Compartilhar

Cemburu?

Autor: Dahlia Cici
last update Data de publicação: 2026-05-26 00:33:58

“RAKA!” pekik Naura kaget.

Tubuhnya langsung terangkat begitu saja ke pundak Raka.

“Turunin aku!” teriak Naura sambil memukul punggung Raka pelan karena panik. Beberapa mahasiswa langsung menoleh heboh ke arah mereka.

“Ya Tuhan, itu Naura, kan?”

“Cowoknya siapa?”

Namun Raka berjalan tetap tenang seolah tidak peduli dengan semua tatapan itu. Wajahnya masih dingin. Rahangnya mengeras. Satu tangannya menahan kaki Naura agar tidak jatuh.

“Raka! Aku malu!” desis Naura panik.

“Kalau nggak mau malu,
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Serumah Dengan Mantan   Aku Mau Senang-Senang

    Malam hari. Rumah besar itu sudah mulai sepi. Jam menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh malam. Dari celah pintu kamar, Naura mengintip pelan ke arah koridor. Suasana begitu sunyi. Naura langsung menarik napas lega.“Oke… sekarang atau nggak sama sekali,” gumamnya pelan.Ia sudah berganti pakaian sejak tadi. Dress hitam sederhana dengan jaket tipis di luar. Rambutnya dibiarkan terurai natural. Tidak terlalu mencolok, tapi cukup membuat dirinya terlihat berbeda.Naura berjalan pelan sembari berjinjit menuruni tangga. Matanya beberapa kali melirik ke arah ruang kerja Raka yang pintunya tertutup.“Aman…”Namun baru satu langkah menuju pintu depan...“Naura.”Tubuhnya langsung membeku. Pelan-pelan Naura menoleh. Dan benar saja, Raka duduk di sofa ruang keluarga sambil memegang laptop di pangkuannya. Lampu ruang tamu yang redup membuat wajahnya terlihat semakin dingin.“Kamu mau ke mana?”Naura langsung salah tingkah sepersekian detik, tapi ia cepat-cepat memasang wajah santai.“Kelua

  • Serumah Dengan Mantan   Cemburu?

    “RAKA!” pekik Naura kaget.Tubuhnya langsung terangkat begitu saja ke pundak Raka.“Turunin aku!” teriak Naura sambil memukul punggung Raka pelan karena panik. Beberapa mahasiswa langsung menoleh heboh ke arah mereka.“Ya Tuhan, itu Naura, kan?” “Cowoknya siapa?”Namun Raka berjalan tetap tenang seolah tidak peduli dengan semua tatapan itu. Wajahnya masih dingin. Rahangnya mengeras. Satu tangannya menahan kaki Naura agar tidak jatuh.“Raka! Aku malu!” desis Naura panik.“Kalau nggak mau malu, seharusnya dari tadi nurut,” jawab Raka datar.Naura semakin kesal. “Aku bisa jalan sendiri!”“Tapi kamu keras kepala.”“Dan kamu nyebelin!”Raka tidak membalas lagi. Ia langsung membuka pintu mobil dan menurunkan Naura ke kursi dengan cepat namun tetap hati-hati.Brak.Pintu mobil tertutup. Naura langsung menatap tajam ke arah Raka dari dalam mobil. “Kamu gila ya?!”Raka berjalan memutari mobil tanpa menjawab. Beberapa detik kemudian ia masuk ke kursi kemudi dan langsung menjalankan mobil.Suas

  • Serumah Dengan Mantan   Mister Posesif

    Naura langsung menegang mendengar perkataan Raka. “Hah? Maksudnya?” Tanya Naura. Suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia inginkan.Raka tidak langsung menjauh. Napas hangatnya masih terasa di dekat telinga Naura, membuat tubuh Naura masih menegang, bahkan bulu kuduknya berdiri tegak.“Dari tadi kamu memang sengaja goda aku, Naura. Mulai dari rambut, sampai sekarang masalah sabuk pengaman," ucap Raka hampir berbisik.Naura menelan ludah. “Jangan ngaco,” balasnya cepat, berusaha terdengar tegas meski jantungnya mulai kacau lagi.Raka terkekeh pelan. Tangannya bergerak turun ke arah sabuk pengaman di dekat bahu Naura.“Diam dulu,” ucapnya singkat. Beberapa detik kemudian sabuk pengaman terlepas. Namun Raka tidak langsung mundur. Wajahnya masih terlalu dekat. Tatapannya turun sejenak ke leher Naura yang terbuka karena rambut yang terurai. Naura langsung menahan napas. “Lain kali jangan bikin aku salah fokus di jalan.” Kalimat itu membuat pipi Naura langsung memanas.Naura segera mend

