Share

Bab 15 Trauma

Author: Ruby Biru
last update publish date: 2026-09-15 22:12:40

Tubuh Mora seketika meremang hebat mendengar bagaimana Aiden menghukum mantan pengasuh itu. Terus terang saja ia terkejut, tapi bukannya ciut, Mora justru makin penasaran.

Persetan dengan laporan Paman Ben atau peringatan agar ia berdoa demi keselamatannya sendiri. Saat ini, yang memenuhi kepala Mora hanyalah nasib malang balita yang baru saja kejang ketakutan dalam dekapannya.

“Bibi Greta, tolong ceritakan lebih detailnya padaku. Apa yang sebenarnya pengasuh kejam itu lakukan sampai tuan muda
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Servis Malam si Pengasuh Cantik   Bab 28 Kedatangan nyonya besar

    “Apa? Mengundurkan diri?!” ulang Bibi Greta dengan mata membulat tak percaya.Mora yang masih bersimpuh lemas di atas lantai kayu hanya bisa mengangguk kaku. Air matanya terus menetes membasahi pipi, meresap jatuh ke serat pernis tua kamar itu.“I-iya, Bi. Saya merasa tidak tahu malu jika harus terus bekerja di sini setelah apa yang terjadi,” rintih Mora parau. Napasnya tersengal menahan sesak yang mencekik dada. “Setiap kali menatap mata polos Tuan Muda Leo ... hati saya tidak tenang. Rasanya seperti ditikam pisau. Saya merasa sangat bersalah. Saya terlalu kotor untuk mengurus anak sebaik dia.”Bibi Greta mematung. Amarah yang semula membakar ubun-ubunnya mendadak surut, ditampar oleh realitas yang menohok sekaligus rasa kecewa. Wanita paruh baya itu mundur selangkah, lalu menjatuhkan tubuhnya di tepi ranjang. Tangannya memijat pelipis yang berdenyut kencang.Dadanya terasa sesak. Baru kemarin ia mempercayakan luka lama dan trauma kelam Leo yang selama ini ditutup rapat dari siapapu

  • Servis Malam si Pengasuh Cantik   Bab 27 Tidak punya pilihan

    Bibi Greta langsung mendekat, lalu mencengkeram dan menarik turun kerah baju Mora dengan satu gerakan tegas. Mora terkesiap kaku, napasnya tersangkut di kerongkongan.“A-astaga, Mora!” lirih Bibi Greta menatap tak percaya.Sebagai wanita dewasa yang kenyang makan asam garam, dia cukup paham dengan apa yang ia lihat. Bercak lebam keunguan itu bertumpuk pekat di ceruk leher, disusul bekas gigitan yang belum sepenuhnya kering, jelas ulah seorang pria.Takut ada pelayan lain yang melihat, Bibi Greta buru-buru menaikkan kembali kerah baju Mora. Dadanya naik-turun menahan amarah yang mendadak membakar ubun-ubunnya. Leo yang masih berdiri di atas sofa mengerjap polos, sama sekali tidak menyadari hawa dingin yang mencekik di sekitarnya.“Kalau di kamar Mora banyak nyamuk nakal, tidur di kamar Leo aja mulai nanti malam,” celetuk bocah itu dengan nada riang. “Biar nyamuknya nggak berani gigit Mora lagi.”Darah Mora terasa membeku. Lidahnya kelu, tak sanggup menyusun sepatah kata pun untuk memb

  • Servis Malam si Pengasuh Cantik   Bab 26 Ketahuan

    Mata Mora membelalak kaget saat menyadari kondisinya. Selimut yang menutupi tubuhnya sepanjang malam sudah jatuh di lantai, dan kini ia dalam keadaan telanjang bulat didekapan majikannya.“B-baju! Iya, saya tadi mau ambil baju. Ma-maaf, Tuan, saya sungguh tidak sengaja!” cicit Mora kalut. Kedua tangannya mendorong dada keras Aiden dengan tenaga seadanya, berusaha membuat jarak. Namun, perlawanan Mora justru menjadi bumerang. Gerakan tubuh polosnya malah memancing dengusan geli dari pria itu. Bukannya melonggarkan pelukan, tangan besar Aiden merayap turun di punggung polos Mora, lalu meremas pinggangnya kasar dan menyentakkan tubuh wanita itu hingga menabrak rapat poros tubuhnya tanpa sela. “Buru-buru ambil baju, atau sengaja menjatuhkan diri ke pelukanku karena masih belum puas, hm?” bisik Aiden tepat di telinganya. Ujung hidung pria itu menyapu pelipis Mora.“Sumpah, bukan! S-saya hendak membersihkan kamar Tuan, takut tuan muda Leo sudah bangun dan—”“Membersihkan kamarku?” sela Ai

  • Servis Malam si Pengasuh Cantik   Bab 25 Ampun! Saya sudah lemas.

