Share

Sepuluh Tahunku Tak Akan Pernah Sia-Sia
Sepuluh Tahunku Tak Akan Pernah Sia-Sia
Author: Michelle

Bab 1

Author: Michelle
Makan malam telah berakhir, Mario melepas cincin pernikahannya dan menjatuhkannya ke dalam kompartemen penyimpanan mobil.

Aku pindah ke kursi belakang tanpa diminta. Dia menatapku melalui kaca spion, terkejut karena aku tidak duduk di sebelahnya.

"Ada apa?"

Aku mengerti maksudnya. Itu adalah jenis pemahaman tak terucapkan yang telah kami bangun selama sepuluh tahun penuh kesulitan.

"Kita sudah sepakat di malam pernikahan kita," kataku. "Aku tidak akan pernah mencoba menggantikan Serena."

Sepuluh tahun yang lalu, Serena menghilang pada malam sebelum pernikahan. Orang tuanya membawaku kembali dari pedesaan dengan tergesa-gesa dan mengumumkan bahwa aku adalah putri kandung mereka, kemudian memaksaku untuk menikah dengan Keluarga Lunardi. Di malam pernikahan kami, Mario mabuk hingga tak sadarkan diri dan memanggil nama Serena selama berjam-jam.

Sementara Serena mengangkat gelas sampanye di pembukaan galeri seni di Eropa, aku menghadiri pertemuan-pertemuan yang tidak bisa dihadiri Mario selama bertahun-tahun ketika keluarga itu mengabaikannya. Aku mencegah sekutu-sekutu kami untuk berbalik melawan kami. Sementara Serena bermain ski di Pegunungan Alpena, aku menghabiskan sepanjang malam di meja perundingan dan mengamankan wilayah pertama yang benar-benar menjadi milik Keluarga Lunardi.

Serena memiliki kebebasan selama sepuluh tahun. Lalu, dia kembali dan menyuruhku pergi seolah-olah dia bisa mengambil semuanya tanpa membayar sepeser pun.

Bibir Mario bergerak. "Gina, sebenarnya kita ...."

Ponselnya berdering sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya. Nama Serena muncul di layar, dia menjawab melalui sambungan nirkabel mobil.

"Mario, aku dengar dari orang tuaku kalau kau masih belum punya anak. Apa itu karena kau masih menungguku?"

Suaranya terdengar riang dan malu-malu.

"Serena, apa yang kau bicarakan?" Nyonya Lusi menyela dari ujung telepon.

Topik tentang anak-anak selalu menjadi hal yang terlarang bagiku. Ketika berusia dua puluh lima tahun, aku sudah kehilangan anak pertamaku. Tahun itu Mario sedang bertengkar dengan Valeria, ibu dari saudara tirinya yang bernama Willy, untuk memperebutkan kekuasaan keluarga. Mobilku dipaksa keluar jalur oleh dua kendaraan di jalan tol, dan kantong udara mobil itu mengembang terlambat. Aku terbaring di ranjang rumah sakit menyaksikan Mario terus memegang tanganku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Ketika berusia dua puluh delapan tahun, aku hamil lagi. Kali ini aku lebih berhati-hati. Aku tidak pernah pergi ke mana pun tanpa pengawal, bahkan hampir tidak pernah meninggalkan rumah. Berita itu tetap bocor. Suatu sore, sebuah peluru menembus jendela apartemen dan langsung menembus bagian belakang sofa tempatku duduk. Aku membentur sudut meja ketika jatuh, dan perjalanan ke rumah sakit sangat berat. Bayi itu tidak terselamatkan. Aku menangis hingga tak bisa bernapas, Mario memelukku dan bersumpah bahwa hal semacam itu tidak akan pernah terjadi lagi.

Dia menepati janjinya. Dia mengusir Valeria dan Willy dari Kota Retrodas dan memutus setiap celah yang bisa digunakan oleh musuh untuk menjangkau kami. Keluarga Lunardi berkuasa dan memerintah dengan tangan besi, dan semua orang tahu apa artinya jika berani menyentuh keluarga itu.

Ketika Mario menjadi Sang Ketua Mafia pada usia tiga puluh dua tahun, dia memberikan wawancara pertamanya. Dia mengucapkan beberapa kata terima kasih kepadaku di depan kamera. Seminggu setelah wawancara itu ditayangkan, Serena pun kembali.

