공유

Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu
Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu
작가: Alisha Avandra

Bab 1

작가: Alisha Avandra
Saat Jihan pulang ke rumah, terdengar suara pancuran air dari kamar mandi.

Seorang wanita muda sedang menuruni tangga dari lantai dua sambil membawa pakaian dalam milik Jevan.

Begitu melihatnya, wanita itu memperkenalkan diri dengan hati-hati, "Halo, Bu Jihan, saya Nadya Larasati, asisten baru Pak Jevan."

Jihan tersenyum tipis.

"Aku tahu, kau pacar barunya. Minggu lalu dia bahkan mengajakmu berlibur ke luar negeri."

Nadya segera mengibaskan tangan dan membantah, "Bu Jihan, Anda salah paham. Anda itu istrinya Pak Jevan, beliau nggak akan pernah mengkhianati Anda."

Jihan tidak tahu apakah Nadya benar-benar tidak tahu, atau hanya berpura-pura polos.

Semua orang di lingkungan mereka tahu bahwa dia dan Jevan sudah lama berubah dari pasangan idaman kampus yang dahulu membuat banyak orang iri menjadi sepasang suami istri menyedihkan yang hanya tampak harmonis di luar, padahal hati mereka telah lama terpisah.

Perselingkuhan Jevan dan kebiasaannya berganti-ganti perempuan sudah menjadi hal biasa. Sementara itu, dia yang dulu dipuja dan dihargai setinggi langit olehnya, kini telah berubah menjadi istri yang diabaikan dan dicampakkan.

Dari usia delapan belas hingga dua puluh delapan tahun, sepuluh tahun hubungan mereka sudah lama berubah menjadi puing-puing kehancuran.

Jihan berkata, "Kau sangat istimewa. Jevan belum pernah membawa wanita lain pulang."

Rumah di Griya Cendana ini adalah rumah yang dibeli olehnya dan Jevan sebagai tempat tinggal setelah menikah, lima tahun lalu.

Sebersit kejutan melintas di mata Nadya sebelum dia menjelaskan dengan suara lembut, "Pak Jevan mabuk, jadi saya mengantarnya pulang."

Menemani atasan menghadiri jamuan bisnis, atasannya mabuk, tetapi dirinya sendiri sama sekali tidak menyentuh alkohol?

Terlebih lagi, Jevan memiliki sopir pribadi.

Jihan tidak membongkar kebohongan Nadya.

Dia dan Jevan sudah dua bulan tidak bertemu.

Dua bulan lalu, tepat pada hari ulang tahunnya yang kedua puluh delapan, Jihan sedang makan malam sendirian di restoran hotel bintang lima, secara tak sengaja bertemu Jevan yang sedang menikmati makan malam romantis ditemani cahaya lilin bersama seorang model muda.

Dia menghampiri Jevan, menamparnya, lalu memakinya dengan wajah penuh amarah, menyebutnya menjijikkan dan tidak tahu malu.

Jevan hanya tersenyum dingin, lalu berkata, "Jihan, bagaimana kalau kau bercermin dan melihat seperti apa dirimu sekarang?"

Kemudian, sambil merangkul pinggang model muda tersebut, dia berbalik dan pergi ke kamar suite di lantai paling atas untuk bercinta.

Malam itu, Jihan kembali ke rumah yang kosong ini dan menghancurkan semua barang yang bisa dihancurkannya.

Kemudian, saat melihat pantulan dirinya yang tampak begitu berbeda dan berantakan di cermin, dia tiba-tiba menangis sejadi-jadinya.

Bagaimana mungkin, bagaimana mungkin dia berubah menjadi wanita penuh kebencian yang histeris seperti ini?

Setelah hari itu, Jihan pindah dari rumah tersebut, dan Jevan sama sekali tidak pernah mencarinya lagi. Namun, tak lama kemudian, dia mendengar kabar bahwa Jevan telah putus dengan model muda tersebut.

Tak disangka, pria itu begitu cepat mendapatkan kekasih baru lagi.

Hari ini, Jihan pulang dengan membawa surat perjanjian perceraian.

Jevan masih mandi ketika Nadya menghampiri pintu kamar mandi dan mengetuknya. Dengan suara manja yang begitu lembut, dia memanggil, "Pak Jevan." Dari sudut matanya, Jihan melihat pintu kamar mandi terbuka dan Nadya menyerahkan pakaian kepada pria itu dengan wajah memerah.

Jihan berbalik dan menaiki tangga ke lantai atas.

…

Saat sedang membereskan barang-barangnya, Jihan menemukan cincin pernikahan mereka di dalam laci.

