Share

Bab 5

Author: Kalandara
Tangan Tania terlepas dari telapak tangan Gerald dan jatuh menghantam tandu.

Dia menatap langit-langit, air mata mengalir tanpa suara.

Dia ingin tertawa, tetapi yang keluar justru seteguk darah segar yang terasa amis dan manis.

Tania, oh, Tania. Sungguh bodoh dirimu.

…

Ketika sadar kembali, hari sudah sore keesokan harinya.

Seorang perawat muda sedang mengganti perbannya. Begitu melihat Tania sadar, dia tersenyum dan berkata dengan kagum, "Nona Tania, akhirnya kamu sadar juga! Kamu sungguh beruntung punya suami yang begitu mencintaimu seperti Pak Gerald."

"Pak Gerald membuka jalur khusus helikopter untukmu. Cuma dalam dua jam, obat profilaksis itu sudah dikirimkan ke sini!" Perawat itu berkata dengan iri sambil terampil melakukan tugasnya. "Dia menjagamu siang dan malam. Baru saja direktur rumah sakit membujuknya dengan susah payah untuk beristirahat. Aku benar-benar iri padamu karena mendapatkan suami sebaik itu."

Tania menarik sudut bibirnya sedikit. Tatapan matanya dipenuhi kehampaan.

Baik?

Baik di mananya? Orang yang membuatnya masuk penjara adalah Gerald. Bahkan untuk satu obat yang bisa menyelamatkan nyawanya, Tania harus menunggu orang lain lebih dulu.

Melihat Tania tidak berbicara, perawat mengira dia kelelahan. Dia membereskan barang-barangnya lalu pergi.

Tania menopang tubuhnya yang lemas dan duduk. Dia turun dari ranjang untuk mengambil air.

Ketika melewati koridor, pintu kamar Nessia hanya tertutup sebagian. Suara dari dalam terdengar dengan jelas.

Seharusnya dia tidak melihat.

Namun, langkah kakinya seolah terpaku di tempat.

Dari celah pintu, dia melihat Nessia memeluk Gerald erat-erat dari belakang, menempelkan wajahnya di punggungnya sambil menangis dengan lemah dan tak berdaya. "Gerald, aku bisa menahan apa pun, tapi aku nggak bisa menerima kamu punya anak dengannya. Jangan punya anak dengannya, ya? Aku mencintaimu. Aku bakal menjadi gila ...."

Gerald berbalik, memegang wajahnya, lalu menghapus air matanya dengan ibu jari. "Nessia, aku juga mencintaimu. Tapi, kali ini aku yang bersalah pada Tania. Demi menyelamatkanmu, aku hampir membuatnya tertular. Belum lagi tiga tahun yang dia habiskan di penjara. Sebagai kompensasi, aku harus memberinya seorang anak. Tapi hatiku bakal selalu berpihak padamu. Jadilah anak baik, ya?"

Nessia menangis makin keras. Dia berjinjit dan menciumnya. "Kenapa? Kenapa kita yang jelas-jelas saling mencintai, nggak bisa bersama?"

Awalnya, Gerald sedikit mendorongnya, tetapi Nessia memeluknya makin erat dan menciumnya makin dalam, seperti sulur tanaman yang melilit pohon, tidak mau melepaskannya sampai mati.

Gerald memejamkan mata, lalu akhirnya tenggelam dalam suasana itu dan membalas ciumannya.

Tania berdiri di depan pintu, menatap mereka yang sedang berpelukan dan berciuman dengan mesra.

Dia mengira dirinya akan menangis tersedu-sedu, tetapi matanya terasa kering dan tidak mampu meneteskan setetes air mata pun.

Tania berbalik dan pergi. Langkahnya sangat ringan, tanpa menarik perhatian siapa pun.

Dia dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Setiap hari Gerald datang membawakannya bunga, makanan, dan berbagai hadiah kecil.

Gerald belajar mengucapkan kata-kata untuk membujuknya. Meskipun terdengar kaku, itu jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Tania menerimanya dengan sikap datar, tidak dingin, tetapi juga tidak hangat. Wajahnya tetap tidak menunjukkan banyak ekspresi.

Pada hari dia keluar dari rumah sakit, Gerald datang menjemputnya pulang.

Pada hari-hari berikutnya, dia bahkan terus menemani Tania, tidak pergi ke kantor, tidak menghadiri jamuan, dan mengatur ponselnya dalam mode senyap.

Gerald belajar memasak, meskipun rasanya sangat buruk. Dia belajar mengeringkan rambutnya, meskipun gerakannya sangat kaku. Dia belajar menceritakan kisah saat Tania sulit tidur, meskipun ceritanya sangat membosankan.

