Share

Bab 4

Author: Kalandara
Makin Nessia berbicara, makin dia tersiksa. Dia menutupi wajahnya, bahunya berguncang, sementara air mata mengalir dari sela-sela jarinya.

Tania menatapnya dengan tenang.

Jika dia hanya seorang penonton, mungkin dia akan menyodorkan selembar tisu.

Namun, dia adalah orang yang terlibat langsung.

Tiga tahun di penjara telah mengubur seluruh kebanggaan dan keceriaannya ke dalam debu. Tulang-tulang di tubuhnya seolah dihancurkan satu per satu, sementara harga dirinya berkali-kali diinjak-injak. Dia benar-benar tidak sanggup mengatakan bahwa dirinya memaafkan.

Karena itu, Tania menatap Nessia dengan tenang. "Kamu sudah selesai? Kalau sudah, aku pergi."

Saat itu, tiba-tiba terdengar keributan dari ujung koridor. Seseorang berteriak, "Cepat hentikan dia! Dia membawa pisau!"

Seorang pria yang mengenakan pakaian pasien berlari mendekat sambil menggenggam pisau buah. Dia menggumamkan sesuatu seperti, "Aku bakal membunuh kalian."

Orang-orang di sekitar berteriak dan berhamburan melarikan diri. Namun, karena Tania dan Nessia berada tepat di tengah, mereka untuk sementara tidak dapat menghindar ke mana pun.

Pria itu menerjang seperti orang gila dan menusukkan pisau ke perut Tania. Tania mengerang tertahan sebelum terhuyung dan jatuh ke lantai.

Pada saat yang sama, pria itu kembali mengayunkan pisau dengan tangan yang lain dan menusukkannya dengan keras ke perut bagian bawah Nessia.

Rasa sakit yang luar biasa menyerang. Dalam pandangan terakhir sebelum jatuh, Tania melihat Nessia juga memegangi luka yang mengucurkan darah sambil meringkuk di lantai.

....

Ketika kembali sadar, yang dia rasakan adalah guncangan dingin yang berulang.

Tania menyadari dirinya sedang terbaring di atas tandu dan didorong dengan cepat. Di telinganya terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa dan kacau, serta suara Gerald yang rendah dan tegang saat berbicara cepat dengan dokter.

"Pasien itu mengidap HIV! Pisau itu berlumuran darahnya!" Suara dokter terdengar sangat serius. "Nona Tania dan Nona Nessia harus segera mengonsumsi obat profilaksis!"

"Saat ini rumah sakit cuma memiliki satu dosis. Sisanya masih dalam perjalanan. Entah apa bisa tiba tepat waktu. Setiap detik yang tertunda meningkatkan risiko terinfeksi!"

"Pak Gerald, cuma ada satu dosis ... siapa yang harus mendapatkannya terlebih dahulu?"

Tania dengan susah payah membuka kelopak matanya yang terasa berat. Dalam pandangan yang kabur, dia melihat wajah Gerald yang dingin dan elegan, tetapi saat ini dipenuhi pergulatan hebat.

Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, Tania tiba-tiba mengangkat tangan yang tidak terluka dan menggenggam erat jari Gerald.

Ujung jarinya yang dingin menekan kulit Gerald. Dia berkata kata demi kata, lemah tetapi tegas, "Gerald, kamu pernah bilang. Lain kali, setiap kali harus memilih antara dua pilihan, kamu pasti bakal memilihku."

Suaranya dipenuhi isak tangis, tetapi tekadnya begitu bulat. "Aku sudah menggantikannya menjalani hukuman tiga tahun penjara. Aku nggak boleh kembali jatuh ke dalam kehancuran cuma karena dia."

Seluruh tubuh Gerald tersentak. Dia menatap wajah Tania yang pucat tetapi keras kepala. Itu adalah Tania yang belum pernah dilihatnya.

Tania yang dia kenal selalu tersenyum, berani, ceria, dan angkuh.

Namun, sekarang, dia terbaring di atas tandu dengan tubuh berlumuran darah, wajahnya sepucat kertas, dan matanya dipenuhi ketakutan serta permohonan.

Gerald hampir ingin segera memberikan obat itu kepadanya, ingin menenangkan istrinya yang telah begitu banyak dia sakiti. Namun, detik berikutnya, dia teringat Nessia, teringat tubuhnya yang telah hancur, teringat berkali-kali percobaan bunuh diri yang dilakukannya selama bertahun-tahun, teringat saat dia menangis dan berkata, "Aku sudah nggak tahan." Jika dia sampai tertular HIV ... dia akan menjadi gila.