Lima tahun lalu, Jevan mengangkat cincin ini sambil berlutut dengan satu kaki untuk melamarnya.

Hari itu adalah ulang tahunnya yang kedua puluh tiga, Jevan bersumpah dengan penuh kesungguhan dan antusias, "Sayang, aku pasti akan memberimu kebahagiaan seumur hidup."

Jihan saat itu tidak pernah membayangkan bahwa pada hari ulang tahunnya lima tahun kemudian, hubungannya dengan Jevan akan sampai pada titik ketika mereka saling membenci dan bahkan merasa muak hanya dengan berbicara satu sama lain.

Jihan tidak membawa cincin itu.

Saat turun ke lantai bawah, Jevan mengenakan piyama longgar, menyilangkan kaki panjangnya, dan bersandar dengan santai di sofa.

Nadya membawa teh pereda mabuk ke hadapan pria itu. Jevan melingkarkan lengannya pada pinggang ramping wanita tersebut, sementara pipinya memerah seperti buah yang matang di puncak musim panas.

Jihan berkata dengan tenang, "Jevan, tandatangani surat perjanjian perceraian ini."

Gerakan pria itu saat minum teh terhenti sejenak, dia lalu memalingkan kepala dan menatap Jihan.

Dia melepaskan tangannya yang melingkar erat di pinggang Nadya, baru kemudian melirik dokumen di atas meja, lalu tertawa sinis dan berkata, "Trik apa lagi yang kau mainkan kali ini?"

Jihan menjawab, "Aku sudah nggak berminat membuang-buang waktu untukmu. Tandatangani saja surat itu, dan kita bisa berpisah baik-baik."

"Berpisah baik-baik?"

Jevan seolah mendengar lelucon yang paling konyol, dia membalas, "Kau nggak bisa melahirkan anak, sudah membuang waktuku selama bertahun-tahun, dan sekarang mau pergi begitu saja cuma dengan menandatangani surat perjanjian cerai?"

Jihan menjawab tanpa ekspresi, "Kalau punya anak denganmu, aku justru takut anak itu lahir langsung bawa paket lengkap penyakit kelamin darimu."

Dalam hal saling menyerang dengan kata-kata paling menyakitkan untuk melukai harga diri satu sama lain, Jihan dan Jevan memang selalu seimbang. Tak ada yang mau mengalah, dan tidak memberi sedikit pun belas kasihan kepada lawan.

Jihan pun sudah lama mati rasa hingga tidak lagi merasakan gejolak emosi apa pun.

Jevan juga menatapnya dengan dingin.

"Pak Jevan."

Nadya yang berdiri di samping tiba-tiba berbicara dengan nada ragu dan takut, "Saya nggak akan mengganggu Anda dan Bu Jihan, saya pergi dulu."

Jevan melirik salju lebat yang memenuhi pemandangan di balik jendela besar, lalu berkata, "Saljunya lebat dan jalanan licin, nggak aman kalau kau pulang menyetir sendiri. Cari saja kamar di sini untuk menginap semalam."

Nadya melirik Jihan, lalu berkata dengan ragu, "Ini … apa nggak berlebihan? Bu Jihan …."

"Nggak ada yang berlebihan."

Jevan memotong perkataannya, lalu menatap Jihan tanpa ekspresi dan berkata, "Perjanjiannya aku mau baca dulu dan hubungi pengacara. Kau boleh pergi sekarang."

…

Saat Jihan keluar dari rumah, angin salju seolah menerpa matanya. Salju yang mencair terasa begitu dingin menusuk tulang hingga ujung hidung dan matanya memerah.

Dia teringat masa-masa awal hubungannya dengan Jevan. Tahun itu, salju juga turun selebat ini.

Saat itu, sekolah sedang libur. Malam sebelumnya, Jihan mengirim pesan pada Jevan, [Jevan, aku sangat merindukanmu.] Keesokan paginya, di bawah apartemennya, dia melihat Jevan berdiri dengan tubuh dipenuhi salju, tersenyum sambil merentangkan kedua tangan ke arahnya.

Pria itu bahkan membuatkan sebuah boneka salju untuknya.

Boneka salju itu putih, gemuk, dan bulat menggemaskan, mengenakan topi bisbol yang pernah dia berikan kepada pria itu.

Tetapi, bagaimana sekarang?

Boneka salju dari tahun itu telah mencair, dan Jevan yang mencintainya pun telah menghilang.

Salju tebal menghalangi jalan, sementara permukaan jalan menjadi basah dan licin.

Jihan mengemudi dengan sangat hati-hati. Namun, ketika nasib buruk datang, bahkan saat minum air pun bisa membuat seseorang tersedak. Dia tetap saja tanpa sengaja menabrak bagian belakang sebuah mobil Bently.