Tania melihat semua usahanya tanpa merasakan gejolak apa pun di dalam hati.

Dia bahkan merasa sedikit lucu. Gerald seperti seorang anak yang telah melakukan kesalahan dan mati-matian ingin menebusnya, tetapi tidak tahu di mana letak kesalahannya.

Malam itu, setelah selesai mandi, Tania keluar dengan rambut basah yang masih meneteskan air.

Sambil mengeringkan rambut, dia berjalan ke sisi ranjang. Baru saja berbaring, Gerald langsung mendekat.

Dia memeluk Tania dari belakang, meletakkan dagunya di bahunya, lalu menempelkan bibirnya ke telinga Tania dan mulai menciumnya.

Tania menegang sejenak, lalu mendorongnya. "Apa yang kamu lakukan?"

Gerald tertegun.

Dulu, setiap kali Gerald sedikit saja berinisiatif, Tania akan sangat bahagia. Sekarang, dia justru mendorongnya, dan Gerald merasa tidak terbiasa.

"Sudah lama kita nggak melakukannya." Gerald mendekat, suaranya rendah. "Kamu nggak mau?"

"Nggak mau."

Gerald mengerutkan kening, tetapi segera menekannya kembali.

Dia mengubah caranya dan melunakkan nada suaranya. "Bukannya selama ini kamu selalu merasa nggak aman? Aku bakal memberimu seorang anak. Apa itu bakal membuatmu merasa lebih baik, hmm?"

Gerald kembali menciumnya.

Tania kembali mendorongnya, lalu duduk dan menatap matanya sambil berkata kata demi kata, "Gerald, aku nggak mau punya anak."

Gerald tertegun.

"Dulu, aku memang sangat ingin memiliki seorang anak denganmu." Suara Tania terdengar sangat tenang. "Tapi anak itu sudah mati ...."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 19

    Menjelang petang hari itu, Tania menutup kedai teh dan berjalan pulang.Matahari senja mewarnai langit menjadi jingga kemerahan. Jalan tua itu sudah sepi, begitu sunyi hingga hanya terdengar suara langkahnya. Saat sampai di ujung gang, dia melihat sebuah amplop di tanah. Warnanya putih, tanpa nama pengirim dan tanpa alamat, tergeletak begitu saja di jalan berbatu. Sinar matahari senja menyinarinya, membuat tepinya memancarkan cahaya hangat.Dia memungutnya dan membukanya.Di dalamnya terdapat sebuah foto dan sepucuk surat.Foto itu menampilkan sebuah danau. Airnya sangat biru, sebiru kalung yang pernah dikenakannya.Beberapa daun yang gugur mengapung di permukaan danau. Ada yang kuning, merah, dan hijau, semuanya mengapung dengan tenang.Di tepi danau terdapat sebuah bangku panjang. Di atasnya terletak dua cincin yang saling berdampingan, begitu tenang. Tania mengenalinya. Itu adalah kedua cincin yang pernah dilemparkannya ke danau.Dia membuka surat itu.Di dalamnya hanya ada satu bar

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 18

    "Belum terlambat." Gerald meraih tangannya dan menggenggamnya erat hingga jari-jari Tania mati rasa. "Kasih aku satu kesempatan, aku ....""Aku nggak bisa." Tania melepaskan tangannya dan mundur hingga berada di balik pintu. Punggungnya menempel pada daun pintu, napasnya terengah-engah. "Aku sudah memberikan semua kesempatan padamu. Lima tahun, lebih dari seribu delapan ratus hari, aku memberimu kesempatan berkali-kali. Kamu nggak menginginkannya."Tania berhenti sejenak dan mengusap air mata di wajahnya, tetapi air matanya tidak kunjung habis. Baru saja diusap, air mata kembali mengalir, lalu diusap lagi dan kembali mengalir."Sekarang, aku nggak bakal memberikannya lagi."Dia menutup pintu. Kali ini, pintu itu tidak pernah terbuka lagi.Pria itu datang lagi.Kali ini, dia membawa seikat bunga mawar merah yang sedang mekar sempurna. Tetesan air masih melekat di kelopaknya, berkilauan diterpa sinar matahari. Dia menyerahkan bunga itu kepada Tania. Tania menerimanya, menunduk untuk meng

