LOGINApakah Dominic akan menjadi saingan baru Roman dan Jetro? Lalu, bagaimana pertemuan Roman dengan Jetro di Monela? Jangan lupa berikan gems untuk mendukung author ya. Terima kasih.
Sisa malam itu seakan merangkak lambat bagi Sabiya. Di atas ranjang besar, ia berbaring dengan hati yang sangat gelisah. Sabiya bolak-balik mengubah posisi tidurnya, mencoba mencari ketenangan yang tak kunjung datang. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan helikopter yang membawa Roman menembus langit malam selalu berputar di kepala.Baru menjelang pukul tiga dini hari, Sabiya terlelap dalam tidur yang gelisah. Namun, waktu istirahat yang singkat itu seolah berlalu dalam sekejap. Sinar matahari pagi hari Senin menyusup masuk melalui celah tirai, menandakan pukul enam pagi telah tiba. Sabiya langsung terbangun dari tidurnya. Meski matanya terasa berat dan kepalanya sedikit pening, ia segera bangkit untuk membersihkan diri.Langkah kakinya yang senyap membawa Sabiya ke depan pintu kamar tidur si kembar. Ketika Sabiya mendorong pintu itu perlahan, ia melihat Ares dan Altair masih meringkuk di bawah selimut tebal. Tanpa menimbulkan suara berisik, Sabiya mendekat dan duduk di tepi r
Setelah menerima bingkai lukisan dan toples burung kertas penuh doa dari kedua putranya, Roman menyuruh Ares dan Altair mendekat. Dengan tatapan penuh kasih sayang, tangan kokoh pria itu mengelus lembut rambut tebal si kembar secara bergantian."Sekarang, kalian tidur yang nyenyak," tutur Roman.Ares dan Altair mengangguk patuh. Dengan senyuman cerah di wajah mereka, si kembar berpamitan serempak.“Selamat malam, Papa... selamat malam, Mama."Setelahnya, kedua bocah itu berlari kecil menuju kamar tidur mereka, meninggalkan keheningan yang manis di ruang tengah.Sabiya menatap kepergian anak-anaknya dengan dada yang membuncah oleh rasa haru. Kemudian, ia melangkah mendekati Roman sambil membawa nampan berisi teh lavender."Ayo, Roman... kita ke kamar," ajak Sabiya lembut.Roman mengangguk. Dengan tumpuan kruknya, pria itu mengikuti langkah Sabiya menuju kamar tidur."Letakkan dulu hadiah dari Ares dan Altair di sini, lalu minumlah tehmu selagi hangat."Sesuai perkataan Sabiya, Roman me
Di sisi lain apartemen, di dalam kamar tidur anak-anak yang tertutup, Sabiya tengah sibuk memberikan petunjuk rahasia kepada Ares dan Altair."Ingat, anak-anak, kerajinan tangan ini harus selesai," ucap Sabiya sambil membantu Ares melipat kertas origami.Altair dan Ares mengangguk antusias. Dengan berbekal gunting kertas, lem, dan bahan-bahan yang baru saja mereka beli di toko alat tulis tadi, si kembar bekerja sama dengan penuh konsentrasi.Ares asyik melipat kertas origami, sementara Altair dengan teliti memoleskan cat metalik di atas karton hitam.Sabiya tersenyum melihat keseriusan kedua putranya. Ia mendekat, lalu berbisik memberikan arahan."Ares, Altair... di bagian bawah lukisan dan burung kertas, tuliskan 'Papa' ya."Mendengar kata tersebut, tangan Ares seketika terhenti. Bocah itu mengerjap heran, menatap ibunya dengan bola mata yang membesar."Papa?" tanya Ares tak percaya. "Jadi, Paman Roman itu adalah Papa kami, Ma? Bukan Papa Jetro?"Sebelum Sabiya membuka mulut untuk me