Setelah turun dari mobil, Jihan melihat sopir Bently itu membuka pintu belakang dengan hormat. Seorang pria berbalut setelan jas hitam pekat kemudian turun dari mobil.

Saat melihat wajah pria itu dengan jelas, fiturnya tegas dan tampak sedikit familiar, Jihan tertegun sejenak.

"Sean?"

Sean adalah salah satu sahabat terdekat Jevan.

Berbeda dengan anak-anak pejabat dan orang kaya yang dibesarkan dalam kemewahan sejak kecil, Sean berasal dari keluarga miskin. Saat kuliah, meskipun menerima beasiswa prestasi dan dana bantuan pendidikan, dia tetap harus bekerja di beberapa tempat sekaligus demi mencukupi kebutuhan hidup.

Tak ada yang menyangka, Sean yang dulu tak memiliki apa-apa dan sama sekali tidak punya koneksi atau latar belakang kuat, kini justru menjadi miliarder baru dengan kekayaan paling mencolok di antara para pewaris keluarga elite tersebut, dengan harta mencapai ratusan triliun.

Saat pernikahannya dan Jevan dulu, Sean juga hadir, bahkan sebagai pendamping pengantin pria utama. Dengan wajahnya yang terkesan sopan sekaligus dingin, dia hanya mengucapkan satu kalimat kepadanya

“Selamat atas pernikahan kalian.”

Setelah lima tahun, aura yang terpancar dari Sean semakin dingin dan tajam. Pria itu berjalan menembus angin dan salju hingga tiba di hadapan Jihan. Tatapannya yang tenang dan acuh tak acuh tampak begitu hitam dan tajam di tengah hamparan salju putih.

"Kenapa kau keluar sendirian? Di mana Jevan?"

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 50

    Jihan terdiam sejenak saat mengingat masa lalu, tetapi akhirnya tetap berkata kepada Sean."Ada satu hal lagi, alasan kenapa Jevan menghalangiku datang ke sidang hari itu adalah karena dia tiba-tiba tahu …."Jihan berhenti sejenak, lalu melanjutkan perkataannya, "Dulu aku pernah menyukaimu."Pilihan katanya benar-benar tepat.Dulu.Pernah menyukai.Dua kata sederhana itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa sekarang dia tidak lagi memiliki perasaan terhadap pria tersebut.Sosok dan wajah Sean menyatu dengan kegelapan malam, membuat Jihan semakin sulit melihat ekspresinya dengan jelas.Setelah hening sejenak, barulah Jihan mendengar suaranya yang dingin."Kenapa? Apa kau malu mengakui kalau dulu pernah menyukaiku?"Bukan itu maksud Jihan."Aku cuma merasa dalam situasi seperti sekarang, sebaiknya kita lebih berhati-hati."Dia menatap Sean dengan lekat, lalu dengan serius mengungkapkan apa yang ada di benaknya, "Aku nggak mau ada masalah lain yang menghambat proses perceraianku."Setelah

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 49

    Begitu Fajar selesai berbicara, Jihan belum sempat menjawab, dia justru merasakan udara di sekitarnya mendadak menjadi jauh lebih dingin dari biasanya.Dia menoleh. Saat melihat Sean, matanya kembali berbinar, lalu menyapanya, "Kak Sean, kenapa kau juga ada di sini?"Dia lalu melirik ke dalam restoran dan bertanya, "Kak Jevan masih di dalam ya? Aku mau masuk sebentar menyapanya!""Dia nggak ada di sini.”Sean menjawab dengan datar.Fajar terkejut sejenak.Jihan pun melirik Sean dengan sedikit heran.Bukankah ini sama saja dengan memberitahu Fajar secara terang-terangan bahwa mereka berdua makan bersama tanpa orang lain?Jihan memang tidak merasa bersalah saat berduaan dengan Sean. Namun, bagaimanapun juga, surat cerainya dengan Jevan belum resmi keluar. Jika sampai muncul masalah baru di saat seperti ini, tentu bukan hal yang baik.Begitu memikirkannya, rasa heran di mata Jihan perlahan berubah menjadi sedikit ketidaksetujuan.Sean melirik ke samping dan melihat jelas perubahan emosi d