Mario melihat wajahku di kaca spion dan langsung mengakhiri panggilan.

"Gina, Serena tidak tahu apa yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir ini. Dia selalu dilindungi dan terjaga. Terkadang dia berbicara tanpa berpikir."

"Cukup." Aku memotongnya. "Bos jarang berbicara dengan siapa pun, tetapi kalau menyangkut Serena, kau tidak bisa berhenti bicara. Kau bahkan sekarang membelanya."

Dia mengerutkan kening dan menepikan mobil dengan tajam.

"Gina, apa kau masih marah tentang apa yang terjadi saat itu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sepuluh Tahunku Tak Akan Pernah Sia-Sia   Bab 11

    Setelah situasi Willy mereda, pelabuhan kembali ke ritme normalnya. Aku menghabiskan lebih banyak waktu di kantor sekarang karena ada lebih banyak hal yang harus ditangani. Setiap jalur yang berada di bawah kendaliku sekarang membutuhkan tanda tanganku. Awalnya memang terasa lambat, tetapi pada minggu ketiga, semua telah menjadi rutinitas.Mario tidak pernah menelepon lagi, namun sebuah dokumen datang melalui pengacaraku. Dia telah menandatangani pengalihan operasional bisnis yang tersisa seperti yang dia janjikan. Sebuah catatan kecil terlampir di dalamnya, hanya satu baris: [Ini memang selalu menjadi milikmu.]Perantara yang disebutkan Serena menghilang dari peredaran dalam waktu seminggu, dan aku tidak pernah bertanya ke mana dia pergi.Aku tidak membalas catatan itu. Aku hanya memasukkan catatan itu ke dalam berkas bersama catatan pembelian obat dan kembali fokus menandatangani dokumen-dokumen.Dua bulan kemudian, pelabuhan melakukan penghitungan kuartal. Tiga perusahaan pengiriman

  • Sepuluh Tahunku Tak Akan Pernah Sia-Sia   Bab 10

    Tiga hari kemudian, aku sedang memeriksa laporan volume bulanan pelabuhan saat sebuah notifikasi muncul di ponsel. Aku membacanya dan langsung menegakkan posisi dudukku.Willy Lunardi telah kembali. Saudara tiri Mario yang selama ini bersembunyi di Pantai Timur sejak dia diusir dari Kota Retrodas. Sekarang dia muncul dengan surat wasiat yang dia klaim sudah ditandatangani oleh Sang Ketua Mafia terdahulu sebelum kematiannya. Surat wasiat itu menyatakan bahwa enam puluh persen aset Keluarga Lunardi harus diberikan kepada Willy karena ayah mereka telah mengubah pembagiannya sebulan sebelum meninggal, dan Mario telah menggunakan wewenangnya untuk menyembunyikan dokumen tersebut.Willy tidak pergi ke media massa atau tabloid gosip. Dia pergi ke majalah keuangan dunia mafia yang khusus dalam membongkar rekening rahasia keluarga-keluarga elit. Laporan itu mencakup tangkapan layar, nomor berkas, dan memo dari firma hukum. Semua itu tampak sangat asli.Dalam beberapa jam, saham Keluarga Lunardi

  • Sepuluh Tahunku Tak Akan Pernah Sia-Sia   Bab 9

    Aku tetap bertahan di kantor sampai pukul tiga pagi. Mobil dengan plat nomor tak dikenal itu sempat berhenti di gerbang samping selama empat puluh menit, lalu pergi. Pekerja pelabuhan mengatakan bahwa ada seorang pria yang keluar dan berjalan mengelilingi gudang, namun orang itu tidak mendekati gedung utama. Dia jelas sedang memeriksa tata letak lokasi.Aku mengirimkan nomor plat tersebut kepada pemilik perusahaan keamanan yang kukenal. Dia mengatakan akan memberikan jawaban dalam dua jam.Pukul enam pagi, langit masih diselimuti awan kelabu. Udara pelabuhan masuk menerobos melalui celah jendela, membawa bau karat dan aroma asin air laut. Aku mengenakan mantel lama dan duduk di kursi keras sambil membolak-balik lembaran kontrak yang telah kutandatangani semalam.Ponselku berdering. Perusahaan keamanan itu berhasil mendapatkan sebuah nama. Mobil itu terdaftar atas nama perusahaan fiktif dengan arus kas masuk selama tiga bulan terakhir yang dapat ditelusuri kembali dan mengarah ke rekeni

