arunika yang sedang meringkuk ketakutan di atas ranjang. "Dengar itu, Reyhan?" Bisma berbisik ke arah ponsel dengan suara berat yang serak. "Istrimu... sedang menikmati pembayarannya. Terima kasih sudah bertransaksi. Mulai malam ini dia bukan lagi urusanmu. Jangan pernah berani menelepon milikku lagi." Bisma memutuskan sambungan telepon itu dengan satu sentuhan kasar. Keheningan mendadak jatuh menyergap ruangan. Bisma berdiri tegak, menjauhkan dirinya dari Arunika. Tidak ada lagi sisa seringai jahat di wajahnya, yang tersisa hanyalah tatapan dingin yang hampa. Ia melemparkan jubah mandi tebal ke arah Arunika yang masih gemetar. "Tutup tubuhmu," ujar Bisma datar, suaranya kembali normal, seolah kejadian barusan hanyalah sebuah transaksi bisnis yang membosankan. "Aku sudah membuat dia merasakan apa yang kurasakan dulu. Sekarang, tidurlah. Aku tidak akan menyentuh yang memang bukan milikku.”"Viktor...""Hm?""Bangun."Viktor membuka mata perlahan. Cahaya pagi menyusup melalui celah tirai. Arunika duduk di tepi ranjang, tangannya memegangi perutnya yang kini telah membesar."Ada apa?""Aku lapar."Viktor langsung bangun. "Mau makan apa?"Arunika berpikir sejenak. "Entahlah.""Buah?""Entahlah.""Roti?""Entahlah.""Sup?"Arunika menatapnya. "Aku tidak tahu."Viktor menghela napas kecil. "Kau sedang menginginkan sesuatu, tapi belum tahu apa.""Iya.""Baik. Aku akan meminta dapur menyiapkan semuanya."Arunika tertawa. "Jangan berlebihan.""Kau sedang hamil.""Dan aku masih bisa makan sendiri.""Aku tahu." Viktor mendekat, lalu mencium keningnya lembut. "Aku hanya ingin memanjakanmu."Arunika tersenyum. "Kalau begitu aku tidak akan melarang."Viktor hendak keluar, tetapi Arunika tiba-tiba menahan tangannya. "Viktor.""Iya?""Aku ingin sesuatu.""Apa?""Peluk aku dulu."Tanpa kata, Viktor menariknya ke dalam pelukan — tenang, hangat, tidak terburu-buru. Berbeda dengan masa la
"Viktor, jangan sentuh itu!"Tangan Viktor yang baru saja hendak memindahkan sebuah kotak langsung berhenti di udara. Ia menoleh dan melihat Arunika berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan bertolak pinggang."Apa?""Itu jangan dipindahkan.""Kenapa?""Karena aku sudah menatanya."Viktor menatap kotak besar di tangannya, lalu melihat ruangan yang sedang mereka siapkan. "Ruangan ini bahkan belum selesai.""Justru karena itu." Arunika berjalan mendekat dan mengambil kotak itu dari tangannya.Viktor menghela napas. "Kalau begitu katakan apa yang harus kulakukan.""Duduk.""Aku bisa membantu.""Duduk."Viktor menurut. Ia duduk di kursi sambil memperhatikan istrinya yang sibuk mengatur benda-benda kecil. Beberapa bulan terakhir telah mengubah rumah itu sepenuhnya. Tidak ada lagi suasana tegang. Tidak ada lagi orang-orang yang datang membawa laporan tentang musuh. Kini suara yang paling sering terdengar adalah tawa Arunika — dan suara Viktor yang semakin sering mengalah.Larry pernah ber
"Viktor, kau membuatku sulit bernapas.""Aku hanya memelukmu.""Pelukanmu terlalu erat."Viktor langsung melonggarkan lengannya. "Maaf."Arunika menoleh, menatapnya beberapa detik, lalu tertawa kecil. "Kau benar-benar berubah.""Bagaimana?""Dulu kau tidak pernah meminta maaf secepat ini."Viktor mengangkat alis. "Karena dulu aku belum tahu istriku sedang membawa anakku."Arunika spontan menyentuh perutnya. Belum ada perubahan yang terlihat, tetapi sejak mengetahui kehamilannya, setiap kali tangannya menyentuh sana, ada kehangatan yang sulit dijelaskan."Kau bahagia?"Viktor menatapnya. "Sangat.""Takut?""Juga."Arunika tersenyum. "Setidaknya kau jujur.""Aku takut tidak bisa menjadi ayah yang baik."Arunika menggeser tubuhnya mendekat. "Kau akan belajar.""Kalau aku salah?""Kita belajar bersama."Viktor terdiam, lalu mencium keningnya lembut. "Baik."Hari-hari berikutnya berubah menjadi sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan. Rumah yang dulu dipenuhi penjaga dan laporan kini lebi
