LOGINPasokan udara di dalam paru-paru Sabiya seolah tersedot habis. Kedatangan Jetro yang tanpa pemberitahuan membuatnya terperanjat bukan main. Dalam sekejap, memori percakapan telepon dengan Jetro berputar ulang di kepala Sabiya. Saat itu, Jetro bertanya mengenai nama hotel tempatnya menginap dengan nada suara yang ganjil.Kini, puzzle tersebut telah terpasang utuh. Jadi ini maksud Jetro—sengaja terbang belasan jam melintasi batas negara, hanya untuk menjemput dirinya dan Altair.Sebelum Sabiya sempat menyusun kalimat, Altair yang berdiri di sampingnya sudah berlari ke arah Jetro tanpa ragu."Papa? Kenapa Papa datang kemari?" tanya Altair penasaran. Ia mendongakkan kepala, menatap mata pria dewasa di hadapannya. "Bukankah Papa sudah pulang ke kota Monela?"Jetro menunduk. Raut wajahnya yang semula tegang, sedikit melunak kala pandangannya jatuh pada Altair. "Papa ke sini karena ingin menjemput kalian."Di belakang Sabiya, Andreas menyaksikan pemandangan itu dengan takjub. Sepanjang b
Untuk meredam rasa cemas, Sabiya membiarkan air shower yang dingin membasahi sekujur tubuhnya.Di balik pintu kaca kamar mandi, ia menggosok kulit leher dan dadanya berulang kali. Berusaha menghapus semua jejak yang ditinggalkan oleh Roman.Sabiya menghembuskan napas panjang yang terputus-putus. Jemarinya yang bergetar perlahan memeriksa area intim di bawah guyuran air. Kesejukan dan ketiadaan rasa nyeri telah memberinya kepastian: Roman tidak melangkah terlalu jauh. Setidaknya, pria itu belum menghancurkan kehormatannya sampai ke titik terendah.Meski begitu, lega yang hadir hanya bertahan beberapa detik. Kenangan semalam tiba-tiba berputar tanpa permisi. Sedikit banyak, Sabiya teringat bagaimana tubuhnya pasrah di bawah kendali Roman, bahkan sempat membalas ciuman pria itu.Sabiya pun merutuki kebodohannya sendiri. Ia menyesal telah memakan kue pemberian Roman. Dugaannya mendadak mengarah pada satu kesimpulan pahit: sang mantan suami sengaja menyusupkan obat gairah untuk memperma
Begitu pintu lift bergeser terbuka di lantai dasar, Roman melangkah keluar.Meski pelipisnya terasa kebas akibat tidak tidur semalaman, pria itu tetap berjalan dengan pijakan tegap. Ia menyusuri area lobi utama yang masih lengang oleh suasana subuh. Ketika Roman melewati pintu kaca otomatis di bagian depan, Jetro masuk dari sisi yang lain. Kedua pria itu saling melewati, tetapi tidak mengenali satu sama lain. Masing-masing sibuk dengan pikiran dan perasaannya sendiri.Tanpa menghiraukan keadaan sekitar, Roman berjalan lurus menuju area parkir, di mana mobilnya berada.Setelah memasuki kabin, ia lekas menyalakan mesin dan melajukan mobil ke jalanan kota yang masih lengang. Namun, arah kemudi Roman tidak tertuju pada kediamannya.Dengan rahang yang mengetat, pria itu memacu kendaraannya menuju markas utama klan Valeriano. Di pusat kekuasaannya yang tertutup, Roman akan mengurus beberapa hal yang sangat krusial.Sementara Roman meninggalkan area hotel, Jetro melangkah terburu-buru ke lo
