Share

Bab 2

Penulis: Michelle
Pada tahun pertama pernikahan kami, salah satu gudang milik Valeria digerebek polisi. Berita itu menyebar dengan cepat, dan keluarga-keluarga saingan kami mulai menekan Keluarga Lunardi untuk menyerahkan kendali atas beberapa wilayah penting.

Valeria mengklaim bahwa akulah yang sudah membocorkan informasi tersebut. Dia mengatakan bahwa aku adalah satu-satunya orang luar dalam keluarga dan aku punya alasan kuat untuk mengkhianati mereka. Beberapa tetua keluarga memercayainya dan mereka menuntut agar Mario menyerahkanku demi membuktikan kesetiaannya kepada keluarga. Mario tidak mengatakan apa pun selama itu.

Ketika para pengawal membawaku keluar dari ruangan, dia bahkan tidak mendongak. Aku menghabiskan enam jam di ruangan tanpa jendela malam itu dan baru dikeluarkan saat pagi hari.

Ketika kembali ke kamar tidur, Mario memberiku segelas air hangat. "Waktunya belum tepat. Aku belum bisa bertindak melawan Valeria secara terang-terangan," katanya pelan. "Kuharap kau bisa mengerti."

Aku menelan kembali semua yang ingin kukatakan. Malam itu, aku turun ke lantai bawah untuk mengambil air dan mendengarnya berbicara di telepon di luar ruang kerjanya.

"Setidaknya itu bukan Serena," katanya. "Dia mungkin tidak akan sanggup menghadapinya."

Kupikir kami sedang berjuang bersama dalam hal ini dan berdiri berdampingan. Namun, akhirnya aku menyadari bahwa dia tidak pernah menganggapku seperti itu.

Mario tidak pernah tahu kalau aku mendengar kata-katanya itu. Setelah komentarku di dalam mobil tadi, dia menyalakan rokok dan keluar, jelas merasa frustrasi. Pada saat itu, Serena kembali meneleponnya. Dia menjawab, tetapi lupa mematikan sambungan nirkabel. Aku yang duduk di dalam mobil bisa mendengar setiap kata dari suaranya yang lembut.

"Mario, apa kau bisa datang dan menemaniku malam ini?" Suaranya bergetar dengan terkendali seperti seseorang yang habis menangis tetapi berusaha menahannya. "Aku sendirian di rumah dan orang tuaku belum pulang. Aku takut. Dulu, kau selalu menemaniku saat aku ketakutan. Apa kau masih ingat?"

Sambungan nirkabel langsung terputus. Dia kembali masuk ke mobil setelah sepuluh menit dengan ekspresi kelelahan. "Gina, aku akan mengantarmu pulang. Malam ini, aku mungkin perlu ...."

"Cukup," kataku tajam. Aku tidak ingin mendengar alasan apa pun yang dia buat untuk Serena. Aku menahan diri dan merendahkan suaraku. "Seorang Bos tidak perlu menjelaskan apa pun kepadaku."

Dia bisa mendengar jarak yang tercipta dalam kata-kataku. Dia memukul setir dengan frustrasi. "Gina, kau selalu menjaga jarak denganku. Kenapa kau begitu ingin menjauh dariku?"

Aku memalingkan wajah dan menahan air mata yang terus menggenang. Sepuluh tahun telah mengajarkanku bahwa kehilangan ketenangan jauh lebih buruk daripada kalah dalam perdebatan.

Saat kami duduk dalam keheningan, ibu menelepon. "Gina, kondisi Keluarga Lunardi sedang tidak stabil saat ini, dan berita tentang kembalinya Serena sudah tersebar. Kau dan Mario tidak boleh menunjukkan keretakan dalam pernikahan kalian. Kalian berdua perlu menstabilkan situasi. Ini bukan hanya tentang kau dan Mario. Ini tentang reputasi seluruh keluarga."

Aku tertawa. Sepuluh tahun yang lalu, ketika mereka memaksaku untuk menggantikan Serena, mereka mengatakan Keluarga Triawan membutuhkan aliansi dan aku harus melakukan bagianku karena sudah kembali. Sekarang mereka punya cara baru untuk mengatakan hal yang sama. Perasaanku tidak pernah menjadi bagian dari perhitungan mereka.

"Bu, ternyata Ibu dan Ayah tidak pernah berubah, ya? Kalian hanya lebih sopan sekarang."