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 17

    "Aku ....""Kamu nggak pernah." Tania menarik tangannya dan mundur selangkah. "Kamu nggak pernah. Di hatimu cuma ada dia, cuma Nessia-mu. Lalu, aku ini apa? Alat yang menggantikannya menjalani hukuman, wadah buat mendonorkan darah kepadanya, pajangan yang kamu gunakan buat menebus rasa bersalahmu.""Bukan ....""Kalau begitu, katakan kepadaku, kalau orang yang membuat keributan di rumah sakit itu datang lagi hari itu, apa kamu bakal memberikan obat profilaksis itu padaku?" Tania menatap Gerald dan berkata kata demi kata. Suaranya sangat lembut, tetapi setiap katanya seperti paku yang menghunjam ke dalam tulang Gerald. "Apa kamu bakal melakukannya?"Gerald membuka mulut, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun."Kamu nggak bakal melakukannya." Tania menjawab untuknya. "Kamu nggak bakal pernah melakukannya. Dia itu orang yang paling kamu cintai. Aku ini apa? Aku cuma orang yang menjadi sasaran rasa bersalahmu. Kamu bersikap baik padaku bukan karena mencintaiku, melainkan karena m

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 16

    "Aku mau menebus kesalahanku," ujarnya dengan suara serak seperti amplas. "Apa pun yang kamu suruh, aku bakal lakukan.""Kalau begitu, pergilah.""Kecuali itu."Tania menatapnya. Lama sekali dia terdiam.Begitu lama hingga air di dalam teko teh menjadi dingin, begitu lama hingga matahari di luar jendela berpindah dari timur ke tepat di atas kepala, dan bayangan menyusut menjadi sebuah titik."Kamu tahu apa yang paling kuinginkan?""Apa?""Kebebasan," ujarnya. "Kebebasan buat pergi darimu. Aku sudah mendapatkannya. Jangan datang lagi."Tania berdiri dan masuk ke ruangan di belakang. Pintu tertutup. Tidak dikunci, tetapi tidak pernah terbuka lagi.Seorang pria muncul di kedai teh.Usianya sekitar awal tiga puluhan. Dia mengenakan kacamata berbingkai emas dan setelan kasual. Pembawaannya lembut dan elegan.Dia duduk di dekat jendela. Sinar matahari menerpa wajahnya, dan senyumnya begitu lembut, seperti angin musim semi.Tania menyeduhkan teh hijau untuknya. Gerakannya terampil, suhu airny

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 15

    Gerald menyeberangi jalan dan berdiri di depan kedai teh. Lonceng angin berdenting, menghasilkan suara gemerincing.Tania mengangkat kepala dan melihatnya.Tidak ada perubahan apa pun pada ekspresinya.Bukan terkejut, bukan marah, bukan takut. Hanya tenang.Seolah sedang melihat orang asing, seorang pejalan kaki yang melintas di seberang jalan, atau sehelai daun yang jatuh dari pohon."Buat apa kamu datang?" tanyanya. Suaranya datar, seperti teh yang sudah diseduh berkali-kali hingga tidak lagi berasa.Gerald menatapnya, tenggorokannya terasa seperti tersumbat segumpal kapas.Dia membuka mulut, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Selama tiga bulan, Gerald mempersiapkan diri sambil berulang kali membayangkan apa yang akan dia katakan saat akhirnya bertemu dengan Tania.Namun, sekarang, saat berdiri di hadapannya, dia tidak mampu mengatakan apa-apa."Aku ...." Gerald membuka mulut. Suaranya serak tak karuan, seperti batu yang digosok amplas. "Aku datang menjemputmu pulang."

  • Seperti Melodi yang Lahir dari Petikan Senar   Bab 14

    Gerald berbalik dan pergi. Dari belakang terdengar tangisan Nessia yang memilukan. Nessia mengejarnya, lalu memeluknya dari belakang, menempelkan wajahnya di punggung Gerald. Air matanya membasahi sebagian besar kemeja Gerald."Gerald, jangan pergi! Aku salah, aku benar-benar salah! Aku mencintaimu, aku nggak bisa hidup tanpamu."Gerald melepaskan jari-jarinya satu per satu. Kuku Nessia menancap ke punggung tangannya. Saat dia melepaskannya, sedikit kulit dan daging ikut tercabik, tetapi Gerald tidak berhenti."Kamu bisa hidup tanpaku," katanya. Suaranya sangat pelan, seolah mengatakannya kepada dirinya sendiri. "Dia juga bisa. Akulah yang nggak bisa hidup tanpanya."Gerald pergi.Pintu di belakangnya tertutup, mengurung tangisan itu di dalam.Gerald berdiri di lorong sambil bersandar pada dinding dan mendongakkan kepala.Lampu di langit-langit memancarkan cahaya pucat yang menyilaukan dan berdengung.Dia berdiri di sana cukup lama, hingga lampu sensor di lorong padam, menyala kembali,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status