Share

Bab 3

Author: Kalandara
Brak.

Tubuh Tania bergetar hebat. Secara naluriah, dia mengulurkan tangan dan menyapu gelas kaca di atas nakas hingga jatuh.

Gelas itu terhempas ke lantai hingga pecah berkeping-keping. Hati yang dikiranya telah lama mati dan tak mungkin merasakan sakit lagi, pada saat itu tanpa diduga kembali seperti dicabik dengan kejam.

Benar, dia pernah mengalami keguguran.

Tiga tahun lalu, dua garis pada alat tes kehamilan itu bahkan belum sempat benar-benar dia resapi. Tania belum sempat memberi tahu Gerald tentang kabar tersebut, tetapi Gerald sudah mengirimnya ke tempat yang bagaikan neraka itu.

Di dalam penjara, setiap hari adalah siksaan.

Rambutnya dijambak lalu kepalanya dibenturkan ke dinding, dia didorong dari tangga yang gelap dan lembap, bahkan dipaksa berlutut di lantai beton yang dipenuhi serpihan es hingga kehilangan kesadaran.

Pemukulan itu terjadi tanpa peringatan. Rasa nyeri di perut bagian bawah terasa seperti ada seseorang yang mengaduk-aduknya dengan pisau tumpul.

Tania meringkuk di sudut sempit sel tahanan, menatap darah merah segar yang mengalir di bawah tubuhnya. Rasa sakitnya begitu hebat hingga dia bahkan tidak mampu berteriak. Dia hanya bisa menggigit bibir erat-erat sampai mulutnya dipenuhi rasa logam.

Tidak ada yang memedulikannya.

Tania sendirian di lantai yang dingin, memeluk tubuhnya sendiri, merasakan kehidupan kecil yang belum terbentuk sempurna itu perlahan terlepas dari tubuhnya.

Darah yang keluar sangat banyak, jauh lebih banyak daripada darah yang diambil hari ini.

Rasa sakit itu begitu membekas hingga ke tulang. Bahkan sampai sekarang, setiap kali mengingatnya, seluruh tubuhnya masih merinding.

Namun, karena dulu Gerald tidak sempat mengetahuinya, karena saat itu seluruh hati dan pikirannya hanya dipenuhi Nessia ....

Sekarang, dia pun tidak perlu mengetahuinya.

Gerald tertarik oleh suara keributan di sisi ini. Benar saja, dia tidak mendengar jelas ucapan dokter setelahnya. Dia segera berjalan menghampiri dan membungkuk untuk memeriksa keadaan Tania. "Ada apa? Tanganmu nggak bertenaga? Mau kubantu minum?"

Tania menggelengkan kepala dan menghindari tangannya. Dokter pun dengan bijaksana pergi.

Gerald menarik kursi dan duduk di sisi ranjang. Setelah lama terdiam, barulah dia berkata dengan suara agak serak, "Tania, kamu mengalami begitu banyak luka selama di dalam sana. Kenapa nggak memberitahuku?"

Tania menatapnya dan merasa pertanyaan itu sangat lucu. Dia memang tertawa, sudut bibirnya sedikit melengkung, tetapi matanya tidak berubah. "Apa gunanya memberitahumu? Aku sudah berkali-kali meminta orang meneleponmu. Pernahkah kamu mengangkatnya sekali saja?"

Wajah Gerald memucat. Dia membuka mulut, tetapi butuh waktu lama sebelum akhirnya mampu berkata, "Maaf. Kondisi Nessia sangat buruk selama beberapa tahun itu, jadi aku terus menemaninya. Aku sudah meminta pihak penjara buat menjagamu. Aku nggak menyangka ...."

Tidak menyangka. Begitu pikir Tania. Dia selalu tidak menyangka.

"Semuanya sudah berlalu. Nggak penting lagi," katanya. "Pergilah menemani Nessia."

Gerald menggelengkan kepala. "Dia sudah baik-baik saja. Beberapa hari ini, aku bakal menemanimu. Aku nggak bakal pergi ke mana-mana. Tania, aku sudah bilang bakal berusaha mencintaimu. Kali ini adalah pengecualian. Mulai sekarang, aku nggak bakal membiarkanmu terluka lagi. Dalam setiap pilihan antara kamu dan orang lain, aku bakal selalu memilihmu."

Tania menatapnya tanpa berkata apa-apa.

Selama beberapa hari berikutnya, Gerald menepati perkataannya.

Dia datang ke rumah sakit setiap hari, membawakan bubur dan buah, menemaninya menjalani pemeriksaan, serta menemaninya berjalan-jalan.

Setiap kali ponselnya berdering, dia hanya melihatnya sekilas lalu menolaknya. Ketika berdering lagi, dia kembali menolaknya. Tidak sekali pun dia mengangkatnya.

Jika dulu Gerald menemaninya dengan sepenuh hati seperti ini, mungkin Tania akan sangat bahagia sampai tidak bisa tidur. Namun, sekarang, ketika melihat punggungnya, Tania hanya merasa seperti sedang menyaksikan sebuah pertunjukan. Pertunjukannya memang dimainkan dengan sangat baik, hanya saja Tania bukan lagi penontonnya.