Aku berusia delapan belas tahun ketika orang tua kandungku menemukanku. Serena tidak menyukai kedatanganku. Dia memberi tahu mereka bahwa aku sering menemui seorang pria dan mencuri uang untuk melarikan diri. Ayahku tidak memeriksa semua ucapannya dan langsung memotong uang sakuku selama dua minggu.

Terakhir kali, Serena melukai lengannya sendiri dengan pisau dan menangis bahwa aku yang telah mencoba mencelakainya. Dia berlutut di lantai dengan darah mengalir di lengan, namun masih bicara untuk membela diriku dengan mengatakan bahwa aku tidak mungkin bermaksud menyakitinya. Ayah menamparku tanpa bertanya apa pun. Sedangkan ibu berdiri di sampingnya dan mengatakan bahwa dia menyesal karena telah membawaku kembali.

Mereka tidak pernah sekali pun duduk dan bertanya kepadaku apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya memercayai Serena. Ketika Serena melarikan diri dari pernikahan, mereka ingat bahwa masih memiliki anak perempuan lain. Itulah satu-satunya alasan aku berada di sini.

"Gina, apa kau sangat membenci kami?" tanya ibu. Aku tidak menjawab. Aku tidak yakin apakah aku membenci mereka. Aku sudah tidak lagi berharap mereka akan berubah.

Apa mereka benar-benar lupa bagaimana cara mereka memperlakukanku selama sepuluh tahun tanpa keberadaan Serena?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sepuluh Tahunku Tak Akan Pernah Sia-Sia   Bab 11

    Setelah situasi Willy mereda, pelabuhan kembali ke ritme normalnya. Aku menghabiskan lebih banyak waktu di kantor sekarang karena ada lebih banyak hal yang harus ditangani. Setiap jalur yang berada di bawah kendaliku sekarang membutuhkan tanda tanganku. Awalnya memang terasa lambat, tetapi pada minggu ketiga, semua telah menjadi rutinitas.Mario tidak pernah menelepon lagi, namun sebuah dokumen datang melalui pengacaraku. Dia telah menandatangani pengalihan operasional bisnis yang tersisa seperti yang dia janjikan. Sebuah catatan kecil terlampir di dalamnya, hanya satu baris: [Ini memang selalu menjadi milikmu.]Perantara yang disebutkan Serena menghilang dari peredaran dalam waktu seminggu, dan aku tidak pernah bertanya ke mana dia pergi.Aku tidak membalas catatan itu. Aku hanya memasukkan catatan itu ke dalam berkas bersama catatan pembelian obat dan kembali fokus menandatangani dokumen-dokumen.Dua bulan kemudian, pelabuhan melakukan penghitungan kuartal. Tiga perusahaan pengiriman

  • Sepuluh Tahunku Tak Akan Pernah Sia-Sia   Bab 10

    Tiga hari kemudian, aku sedang memeriksa laporan volume bulanan pelabuhan saat sebuah notifikasi muncul di ponsel. Aku membacanya dan langsung menegakkan posisi dudukku.Willy Lunardi telah kembali. Saudara tiri Mario yang selama ini bersembunyi di Pantai Timur sejak dia diusir dari Kota Retrodas. Sekarang dia muncul dengan surat wasiat yang dia klaim sudah ditandatangani oleh Sang Ketua Mafia terdahulu sebelum kematiannya. Surat wasiat itu menyatakan bahwa enam puluh persen aset Keluarga Lunardi harus diberikan kepada Willy karena ayah mereka telah mengubah pembagiannya sebulan sebelum meninggal, dan Mario telah menggunakan wewenangnya untuk menyembunyikan dokumen tersebut.Willy tidak pergi ke media massa atau tabloid gosip. Dia pergi ke majalah keuangan dunia mafia yang khusus dalam membongkar rekening rahasia keluarga-keluarga elit. Laporan itu mencakup tangkapan layar, nomor berkas, dan memo dari firma hukum. Semua itu tampak sangat asli.Dalam beberapa jam, saham Keluarga Lunardi