  • Serumah Dengan Mantan   Masih Posesif

    Wajah Raka semakin mendekat. Nafas Naura langsung tercekat. Jarak mereka kini hanya beberapa senti. Terlalu dekat sampai Naura bisa merasakan hembusan nafas hangat Raka menyentuh wajahnya.Deg.Deg.Deg.Jantungnya berdetak kacau.“Raka…” bisik Naura lirih, hampir tak terdengar. Tangannya bahkan masih mencengkram kemeja Raka tanpa sadar. Sementara tangan Raka tetap menahan pinggang Naura dengan kuat, seolah takut Naura benar-benar jatuh.Tatapan Raka turun lagi ke bibir Naura. Lalu kembali ke matanya. Ada sesuatu di sana. Bukan dingin, bukan juga marah. Lebih seperti emosi yang selama ini ditahan.Naura menelan ludah. “Apa yang kamu lakuin?” ucapnya pelan, suaranya bergetar tipis.Raka tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Naura dalam-dalam. Seolah sedang berperang dengan pikirannya sendiri.Beberapa detik berlalu. Dan waktu terasa jauh lebih lambat. Namun tiba-tiba, Raka menarik napas panjang. Rahannya menegang, dan perlahan ia menjauhkan wajahnya. Seakan baru tersadar dengan apa

  • Serumah Dengan Mantan   Sebuah Perhatian

    Naura menatap Raka beberapa detik. Dadanya terasa semakin sesak, tapi kali ini bukan karena terkejut, melainkan karena sakit yang terlalu familiar.“Iya… harusnya aku sadar dari tadi,” gumam Naura pelan sambil tertawa kecil.Raka tidak menjawab. Namun tatapannya tetap dingin, seolah tidak ada celah untuk masa lalu yang pernah mereka punya.“Tenang aja. Aku nggak akan sentuh lagi,” ucap Naura yang kemudian berbalik.Langkah Naura cepat, hampir seperti ingin segera keluar dari ruangan itu. Namun sebelum benar-benar pergi, Naura berhenti sebentar di dekat pintu. Dan tanpa menoleh, ia berkata lirih, "aku juga nggak suka masa lalu yang tiba-tiba muncul lagi tanpa izin.” Setelah itu Naura keluar dan pintu tertutup.Dengan langkah berat, Naura kembali ke kamarnya. Begitu pintu tertutup, ia langsung bersandar di baliknya.“Bodoh…” bisiknya pada diri sendiri.“Ngapain juga aku buka itu…” ucap Naura sambil mengepalkan tangannya. Namun menyesal pun percuma.Naura berjalan pelan ke arah ranjang,

  • Serumah Dengan Mantan   Menyimpan Masa Lalu

    Isakan Naura pelan, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa semakin sempit. “Hiks…” Naura menunduk, memeluk lututnya sendiri. “Kenapa sih…” gumamnya lirih. “Aku cuma mau hidup tenang setelah kepergian Ayah.”Di luar kamar, rumah itu tetap sunyi. Hanya suara hujan yang masih turun tipis di luar jendela. Beberapa menit berlalu. Naura akhirnya menarik napas panjang dan mengusap wajahnya kasar. “Udah… cukup.” Ia berdiri perlahan, meski kakinya masih terasa lemas.Matanya merah saat menatap kamar itu lagi. Kasur besar, meja belajar mewah, dan lemari yang besar. Semuanya terlihat seperti kamar orang yang hidupnya rapi dan bahagia.Naura tertawa kecil, hambar. “Enak ya… punya hidup kaya gini.” Ia berjalan ke jendela dan membuka tirainya sedikit. Taman belakang terlihat luas dan hijau. Lampu taman memantulkan cahaya di permukaan daun yang basah oleh hujan. Cantik. Tapi tetap terasa asing.Naura menghela napas panjang. “Sabar ya, Naura. Ini cuma sementara,” bisiknya pada diri sendiri. “Cuma sa

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status