"Dok, bagaimana?"Viktor bahkan belum memberi dokter itu kesempatan untuk duduk. Sejak pagi, pria itu terlihat jauh lebih tegang daripada Arunika. Dokter Maya tersenyum kecil sambil menutup berkas pemeriksaan."Tenang, Tuan Viktor.""Aku tenang."Arunika yang duduk di sampingnya langsung menoleh. "Kau tidak tenang.""Aku tenang.""Sejak masuk tadi tanganmu dingin."Viktor menatapnya. "Aku hanya memastikan kau baik-baik saja."Dokter Maya menahan senyum. "Kalau begitu, saya rasa Nyonya Arunika yang harus memberi tahu."Arunika mengerutkan kening. "Memberi tahu apa?"Dokter Maya menyerahkan hasil pemeriksaan. "Selamat."Satu kata itu membuat Arunika terdiam. Viktor juga membeku."Kehamilannya positif."Arunika menatap kertas di tangannya. Untuk beberapa detik, ia seperti lupa bagaimana caranya bernapas. "Benar?""Benar."Viktor menatap dokter itu. "Berapa usianya?""Masih sangat awal. Karena itu saya sarankan jangan terlalu banyak aktivitas berat. Nyonya juga butuh istirahat dan menjaga
"Apa isi kotak itu?" Pertanyaan Arunika membuat ruangan tua itu kembali sunyi. Viktor berdiri di samping meja, menatap benda kecil yang terbungkus kain di dalam kotak besi. Sementara Alyana berdiri beberapa langkah dari putrinya, seolah sedang menunggu momen yang tepat untuk mengungkapkan kebenaran yang telah ia simpan sendirian selama puluhan tahun. Arunika tanpa sadar menyentuh perutnya. Rasa mual tadi memang sudah mereda, tetapi sensasi aneh itu belum hilang sepenuhnya. Viktor menyadarinya. "Kita periksa besok pagi." "Aku tahu." "Dan malam ini kau tidak boleh memikirkan hal-hal yang macam-macam." Arunika menatapnya. "Bagaimana aku bisa tidak berpikir macam-macam setelah menemukan ibuku ternyata masih hidup?" Alyana menunduk. "Maaf." "Aku tidak membutuhkan permintaan maaf." "Kalau begitu apa yang kau butuhkan?" "Kebenaran." Satu kata itu membuat Alyana menarik napas panjang. "Baik. Sudah waktunya kau mengetahui semuanya." Ia berjalan mendekati meja. Viktor ber
"Maaf..." Suara perempuan itu kembali terdengar. "...aku terlambat pulang."Arunika tidak bergerak. Matanya terpaku pada wajah wanita di ambang pintu. Wajah yang terasa asing, namun juga begitu akrab — seolah ada bagian dari dirinya yang mengenal perempuan itu jauh sebelum pikirannya mampu mengingat."Siapa kau?" Suara Arunika bergetar.Wanita itu menelan ludah. "Namaku Liora."Arunika mengerutkan kening. "Liora?""Nama yang kupakai selama bertahun-tahun." Perempuan itu melangkah masuk. "Tapi nama yang diberikan kepadaku ketika aku lahir adalah..." Ia berhenti, matanya mulai berkaca-kaca. "...Alyana."Arunika membeku.Viktor langsung menatap wanita itu dengan waspada. "Kau ibu Arunika?"Alyana mengangguk. "Ya."Arunika tertawa kecil, namun air matanya justru jatuh. "Mustahil. Ayah bilang kau sudah meninggal.""Aku tahu.""Semua orang bilang begitu.""Aku tahu.""Kalau begitu kenapa?"Alyana menundukkan kepala. "Karena kalau aku tetap hidup sebagai Alyana, mereka akan menemukanmu."Aru
Keheningan menekan setelah pintu tertutup. Arunika meringkuk di atas ranjang, jubah mandi tebal itu tak mampu menghalau dingin yang merayap dari dalam dirinya. Bukan lagi tentang pengkhianatan Reyhan, tapi tentang keruntuhan ilusi yang ia bangun sendiri. Selama ini aku salah. Pagi datang membawa
“Tidak…” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. Namun ruangan itu terlalu sunyi. Bahkan bisikan sekecil itu sampai ke telinga Bisma. Pria itu tersenyum tipis. Bukan senyum hangat, melainkan senyum getir yang penuh kendali, seolah ia sudah tahu akhir dari perlawanan ini jauh sebelum dimulai. Di ma
Jawaban itu jatuh seperti vonis mati. Ruangan luas di villa itu mendadak terasa menyempit, oksigen seolah tersedot keluar meninggalkan Arunika yang sesak dalam kehampaan. Ia menatap Bisma dengan tatapan tak percaya. Bukan hanya karena makna kotor di baliknya, tapi karena Bisma mengatakannya denga
Bisma Megantara. Laki-laki yang dulu ia tolak mentah-mentah di depan keluarga besar demi Reyhan. Dan kini, pria itulah yang baru saja membeli hidupnya di bawah remang lampu villa yang mencekam."Jadi pria yang harus aku— Apa maksudmu mas?" batinnya sakit."Kamu..."Arunika membuka mulut, mundur s







