FAZER LOGINKetika Sabiya mengangkat telepon tersebut, suara Nyonya Vivian langsung terdengar di seberang sana. Kali ini, nada bicaranya terdengar lebih hangat."Rosella, apakah kalian sudah mendarat di Denver?" tanya Nyonya Vivian."Sudah, Nyonya. Sekarang saya sedang dalam perjalanan menuju apartemen," sahut Sabiya lembut.Nyonya Vivian langsung melanjutkan. "Bisakah kau datang ke kantor jam empat sore ini? Saya ingin mendiskusikan hal yang sangat penting. Tidak akan lama.”Mendengar permintaan itu, Sabiya merasa keberuntungan sedang berpihak padanya. Panggilan ini hadir tanpa perlu ia mencari-cari alasan untuk mengatur pertemuan."Bisa, Nyonya. Saya akan datang jam empat sore nanti," jawab Sabiya mantap.Telepon pun dimatikan oleh Nyonya Vivian.Altair yang duduk di samping Sabiya mendongak polos. "Mama mau bekerja lagi?""Hanya sebentar, Sayang. Setelah itu, Mama langsung pulang," tutur Sabiya sembari mengusap lembut pipi putranya.Tak berapa lama kemudian, mobil kantor yang mengantar mereka
Mendengar ancaman yang terlontar dari bibir ibunya, langkah kaki Roman terhenti. Namun, ia tidak berbalik dengan raut wajah panik atau cemas. Pria itu justru menghembuskan napas pendek, lalu melirik tajam dari sudut mata. Jelas terlihat bahwa perkataan sang ibu tidak mempengaruhinya sama sekali.“Mama tidak mungkin bunuh diri semudah itu,” tutur Roman dengan nada datar.“Lagi pula, Mama terlalu mencintai kehidupan mewah bersama suami Mama di luar negeri. Mustahil, Mama mengorbankannya hanya demi menghalangiku.”Nyonya Regina tersentak atas balasan dingin sang putra. Ternyata, Roman memang tidak mudah diancam dengan kata-kata kosong. Roman lantas memutar separuh tubuhnya, menatap sang ibu dengan ketegasan yang tak dapat digoyahkan.“Tidak ada yang lebih mengenal sifat Mama daripada aku,” tekan Roman. “Hubungan kita sudah lama renggang sejak Papa meninggal. Jadi, apa pun yang Mama katakan atau lakukan... tidak akan berpengaruh pada keputusanku.”Tanpa menunggu balasan atau jeritan his
Tepat enam jam setelah tes dilakukan, hasil yang dinanti-nantikan oleh Roman akhirnya keluar. Ia menunggu di dalam ruangan sang Kepala Rumah Sakit dengan harap-harap cemas . Hingga beberapa saat kemudian, Dr. Peter datang. Pria paruh baya itu melangkah mendekat sembari memegang sebuah amplop cokelat tebal yang tersegel rapat."Tuan Valeriano, analisis Rapid STR DNA Profiling telah selesai diproses," tutur Dr. Peter dengan nada hormat. Ia menyerahkan amplop itu ke tangan sang pemilik klan.Tangan Roman yang memegang amplop kini tampak bergetar tipis, menunjukkan kerapuhan yang tak pernah diperlihatkannya pada siapapun. Dengan napas yang tertahan di pangkal tenggorokan, Roman merobek segel amplop itu. Membiarkan selembar kertas berstempel terulur di depan matanya.Netranya yang berwarna abu-abu menyapu setiap baris istilah medis. Sampai akhirnya, pandangannya terpaku pada sebuah baris cetak tebal di bagian bawah lembaran tersebut. Probabilitas Partisipasi Ayah Kandung: 99,99%.Dada R