Roman tidak menyangka di usianya yang masih kecil, Altair berani melontarkan ancaman sekeras itu. Apalagi, Altair menyinggung soal “Papa” yang tidak akan terima bila ia mendekati Sabiya.Kalimat itu bagai sembilu tajam yang menghantam dada Roman. Membuat kerongkongannya terasa amat kering. Ia yakin sosok yang selama ini dipanggil 'Papa' oleh darah dagingnya sendiri adalah Jetro Falcone. Pria itu dianggap oleh Altair sebagai pelindung utama ibunya.Namun, bukannya menunjukkan amarah atau tersinggung, netra Roman justru meredup. Ia melepaskan tangan Altair dengan lembut, lalu perlahan merendahkan tubuh tegapnya.Roman berlutut dengan satu kaki di atas lantai, agar pandangannya sejajar dengan sepasang mata bulat Altair. Pria itu mengulurkan tangannya untuk mengusap pelan puncak kepala Altair."Paman tidak takut...Paman akan tetap di sini," tutur Roman "...Paman hanya ingin menjaga kalian berdua, sampai Mama sadar.”Altair menyipitkan mata, terpana oleh tatapan Roman yang serupa dengan m
Sesudah menerima telepon dari Dante, Roman segera melangkah ke sudut ruangan. Di situ, Dante meletakkan koper kecil yang berisi beberapa pakaian.Dengan cepat, Roman mengambil sebuah kemeja putih. Ia mengancingkan kemejanya, lalu menyisir ulang rambut di depan cermin. Bagaimanapun, ia harus tampil rapi sebelum bertatap muka dengan Altair.Roman sempat menatap Sabiya yang masih terpejam di atas ranjang.Melihat gaun hitam Sabiya yang kusut, Roman berinisiatif membungkus tubuh wanita itu dengan jasnya.Setelah memastikan Sabiya nyaman, Roman memasukkan ponsel dan kartu akses kamarnya ke dalam saku. Kemudian, ia menyusupkan kedua lengannya ke bawah tubuh Sabiya, mengangkatnya ke dalam dekapan yang kokoh. Dengan mantap, Roman berjalan menyusuri koridor hotel yang sepi.Ia baru berhenti ketika melihat Dante yang berdiri tegap di depan pintu sebuah kamar. Sementara di sebelahnya, ada Andreas serta seorang anak kecil yang wajahnya sangat familiar.Detik itu juga, denyut jantung Roman terasa
Di Aldena Heritage Hotel, jarum jam hampir menunjuk pukul sebelas malam. Altair berbaring seorang diri di atas kasur dalam kesunyian kamar. Bocah kecil itu sudah mengenakan piyama garis-garis putih, tetapi sinar matanya memancarkan kegelisahan yang besar. Sudah dua jam berlalu sejak ia kembali dari Executive Lounge, tetapi ibunya tak kunjung membuka pintu.Altair melirik tablet miliknya yang tergeletak di atas nakas. Ia sudah mencoba mengirimkan pesan singkat, bahkan memanggil nomor Sabiya berkali-kali. Namun, hanya nada tidak aktif yang ia dapatkan.Bagaimanapun, anak seusianya tidak akan tenang bila harus tidur sendirian di kamar hotel.Tak sanggup lagi membendung rasa cemas, Altair melompat turun dari ranjang. Bocah itu meraih kartu akses kamar, lalu berjalan menyusuri lorong berkarpet tebal.Tujuan Altair hanya satu: kamar tempat Andreas menginap, yang hanya berjarak dua pintu dari kamarnya.Dengan jemari mungilnya, Altair mengetuk pintu beberapa kali. Ia harus menunggu sejenak,
Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me
Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t
Alih-alih memberi sanggahan, Roman justru meletakkan gelasnya di meja. Dengan tatapan lembut yang belum pernah Sabiya lihat sebelumnya, pria itu menoleh kepada Clara."Jangan dengarkan mereka, Clara." Suara Roman rendah dan menenangkan. "Aku punya hadiah untukmu malam ini. Aku tidak mau kau bersedi
Tiga tahun menikah dengan Roman Alister, pewaris tunggal keluarga Valeriano, Sabiya tidak pernah diajak ke acara publik.Meski begitu, ia tidak pernah merajuk atau menuntut. Sabiya percaya sang suami melakukan itu sebagai bentuk cintanya yang luar biasa."Klan musuh selalu mencari kelemahanku, Saya