Sore itu, Gerald pergi membeli kue kastanye dari toko di sebelah barat kota yang dulu disukai Tania. Tania pergi menjalani pemeriksaan seorang diri. Di tikungan koridor, dia bertemu Nessia.

Dia sudah jauh lebih kurus. Pakaian pasien yang dikenakannya tampak begitu longgar, seperti selembar kain yang tergantung di gantungan baju. Namun, matanya masih indah, jernih dan berair, seolah menyimpan mata air di dalamnya.

Tania berpura-pura tidak melihatnya dan berjalan menghindarinya.

"Nona Tania," panggil Nessia.

Tania berhenti, tetapi tidak menoleh.

Nessia berjalan menghampirinya dan membungkuk dalam-dalam. Ketika kembali berdiri tegak, matanya sudah memerah.

"Nona Tania, aku dengar kamu yang mendonorkan darah untukku. Terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku."

"Nggak perlu. Aku menyelamatkanmu dengan syarat tertentu." Suara Tania terdengar datar. "Kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan, dan aku juga mendapatkan apa yang kuinginkan. Kita sudah nggak saling berutang apa pun, jadi aku nggak pantas menerima ucapan terima kasihmu."

Setelah mengatakan itu, dia hendak pergi, tetapi suara kembali terdengar dari belakangnya.

"Aku tahu kamu nggak menyukaiku." Suara Nessia bergetar. "Aku juga memandang rendah diriku sendiri. Tapi, aku mau memberitahumu kalau aku bukan orang jahat. Kalau aku memang nggak punya kelebihan apa pun, menurutmu kenapa Gerald mencintaiku selama bertahun-tahun? Ketika aku menjadi korban pemerkosaan dulu, aku pernah menderita dan putus asa, tapi aku nggak pernah menyalahkanmu."

Nessia berhenti sejenak. Air matanya jatuh. "Satu-satunya hal yang aku sesali terhadapmu adalah membiarkanmu menjalani hukuman penjara menggantikanku. Aku bersumpah, awalnya aku ingin pergi sendiri. Tapi, aku takut. Aku takut kalau aku masuk penjara, dia bakal jatuh cinta padamu. Kamu jauh lebih baik dariku. Keluargamu lebih baik, penampilanmu lebih baik, kepribadianmu juga lebih baik, jadi ... aku menjadi pengecut. Maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku cuma ... terlalu mencintainya. Dia juga sangat mencintaiku. Tapi, takdir mempermainkan kami. Kami justru nggak bisa bersama."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 19

    Menjelang petang hari itu, Tania menutup kedai teh dan berjalan pulang.Matahari senja mewarnai langit menjadi jingga kemerahan. Jalan tua itu sudah sepi, begitu sunyi hingga hanya terdengar suara langkahnya. Saat sampai di ujung gang, dia melihat sebuah amplop di tanah. Warnanya putih, tanpa nama pengirim dan tanpa alamat, tergeletak begitu saja di jalan berbatu. Sinar matahari senja menyinarinya, membuat tepinya memancarkan cahaya hangat.Dia memungutnya dan membukanya.Di dalamnya terdapat sebuah foto dan sepucuk surat.Foto itu menampilkan sebuah danau. Airnya sangat biru, sebiru kalung yang pernah dikenakannya.Beberapa daun yang gugur mengapung di permukaan danau. Ada yang kuning, merah, dan hijau, semuanya mengapung dengan tenang.Di tepi danau terdapat sebuah bangku panjang. Di atasnya terletak dua cincin yang saling berdampingan, begitu tenang. Tania mengenalinya. Itu adalah kedua cincin yang pernah dilemparkannya ke danau.Dia membuka surat itu.Di dalamnya hanya ada satu bar

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 18

    "Belum terlambat." Gerald meraih tangannya dan menggenggamnya erat hingga jari-jari Tania mati rasa. "Kasih aku satu kesempatan, aku ....""Aku nggak bisa." Tania melepaskan tangannya dan mundur hingga berada di balik pintu. Punggungnya menempel pada daun pintu, napasnya terengah-engah. "Aku sudah memberikan semua kesempatan padamu. Lima tahun, lebih dari seribu delapan ratus hari, aku memberimu kesempatan berkali-kali. Kamu nggak menginginkannya."Tania berhenti sejenak dan mengusap air mata di wajahnya, tetapi air matanya tidak kunjung habis. Baru saja diusap, air mata kembali mengalir, lalu diusap lagi dan kembali mengalir."Sekarang, aku nggak bakal memberikannya lagi."Dia menutup pintu. Kali ini, pintu itu tidak pernah terbuka lagi.Pria itu datang lagi.Kali ini, dia membawa seikat bunga mawar merah yang sedang mekar sempurna. Tetesan air masih melekat di kelopaknya, berkilauan diterpa sinar matahari. Dia menyerahkan bunga itu kepada Tania. Tania menerimanya, menunduk untuk meng

