ログイン“Di mana kamu, Valerie?” Diego meremas cup coffee kosong di tangan. Ia singgah di sebuah cafe saat perjalanan pulang. Seluruh penjuru Cleveland sudah ia telusuri. Namun, ia sama sekali tidak menemukan jejak Valerie. Rumah orang tuanya yang berada di oakridge street terlihat senyap. Semua tetangga menutup rapat mulutnya.Fokus Diego terpecah saat perjalanan pulang hingga membuatnya salah ambil jalur selatan melewati Indiana polis dan perjalanannya harus menempuh waktu lebih lama untuk sampai Chicago."Saya tidak akan melepaskanmu lagi jika menemukanmu. Saya akan kembali merebutmu dari si brengsek itu!"Pandangan Diego beralih melihat ponselnya dan langsung menelpon Evan. Ia tidak bisa menunggu lama jika semua itu tentang Valerie. Ia memerintahkan asistennya untuk mengawasi Thomas dan ia tidak sabar ingin mengetahuinya.“Bagaimana? Kamu sudah dapat informasi?” tanya Diego tajam. Wajahnya mengeras menunggu jawaban asistennya. ujung sepatunya mengetuk aspal menunjukkan kecemasan.“Thoma
Diego memekik kesal di dalam apartemennya. Ia diusir dari rumah sakit dan tidak bisa masuk lagi. Semua ini karena pengaruh Thomas. Fotonya terpampang jelas di depan pintu utama rumah sakit. Seolah dirinya adalah penjahat.Semua keluarga Valerie percaya pada omongan Thomas tentang Diego. Bahkan scandal tentang pelecehannya pada Valerie muncul dan membuat kedua orang tua Valerie tidak menyukainya. “Thomas, sialan! Saya harus buat perhitungan dengannya.” Diego memukul meja makan di dapur. Gelas kristal di atasnya bergetar, jatuh dan pecah, memecah keheningan pikiran Diego yang kusut. Sementara pecahan kacanya dibiarkan berserakan di lantai dapur.“Valerie… kenapa harus bajingan itu?”Diego meremas rambutnya, berjalan mondar-mandir seperti singa terkurung.“Dia memanfaatkan amnesia Valerie,” ujar Diego kesal. Kini kedua tangannya mengepal, matanya menyipit mengingat bagaimana ekspresi Thomas mengejeknya. “Tidak! Saya tidak akan membiarkannya menang!”Benda tipis milik Diego di meja berg
Nama Valerie tertera di papan kecil di samping pintu, bibir Diego tersenyum tipis melihatnya. Reflek, tangannya mendorong pintu saat keadaan sudah aman. Valerie duduk setengah bersandar di ranjang. Rambutnya tergerai, wajahnya terlihat pucat. Ia sedang menatap jendela, tubuhnya menegang saat melihat Diego datang. “Kamu? Apa yang kamu lakukan di sini,” ucap Valerie pelan. “Saya sudah katakan, jangan menggangguku.”Diego menutup pintu tanpa menjawab. Ia melangkah masuk, tatapannya menelusuri wajah Valerie, seolah mencari sesuatu yang seharusnya ada di sana— rasa rindu, kenangan, cinta dan semua ingatan tentangnya.“Kita perlu bicara,” kata Diego pelan. “Sekarang.”Valerie menggeleng cepat. Tangannya mencengkeram selimut. “Tidak. Tolong keluar. Saya tidak ingin bicara denganmu. Kamu tidak bisa memaksaku bajingan!”Diego terkejut mendengar umpatan Valeri. Ia berhenti dan duduk di sisi ranjang. Aroma antiseptik bercampur dengan wangi Vanila yang dulu begitu membuatnya mabuk dan terikat.
Diego mengemudi dengan kecepatan tinggi. Ring road utara Chicago terbentang dingin, mobil putihnya melaju tanpa hambatan. Rahangnya mengeras, pandangannya tidak lepas sedetikpun dari jalan. Ia mengambil ponsel dengan tangan kiri, menekan nama Zayn untuk mencari informasi. “Zayn, kamu sudah dapat infonya?” tanya Diego tanpa basa-basi. “Saya sedang menuju Ohio?”Di ujung sana, Zayn menghela napas pendek. “Saya sudah mencobanya, pihak rumah sakit tidak mau memberikan informasi apapun. Bahkan saya sudah mengakses semua kontak dokter dan rumah sakit di Cleveland. Mereka tidak bisa memberikan info apapun.”Diego mencengkeram setir lebih kuat. “Kenapa mereka menyembunyikan Valerie?”“Pihak keluarganya menutup rapat semua tentang Valerie. Mereka minta menjaga privasi dan pihak rumah sakit tidak bisa memberikannya, bahkan pada dokter sekalipun.”“Shit! Apa maunya?!” Diego berteriak. Emosinya memuncak hingga darahnya mendidih. Ia menekan pedal gas, menambah kecepatan laju mobil. “Diego! Ten
“Diego, kamu sudah minum terlalu banyak.”Zayn menarik gelas whiskey di tangan Diego. Namun, lelaki yang terlihat frustasi itu merebutnya kembali dari tangan Zayn. Ia meneguknya lagi dan kembali menuang whiskey ke dalam gelasnya. Minuman berwarna cokelat pekat itu menjadi tempat pelarian Diego sekarang.“Kamu bisa mati konyol kalau terus minum seperti ini!” Zayn kembali mengambil gelas di tangan Diego.Diego tak bereaksi. Ia beralih mengambil botol whiskey di depannya. Ia meneguknya cepat dan Zayn kembali mengambilnya.“Diego! Apa yang terjadi?” Zayn melihat temannya sangat frustasi.“Bawa ke sini botolnya!” Diego mencoba merebut botol di tangan Zayn.Zayn duduk tenang, tangannya bersedekap, matanya mengikuti tiap gerakan Diego dengan botol whiskey kosong di tangannya. “Dia … mengundurkan diri,” ucap Diego, suaranya terdengar serak. “Dia bilang— menikah.”Zayn menghela napas pelan. “Saya mengerti.”Diego tertawa pendek, “Dia bahkan tidak ingat namaku. Menatapku seperti orang asing, m
Diego tertegun mendengar pertanyaan lelaki tua di depannya. Bibirnya terkatup rapat, nyalinya menciut saat melihat wajah tajam di depannya. “Waktu itu… di Cleveland, kamu mencari Valerie?” tanya ayahnya Valerie. Diego terkejut. Sepertinya, ayahnya Valerie masih mengingat lelaki yang tertidur di mobil saat pagi buta di Cleveland adalah dirinya.Bahkan demi membuat kedua orang tua Valerie tidak curiga dengan menghilangnya Valerie, Diego rutin mengirim uang pada keluarga Valerie dan sesekali mengirim surat dan hadiah. “Dia adalah sekretaris yang baik,” jelas Diego singkat. “Hanya sebagai sekretaris?” Diego kembali terdiam, ia tidak berani mengatakan kenyataan hubungan rahasia mereka yang lebih dari hubungan pekerjaan. Bahkan kondisi Valerie yang pernah mengalami keguguran membuatnya bungkam. “Valerie adalah putri kami satu-satunya. Saya hanya ingin memastikan jika selama ini hidupnya baik-baik saja. Dia tidak terlalu terbuka soal percintaannya, tetapi keterangan dokter soal kehamil







