MasukKeheningan menekan setelah pintu tertutup. Arunika meringkuk di atas ranjang, jubah mandi tebal itu tak mampu menghalau dingin yang merayap dari dalam dirinya. Bukan lagi tentang pengkhianatan Reyhan, tapi tentang keruntuhan ilusi yang ia bangun sendiri.
Selama ini aku salah. Pagi datang membawa cahaya yang menembus tirai. Di ruang makan, Bisma sudah menunggu. Pria itu tampak rapi dan tenang, seolah badai semalam hanyalah mimpi buruk yang lewat. "Duduk," ucap Bisma singkat. Arunika menurut, meski tubuhnya terasa kaku. Sunyi menyelimuti mereka, namun kali ini bukan sunyi yang mencekam, melainkan penuh tekanan tak kasat mata. "Kamu harus makan," Bisma mendorong piring ke arahnya. "Tubuhmu butuh energi." "Aku tidak bisa," bisik Arunika. "Perutku mual karena kalian berdua." Bisma tersenyum getir. "Jujur. Itu bagus. Aku tidak suka kebohongan, Arunika. Aku sudah cukup sering dibohongi." tangannya mengambil sepotong roti dengan butter di atas piring Arunika. “Tapi, tetap saja kamu butuh makan. Kalau tidak makan, darimana kamu mendapatkan energy untuk membalas Reyhan?” Lima tahun lalu, ia menolak lamaran Bisma karena dia bilang mencintai Reyhan, padahal ia diam-diam menerima Reyhan demi melunasi utang keluarganya. Kini, ia berdiri di depan pria yang sama—bukan sebagai wanita yang bebas, tapi sebagai barang yang dibeli. "Bisma... semalam kamu bilang kamu membeliku." Bisma meletakkan cangkirnya perlahan. "Aku tidak bilang begitu. Aku bilang Reyhan menjualmu." "Itu sama saja!" "Tidak." Suara Bisma mengeras. "Aku tidak membayar Reyhan untuk memilikimu, Aru. Aku membayarnya untuk melepaskanmu, puas?" Arunika membeku. Bisma berdiri, menatap jendela yang membelakanginya. "Perusahaannya hancur karena judi. Dia melihatmu sebagai aset terakhir. Jadi aku menawarkan kesepakatan: aku lunasi seluruh utangnya, dan sebagai gantinya, dia harus menceraikanmu. Dan kamu... harus tinggal bersamaku." "Kenapa?" bisik Arunika, air mata mulai menggenang. "Kenapa kamu masih mau melakukan ini?" "Karena aku tidak bisa berhenti!" bentak Bisma. Itu bukan bentakan marah, melainkan luka yang meledak. Ia berbalik dengan mata yang hancur. "Aku mencoba membencimu, Aru. Aku pindah ke luar negeri, tapi setiap malam saat aku mematikan lampu, hanya bayanganmu yang muncul." Bisma melangkah mendekat, namun berhenti di jarak aman. "Cinta bukan pilihan. Dan kamu sudah menjadi bagian dari diriku sebelum aku sempat memutuskan apakah aku menginginkannya atau tidak." Hening. Isak tangis Arunika pecah tanpa suara. Bisma berlutut di hadapannya—pria berkuasa itu kini tampak begitu rendah. "Aku minta maaf karena melakukannya dengan cara yang salah. Tapi aku tidak menyesal. Karena sekarang kamu di sini." Arunika menatap pria itu. Di balik manipulasi ini, ada kerentanan yang mentah. Dia mencintaiku dengan cara yang paling sakit sekaligus paling tulus. "Aku tidak bisa memaafkanmu sekarang," ucap Arunika pelan. "Tapi, aku tidak punya tempat kembali." suara Arunika terdengar sangat lirih. Bisma meraih tangan Arunika. Hangat dan kuat. "Kenapa tidak memanfaatkanku?." Arunika menatap genggaman tangan mereka. Hangatnya menjalar, meruntuhkan sisa-sisa pertahanannya. "Apa aku bisa dan boleh setelah apa yang aku lakukan di masa lalu?" Bisma berdiri perlahan tanpa melepaskan tangan Arunika. Ia menarik tangan itu hingga Arunika terpaksa ikut berdiri, menghapus jarak di antara mereka sampai dada mereka hampir bersentuhan. Tangan Bisma yang bebas naik, perlahan mengunci tengkuk Arunika, memaksa wanita itu mendongak menatap matanya yang gelap dan penuh tuntutan. "Lima tahun aku membiarkanmu memilih orang lain, dan lihat di mana kamu berakhir sekarang," bisik Bisma, suaranya rendah dan serak, bergetar tepat di depan bibir Arunika. Bisma menunduk lebih dalam. Ujung hidung mereka bersentuhan. Aroma maskulin dan panas tubuh pria itu seolah menelan kesadaran Arunika. "Malam ini, pintu kamarku tidak akan