Di dalam ruang tengah rumahnya, amarah Clara meluap tanpa terkendali. Barang-barang pecah belah, alat make up, hingga vas bunga mahal berserakan hancur di atas lantai."Seharusnya, aku tidak menuruti nasihat kalian berdua!" teriak Clara dengan napas memburu. Matanya menatap tajam pada Simon dan Beatrice yang berdiri mematung di sudut ruangan. "Gara-gara ide kalian, aku malah terlihat seperti orang bodoh! Aku gagal mendapatkan Roman!”Beatrice berusaha mendekat dengan raut cemas. "Clara, tenanglah dulu, Sayang... Masih ada banyak kesempatan untuk—""Diam!" potong Clara kasar, menepis tangan ibu tirinya. "Aku muak dengan sikapmu yang munafik. Kau malah membuatku tampak murahan di depan Roman!"Diselimuti kekesalan yang membara, Clara mengambil kunci mobil dan menyambar tasnya. Wanita itu keluar dari rumah tanpa mengindahkan panggilan orang tuanya. Meski tak tahu hendak ke mana, Clara mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.Baru beberapa kilometer ia berkendara, tepat di sebuah
Hawa dingin terasa di lorong bawah tanah markas utama klan Valeriano.Di dalam ruang rapat berdinding beton kedap suara, belasan pria bertubuh tegap sedang melingkari meja mahoni panjang. Mereka adalah para pimpinan sektor, yang mengendalikan pilar-pilar bisnis klan Valeriano.Di ujung meja, Roman sebagai pemimpin tertinggi duduk di kursi utama. Wajahnya dingin bagai porselen, sementara mata elangnya menyapu satu per satu raut para bawahan yang menunduk patuh."Selama satu bulan ke depan, seluruh operasional harus berjalan lancar," tegas Roman, suara baritonnya menembus keheningan ruangan.Roman lantas memajukan tubuh tegapnya, menatap lurus pada pimpinan sektor logistik persenjataan. "Pastikan seluruh pengiriman yang mendarat di Dermaga Tujuh telah disaring bersih sebelum masuk ke gudang utama.”"Siap, Tuan," sahut pimpinan sektor persenjataan.Pandangan Roman bergeser ke arah pria bertubuh kekar di sebelahnya, penguasa pelabuhan dan ekspor-impor. "Perketat pengawasan jalur peti ke
Mendengar Sabiya menolak persyaratan darinya, Jetro membisu. Atmosfer di sekeliling mereka kini terasa hening dan lebih mencekam.Raut wajah pria dari Monela itu tampak kian tegang, sebelum akhirnya ia beranjak dari posisi duduk dan menghampiri Sabiya.Dengan sebuah gerakan yang tak terduga, pria itu membungkukkan tubuh jangkungnya. Jetro menyangga kedua lengannya yang kekar di sandaran sofa untuk mengurung Sabiya. Jarak di antara mereka pun terkikis habis dalam sekejap.Sabiya terkejut saat merasakan usapan lembut ibu jari Jetro di sudut matanya yang basah. Ia hanya bisa membisu di bawah kurungan tubuh tegap itu, dengan pikiran yang mendadak kosong.Berbagai perasaan kini saling bertabrakan di dalam dadanya. Sabiya tidak tahu bagaimana harus merespons atau bersikap menghadapi Jetro dalam situasi yang rumit ini. Jujur, ia sangat merindukan hubungannya yang dulu dengan Jetro, di mana mereka bisa saling mengasihi dan memahami, tanpa adanya beban asmara maupun kesalahan masa lalu.Sabiy
Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t
Alih-alih memberi sanggahan, Roman justru meletakkan gelasnya di meja. Dengan tatapan lembut yang belum pernah Sabiya lihat sebelumnya, pria itu menoleh kepada Clara."Jangan dengarkan mereka, Clara." Suara Roman rendah dan menenangkan. "Aku punya hadiah untukmu malam ini. Aku tidak mau kau bersedi
Tiga tahun menikah dengan Roman Alister, pewaris tunggal keluarga Valeriano, Sabiya tidak pernah diajak ke acara publik.Meski begitu, ia tidak pernah merajuk atau menuntut. Sabiya percaya sang suami melakukan itu sebagai bentuk cintanya yang luar biasa."Klan musuh selalu mencari kelemahanku, Saya
Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de







