Home / Urban / Sepuluh Selir Ratu Arischa / Bab 22 Permainan mental

Share

Bab 22 Permainan mental

Author: Penulis Hoki
last update Last Updated: 2026-01-09 21:59:27

Begitu pintu jati besar itu tertutup dan terkunci, suasana kamar langsung berubah drastis. Kael tidak menunggu lama. Dia membalikkan tubuh Lia dengan satu gerakan cepat, menekan punggung Lia ke pintu hingga terdengar bunyi debum halus. Kedua tangan Kael mengunci di sisi kepala Lia, mengurungnya sepenuhnya.

Lia mendongak, napasnya memburu. Bukannya takut, dia justru menyeringai tipis, tangannya merayap naik ke leher baju zirah Kael yang dingin. "Dan apakah itu berhasil, Jenderalku? Apakah kau sudah gila sekarang?"

"Aku sudah gila sejak pertama kali melihatmu di laboratorium itu, Lia!" geram Kael.

Kael merunduk, mencium leher Lia dengan sangat posesif. Bukan ciuman lembut, melainkan ciuman yang menuntut, menghisap kulit tipis Lia di sana hingga meninggalkan tanda kemerahan yang mencolok—sebuah klaim mutlak bahwa Ratu ini sudah ada yang punya.

"Akhh... Kael," Lia mendesah, kepalanya tertengadah ke belakang. "Pelan sedikit..."

"Tidak ada kata pelan untuk pengkhianat kecil sepertimu," bisi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 22 Permainan mental

    Begitu pintu jati besar itu tertutup dan terkunci, suasana kamar langsung berubah drastis. Kael tidak menunggu lama. Dia membalikkan tubuh Lia dengan satu gerakan cepat, menekan punggung Lia ke pintu hingga terdengar bunyi debum halus. Kedua tangan Kael mengunci di sisi kepala Lia, mengurungnya sepenuhnya.Lia mendongak, napasnya memburu. Bukannya takut, dia justru menyeringai tipis, tangannya merayap naik ke leher baju zirah Kael yang dingin. "Dan apakah itu berhasil, Jenderalku? Apakah kau sudah gila sekarang?""Aku sudah gila sejak pertama kali melihatmu di laboratorium itu, Lia!" geram Kael.Kael merunduk, mencium leher Lia dengan sangat posesif. Bukan ciuman lembut, melainkan ciuman yang menuntut, menghisap kulit tipis Lia di sana hingga meninggalkan tanda kemerahan yang mencolok—sebuah klaim mutlak bahwa Ratu ini sudah ada yang punya."Akhh... Kael," Lia mendesah, kepalanya tertengadah ke belakang. "Pelan sedikit...""Tidak ada kata pelan untuk pengkhianat kecil sepertimu," bisi

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 21 Kau sengaja?

    Kael berdiri kokoh seperti tembok baja di antara Lia dan Alaric. Matanya berkilat, tangan kanannya masih mengepal bekas menyeret Julian tadi. Aroma kemarahan terpancar jelas dari tubuhnya."Minyak zaitunmu tidak akan menyembuhkan apa pun, Pendeta," geram Kael. "Keluar sebelum aku membuatmu menyusul Julian ke Menara Hitam."Alaric tidak mundur. Dia justru tersenyum tipis, senyum yang terlihat suci tapi matanya menatap Lia dengan lapar. Sebagai Selir Pertama yang sudah "diretas kembali" ke sistem, dia punya insting bahwa Lia yang sekarang jauh lebih berharga daripada Ratu Arischa yang dulu hanya tahu cara menyiksa."Jenderal, kau terlalu kasar," ucap Alaric halus. Dia menoleh ke arah Lia, melewati bahu Kael. "Yang Mulia, Anda baru saja melakukan tugas besar dengan membongkar korupsi Julian. Otak Anda pasti sangat panas. Di Kuil Air, aku punya kolam dengan pemanas alami. Biarkan aku membimbing Anda ke sana... sendirian."Lia menyandarkan punggungnya di kursi takhta yang keras. Kursi ini