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 48

    Semakin Sean mengabaikannya, semakin Jihan menjadi-jadi.Sampai akhirnya, Sean benar-benar menjauh darinya dan bahkan tidak mau berbicara dengannya.Baru saat itulah dia menyadari, ternyata Sean benar-benar membencinya.Jihan melamun sambil mengingat masa lalu.Tanpa disadari, beberapa helai rambut di dekat telinganya terurai dan jatuh perlahan, menyapu bahu Sean seperti bulu yang ringan.Meski terhalang kain jas, sentuhan itu tetap menimbulkan rasa geli yang mengusik hati.Ketika tersadar dari lamunannya, dia melihat Sean tiba-tiba berdiri dan menjauh darinya.Sepertinya sama seperti dulu, dia tidak mau berada terlalu dekat dengan Jihan.Jihan mengedipkan mata, melirik jam, lalu bertanya, "Kau sudah makan malam?"Sean tidak menatapnya dan menjawab, "Aku sedang menunggumu."Jihan sedikit tertegun.Lalu tersenyum sambil berkata, "Kalau begitu, tunggu aku sebentar, aku mau menyerahkan giliran jaga dulu, nanti kita makan malam bersama."…Setelah keluar dari rumah sakit, Sean mengemudi, s

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 47

    Jihan terkejut sejenak, lalu bertanya, "Kenapa kau datang ke sini?""Ganti perban."Suara Sean terdengar datar.Mendengar jawaban pria itu, Jihan tanpa sadar menatap bahu kirinya dengan penuh perhatian. Namun, Sean mengenakan setelan jas dan tampak begitu tenang sehingga tidak terlihat ada yang salah.Dia berkata, "Kalau begitu, tunggu sebentar, aku ambilkan obatnya."Jihan berbalik hendak pergi ke apotek. Kebetulan Sonia juga sedang turun. Saat mereka masuk ke lift bersama, Sonia berkata dengan nada penuh arti, "Pria tampan itu cuma pasien? Kulihat kalian berdua kelihatannya lumayan akrab."Jihan berpikir dalam hati bahwa sebenarnya mereka belum terlalu akrab sekarang, tetapi entah bagaimana hubungan mereka nanti, itu belum bisa dipastikan."Dia teman Jevan, terluka dua hari yang lalu, kebetulan saja bertemu denganku."Jihan menjelaskan.Sonia mengangkat alisnya sambil berkata, "Temanmu ini memang sangat tampan. Bahkan lebih tampan daripada calon mantan suamimu."Jevan adalah tipe pri

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 46

    Saat melihat Jevan turun dari mobil Maibara, Jihan sempat bertatapan dengannya sesaat, lalu dengan tenang berbalik dan lebih dahulu memasuki Kantor Catatan Sipil.Jevan mengikutinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Keduanya mengisi formulir permohonan cerai di meja pelayanan.Saat mendengar petugas menjelaskan tentang masa tunggu perceraian selama tiga puluh hari, Jihan mengernyit, lalu bertanya, "Maksud Anda, kalau salah satu pihak tiba-tiba berubah pikiran, permohonan cerai ini bisa dicabut?""Benar, Bu."Jihan melirik Jevan.Matanya penuh dengan keraguan."Aku sudah menandatanganinya, apa lagi yang kau khawatirkan?"Jevan menyerahkan kembali formulir yang sudah diisi kepada petugas, lalu berkata pada Jihan, "Tanda tangan nggak bisa ditarik lagi. Sekarang, kau bahkan nggak percaya padaku?"Jihan menjawab dengan datar, "Orang yang kemarin memaksaku nggak hadir di sidang, apa pantas bilang begitu?"Suasana canggung.Baik dari raut wajah maupun nada bicaranya, Jihan tampak begitu din

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 45

    Apa lagi yang bisa dikatakan? Mantan istri dan mantan suami justru merupakan ancaman yang lebih besar daripada orang ketiga.Jevan tetap diam.Haris tahu kapan harus berhenti. Setelah selesai berbicara, dia menunggu dengan tenang di samping, tanpa mendesak ataupun pergi.Rumah besar Keluarga Adiwangsa begitu luas dan sunyi sampai suara jarum jatuh pun seolah bisa terdengar. Hanya ada suara pelan para pelayan yang berlalu-lalang sambil bekerja.Entah sudah berapa lama waktu berlalu.Jevan mengambil surat perjanjian perceraian itu, lalu berjalan ke ruang kerja di sebelah. Dari tempat alat tulis, dia mengambil acak sebuah pena.Pena itu terbuat dari bahan berkualitas, berwarna hitam pekat, dan sangat sesuai dengan selera gayanya.Tangan Jevan terhenti saat hendak membuka tutup pena.Pena ini adalah hadiah dari Jihan saat mereka masih kuliah.Dulu, Jihan sering memuji tulisan tangannya yang indah. Karena itu, pada ulang tahun pertama Jevan yang dirayakan bersamanya, dia menghadiahkan pena

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status