Setelah menyematkan cincin di jari manis Sabiya, Roman mengecup punggung tangan wanita itu. Kemudian, ia mengambil cincin pria dari dalam kotak beludru tersebut.Roman meletakkannya di telapak tangan Sabiya, sembari menatap ibu dari anak-anaknya itu lekat-lekat."Sekarang, giliranmu, Sayang," bisik Roman parau. "Sematkan cincin ini di jariku.”Sabiya menelan ludah, berusaha menahan rasa haru yang mendesak di tenggorokannya. Dengan jari-jarinya yang sedikit bergetar, ia mengambil cincin pria berukuran lebih besar itu.Perlahan, dengan penuh kesungguhan, Sabiya menyelipkan cincin berukir angsa tersebut ke jari manis kiri Roman. Setiap sentuhan jarinya pada kulit pria itu seolah menyalurkan seluruh doa dan harapan, agar keluarga mereka bisa utuh kembali. Di meja sebelah, Ares dan Altair menyaksikan momen pertukaran cincin itu dengan mata membulat. Ares yang bertepuk tangan lebih dulu, diikuti oleh Altair. Sebelum si kembar sempat bertanya, Roman sudah berdiri lebih dahulu. Ia melirik j
Esok harinya, Sabiya mengerjap dan membuka kelopak matanya yang masih terasa berat. Sisi ranjang di sebelah kanannya kosong, pertanda Roman sudah bangun lebih dulu. Dengan langkah pelan dan masih mengenakan piyama tidur, Sabiya keluar dari kamar. Ia menuju area dapur karena mencium aroma mentega.Begitu Sabiya tiba, sebuah pemandangan yang tak pernah ia bayangkan tersaji di hadapannya. Roman sedang berdiri sambil memegang satu kruk untuk menjaga keseimbangan. Dengan satu tangan, pria itu sibuk membalik dua lembar pancake di atas teflon. Keningnya sedikit berkerut serius, seolah sedang menghadapi strategi perang paling rumit.Melihat usaha keras yang dilakukan oleh Roman dalam menyiapkan sarapan, Sabiya melangkah mendekat tanpa suara. Ia mengambil alih pekerjaan pria itu dan memindahkan tangan Roman ke samping."Duduklah, Roman. Kau tidak perlu merepotkan diri begini," bisik Sabiya rendah, suaranya menyiratkan rasa tersentuh yang dalam. Roman tersenyum lembut seraya merapikan helai
Semburat keraguan dan gejolak batin masih jelas terlukis di wajah Sabiya, membuat wanita itu tak mampu memberikan jawaban pasti.Melihat kebisuan Sabiya, Roman mencondongkan tubuhnya, lalu menyatukan dahi mereka. Napas hangat keduanya beradu dalam keheningan malam kamar yang temaram."Sayang, bila kau tidak setuju, aku tidak akan memaksa," bisik Roman, suaranya serak tetapi penuh kelembutan.Sabiya menahan napas. Kata-kata itu sederhana, tetapi bobotnya terasa begitu berat.Roman menunggu, matanya menatap lekat, mencari jawaban di relung paling dalam dari hati Sabiya."Aku bisa bertahan selama hampir enam tahun dalam kesepian. Aku masih bisa menunggumu sampai kau siap.”Sabiya menelan ludah.Bertahun-tahun ia membangun tembok di sekeliling hatinya, mencoba meyakinkan diri bahwa ia tidak membutuhkan Roman lagi. Namun kini, pria itu ada di sini, rapuh, terluka, dan meminta kerelaan penuh darinya.Sabiya menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Kau boleh tidur di kamarku setelah ga
Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t
Alih-alih memberi sanggahan, Roman justru meletakkan gelasnya di meja. Dengan tatapan lembut yang belum pernah Sabiya lihat sebelumnya, pria itu menoleh kepada Clara."Jangan dengarkan mereka, Clara." Suara Roman rendah dan menenangkan. "Aku punya hadiah untukmu malam ini. Aku tidak mau kau bersedi
Tiga tahun menikah dengan Roman Alister, pewaris tunggal keluarga Valeriano, Sabiya tidak pernah diajak ke acara publik.Meski begitu, ia tidak pernah merajuk atau menuntut. Sabiya percaya sang suami melakukan itu sebagai bentuk cintanya yang luar biasa."Klan musuh selalu mencari kelemahanku, Saya
Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de