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 20 Tatapan penuh gairah

    Pagi itu, cahaya matahari Aridonia menerobos masuk melalui celah gorden beludru. Lia duduk di depan cermin besar berbingkai emas. Dia menatap pantulan dirinya: Ratu Arischa. Wajah ini sangat cantik, dengan mata emas dan bibir merah delima. Sangat berbeda dengan wajah aslinya di dunia nyata (Lia yang seorang mahasiswi biasa dengan wajah mungil dan kacamata).Kael mendekat, membantu Lia merapikan jubah sutranya. Dia melihat kegelisahan di mata Lia."Kenapa kau menatap cermin itu seolah dia musuhmu?" tanya Kael lembut.Lia menghela napas, berbalik menghadap Kael. "Kael... kau tahu kan, di dunia sana wajahku tidak seperti ini? Aku tidak secantik ini, tidak seberani ini. Kenapa waktu di laboratorium... saat aku masih memakai baju pasien dan wajahku jauh berbeda... kau langsung tahu itu aku?"Kael tersenyum kecil, senyum langka yang hanya ditujukan untuk Lia. Dia menangkup wajah Lia dengan kedua tangannya yang besar."Di dunia itu, semuanya palsu, Lia. Tapi detak jantungmu, caramu menatapku

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 19 Siapa yang berani mendekat?

    Aula Besar masih membeku. Tatapan Lia yang tajam membuat para selir yang tadinya sombong kini menunduk. Kael, yang merasakan tangan Lia di rambutnya, hanya bisa memejamkan mata sesaat dan menikmati aroma mawar yang kini terasa nyata, bukan sekadar data digital."Malam ini," suara Lia memecah kesunyian, "Aku tidak butuh teman tidur. Aku butuh hiburan."Lia berdiri dari pangkuan Kael, melangkah menuju Dimas (Xenon). Pria yang di laboratorium tadi begitu angkuh sebagai arsitek sistem, kini hanya seorang pemuda tampan yang gemetar."Xenon," panggil Lia lembut, namun jari-jarinya mencengkeram rahang Dimas dengan kuat. "Kau bilang kau ingin memilikiku selamanya? Mari kita lihat seberapa tahan kau menjadi anjing penjagaku.""Y-yang Mulia... saya tidak mengerti..." rintih Dimas. Ingatannya tentang dunia nyata memang sudah dihapus oleh Lia, tapi rasa takut primalnya pada sosok Lia tetap tertinggal."Kau tidak perlu mengerti," Lia melepaskan rahangnya dengan kasar. "Mulai sekarang, kau bertugas

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 18 Kembalinya sang Ratu

    Mobil sport hitam itu melaju kencang mendaki bukit menuju Menara Transmisi. Di samping Lia, Kael mencengkeram kemudi dengan urat-urat tangan yang menonjol. Luka bakar di bahunya masih mengepulkan asap tipis, tapi dia tidak peduli."Jika kita menghancurkan server itu, Lia... kita mungkin tidak akan punya jalan pulang lagi," ucap Kael, suaranya parau tertutup deru mesin."Dunia ini bukan rumah kita, Kael. Rumah kita adalah tempat di mana aku adalah Ratumu," jawab Lia tajam.Mereka tiba di puncak. Kael menabrakkan mobil itu ke dinding kaca gedung pusat data.BRAKK!Pecahan kaca berhamburan. Mereka melompat keluar, disambut oleh Dimas yang berdiri di depan superkomputer raksasa."Selamat datang di akhir dunia, Lia!" teriak Dimas gila. Dia menekan tombol Delete. "Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak akan ada yang bisa!"Tiba-tiba, seluruh ruangan bergetar. Kode-kode digital di layar mulai pecah dan berubah menjadi kelopak mawar hitam, kekuatan anomali Lia di simulasi ternyata terbawa

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 17 Bermain di dalam lift

    Alarm peringatan melengking memekakkan telinga, lampu-lampu merah berputar menciptakan suasana distopia di dalam laboratorium bawah tanah itu. CEO Neuro-Core yaitu ayah Arlan berteriak histeris memerintahkan pengawal untuk mengamankan aset mereka.Namun, mereka lupa satu hal... Kael bukan lagi sekadar data. Tubuh Bio-Vessel itu diciptakan dengan spesifikasi militer tingkat tinggi, dan memori di dalamnya adalah memori seorang Jenderal yang telah memenangkan ribuan pertempuran.Kael bergerak seperti badai. Meskipun tubuhnya baru saja keluar dari tabung, insting tempurnya tidak bisa dibendung. Dia menyambar sebatang pipa besi dari reruntuhan tabung dan dalam hitungan detik, tiga pengawal bersenjata sudah terkapar di lantai dengan tulang rusuk hancur."Ayo, Lia!" Kael menyambar tangan Lia.Sentuhan itu... tidak lagi menyakitkan. Tidak ada sengatan listrik dan tidak ada rasa sesak. Hanya kehangatan kulit bertemu kulit yang begitu nyata. Kael menarik Lia melewati lorong-lorong laboratorium

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status