Karena begitu mencintainya, Gerald juga akan menjadi gila.

Pada akhirnya, dia tetap tega. Satu per satu, dia melepaskan jari-jari Tania yang menggenggamnya erat.

"Tania, aku tahu kamu takut." Akhirnya dia berbicara, suaranya sangat serak. "Tapi Nessia ... kemampuan dia buat menanggungnya lebih rendah darimu. Dia lebih membutuhkannya."

"Nggak." Tania menggelengkan kepala, air mata mengalir dari sudut matanya. "Nggak."

"Tania ...."

"Aku mohon padamu." Suara Tania dipenuhi isak, begitu tak berdaya seperti serangga yang terinjak. "Aku mohon padamu, ya?"

Jantung Gerald seolah diremas erat oleh tangan tak kasatmata, membuatnya begitu sesak hingga sulit bernapas.

Gerald teringat mawar merah yang dulu tersenyum dengan penuh keberanian saat pertama kali mereka bertemu. Dia teringat sosok cerah Tania yang berlari mengejar mobilnya sambil berteriak, "Gerald, aku menyukaimu!"

Namun, sekarang, dia terbaring dalam genangan darah dengan wajah pucat dan tubuh gemetar, hanya demi memohon agar sekali saja Gerald memilihnya.

Namun, Gerald tetap dengan kejam melepaskan jari-jarinya.

"Aku bakal meminta seseorang mengirimkan obat itu secepat mungkin." Dia menghindari tatapan Tania dan berkata kepada dokter, "Bahkan kalau pada akhirnya kamu benar-benar terinfeksi ... aku nggak bakal pernah menjauhimu. Aku bakal mencintaimu seumur hidup. Aku bersumpah."

Kalimat itu seperti vonis terakhir yang menghantam Tania hingga jiwanya seakan tercerai-berai.

"Cepat! Berikan pada Nessia."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 19

    Menjelang petang hari itu, Tania menutup kedai teh dan berjalan pulang.Matahari senja mewarnai langit menjadi jingga kemerahan. Jalan tua itu sudah sepi, begitu sunyi hingga hanya terdengar suara langkahnya. Saat sampai di ujung gang, dia melihat sebuah amplop di tanah. Warnanya putih, tanpa nama pengirim dan tanpa alamat, tergeletak begitu saja di jalan berbatu. Sinar matahari senja menyinarinya, membuat tepinya memancarkan cahaya hangat.Dia memungutnya dan membukanya.Di dalamnya terdapat sebuah foto dan sepucuk surat.Foto itu menampilkan sebuah danau. Airnya sangat biru, sebiru kalung yang pernah dikenakannya.Beberapa daun yang gugur mengapung di permukaan danau. Ada yang kuning, merah, dan hijau, semuanya mengapung dengan tenang.Di tepi danau terdapat sebuah bangku panjang. Di atasnya terletak dua cincin yang saling berdampingan, begitu tenang. Tania mengenalinya. Itu adalah kedua cincin yang pernah dilemparkannya ke danau.Dia membuka surat itu.Di dalamnya hanya ada satu bar

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 18

    "Belum terlambat." Gerald meraih tangannya dan menggenggamnya erat hingga jari-jari Tania mati rasa. "Kasih aku satu kesempatan, aku ....""Aku nggak bisa." Tania melepaskan tangannya dan mundur hingga berada di balik pintu. Punggungnya menempel pada daun pintu, napasnya terengah-engah. "Aku sudah memberikan semua kesempatan padamu. Lima tahun, lebih dari seribu delapan ratus hari, aku memberimu kesempatan berkali-kali. Kamu nggak menginginkannya."Tania berhenti sejenak dan mengusap air mata di wajahnya, tetapi air matanya tidak kunjung habis. Baru saja diusap, air mata kembali mengalir, lalu diusap lagi dan kembali mengalir."Sekarang, aku nggak bakal memberikannya lagi."Dia menutup pintu. Kali ini, pintu itu tidak pernah terbuka lagi.Pria itu datang lagi.Kali ini, dia membawa seikat bunga mawar merah yang sedang mekar sempurna. Tetesan air masih melekat di kelopaknya, berkilauan diterpa sinar matahari. Dia menyerahkan bunga itu kepada Tania. Tania menerimanya, menunduk untuk meng