terkunci," gumam Bisma, jarinya mengusap kulit sensitif di belakang telinga Arunika. "Dan aku tidak akan bertanya lagi apakah kamu membenciku atau tidak. Aku hanya ingin tahu satu hal..." Bisma berhenti tepat satu milimeter sebelum bibir mereka menyatu. Napas mereka memburu, beradu dalam ruang sempit yang mencekam. "Kalau aku tidak berhenti di sini, apakah kamu akan mendorongku... atau justru menarikku lebih dekat, Aru?" Bisma tidak bergerak. Ia membiarkan bibir mereka nyaris bersentuhan, menunggu reaksi sekecil apa pun dari Arunika—entah itu dorongan di dadanya atau cengkeraman di kemejanya—sementara jantung Arunika berdentum begitu keras hingga ia yakin Bisma bisa merasakannya."Viktor...""Hm?""Bangun."Viktor membuka mata perlahan. Cahaya pagi menyusup melalui celah tirai. Arunika duduk di tepi ranjang, tangannya memegangi perutnya yang kini telah membesar."Ada apa?""Aku lapar."Viktor langsung bangun. "Mau makan apa?"Arunika berpikir sejenak. "Entahlah.""Buah?""Entahlah.""Roti?""Entahlah.""Sup?"Arunika menatapnya. "Aku tidak tahu."Viktor menghela napas kecil. "Kau sedang menginginkan sesuatu, tapi belum tahu apa.""Iya.""Baik. Aku akan meminta dapur menyiapkan semuanya."Arunika tertawa. "Jangan berlebihan.""Kau sedang hamil.""Dan aku masih bisa makan sendiri.""Aku tahu." Viktor mendekat, lalu mencium keningnya lembut. "Aku hanya ingin memanjakanmu."Arunika tersenyum. "Kalau begitu aku tidak akan melarang."Viktor hendak keluar, tetapi Arunika tiba-tiba menahan tangannya. "Viktor.""Iya?""Aku ingin sesuatu.""Apa?""Peluk aku dulu."Tanpa kata, Viktor menariknya ke dalam pelukan — tenang, hangat, tidak terburu-buru. Berbeda dengan masa la
"Viktor, jangan sentuh itu!"Tangan Viktor yang baru saja hendak memindahkan sebuah kotak langsung berhenti di udara. Ia menoleh dan melihat Arunika berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan bertolak pinggang."Apa?""Itu jangan dipindahkan.""Kenapa?""Karena aku sudah menatanya."Viktor menatap kotak besar di tangannya, lalu melihat ruangan yang sedang mereka siapkan. "Ruangan ini bahkan belum selesai.""Justru karena itu." Arunika berjalan mendekat dan mengambil kotak itu dari tangannya.Viktor menghela napas. "Kalau begitu katakan apa yang harus kulakukan.""Duduk.""Aku bisa membantu.""Duduk."Viktor menurut. Ia duduk di kursi sambil memperhatikan istrinya yang sibuk mengatur benda-benda kecil. Beberapa bulan terakhir telah mengubah rumah itu sepenuhnya. Tidak ada lagi suasana tegang. Tidak ada lagi orang-orang yang datang membawa laporan tentang musuh. Kini suara yang paling sering terdengar adalah tawa Arunika — dan suara Viktor yang semakin sering mengalah.Larry pernah ber
"Viktor, kau membuatku sulit bernapas.""Aku hanya memelukmu.""Pelukanmu terlalu erat."Viktor langsung melonggarkan lengannya. "Maaf."Arunika menoleh, menatapnya beberapa detik, lalu tertawa kecil. "Kau benar-benar berubah.""Bagaimana?""Dulu kau tidak pernah meminta maaf secepat ini."Viktor mengangkat alis. "Karena dulu aku belum tahu istriku sedang membawa anakku."Arunika spontan menyentuh perutnya. Belum ada perubahan yang terlihat, tetapi sejak mengetahui kehamilannya, setiap kali tangannya menyentuh sana, ada kehangatan yang sulit dijelaskan."Kau bahagia?"Viktor menatapnya. "Sangat.""Takut?""Juga."Arunika tersenyum. "Setidaknya kau jujur.""Aku takut tidak bisa menjadi ayah yang baik."Arunika menggeser tubuhnya mendekat. "Kau akan belajar.""Kalau aku salah?""Kita belajar bersama."Viktor terdiam, lalu mencium keningnya lembut. "Baik."Hari-hari berikutnya berubah menjadi sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan. Rumah yang dulu dipenuhi penjaga dan laporan kini lebi
