Compartilhar

Bab 50 Sepakat

Autor: Penulis Hoki
last update Última atualização: 2026-02-02 00:02:53

Dunia nyata terasa abu-abu bagi Lia.

Sudah tiga hari sejak ia ditarik paksa dari Asterion. Dia kini tinggal di penthouse mewah Arlan yang dindingnya terbuat dari kaca anti-peluru, menghadap langsung ke hiruk-pikuk kota metropolitan yang futuristik. Semuanya serba otomatis, serba bersih, dan serba dingin. Tidak ada bau tanah, tidak ada hangat perapian, dan tidak ada Kael.

"Kau melamun lagi, Lia," suara Arlan terdengar dari arah dapur. Dia datang membawa piring berisi steak wagyu yang dimasak sem
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 58 Cincin tunangan

    "Senyum," desis Arlan tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang ramah.Lia memaksakan sudut bibirnya naik. Itu senyum yang kaku, rapuh, dan menyedihkan. Tapi bagi orang-orang di sana, itu terlihat sebagai senyum pemalu dari seseorang yang baru pulih.Arlan membawa Lia melewati koridor panjang menuju ruang rapat utama. Kaca-kaca transparan menampilkan pemandangan kota di bawah kaki mereka."Lihat itu, Lia," Arlan menunjuk ke luar jendela sambil berjalan. "Semua ini... gedung-gedung ini, jaringan data yang mengalir di bawah tanah... semuanya milikku. Dan sebentar lagi, milikmu juga.""Aku tidak menginginkannya," gumam Lia pelan."Kau akan belajar menginginkannya," balas Arlan santai. "Kael hanya bisa memberimu kastil pixel dan emas virtual. Aku memberimu kekuasaan nyata."Mereka sampai di depan pintu ganda ruang rapat. Sekretaris Arlan, seorang wanita muda yang tampak gugup, membuka pintu itu.Di dalam, duduk lima orang pria tua dengan setelan jas mahal. Investor utama."Ah, Tuan Arlan!" Sa

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 57 Nyonya masa depan

    Tawa Arlan perlahan mereda, menyisakan gema yang memantul di dinding-dinding steril laboratorium itu. Dia tidak melepaskan tatapannya dari wajah Lia yang pucat pasi. Dia menikmati ketakutan itu bukan karena dia ingin menyakiti Lia, tapi karena ketakutan itu berarti Lia mengakui kekuasaannya."Kenapa diam, Sayang?" tanya Arlan lembut, langkah kakinya bergema saat dia berjalan memutari podium tempat kerangka robot itu digantung. "Kau tidak ingin menyapa... teman lamamu?"Lia menahan napas, dadanya sesak seolah oksigen di ruangan itu telah disedot habis. Matanya terpaku pada wajah robot itu. Itu benar-benar wajah Kael. Arlan telah meniru setiap detailnya dengan presisi yang mengerikan berupa garis rahang yang tegas, bentuk hidung yang mancung, bahkan tahi lalat kecil di bawah telinga kiri yang hanya Lia yang tahu.Tapi matanya... mata itu tertutup kelopak silikon. Kosong dan juga mati."Kau..." suara Lia tercekat, nyaris tak terdengar. "Kau menjijikkan, Arlan."Arlan mendengus geli. Dia

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 56 hadiah pernikahan

    "Ya. Anak kita," Arlan mendongak, matanya berbinar penuh harap. Dia meraih tangan Lia, mengecup telapak tangannya berkali-kali. "Malam ini... biarkan aku membuktikan padamu bahwa aku lebih baik. Bukan dengan paksaan. Tapi dengan cinta. Aku akan melayanimu, Lia. Aku akan menyembahmu di tempat tidur sampai kau meneriakkan namaku."Malam semakin larut. Arlan menepati janjinya untuk tidak memaksa Lia. Tapi apa yang dilakukannya justru terasa lebih menyiksa secara psikologis. Dia ingin bercinta. Dia ingin koneksi emosional yang tidak dimiliki Lia untuknya.Di ranjang besar itu, Lia berbaring memunggungi Arlan. Dia mengenakan gaun tidur satin yang sopan pilihan Arlan untuk menunjukkan bahwa dia menghormati Lia malam ini.Arlan memeluknya dari belakang. Tubuhnya panas menempel di punggung dingin Lia. Tangan Arlan melingkar di perut Lia, jari-jarinya bertautan dengan jari Lia, memaksa genggaman tangan yang romantis."Nyaman?" bisik Arlan di belakang telinga Lia."Hmm," jawab Lia singkat. Dia

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 55 Anak?