  • Sepuluh Tahunku Tak Akan Pernah Sia-Sia   Bab 9

    Aku tetap bertahan di kantor sampai pukul tiga pagi. Mobil dengan plat nomor tak dikenal itu sempat berhenti di gerbang samping selama empat puluh menit, lalu pergi. Pekerja pelabuhan mengatakan bahwa ada seorang pria yang keluar dan berjalan mengelilingi gudang, namun orang itu tidak mendekati gedung utama. Dia jelas sedang memeriksa tata letak lokasi.Aku mengirimkan nomor plat tersebut kepada pemilik perusahaan keamanan yang kukenal. Dia mengatakan akan memberikan jawaban dalam dua jam.Pukul enam pagi, langit masih diselimuti awan kelabu. Udara pelabuhan masuk menerobos melalui celah jendela, membawa bau karat dan aroma asin air laut. Aku mengenakan mantel lama dan duduk di kursi keras sambil membolak-balik lembaran kontrak yang telah kutandatangani semalam.Ponselku berdering. Perusahaan keamanan itu berhasil mendapatkan sebuah nama. Mobil itu terdaftar atas nama perusahaan fiktif dengan arus kas masuk selama tiga bulan terakhir yang dapat ditelusuri kembali dan mengarah ke rekeni

  • Sepuluh Tahunku Tak Akan Pernah Sia-Sia   Bab 8

    Ekspresi Mario langsung berubah. Sesuatu seakan telah muncul di benaknya. Dia membuka mulut, tetapi aku sudah berbicara lebih dulu."Bos, kau sepertinya lupa sesuatu. Sepuluh tahun yang lalu, aku dengar kau bilang Serena tidak akan pernah mampu menghadapi apa yang telah kutangani.""Gina, aku masih muda saat itu." Suaranya menegang. "Sepuluh tahun bisa mengubah seseorang. Apa kau tidak bisa melihat semua perubahan itu?"Aku menatapnya. "Apa hanya karena kau sudah berubah, aku harus berpura-pura bahwa semua itu tidak pernah terjadi? Kalau Serena tidak melarikan diri, apa kau akan mengirimnya ke semua ruang negosiasi itu, ke tengah upaya pembunuhan itu, dan menerima semua serangan yang kuterima?"Dia tidak menjawab. Tangannya menekan tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih."Gina, apa harus seperti ini?"Aku mengangguk dan memberinya senyuman hambar. "Menyebut sepuluh tahun itu sebagai sebuah transaksi adalah hal yang adil bagi kita berdua."Dia menarik napas dalam-dalam seperti sedan

  • Sepuluh Tahunku Tak Akan Pernah Sia-Sia   Bab 7

    Mario melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Kami saling pandang dari seberang meja untuk waktu yang cukup lama. Dia melihat ke sekeliling ruangan. Dinding putih, lemari arsip dari besi, meja arsip yang penuh dengan kertas dan derek-derek pelabuhan yang tampak bergerak di luar jendela. Dia tersenyum, tetapi senyuman itu tidak sampai ke matanya."Sepertinya kau baik-baik saja."Aku tidak menjawab. Aku mengambil gelas, menyesap air, dan kembali melihat kertas-kertas di hadapanku. Dia melangkah lebih dekat dan berdiri di samping meja, melirik nama-nama yang tertera di dokumen-dokumen tersebut."Tentang semua yang terjadi ... aku minta maaf.""Untuk apa?" Aku tidak mendongak."Untuk semuanya. Aku ingat semua yang kau lakukan untukku. Aku tidak akan bisa melewati tahun-tahun itu tanpamu, semua negosiasi yang kau hadiri untukku, upaya pembunuhan yang kau hentikan dan juga anak-anak yang hilang dari sisimu. Aku tidak pernah melupakan semua itu."Suaranya merendah."Apa yang kukatak

  • Sepuluh Tahunku Tak Akan Pernah Sia-Sia   Bab 6

    Saat pesawat mendarat, berita utama sudah berganti. [Sang Nyonya Keluarga Lunardi Disergap di Jalan Tol.] Foto itu menunjukkan wajahku yang disorot kilatan lampu kamera. Rambutku tampak acak-acakan. Garis tipis darah mengalir di sudut mulutku. Aku tidak membuka kolom komentar karena ada hal yang lebih penting untuk kulakukan.Seorang temanku memiliki ruangan kantor kosong di pinggiran kota. Ukurannya tidak besar, hanya ada sebuah meja, sebuah kursi, dan sebuah jendela menghadap ke jalanan yang sepi. Aku duduk, membuka laptopku, dan masuk ke akun-akun bisnis yang telah kubangun. Aku pun menetapkan ulang hak akses satu per satu dan semuanya kembali ke atas namaku sendiri.Laporan keuangan yang telah kukelola untuk Keluarga Lunardi. Jalur perdagangan yang telah kusiapkan. Personel pelabuhan yang telah kutempatkan di posisi-posisi inti. Setiap jengkal dari bisnis ini adalah milikku. Aku yang menulis dan merancang semuanya dari awal.Ponselku berdering, lalu terdengar suara pengacaraku deng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status