"Dok, bagaimana?"Viktor bahkan belum memberi dokter itu kesempatan untuk duduk. Sejak pagi, pria itu terlihat jauh lebih tegang daripada Arunika. Dokter Maya tersenyum kecil sambil menutup berkas pemeriksaan."Tenang, Tuan Viktor.""Aku tenang."Arunika yang duduk di sampingnya langsung menoleh. "Kau tidak tenang.""Aku tenang.""Sejak masuk tadi tanganmu dingin."Viktor menatapnya. "Aku hanya memastikan kau baik-baik saja."Dokter Maya menahan senyum. "Kalau begitu, saya rasa Nyonya Arunika yang harus memberi tahu."Arunika mengerutkan kening. "Memberi tahu apa?"Dokter Maya menyerahkan hasil pemeriksaan. "Selamat."Satu kata itu membuat Arunika terdiam. Viktor juga membeku."Kehamilannya positif."Arunika menatap kertas di tangannya. Untuk beberapa detik, ia seperti lupa bagaimana caranya bernapas. "Benar?""Benar."Viktor menatap dokter itu. "Berapa usianya?""Masih sangat awal. Karena itu saya sarankan jangan terlalu banyak aktivitas berat. Nyonya juga butuh istirahat dan menjaga
"Apa isi kotak itu?" Pertanyaan Arunika membuat ruangan tua itu kembali sunyi. Viktor berdiri di samping meja, menatap benda kecil yang terbungkus kain di dalam kotak besi. Sementara Alyana berdiri beberapa langkah dari putrinya, seolah sedang menunggu momen yang tepat untuk mengungkapkan kebenaran yang telah ia simpan sendirian selama puluhan tahun. Arunika tanpa sadar menyentuh perutnya. Rasa mual tadi memang sudah mereda, tetapi sensasi aneh itu belum hilang sepenuhnya. Viktor menyadarinya. "Kita periksa besok pagi." "Aku tahu." "Dan malam ini kau tidak boleh memikirkan hal-hal yang macam-macam." Arunika menatapnya. "Bagaimana aku bisa tidak berpikir macam-macam setelah menemukan ibuku ternyata masih hidup?" Alyana menunduk. "Maaf." "Aku tidak membutuhkan permintaan maaf." "Kalau begitu apa yang kau butuhkan?" "Kebenaran." Satu kata itu membuat Alyana menarik napas panjang. "Baik. Sudah waktunya kau mengetahui semuanya." Ia berjalan mendekati meja. Viktor ber
"Maaf..." Suara perempuan itu kembali terdengar. "...aku terlambat pulang."Arunika tidak bergerak. Matanya terpaku pada wajah wanita di ambang pintu. Wajah yang terasa asing, namun juga begitu akrab — seolah ada bagian dari dirinya yang mengenal perempuan itu jauh sebelum pikirannya mampu mengingat."Siapa kau?" Suara Arunika bergetar.Wanita itu menelan ludah. "Namaku Liora."Arunika mengerutkan kening. "Liora?""Nama yang kupakai selama bertahun-tahun." Perempuan itu melangkah masuk. "Tapi nama yang diberikan kepadaku ketika aku lahir adalah..." Ia berhenti, matanya mulai berkaca-kaca. "...Alyana."Arunika membeku.Viktor langsung menatap wanita itu dengan waspada. "Kau ibu Arunika?"Alyana mengangguk. "Ya."Arunika tertawa kecil, namun air matanya justru jatuh. "Mustahil. Ayah bilang kau sudah meninggal.""Aku tahu.""Semua orang bilang begitu.""Aku tahu.""Kalau begitu kenapa?"Alyana menundukkan kepala. "Karena kalau aku tetap hidup sebagai Alyana, mereka akan menemukanmu."Aru
Ruangan itu masih dipenuhi bau mesiu.Asap tipis dari moncong pistol Bisma perlahan memudar di udara dingin kamar, bercampur dengan aroma hujan yang masuk dari jendela setengah terbuka. Lampu kuning redup di langit-langit berkedip pelan, menciptakan bayangan panjang di wajah ketiga orang di ruangan
Arunika membuka pintu kamar mandi dengan tangan yang sedingin es. Tepat di detik terakhir, ia melangkah keluar. Tubuhnya kaku, lingerie hitam tipis itu mengekspos hampir seluruh kulitnya, menonjolkan lekuk tubuhnya dengan cara yang membuatnya merasa telanjang bulat di bawah lampu villa yang terang
“Tidak…” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. Namun ruangan itu terlalu sunyi. Bahkan bisikan sekecil itu sampai ke telinga Bisma. Pria itu tersenyum tipis. Bukan senyum hangat, melainkan senyum getir yang penuh kendali, seolah ia sudah tahu akhir dari perlawanan ini jauh sebelum dimulai. Di ma
Jawaban itu jatuh seperti vonis mati. Ruangan luas di villa itu mendadak terasa menyempit, oksigen seolah tersedot keluar meninggalkan Arunika yang sesak dalam kehampaan. Ia menatap Bisma dengan tatapan tak percaya. Bukan hanya karena makna kotor di baliknya, tapi karena Bisma mengatakannya denga