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 17

    "Aku ....""Kamu nggak pernah." Tania menarik tangannya dan mundur selangkah. "Kamu nggak pernah. Di hatimu cuma ada dia, cuma Nessia-mu. Lalu, aku ini apa? Alat yang menggantikannya menjalani hukuman, wadah buat mendonorkan darah kepadanya, pajangan yang kamu gunakan buat menebus rasa bersalahmu.""Bukan ....""Kalau begitu, katakan kepadaku, kalau orang yang membuat keributan di rumah sakit itu datang lagi hari itu, apa kamu bakal memberikan obat profilaksis itu padaku?" Tania menatap Gerald dan berkata kata demi kata. Suaranya sangat lembut, tetapi setiap katanya seperti paku yang menghunjam ke dalam tulang Gerald. "Apa kamu bakal melakukannya?"Gerald membuka mulut, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun."Kamu nggak bakal melakukannya." Tania menjawab untuknya. "Kamu nggak bakal pernah melakukannya. Dia itu orang yang paling kamu cintai. Aku ini apa? Aku cuma orang yang menjadi sasaran rasa bersalahmu. Kamu bersikap baik padaku bukan karena mencintaiku, melainkan karena m

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 16

    "Aku mau menebus kesalahanku," ujarnya dengan suara serak seperti amplas. "Apa pun yang kamu suruh, aku bakal lakukan.""Kalau begitu, pergilah.""Kecuali itu."Tania menatapnya. Lama sekali dia terdiam.Begitu lama hingga air di dalam teko teh menjadi dingin, begitu lama hingga matahari di luar jendela berpindah dari timur ke tepat di atas kepala, dan bayangan menyusut menjadi sebuah titik."Kamu tahu apa yang paling kuinginkan?""Apa?""Kebebasan," ujarnya. "Kebebasan buat pergi darimu. Aku sudah mendapatkannya. Jangan datang lagi."Tania berdiri dan masuk ke ruangan di belakang. Pintu tertutup. Tidak dikunci, tetapi tidak pernah terbuka lagi.Seorang pria muncul di kedai teh.Usianya sekitar awal tiga puluhan. Dia mengenakan kacamata berbingkai emas dan setelan kasual. Pembawaannya lembut dan elegan.Dia duduk di dekat jendela. Sinar matahari menerpa wajahnya, dan senyumnya begitu lembut, seperti angin musim semi.Tania menyeduhkan teh hijau untuknya. Gerakannya terampil, suhu airny

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 15

    Gerald menyeberangi jalan dan berdiri di depan kedai teh. Lonceng angin berdenting, menghasilkan suara gemerincing.Tania mengangkat kepala dan melihatnya.Tidak ada perubahan apa pun pada ekspresinya.Bukan terkejut, bukan marah, bukan takut. Hanya tenang.Seolah sedang melihat orang asing, seorang pejalan kaki yang melintas di seberang jalan, atau sehelai daun yang jatuh dari pohon."Buat apa kamu datang?" tanyanya. Suaranya datar, seperti teh yang sudah diseduh berkali-kali hingga tidak lagi berasa.Gerald menatapnya, tenggorokannya terasa seperti tersumbat segumpal kapas.Dia membuka mulut, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Selama tiga bulan, Gerald mempersiapkan diri sambil berulang kali membayangkan apa yang akan dia katakan saat akhirnya bertemu dengan Tania.Namun, sekarang, saat berdiri di hadapannya, dia tidak mampu mengatakan apa-apa."Aku ...." Gerald membuka mulut. Suaranya serak tak karuan, seperti batu yang digosok amplas. "Aku datang menjemputmu pulang."

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 14

    Gerald berbalik dan pergi. Dari belakang terdengar tangisan Nessia yang memilukan. Nessia mengejarnya, lalu memeluknya dari belakang, menempelkan wajahnya di punggung Gerald. Air matanya membasahi sebagian besar kemeja Gerald."Gerald, jangan pergi! Aku salah, aku benar-benar salah! Aku mencintaimu, aku nggak bisa hidup tanpamu."Gerald melepaskan jari-jarinya satu per satu. Kuku Nessia menancap ke punggung tangannya. Saat dia melepaskannya, sedikit kulit dan daging ikut tercabik, tetapi Gerald tidak berhenti."Kamu bisa hidup tanpaku," katanya. Suaranya sangat pelan, seolah mengatakannya kepada dirinya sendiri. "Dia juga bisa. Akulah yang nggak bisa hidup tanpanya."Gerald pergi.Pintu di belakangnya tertutup, mengurung tangisan itu di dalam.Gerald berdiri di lorong sambil bersandar pada dinding dan mendongakkan kepala.Lampu di langit-langit memancarkan cahaya pucat yang menyilaukan dan berdengung.Dia berdiri di sana cukup lama, hingga lampu sensor di lorong padam, menyala kembali,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status