로그인
Jihan terdiam sejenak saat mengingat masa lalu, tetapi akhirnya tetap berkata kepada Sean."Ada satu hal lagi, alasan kenapa Jevan menghalangiku datang ke sidang hari itu adalah karena dia tiba-tiba tahu …."Jihan berhenti sejenak, lalu melanjutkan perkataannya, "Dulu aku pernah menyukaimu."Pilihan katanya benar-benar tepat.Dulu.Pernah menyukai.Dua kata sederhana itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa sekarang dia tidak lagi memiliki perasaan terhadap pria tersebut.Sosok dan wajah Sean menyatu dengan kegelapan malam, membuat Jihan semakin sulit melihat ekspresinya dengan jelas.Setelah hening sejenak, barulah Jihan mendengar suaranya yang dingin."Kenapa? Apa kau malu mengakui kalau dulu pernah menyukaiku?"Bukan itu maksud Jihan."Aku cuma merasa dalam situasi seperti sekarang, sebaiknya kita lebih berhati-hati."Dia menatap Sean dengan lekat, lalu dengan serius mengungkapkan apa yang ada di benaknya, "Aku nggak mau ada masalah lain yang menghambat proses perceraianku."Setelah
Begitu Fajar selesai berbicara, Jihan belum sempat menjawab, dia justru merasakan udara di sekitarnya mendadak menjadi jauh lebih dingin dari biasanya.Dia menoleh. Saat melihat Sean, matanya kembali berbinar, lalu menyapanya, "Kak Sean, kenapa kau juga ada di sini?"Dia lalu melirik ke dalam restoran dan bertanya, "Kak Jevan masih di dalam ya? Aku mau masuk sebentar menyapanya!""Dia nggak ada di sini.”Sean menjawab dengan datar.Fajar terkejut sejenak.Jihan pun melirik Sean dengan sedikit heran.Bukankah ini sama saja dengan memberitahu Fajar secara terang-terangan bahwa mereka berdua makan bersama tanpa orang lain?Jihan memang tidak merasa bersalah saat berduaan dengan Sean. Namun, bagaimanapun juga, surat cerainya dengan Jevan belum resmi keluar. Jika sampai muncul masalah baru di saat seperti ini, tentu bukan hal yang baik.Begitu memikirkannya, rasa heran di mata Jihan perlahan berubah menjadi sedikit ketidaksetujuan.Sean melirik ke samping dan melihat jelas perubahan emosi d
Semakin Sean mengabaikannya, semakin Jihan menjadi-jadi.Sampai akhirnya, Sean benar-benar menjauh darinya dan bahkan tidak mau berbicara dengannya.Baru saat itulah dia menyadari, ternyata Sean benar-benar membencinya.Jihan melamun sambil mengingat masa lalu.Tanpa disadari, beberapa helai rambut di dekat telinganya terurai dan jatuh perlahan, menyapu bahu Sean seperti bulu yang ringan.Meski terhalang kain jas, sentuhan itu tetap menimbulkan rasa geli yang mengusik hati.Ketika tersadar dari lamunannya, dia melihat Sean tiba-tiba berdiri dan menjauh darinya.Sepertinya sama seperti dulu, dia tidak mau berada terlalu dekat dengan Jihan.Jihan mengedipkan mata, melirik jam, lalu bertanya, "Kau sudah makan malam?"Sean tidak menatapnya dan menjawab, "Aku sedang menunggumu."Jihan sedikit tertegun.Lalu tersenyum sambil berkata, "Kalau begitu, tunggu aku sebentar, aku mau menyerahkan giliran jaga dulu, nanti kita makan malam bersama."…Setelah keluar dari rumah sakit, Sean mengemudi, s
Jihan terkejut sejenak, lalu bertanya, "Kenapa kau datang ke sini?""Ganti perban."Suara Sean terdengar datar.Mendengar jawaban pria itu, Jihan tanpa sadar menatap bahu kirinya dengan penuh perhatian. Namun, Sean mengenakan setelan jas dan tampak begitu tenang sehingga tidak terlihat ada yang salah.Dia berkata, "Kalau begitu, tunggu sebentar, aku ambilkan obatnya."Jihan berbalik hendak pergi ke apotek. Kebetulan Sonia juga sedang turun. Saat mereka masuk ke lift bersama, Sonia berkata dengan nada penuh arti, "Pria tampan itu cuma pasien? Kulihat kalian berdua kelihatannya lumayan akrab."Jihan berpikir dalam hati bahwa sebenarnya mereka belum terlalu akrab sekarang, tetapi entah bagaimana hubungan mereka nanti, itu belum bisa dipastikan."Dia teman Jevan, terluka dua hari yang lalu, kebetulan saja bertemu denganku."Jihan menjelaskan.Sonia mengangkat alisnya sambil berkata, "Temanmu ini memang sangat tampan. Bahkan lebih tampan daripada calon mantan suamimu."Jevan adalah tipe pri
Saat melihat Jevan turun dari mobil Maibara, Jihan sempat bertatapan dengannya sesaat, lalu dengan tenang berbalik dan lebih dahulu memasuki Kantor Catatan Sipil.Jevan mengikutinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Keduanya mengisi formulir permohonan cerai di meja pelayanan.Saat mendengar petugas menjelaskan tentang masa tunggu perceraian selama tiga puluh hari, Jihan mengernyit, lalu bertanya, "Maksud Anda, kalau salah satu pihak tiba-tiba berubah pikiran, permohonan cerai ini bisa dicabut?""Benar, Bu."Jihan melirik Jevan.Matanya penuh dengan keraguan."Aku sudah menandatanganinya, apa lagi yang kau khawatirkan?"Jevan menyerahkan kembali formulir yang sudah diisi kepada petugas, lalu berkata pada Jihan, "Tanda tangan nggak bisa ditarik lagi. Sekarang, kau bahkan nggak percaya padaku?"Jihan menjawab dengan datar, "Orang yang kemarin memaksaku nggak hadir di sidang, apa pantas bilang begitu?"Suasana canggung.Baik dari raut wajah maupun nada bicaranya, Jihan tampak begitu din
Apa lagi yang bisa dikatakan? Mantan istri dan mantan suami justru merupakan ancaman yang lebih besar daripada orang ketiga.Jevan tetap diam.Haris tahu kapan harus berhenti. Setelah selesai berbicara, dia menunggu dengan tenang di samping, tanpa mendesak ataupun pergi.Rumah besar Keluarga Adiwangsa begitu luas dan sunyi sampai suara jarum jatuh pun seolah bisa terdengar. Hanya ada suara pelan para pelayan yang berlalu-lalang sambil bekerja.Entah sudah berapa lama waktu berlalu.Jevan mengambil surat perjanjian perceraian itu, lalu berjalan ke ruang kerja di sebelah. Dari tempat alat tulis, dia mengambil acak sebuah pena.Pena itu terbuat dari bahan berkualitas, berwarna hitam pekat, dan sangat sesuai dengan selera gayanya.Tangan Jevan terhenti saat hendak membuka tutup pena.Pena ini adalah hadiah dari Jihan saat mereka masih kuliah.Dulu, Jihan sering memuji tulisan tangannya yang indah. Karena itu, pada ulang tahun pertama Jevan yang dirayakan bersamanya, dia menghadiahkan pena