    Arlan mematikan keran air. Keheningan kembali mengisi kamar mandi mewah itu, hanya dipecahkan oleh suara tetesan air dari tubuh Lia yang jatuh ke permukaan bathtub."Sudah bersih," bisik Arlan. Dia mengangkat Lia dari air seperti mengangkat seorang bayi. Dia tidak membiarkan kaki Lia menyentuh lantai dingin. Dia membungkus tubuh wanita itu dengan handuk tebal yang hangat, menggosoknya perlahan dengan gerakan yang lebih mirip memoles piala kemenangan daripada mengeringkan manusia.Lia menurut. Dia tidak punya tenaga untuk melawan. Energi mentalnya terkuras habis untuk menahan diri agar tidak menangis atau muntah."Kau kedinginan," gumam Arlan, merasakan getaran halus di bahu Lia. "Ayo, aku sudah siapkan pakaian untukmu. Malam ini kita makan malam. Hanya berdua. Tanpa gangguan."Arlan membawa Lia ke walk-in closet raksasa di kamar tidur. Di sana, tergantung deretan pakaian desainer yang belum pernah disentuh Lia. Arlan memilih sebuah gaun sutra berwarna merah marun, warna yang sangat sp

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 54 Kita mandi!

    Tangan Lia baru saja menyentuh panel panggil lift ketika sebuah lengan kekar melingkar di perutnya, menyentaknya mundur dengan kekuatan yang tak terlawan."JANGAN PERGI! KAU MILIKKU!" Teriakan Arlan memecah keheningan penthouse.Lia meronta, kakinya menendang udara, tapi Arlan sudah menekan tombol darurat di dinding.KLIK. BEEP.Panel lift mati. Lampu indikator berubah abu-abu. Sistem keamanan gedung kembali di bawah kendali manual Arlan, setidaknya untuk sirkuit fisik pintu. Kael mungkin menguasai layar, tapi Arlan masih memegang kunci gerbang fisik."Lepaskan aku, Arlan!" jerit Lia.Bukannya memukul atau melempar Lia, Arlan justru melakukan hal yang jauh lebih mengerikan. Dia memeluk Lia dari belakang. Erat. Terlalu erat. Dia membenamkan wajahnya di ceruk leher Lia, menghirup aroma keringat dan ketakutan wanita itu. Tubuh Arlan gemetar hebat, bukan karena amarah, tapi karena keputusasaan yang patologis."Jangan tinggalin aku..." suara Arlan pecah, berubah menjadi isak tangis yang te

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 53 Kembalikan Ratuku

    Arlan mundur sampai ia jatuh terduduk di tepi ranjang. Dia melihat kedua tangannya sendiri dengan tatapan ngeri. Dia merasa kotor. Dia merasa seperti penipu. Dia merasa seperti pelacur yang tidak dibayar."Keluar," bisik Arlan.Lia tidak bergerak. "Ini kamarmu, Arlan. Kau yang mengunciku di sini."Arlan berdiri tiba-tiba, menyambar lampu tidur yang tersisa di nakas dan membantingnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping."DIAM! JANGAN BICARA LAGI!" teriak Arlan seperti orang gila. Dia menjambak rambutnya sendiri, mondar-mandir di depan ranjang dengan telanjang, harga dirinya hancur lebur di lantai.Lia mengamati pemandangan itu dengan kepuasan dingin. Dia sakit. Selangkangannya perih, bibirnya bengkak, dan hatinya merindukan Kael. Tapi melihat Pencipta Aridonia hancur berantakan seperti anak kecil yang kalah main? Itu adalah kemenangan manis.Arlan akhirnya berhenti mondar-mandir. Dia menatap Lia dengan tatapan yang berubah. Bukan lagi nafsu atau cinta, tapi ketakutan. Dia takut p

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status