Masuk“Tidak…” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.
Namun ruangan itu terlalu sunyi. Bahkan bisikan sekecil itu sampai ke telinga Bisma. Pria itu tersenyum tipis. Bukan senyum hangat, melainkan senyum getir yang penuh kendali, seolah ia sudah tahu akhir dari perlawanan ini jauh sebelum dimulai. Di mata Bisma, Arunika bukan sekadar wanita dari masa lalu, dia adalah luka yang gagal mengering, dan malam ini, luka itu harus dipaksa melihat kenyataan. “Kamu menyuruhku menggunakan itu? Tidak... kamu sudah gila, Bisma!” “Kamu masih belum paham situasimu, ya, Aru?” Bisma melangkah mendekat. Satu langkah, dua langkah, hingga Arunika terpojok di sudut ruangan yang remang. Punggung wanita itu menyentuh dinding yang dingin, namun tatapan Bisma jauh lebih membekukan. Bisma mengurung tubuh mungil itu dengan kedua lengannya yang tertumpu pada dinding, menciptakan sangkar tak kasat mata yang menyesakkan. “Kalau kamu tidak setuju…” suara Bisma merendah, berat oleh emosi yang tertahan, “Lantas, kenapa kamu ada di sini? Kenapa suamimu memberikan kode akses villa ini padaku jika bukan karena dia sudah melepaskan haknya atasmu?” Pertanyaan itu menampar lebih keras dari apa pun. Arunika terdiam, napasnya tercekat di pangkal tenggorokan. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa Reyhan mencintainya, namun kenyataan bahwa ia berdiri di villa pribadi milik Bisma atas izin suaminya sendiri adalah bukti yang tak terbantahkan. Bisma mengangkat tangan, menyentuh dagu Arunika dengan ibu jarinya, memaksanya menatap lurus ke dalam matanya yang kelam mata yang menyimpan badai amarah sekaligus kerinduan yang ia tekan dalam-dalam. “Ini bukan soal suka atau tidak suka,” lanjut Bisma pelan, suaranya kini selembut sutra namun setajam belati. “Ini soal pilihan yang sudah kamu buat sejak dulu. Kamu memilih untuk percaya pada orang yang salah, Aru. Dan malam ini, aku hanya menunjukkan kepadamu seberapa salah pilihanmu itu.” “Aku tidak memilih ini!” bentak Arunika, akhirnya. Air matanya jatuh lagi, membasahi jemari Bisma yang masih berada di dagunya. “Aku memilih Reyhan untuk menyelamatkan keluargaku! Aku tidak pernah memilihmu!” Sunyi. Kalimat itu menggantung di udara seperti sembilu yang menyayat udara. Untuk sepersekian detik, rahang Bisma menegang hebat. Ada sesuatu yang retak di balik topeng ketenangannya sebuah luka lama yang kembali menganga lebar. Namun, secepat itu pula, ia menutupinya dengan kemarahan yang dingin. Ia melepaskan dagu Arunika, jarinya sempat mengelus leher jenjang wanita itu sebelum mencengkeramnya pelan. “Ya,” kata Bisma dengan nada sedingin es, matanya menatap lekat pada manik mata Arunika yang bergetar. “Dan itu adalah kesalahan terbesarmu. Memercayakan hidupmu pada pria yang justru menukarmu dengan selembar cek dan kebebasannya sendiri. Kamu menyebutnya malaikat, tapi malaikatmu baru saja menjual sayapmu agar dia bisa tetap terbang.” Bisma melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kecil dan berbalik. Ia berjalan tenang ke arah meja di tengah ruangan, mengambil gelas kristalnya, dan meneguk cairan amber di dalamnya tanpa terburu-buru. Ia tampak seperti seorang penguasa yang sedang menikmati keruntuhan kerajaan musuhnya, namun di dalam hatinya, setiap tangisan Arunika adalah duri yang ikut menusuk jantungnya. Tanpa menoleh, ia berujar dengan nada mutlak, “Aku beri kamu waktu lima menit. Pakai itu.” Arunika membeku. Matanya melirik kain hitam tipis yang tergeletak di atas ranjang king size di tengah ruangan. Kain yang lebih pantas disebut penghinaan daripada pakaian. “Kalau setelah lima menit kamu masih berdiri di situ dengan pakaian yang diberikan pria yang sudah membuangmu itu…” suara Bisma datar namun mengandung ancaman yang jelas, “…aku akan menganggap kamu memilih cara yang lebih sulit. Dan percayalah, kamu tidak akan suka caraku jika aku sudah kehilangan kesabaran. Aku tidak akan lagi bernegosiasi dengan kata-kata.” Perlahan, Arunika menggenggam tangannya sendiri hingga buku jarinya memutih. Lima menit. Hanya lima