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 17

    "Aku ....""Kamu nggak pernah." Tania menarik tangannya dan mundur selangkah. "Kamu nggak pernah. Di hatimu cuma ada dia, cuma Nessia-mu. Lalu, aku ini apa? Alat yang menggantikannya menjalani hukuman, wadah buat mendonorkan darah kepadanya, pajangan yang kamu gunakan buat menebus rasa bersalahmu.""Bukan ....""Kalau begitu, katakan kepadaku, kalau orang yang membuat keributan di rumah sakit itu datang lagi hari itu, apa kamu bakal memberikan obat profilaksis itu padaku?" Tania menatap Gerald dan berkata kata demi kata. Suaranya sangat lembut, tetapi setiap katanya seperti paku yang menghunjam ke dalam tulang Gerald. "Apa kamu bakal melakukannya?"Gerald membuka mulut, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun."Kamu nggak bakal melakukannya." Tania menjawab untuknya. "Kamu nggak bakal pernah melakukannya. Dia itu orang yang paling kamu cintai. Aku ini apa? Aku cuma orang yang menjadi sasaran rasa bersalahmu. Kamu bersikap baik padaku bukan karena mencintaiku, melainkan karena m

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 16

    "Aku mau menebus kesalahanku," ujarnya dengan suara serak seperti amplas. "Apa pun yang kamu suruh, aku bakal lakukan.""Kalau begitu, pergilah.""Kecuali itu."Tania menatapnya. Lama sekali dia terdiam.Begitu lama hingga air di dalam teko teh menjadi dingin, begitu lama hingga matahari di luar jendela berpindah dari timur ke tepat di atas kepala, dan bayangan menyusut menjadi sebuah titik."Kamu tahu apa yang paling kuinginkan?""Apa?""Kebebasan," ujarnya. "Kebebasan buat pergi darimu. Aku sudah mendapatkannya. Jangan datang lagi."Tania berdiri dan masuk ke ruangan di belakang. Pintu tertutup. Tidak dikunci, tetapi tidak pernah terbuka lagi.Seorang pria muncul di kedai teh.Usianya sekitar awal tiga puluhan. Dia mengenakan kacamata berbingkai emas dan setelan kasual. Pembawaannya lembut dan elegan.Dia duduk di dekat jendela. Sinar matahari menerpa wajahnya, dan senyumnya begitu lembut, seperti angin musim semi.Tania menyeduhkan teh hijau untuknya. Gerakannya terampil, suhu airny

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 15

    Gerald menyeberangi jalan dan berdiri di depan kedai teh. Lonceng angin berdenting, menghasilkan suara gemerincing.Tania mengangkat kepala dan melihatnya.Tidak ada perubahan apa pun pada ekspresinya.Bukan terkejut, bukan marah, bukan takut. Hanya tenang.Seolah sedang melihat orang asing, seorang pejalan kaki yang melintas di seberang jalan, atau sehelai daun yang jatuh dari pohon."Buat apa kamu datang?" tanyanya. Suaranya datar, seperti teh yang sudah diseduh berkali-kali hingga tidak lagi berasa.Gerald menatapnya, tenggorokannya terasa seperti tersumbat segumpal kapas.Dia membuka mulut, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Selama tiga bulan, Gerald mempersiapkan diri sambil berulang kali membayangkan apa yang akan dia katakan saat akhirnya bertemu dengan Tania.Namun, sekarang, saat berdiri di hadapannya, dia tidak mampu mengatakan apa-apa."Aku ...." Gerald membuka mulut. Suaranya serak tak karuan, seperti batu yang digosok amplas. "Aku datang menjemputmu pulang."

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 14

    Gerald berbalik dan pergi. Dari belakang terdengar tangisan Nessia yang memilukan. Nessia mengejarnya, lalu memeluknya dari belakang, menempelkan wajahnya di punggung Gerald. Air matanya membasahi sebagian besar kemeja Gerald."Gerald, jangan pergi! Aku salah, aku benar-benar salah! Aku mencintaimu, aku nggak bisa hidup tanpamu."Gerald melepaskan jari-jarinya satu per satu. Kuku Nessia menancap ke punggung tangannya. Saat dia melepaskannya, sedikit kulit dan daging ikut tercabik, tetapi Gerald tidak berhenti."Kamu bisa hidup tanpaku," katanya. Suaranya sangat pelan, seolah mengatakannya kepada dirinya sendiri. "Dia juga bisa. Akulah yang nggak bisa hidup tanpanya."Gerald pergi.Pintu di belakangnya tertutup, mengurung tangisan itu di dalam.Gerald berdiri di lorong sambil bersandar pada dinding dan mendongakkan kepala.Lampu di langit-langit memancarkan cahaya pucat yang menyilaukan dan berdengung.Dia berdiri di sana cukup lama, hingga lampu sensor di lorong padam, menyala kembali,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status