    Sudut bibir Aiden terangkat sinis.Tanpa menjawab, tangan kekarnya mencengkram pinggul Mora dan menariknya mundur sambil menyentakkan miliknya masuk kembali hingga mentok ke dasar rahim.“AAKH!”Mora memekik tertahan. Rongga sempitnya yang masih berdenyut kejang dan sensitif luar biasa usai menyembur tadi mendadak dihantam penuh tanpa jeda. Sensasinya justru berkali-kali lipat lebih menyengat, membuat sekujur tubuhnya meremang ngilu.“Selesai? Siapa bilang aku sudah selesai?” bisik Aiden.“Ta-tapi saya sudah tidak sanggup, Tuan … rasanya semakin aneh—nghh!” racau Mora putus asa.Kedua sikunya gemetar hebat di atas kasur. Tenaganya sudah terkuras tandas. Sejak Leo dibawa pergi Paman Ben tadi, hampir dua jam lamanya ia disiksa tanpa ampun — dari desakan di meja kerja hingga diseret ke ranjang ini. Tubuhnya benar-benar berada di ambang batas.“Kau pikir aku peduli?” potong Aiden dingin.Pria itu merendahkan dadanya, menindih punggung polos Mora hingga tubuh wanita itu rata mencium kasur

  • Servis Malam si Pengasuh Cantik   Bab 24 Masih belum

    “Ra-rasanya … seperti biasa …” cicit Mora sambil membuang muka ke samping, menghindari tatapan Aiden.Lidahnya kelu. Harga dirinya memberontak, terlalu malu mengakui kalau rasa sakit yang semula merobek kini berganti sengatan geli yang bikin kepalanya melayang mabuk kepayang.Melihat Mora masih sempat mengelak, emosi Aiden langsung tersulut.Plak!Paha luar Mora ditampar cukup keras, bersamaan dengan pinggul Aiden yang menyentak maju, menghunjamkan batangnya kasar sampai ke dasar liang.“AAKH!”Mora memekik histeris. Belum sempat ia menarik napas, tamparan kedua kembali mendarat di paha mulusnya, panas dan menyengat.Plak!“Sudah kubilang jangan berbohong dan jawab aku jujur, Mora. Sepertinya kau lupa, ya?” geram Aiden rendah terus memukul paha luarnya sembari menyodokkan pinggul makin dalam tanpa jeda. Sementara tangan kirinya di bawah sana kian gencar memilin dan menggesek klitorisnya yang basah berdenyut.“A-ampun, Tuan … ahhh!” Air mata Mora merebak tumpah, jemarinya mencengkram

  • Servis Malam si Pengasuh Cantik   Bab 23 Sakit atau enak?

    “AAHH!”Jeritan Mora melengking keras saat dorongan pinggul Aiden menghujam masuk tanpa ampun. Milik pria itu membelah liang sempitnya hingga tandas, menumbuk dasar rahim tanpa menyisakan ruang barang satu senti pun. Tubuh Mora melengkung kaku di atas kasur, matanya terpejam rapat menahan sengatan rasa penuh yang luar biasa padat.Kedua tangannya yang terkunci di atas kepala refleks meremas jemari Aiden sekuat tenaga. Rasanya bagian bawahnya dipaksa merenggang sampai batas maksimal.“Kenapa bisa serapat ini, sih?” batin Aiden mengumpat.Urat lehernya menegang saat daging basah dan hangat di dalam sana mencengkeram batangnya begitu kuat, berdenyut-denyut lapar yang menghisapnya tanpa ampun. “Kubilang rileks, Mora! Kenapa kau tegang sekali? Ini bukan pertama kalinya kau bercinta!” geram Aiden rendah di depan wajah wanita itu. Mora menggeleng panik, kedua tangannya yang masih dikunci di atas bantal meremas jemari Aiden. Air matanya menetes di pelupuk mata. “Sesak sekali, Tuan … rasan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status