MasukSetelah situasi Willy mereda, pelabuhan kembali ke ritme normalnya. Aku menghabiskan lebih banyak waktu di kantor sekarang karena ada lebih banyak hal yang harus ditangani. Setiap jalur yang berada di bawah kendaliku sekarang membutuhkan tanda tanganku. Awalnya memang terasa lambat, tetapi pada minggu ketiga, semua telah menjadi rutinitas.Mario tidak pernah menelepon lagi, namun sebuah dokumen datang melalui pengacaraku. Dia telah menandatangani pengalihan operasional bisnis yang tersisa seperti yang dia janjikan. Sebuah catatan kecil terlampir di dalamnya, hanya satu baris: [Ini memang selalu menjadi milikmu.]Perantara yang disebutkan Serena menghilang dari peredaran dalam waktu seminggu, dan aku tidak pernah bertanya ke mana dia pergi.Aku tidak membalas catatan itu. Aku hanya memasukkan catatan itu ke dalam berkas bersama catatan pembelian obat dan kembali fokus menandatangani dokumen-dokumen.Dua bulan kemudian, pelabuhan melakukan penghitungan kuartal. Tiga perusahaan pengiriman
Tiga hari kemudian, aku sedang memeriksa laporan volume bulanan pelabuhan saat sebuah notifikasi muncul di ponsel. Aku membacanya dan langsung menegakkan posisi dudukku.Willy Lunardi telah kembali. Saudara tiri Mario yang selama ini bersembunyi di Pantai Timur sejak dia diusir dari Kota Retrodas. Sekarang dia muncul dengan surat wasiat yang dia klaim sudah ditandatangani oleh Sang Ketua Mafia terdahulu sebelum kematiannya. Surat wasiat itu menyatakan bahwa enam puluh persen aset Keluarga Lunardi harus diberikan kepada Willy karena ayah mereka telah mengubah pembagiannya sebulan sebelum meninggal, dan Mario telah menggunakan wewenangnya untuk menyembunyikan dokumen tersebut.Willy tidak pergi ke media massa atau tabloid gosip. Dia pergi ke majalah keuangan dunia mafia yang khusus dalam membongkar rekening rahasia keluarga-keluarga elit. Laporan itu mencakup tangkapan layar, nomor berkas, dan memo dari firma hukum. Semua itu tampak sangat asli.Dalam beberapa jam, saham Keluarga Lunardi
Aku tetap bertahan di kantor sampai pukul tiga pagi. Mobil dengan plat nomor tak dikenal itu sempat berhenti di gerbang samping selama empat puluh menit, lalu pergi. Pekerja pelabuhan mengatakan bahwa ada seorang pria yang keluar dan berjalan mengelilingi gudang, namun orang itu tidak mendekati gedung utama. Dia jelas sedang memeriksa tata letak lokasi.Aku mengirimkan nomor plat tersebut kepada pemilik perusahaan keamanan yang kukenal. Dia mengatakan akan memberikan jawaban dalam dua jam.Pukul enam pagi, langit masih diselimuti awan kelabu. Udara pelabuhan masuk menerobos melalui celah jendela, membawa bau karat dan aroma asin air laut. Aku mengenakan mantel lama dan duduk di kursi keras sambil membolak-balik lembaran kontrak yang telah kutandatangani semalam.Ponselku berdering. Perusahaan keamanan itu berhasil mendapatkan sebuah nama. Mobil itu terdaftar atas nama perusahaan fiktif dengan arus kas masuk selama tiga bulan terakhir yang dapat ditelusuri kembali dan mengarah ke rekeni
Ekspresi Mario langsung berubah. Sesuatu seakan telah muncul di benaknya. Dia membuka mulut, tetapi aku sudah berbicara lebih dulu."Bos, kau sepertinya lupa sesuatu. Sepuluh tahun yang lalu, aku dengar kau bilang Serena tidak akan pernah mampu menghadapi apa yang telah kutangani.""Gina, aku masih muda saat itu." Suaranya menegang. "Sepuluh tahun bisa mengubah seseorang. Apa kau tidak bisa melihat semua perubahan itu?"Aku menatapnya. "Apa hanya karena kau sudah berubah, aku harus berpura-pura bahwa semua itu tidak pernah terjadi? Kalau Serena tidak melarikan diri, apa kau akan mengirimnya ke semua ruang negosiasi itu, ke tengah upaya pembunuhan itu, dan menerima semua serangan yang kuterima?"Dia tidak menjawab. Tangannya menekan tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih."Gina, apa harus seperti ini?"Aku mengangguk dan memberinya senyuman hambar. "Menyebut sepuluh tahun itu sebagai sebuah transaksi adalah hal yang adil bagi kita berdua."Dia menarik napas dalam-dalam seperti sedan
Mario melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Kami saling pandang dari seberang meja untuk waktu yang cukup lama. Dia melihat ke sekeliling ruangan. Dinding putih, lemari arsip dari besi, meja arsip yang penuh dengan kertas dan derek-derek pelabuhan yang tampak bergerak di luar jendela. Dia tersenyum, tetapi senyuman itu tidak sampai ke matanya."Sepertinya kau baik-baik saja."Aku tidak menjawab. Aku mengambil gelas, menyesap air, dan kembali melihat kertas-kertas di hadapanku. Dia melangkah lebih dekat dan berdiri di samping meja, melirik nama-nama yang tertera di dokumen-dokumen tersebut."Tentang semua yang terjadi ... aku minta maaf.""Untuk apa?" Aku tidak mendongak."Untuk semuanya. Aku ingat semua yang kau lakukan untukku. Aku tidak akan bisa melewati tahun-tahun itu tanpamu, semua negosiasi yang kau hadiri untukku, upaya pembunuhan yang kau hentikan dan juga anak-anak yang hilang dari sisimu. Aku tidak pernah melupakan semua itu."Suaranya merendah."Apa yang kukatak
Saat pesawat mendarat, berita utama sudah berganti. [Sang Nyonya Keluarga Lunardi Disergap di Jalan Tol.] Foto itu menunjukkan wajahku yang disorot kilatan lampu kamera. Rambutku tampak acak-acakan. Garis tipis darah mengalir di sudut mulutku. Aku tidak membuka kolom komentar karena ada hal yang lebih penting untuk kulakukan.Seorang temanku memiliki ruangan kantor kosong di pinggiran kota. Ukurannya tidak besar, hanya ada sebuah meja, sebuah kursi, dan sebuah jendela menghadap ke jalanan yang sepi. Aku duduk, membuka laptopku, dan masuk ke akun-akun bisnis yang telah kubangun. Aku pun menetapkan ulang hak akses satu per satu dan semuanya kembali ke atas namaku sendiri.Laporan keuangan yang telah kukelola untuk Keluarga Lunardi. Jalur perdagangan yang telah kusiapkan. Personel pelabuhan yang telah kutempatkan di posisi-posisi inti. Setiap jengkal dari bisnis ini adalah milikku. Aku yang menulis dan merancang semuanya dari awal.Ponselku berdering, lalu terdengar suara pengacaraku deng