  • Sepuluh Tahunku Tak Akan Pernah Sia-Sia   Bab 8

    Ekspresi Mario langsung berubah. Sesuatu seakan telah muncul di benaknya. Dia membuka mulut, tetapi aku sudah berbicara lebih dulu."Bos, kau sepertinya lupa sesuatu. Sepuluh tahun yang lalu, aku dengar kau bilang Serena tidak akan pernah mampu menghadapi apa yang telah kutangani.""Gina, aku masih muda saat itu." Suaranya menegang. "Sepuluh tahun bisa mengubah seseorang. Apa kau tidak bisa melihat semua perubahan itu?"Aku menatapnya. "Apa hanya karena kau sudah berubah, aku harus berpura-pura bahwa semua itu tidak pernah terjadi? Kalau Serena tidak melarikan diri, apa kau akan mengirimnya ke semua ruang negosiasi itu, ke tengah upaya pembunuhan itu, dan menerima semua serangan yang kuterima?"Dia tidak menjawab. Tangannya menekan tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih."Gina, apa harus seperti ini?"Aku mengangguk dan memberinya senyuman hambar. "Menyebut sepuluh tahun itu sebagai sebuah transaksi adalah hal yang adil bagi kita berdua."Dia menarik napas dalam-dalam seperti sedan

  • Sepuluh Tahunku Tak Akan Pernah Sia-Sia   Bab 7

    Mario melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Kami saling pandang dari seberang meja untuk waktu yang cukup lama. Dia melihat ke sekeliling ruangan. Dinding putih, lemari arsip dari besi, meja arsip yang penuh dengan kertas dan derek-derek pelabuhan yang tampak bergerak di luar jendela. Dia tersenyum, tetapi senyuman itu tidak sampai ke matanya."Sepertinya kau baik-baik saja."Aku tidak menjawab. Aku mengambil gelas, menyesap air, dan kembali melihat kertas-kertas di hadapanku. Dia melangkah lebih dekat dan berdiri di samping meja, melirik nama-nama yang tertera di dokumen-dokumen tersebut."Tentang semua yang terjadi ... aku minta maaf.""Untuk apa?" Aku tidak mendongak."Untuk semuanya. Aku ingat semua yang kau lakukan untukku. Aku tidak akan bisa melewati tahun-tahun itu tanpamu, semua negosiasi yang kau hadiri untukku, upaya pembunuhan yang kau hentikan dan juga anak-anak yang hilang dari sisimu. Aku tidak pernah melupakan semua itu."Suaranya merendah."Apa yang kukatak

  • Sepuluh Tahunku Tak Akan Pernah Sia-Sia   Bab 6

    Saat pesawat mendarat, berita utama sudah berganti. [Sang Nyonya Keluarga Lunardi Disergap di Jalan Tol.] Foto itu menunjukkan wajahku yang disorot kilatan lampu kamera. Rambutku tampak acak-acakan. Garis tipis darah mengalir di sudut mulutku. Aku tidak membuka kolom komentar karena ada hal yang lebih penting untuk kulakukan.Seorang temanku memiliki ruangan kantor kosong di pinggiran kota. Ukurannya tidak besar, hanya ada sebuah meja, sebuah kursi, dan sebuah jendela menghadap ke jalanan yang sepi. Aku duduk, membuka laptopku, dan masuk ke akun-akun bisnis yang telah kubangun. Aku pun menetapkan ulang hak akses satu per satu dan semuanya kembali ke atas namaku sendiri.Laporan keuangan yang telah kukelola untuk Keluarga Lunardi. Jalur perdagangan yang telah kusiapkan. Personel pelabuhan yang telah kutempatkan di posisi-posisi inti. Setiap jengkal dari bisnis ini adalah milikku. Aku yang menulis dan merancang semuanya dari awal.Ponselku berdering, lalu terdengar suara pengacaraku deng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status