menit untuk menentukan sisa hidupnya. Pikirannya berputar liar antara melarikan diri atau menyerah pada kehinaan ini. Namun, ia tahu tidak ada pintu yang terbuka baginya di luar sana. Bayangan ayahnya yang sakit-sakitan dan adiknya yang masih butuh biaya sekolah melintas, diikuti wajah Reyhan yang memohon padanya untuk "membantu" sekali saja. Air matanya jatuh semakin deras. Ia merasa seperti domba yang digiring menuju pembantaian oleh gembalanya sendiri. Suara detak jam di dinding villa terdengar seperti detak jantung kematian. Lalu, suara Bisma kembali terdengar, rendah dan tajam, memutus keraguan Arunika yang tersisa. “Atau…” Bisma menjeda sejenak, memberikan tekanan psikologis yang luar biasa. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap punggung Arunika yang gemetar hebat. “Jangan-jangan kau ingin aku yang memakaikannya? Agar kau punya alasan untuk menyalahkan aku atas apa yang terjadi malam ini?”"Viktor...""Hm?""Bangun."Viktor membuka mata perlahan. Cahaya pagi menyusup melalui celah tirai. Arunika duduk di tepi ranjang, tangannya memegangi perutnya yang kini telah membesar."Ada apa?""Aku lapar."Viktor langsung bangun. "Mau makan apa?"Arunika berpikir sejenak. "Entahlah.""Buah?""Entahlah.""Roti?""Entahlah.""Sup?"Arunika menatapnya. "Aku tidak tahu."Viktor menghela napas kecil. "Kau sedang menginginkan sesuatu, tapi belum tahu apa.""Iya.""Baik. Aku akan meminta dapur menyiapkan semuanya."Arunika tertawa. "Jangan berlebihan.""Kau sedang hamil.""Dan aku masih bisa makan sendiri.""Aku tahu." Viktor mendekat, lalu mencium keningnya lembut. "Aku hanya ingin memanjakanmu."Arunika tersenyum. "Kalau begitu aku tidak akan melarang."Viktor hendak keluar, tetapi Arunika tiba-tiba menahan tangannya. "Viktor.""Iya?""Aku ingin sesuatu.""Apa?""Peluk aku dulu."Tanpa kata, Viktor menariknya ke dalam pelukan — tenang, hangat, tidak terburu-buru. Berbeda dengan masa la
"Viktor, jangan sentuh itu!"Tangan Viktor yang baru saja hendak memindahkan sebuah kotak langsung berhenti di udara. Ia menoleh dan melihat Arunika berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan bertolak pinggang."Apa?""Itu jangan dipindahkan.""Kenapa?""Karena aku sudah menatanya."Viktor menatap kotak besar di tangannya, lalu melihat ruangan yang sedang mereka siapkan. "Ruangan ini bahkan belum selesai.""Justru karena itu." Arunika berjalan mendekat dan mengambil kotak itu dari tangannya.Viktor menghela napas. "Kalau begitu katakan apa yang harus kulakukan.""Duduk.""Aku bisa membantu.""Duduk."Viktor menurut. Ia duduk di kursi sambil memperhatikan istrinya yang sibuk mengatur benda-benda kecil. Beberapa bulan terakhir telah mengubah rumah itu sepenuhnya. Tidak ada lagi suasana tegang. Tidak ada lagi orang-orang yang datang membawa laporan tentang musuh. Kini suara yang paling sering terdengar adalah tawa Arunika — dan suara Viktor yang semakin sering mengalah.Larry pernah ber
"Viktor, kau membuatku sulit bernapas.""Aku hanya memelukmu.""Pelukanmu terlalu erat."Viktor langsung melonggarkan lengannya. "Maaf."Arunika menoleh, menatapnya beberapa detik, lalu tertawa kecil. "Kau benar-benar berubah.""Bagaimana?""Dulu kau tidak pernah meminta maaf secepat ini."Viktor mengangkat alis. "Karena dulu aku belum tahu istriku sedang membawa anakku."Arunika spontan menyentuh perutnya. Belum ada perubahan yang terlihat, tetapi sejak mengetahui kehamilannya, setiap kali tangannya menyentuh sana, ada kehangatan yang sulit dijelaskan."Kau bahagia?"Viktor menatapnya. "Sangat.""Takut?""Juga."Arunika tersenyum. "Setidaknya kau jujur.""Aku takut tidak bisa menjadi ayah yang baik."Arunika menggeser tubuhnya mendekat. "Kau akan belajar.""Kalau aku salah?""Kita belajar bersama."Viktor terdiam, lalu mencium keningnya lembut. "Baik."Hari-hari berikutnya berubah menjadi sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan. Rumah yang dulu dipenuhi penjaga dan laporan kini lebi
"Dok, bagaimana?"Viktor bahkan belum memberi dokter itu kesempatan untuk duduk. Sejak pagi, pria itu terlihat jauh lebih tegang daripada Arunika. Dokter Maya tersenyum kecil sambil menutup berkas pemeriksaan."Tenang, Tuan Viktor.""Aku tenang."Arunika yang duduk di sampingnya langsung menoleh. "Kau tidak tenang.""Aku tenang.""Sejak masuk tadi tanganmu dingin."Viktor menatapnya. "Aku hanya memastikan kau baik-baik saja."Dokter Maya menahan senyum. "Kalau begitu, saya rasa Nyonya Arunika yang harus memberi tahu."Arunika mengerutkan kening. "Memberi tahu apa?"Dokter Maya menyerahkan hasil pemeriksaan. "Selamat."Satu kata itu membuat Arunika terdiam. Viktor juga membeku."Kehamilannya positif."Arunika menatap kertas di tangannya. Untuk beberapa detik, ia seperti lupa bagaimana caranya bernapas. "Benar?""Benar."Viktor menatap dokter itu. "Berapa usianya?""Masih sangat awal. Karena itu saya sarankan jangan terlalu banyak aktivitas berat. Nyonya juga butuh istirahat dan menjaga
"Apa isi kotak itu?" Pertanyaan Arunika membuat ruangan tua itu kembali sunyi. Viktor berdiri di samping meja, menatap benda kecil yang terbungkus kain di dalam kotak besi. Sementara Alyana berdiri beberapa langkah dari putrinya, seolah sedang menunggu momen yang tepat untuk mengungkapkan kebenaran yang telah ia simpan sendirian selama puluhan tahun. Arunika tanpa sadar menyentuh perutnya. Rasa mual tadi memang sudah mereda, tetapi sensasi aneh itu belum hilang sepenuhnya. Viktor menyadarinya. "Kita periksa besok pagi." "Aku tahu." "Dan malam ini kau tidak boleh memikirkan hal-hal yang macam-macam." Arunika menatapnya. "Bagaimana aku bisa tidak berpikir macam-macam setelah menemukan ibuku ternyata masih hidup?" Alyana menunduk. "Maaf." "Aku tidak membutuhkan permintaan maaf." "Kalau begitu apa yang kau butuhkan?" "Kebenaran." Satu kata itu membuat Alyana menarik napas panjang. "Baik. Sudah waktunya kau mengetahui semuanya." Ia berjalan mendekati meja. Viktor ber
"Maaf..." Suara perempuan itu kembali terdengar. "...aku terlambat pulang."Arunika tidak bergerak. Matanya terpaku pada wajah wanita di ambang pintu. Wajah yang terasa asing, namun juga begitu akrab — seolah ada bagian dari dirinya yang mengenal perempuan itu jauh sebelum pikirannya mampu mengingat."Siapa kau?" Suara Arunika bergetar.Wanita itu menelan ludah. "Namaku Liora."Arunika mengerutkan kening. "Liora?""Nama yang kupakai selama bertahun-tahun." Perempuan itu melangkah masuk. "Tapi nama yang diberikan kepadaku ketika aku lahir adalah..." Ia berhenti, matanya mulai berkaca-kaca. "...Alyana."Arunika membeku.Viktor langsung menatap wanita itu dengan waspada. "Kau ibu Arunika?"Alyana mengangguk. "Ya."Arunika tertawa kecil, namun air matanya justru jatuh. "Mustahil. Ayah bilang kau sudah meninggal.""Aku tahu.""Semua orang bilang begitu.""Aku tahu.""Kalau begitu kenapa?"Alyana menundukkan kepala. "Karena kalau aku tetap hidup sebagai Alyana, mereka akan menemukanmu."Aru
Ruangan itu masih dipenuhi bau mesiu.Asap tipis dari moncong pistol Bisma perlahan memudar di udara dingin kamar, bercampur dengan aroma hujan yang masuk dari jendela setengah terbuka. Lampu kuning redup di langit-langit berkedip pelan, menciptakan bayangan panjang di wajah ketiga orang di ruangan
Keheningan menekan setelah pintu tertutup. Arunika meringkuk di atas ranjang, jubah mandi tebal itu tak mampu menghalau dingin yang merayap dari dalam dirinya. Bukan lagi tentang pengkhianatan Reyhan, tapi tentang keruntuhan ilusi yang ia bangun sendiri. Selama ini aku salah. Pagi datang membawa
Bisma Megantara. Laki-laki yang dulu ia tolak mentah-mentah di depan keluarga besar demi Reyhan. Dan kini, pria itulah yang baru saja membeli hidupnya di bawah remang lampu villa yang mencekam."Jadi pria yang harus aku— Apa maksudmu mas?" batinnya sakit."Kamu..."Arunika membuka mulut, mundur s
Pakai ini, Aru!"Sebuah kotak hitam dilemparkan ke atas ranjang. Arunika menatap isinya dengan mata membulat. Di sana, sehelai gaun berbahan sutra merah darah dengan potongan belahan dada yang sangat rendah dan punggung terbuka tampak berkilauan di bawah lampu kamar."Ini... ini terlalu terbuka, ma







